Behind The Scene

Behind The Scene
Prolog



Padatnya kantin tidak membuat acara makan di meja Ayrin dkk terganggu. Padahal, sedari tadi siswa-siswi di sekitar mereka begitu heboh dengan segala gosip dan peng-abadiannya.


Mata tajam milik Ayrin bergerak mengedar penjuru kantin yang terlihat tidak mengalihkan pandangan dari meja yang Ia duduki.


Penyebabnya? Tentu saja karena sang selebriti instagram sedang duduk tenang di hadapan Ayrin. Memasukkan suap demi suap Mie Ayam dengan anggunnya.


Siapa lagi kalau bukan Anandita Kinsera. Gadis cantik berprofesi selebgram dengan followers dua koma tiga juta yang menjabat sebagai sahabat pertama Ayrin saat menginjakkan kaki di SMA ini.


Selain itu, di sampingnya juga berada Fellycia Lenora, youtuber muda bergaris keturunan Indonesia-Tiongkok. Gadis yang memikat warganet dengan berbagai konten travellingnya di mancanegara.


Sedangkan di samping Ayrin sendiri, ada Reandra Grisella. Akrab di sapa Rere sang musisi hits kebanggaan.


Well, jangan tanya profesi apa yang Ayrin gandrungi. Karena selain Ia bergabung sebagai anggota baru pada grup mereka, sifat cuek dan tidak ingin ribet milik Ayrin membuat Ia bahkan hanya memiliki satu aplikasi media sosial.


"Jangan heran ya, Ay ... Siswa siswi di sini emang kayak gitu, pada lebay semua," bisik Rere yang sedari tadi memperhatikan arah pandang Ayrin.


"Ah, iya... Pasti lo gak nyaman ya Ay sama kelakuan mereka. Secara, sekolah lo dulu 'kan pasti enggak kayak gini, ya?" tanya Dita.


Ayrin mengangguk kecil. Sekolah lamanya adalah sekolah negeri yang memiliki sistem pembagian kelas melalui peringkat, siswa-siswa di sana juga sangat peduli pada prestasi mereka dan melupakan adanya media sosial atau kehidupan selebrasi lainnya.


Tangan Ayrin bergerak menyelipkan anak rambut yang menghalangi sebagian wajahnya saat akan memasukkan makanan ke dalam mulut.


"Dikalemin aja Ay.. Jangan liat mereka.. Liat si tampan Kalandra Altara aja. Lihat mereka mah, cuman bikin hilang nafsu makan!" canda Felly yang diangguki Rere dan Dita.


Kalandra Altara, kebanyakan memanggilnya Andra, artisnya SMA Nusantara. Ia adalah cowok asal Yogyakarta. Berparas tampan dan murah senyum. Ia sedang melakukan live instagram di meja makan yang tak jauh dari meja


Ayrin dkk.


"Ya ampun, kok bisa sih dia se-ganteng dan se-kece itu?" kagum Felly dengan mata berbinar.


Ayrin akui, setelan basket dan ikat di kepalanya serta senyum yang tidak pernah luntur itu, Kalandra terlihat mempesona berkali-kali lipat.


Rere mendecap lidah dengan keras. "Iya nih, kenapa Andra abis olahraga gak ganti baju dulu, sih? Kan, jadi mengalihkan dunia gue... " alaynya.


Ayrin terkekeh. Satu minggu sekolah di sini dan sedikit sering menghabiskan waktu bersama, membuat Ia sedikit-sedikit mengetahui kepribadian mereka yang menjadi rahasia publik.


SedangkanDita dan Felly mengerling malas. "Nah! Ini nih, ini ... yang bikin gue greget. Coba aja followers lo pada tau, Re. Lo itu orangnya alay pake banget! Yakin dah gue, auto bubar mereka!" ucap Felly.


"Ambyar sudah aura kalem Rere saat cover lagu," timpal Dita.


Rere mencebikkan bibirnya kesal. "Kalian berdua kalo di satuin tuh ya gini! Kompak banget bully gue!" jengah Rere.


Ayrin mengusap bahu Rere lembut. "Rere, yang sabar, ya.." ujarnya bersimpati.


"Iya, Ay... Lo jangan ikut-ikutan tingkah mereka, ya?" melas Rere.


Ayrin mengangguk polos. "Paling timpal-timpalin sedikit, kok," ujarnya tanpa dosa.


Tawa Dita dan Felly pecah. Apalagi melihat wajah Rere yang berubah menjadi semakin masam. Sedangkan Ayrin sendiri malah dengan bodohnya tetap mengusap bahu Rere


"Sialan kalian!"


***


Kelas


XI IPS 3 tengah melangsungkan kegiatan belajar dengan berbagai cara unik. Seperti ; menggosip, berselfie ria, tidur dan mabar?


Atau seperti Ayrin yang memilih novel karya Tere Liye untuk di jadikan pelarian dari kebosanannya. Karena guru Ekonomi tengah berhalangan hadir.


"Oy, Ayrin!"


Ayrin menoleh ke belakang. Dari barisan ke dua tempat duduknya, seorang laki-laki pecicilan dengan satu kaki diangkat pada atas bangku memangku wajah memperhatikan Ayrin.


"Lo gak mau gabung sama kita-kita?" tanyanya sembari mengangkat kartu uno.


Ayrin menjawab dengan gelengan. Ia melakukan hal yang sama pada buku yang Ia pegang. "Gue lagi marathon baca ini," lanjutnya sembari tersenyum tipis.


Menjadi siswi baru SMA Nusantara, Ayrin merasa beruntung karena mengenal kelas IPS3. Ia seperti menemukan keluarga baru yang hangat dan asik.


Lelaki bernama Rendi itu mengangguk mengerti. Mungkin memang Ayrin masih canggung, pikirnya. Berbeda


dengan lelaki lain yang berpenampilan hampir sama dengan Rendi, Ia tampak memberenggut kesal mendengar jawaban Ayrin. "Yah, gak asik lo."


Dia Willy, teman sekelas Ayrin yang satu ini memang kerap sekali mendekati Ayrin dengan berbagai cara. Tapi bukan karena suka, hanya untuk mempererat kekeluargaan IPS3 saja. Jawabnya pasca di tanya oleh salah


satu siswi di kelas itu beberapa hari lalu.


Ayrin menatap keduanya bergantian. "Lain kali aja ya, Ren, Will. Gak papa 'kan?" tanya Ayrin pada Rendi dan Willy sedikit tak enak.


Kebetulan juga, setiap kali Rendi dan Willy mengajak, pasti Ayrin tengah di sibukkan dengan menulis novel di akun wattpadnya, mengerjakkan materi yang sempat tertinggal atau marathon membaca buku seperti sekarang.


"Btw, nih... Lo ada rencana masuk ekskul apa?" Tanya Aca -teman sebangku Ayrin.


"Eh iya, ya? Gue gak kepikiran mau ekskul apa," lupa Ayrin.


"Gimana kalo ekskul Musik? Gue juga ikutan ekskul itu, looh.." tawar Aca.


Ayrin bergumam panjang. "Nanti deh, Ca. Dipikir-pikir dulu mau ikut apa enggak," tolaknya halus.


"Body lo bagus loh, Ay.. Cheers aja!" usul Willy yang mendapat toyoran gratis di kepalanya.


"Otak lo! Isinya cuman body cewek doang!" jengah Rendi.


"Ish! Kalian ngapain nguping?" sentak Aca tak terima.


"Ya namanya juga punya kuping!" jawab Willy tajam.


Rendi mengalihkan tatapannya pada Ayrin. "Gimana kalo masuk PA aja sama gue?" godanya sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Ayrin terkekeh kecil. "Iya, nanti ya Ren.. Dipikir-pikir dulu," jawab Ayrin sekali lagi.


"Udahlah, Ay.. Masuk cheers aja udah gak usah di pikir-pikir lagi!" paksa Willy.


"Alah! Cewek sok ngartis kayak dia gak pantes masuk cheers!"


Belum sempat Ayrin menjawab, Mauren sudah menyahut duluan. Dia seperti terlihat jengah mendengar pembicaraan yang terjadi di meja Ayrin.


"Maksud lo apa?" sentak Aca kesal.


Memang, Mauren adalah teman kelas Ayrin dan menjabat sebagai ketua cheers. Proposi badan serta keahliannya dalam bidang tersebut sudah tak perlu di pertanyakan lagi. Tapi sayang, sifat sombong dan tak ingin kalah milik Mauren menjadi tinta hitam dirinya.


"Loh? Gue salah ngomong? Cewek ini emang sok ngartis 'kan?" jawabnya pongah.


Ia berdiri dari bangku tempat duduknya berjalan menghampiri Ayrin.


"Lo satu-satunya cewek yang gak punya kehidupan di media sosial tapi bergaul sama selebriti di sana dan dengan gak tahu dirinya, lo selalu nolak ajakan main dari temen sekelas lo! Itu namanya apa kalau bukan sok


ngartis, Aca?"


Pembawaan Mauren dalam memojokkan lawan memang terkesan kalem. Tapi kata-kata yang keluar selalu pas menusuk ke dalam hati.


Aca mengepalkan sebelah tangannya kesal. "Lo!-


"Udah, Ca," potong Ayrin nyaris berbisik. Ia menurunkan telunjuk Aca yang berada di depan wajah Mauren.


"Gue gak mau lo kena masalah gara-gara gue," lanjut Ayrin saat Aca menatapnya tak terima.


"Dan Mauren, sebelumnya gue minta maaf kalo lo pernah sakit hati atas


perkataan atau sikap gue yang entah seperti apa di mata lo,"


Mauren berdecih pelan. Memalingkan wajah enggan menatap balik Ayrin.


"Gue akui emang gue gak pantes berada di circle Felly, Dita atau Rere. Tapi itu semua terjadi juga bukan keinginan atau paksaan gue ke mereka. Justru karena ketulusan dan kecocokan dari diri kita masing-masing yang


menarik gue sampai ke lingkup itu. Lo gak bisa terlalu memaksakan kehendak orang buat terlihat pantas bersanding dengan siapa. Karena kita sama-sama di ciptakan bukan yang menciptakan."


"Bener, tuh! Semua orang memiliki garis dan peran masing-masing di kehidupan masing-masing. Lo gak bisa menjadi pemeran utama di hidup orang lain," timpal Rendi.


Mauren berdecak keras. "Berisik dan gak berguna lo pada!" sentak Mauren tajam. Ia berbalik dan menghentakkan kaki dengan kesal.


"Lah? Jamet bener diri lo!" sahut Willy merasa ikutan jengah pada sikap buruk Mauren.


"Btw, tumben banget Rendi bijak?" goda Aca melupakan kekesalannya.


"Eh? Iya juga!" timpal Willy ikut-ikutan mencairkan suasana.


"Asu!"


"Hahahaha!"


.


.


TBC