Behind The Scene

Behind The Scene
Cem-cem Erotis



Hi semesta


Sudah berbaik hatikah hari ini?


Bagaimana tentang jawaban atas rindu yang kusampaikan?


Pada selirih angin aku mempercayakan


Perantara ini tidak memiliki makna istimewa memang


Hanya saja, terlihat sederhana dengan hembusan kesan


Semesta, berbaik hatilah


Aku ingin dia tau tujuan


Tujuan dia pergi hingga tak kembali pulang


Padahal, ada hati yang selalu merindukan


Walau sang pujaan tengah melupakan


Hari ini, semoga kau telah berbaik hati hari ini


Hembusan nafas berat terdengar. Pemilik menutup buku berwarna hitamĀ  cover marble itu dengan senyuman. Ia tengah berbahagia usai menyeruakan kata yang terlintas dalam pikiran. Seketika, burung putih indah hinggap tepat di depan bangku taman tak berpenduduk di depannya bersamaan dengan kembali kata-kata asing lagi di kepalanya.


Ia bergerak cepat kembali membuka buku yang tadi di tutupnya. Baru saja ujung pena mengenai kertas putih pada buku, seseorang memegang kedua pundaknya dari belakang.


"Hayoo, lagi nulis cem-cem erotis yaa?"


Ayrin tersentak kaget. Ia menghirup napas sebanyak-banyaknya sebelum melayangkan tatapan pada orang yang baru saja membuatnya terkejut.


"Lo-


"Sstt.. Gak usah marah-marah, Ay. Tenang aja, gue tau lo malu kan? Gak pa-pa kok. Sesama pe-


"Siapa yang lagi malu karena nulis hal-hal erotis?" sentak Ayrin tajam.


Fardhan berjalan mengelilingi bangku taman untuk duduk di samping Ayrin. Sebenarnya, untuk menetralisir nyalinya yang sedikit menciut juga.


Ia menaikkan satu kakinya membuat Ayrin semakin memelototkan mata di depannya. "Gini Ay, sesama penulis gue tau kok apa yang lo rasain. Lo gak usah ngelak atau malu segala Ay. Itu wajar kok, kita kan udah delapan belas tahun. Udah cukup umur," ujarnya santai. Ralat, pura-pura santai.


Ayrin memutar bola matanya enggan menanggapi. Ia kemudian menunduk untuk melihat tulisannya. "Lihat! Tulisan gue jadi kegores gini gara-gara lo! Gue juga jadi lupa lanjutannya apa?!"


Fardhan memanjangkan leher melihat apa yang Eca tunjukkan. Setelahnya, Ia memasang ekspresi gusar. "Hadeeuhh.. Ay-Ay," menggelengkan kepalanya pelan. "Gue gak habis pikir sama lo! Masa iya udah delapan belas tahun masih aja nulis kata-kata puitis tentang cinta cinta remaja alay gitu! Harusnya nih, kan udah cukup umur. Lo berubah ke hal-hal kayak making outlah misalnya! Atau enggak, genre pelakor pernikahan gitu kayak darama korea yang lagi viral. Gue kasih contoh judul yaa.. Misal nih 'Hubungan pernikahanku tak semulus kepala bapak mertuaku' atau kayak gini 'Rumah tanggaku tak seindah masa kecilku' gitu, Ay!" cerocos Fardhan.


Ia memang memiliki kepribadian yang cukup unik. Selain hyperaktif, Fardhan juga berbeda dengan kebanyakan lelaki seusianya. Jika di sekolah Ayrin para lelaki terkenal melalui basket, musik atau hal lain terdengar familiar. Maka Fardhan terkenal gamblang dengan tingkah jahil dan tak mau diam serta banyaknya karya tulis yang sudah terbit. Bahkan beberapa genre puisi masuk kategori best seller.


Keduanya dekat sedari kecil karena rumah tak berjarak alias tetangga. Namun anehnya, mereka tak pernah sudi satu sekolah tapi memiliki hobi dan bakat yang sama di bidang kepenulisan.


Tak hanya itu, Fardhan dan Ayrin juga kerap sekali menghabiskan waktu luang bersama, berbagi cerita, berbagi ilmu bahkan berbagi status atau pernah terjebak pura-pura pacaran demi menghindari fans anarkis Fardhan.


Tetapi, ada satu fakta menarik di antara kedua manusia ini. Jika Ayrin lebih suka semua karyanya di tutup rapat, maka berbanding dengan Fardhan yang sangat suka karyanya di kenal banyak orang. Di kontrak platform atau masuk ke penerbitan.


"Heh! Bikin karya itu bakalan lebih bagus dan cepet kalo peristiwa dalam ceritanya udah di alami penulis! Lagian, ngapain gue nulis yang kayak apa? Rumah tanggaku tak seindah masa kecilku? Lo gadanta banget nyaranin judul kayak gitu!" kesal Ayrin.


Ayrin menyipitkan matanya membuat Fardhan salah tingkah. "Lo juga nyaranin genre making out? Jangan-jangan.. Lo udah pernah making out yah? Novel rilisan lo minggu kemarin ada tanda konten dewasanya."


Pletak


"Sembarangan! Namanya juga laki-laki! Buat novel konten dewasa mah," Fardhan menyatukan jari jempol pada jari telunjuknya kemudian membuat gerakan menyentil. "Kecil!" lanjutnya.


Ayrin menghentikkan usapan pada keningnya. "Dasar tarzan!"


"Berlebihan," cibir Ayrin. "Emang nama lo tarzan kan?" lanjutnya dengan wajah polos di buat-buat.


"Farzan Ca! Far-zan! Farzan Arhesta." Menekan setiap kalimat yang di ucapkannya. Jari telunjuknya juga bergerak meng-eja seolah-olah namanya tertulis dalam bayang udara.


Ayrin mengulum senyum. "Udahlah gak usah ribet. Fardhan sama Tarzan cuman beda huruf dikit doang 'kan?" Menaik turunkan kedua alisnya berpendapat. Ayrin juga tersenyum puas mendapati wajah merah Farzan.


Ayrin membereskan barang-barangnya lantas segera melengos pergi saat Fardhan menarik napas membuat dadanya naik turun dengan cepat.


Setelah tercipta cukup jarak. Eca menghentikkan langkahnya dengan bergumam hitung mundur.


"Satu


Dua


Tig-"


"AYRIN MEDRICA!"


Ayrin tergelak keras. Ia kemudian balas berteriak sebelum kembali melanjutkan langkahnya. "Yes, that's my name!"


...OoO...


Suara riuh yang di hasilkan dari tepuk tangan para penonton di area mini konser tersebut, menjadi tanda berakhirnya penampilan. Di iringi dengan teriakan kecewa. Para pria berbaju hitam membentuk format melindungi saat pengisi acara turun dari panggung.


Setiap hentak langkah di temani sinar kilat kamera dan silih sahutnya para wartawan. Desakkan terjadi tak terhindari. Semakin membludak. Pasokan udara kian menipis. Suasana benar-benar jauh dari kata kondusif.


Tak ada yang mengerti juga tidak ada pilihan lain selain menggertak dengan cara sedikit kasar.


"Gila.. Makin kesini penampilan lo makin bagus banget, Dra!" puji Ibram, sahabat sekaligus manager Andra.


Menyambut Andra saat berhasil masuk ke dalam mobil dengan segera memberi tisu dan botol minum.


Menghembuskan nafas lega. Andra mengambil tisu dari tangan Ibram kemudian menyeka keringat di sekitar dahinya.


"Capek gue," ujar Andra. Ia meneguk minuman dengan cepat. Nafasnya masih terdengar tak beraturan.


Deru mobil baru terdengar setelah kerumunan berhasil di elakkan. Ibram berdecak kagum.


"Gillaaa!! Pada anarkis semua gak kayak biasanya!" heran Ibram.


"Kayak gitu karena apa ya, Ib?"


"Ck! Ya karena penampilan lo makin kesini makin baguslah!" jawab Ibram dengan nada tak ikhlas.


Ia yakin, ini hanya pertanyaan siasat agar Andra mendapat pujian. "Oh? Thank's bro!" balas Andra pongah.


"Males nih gue kalo sifat sombong lo kumat!!"


Tawa Andra pecah.


"Dahlah! Gue lagi galau!"


"Gaya lu! Galau apaan seorang Ibram yang jomblo?" ejek Andra.


"Sialan!"


.


.


To Be Continue