Behind The Scene

Behind The Scene
Konten Harapan



Brukk


"Ayah!" pekik Ayrin terkejut mendapati sang Ayah terjatuh di antara pintu rumah yang terbuka.


Tadi saat sedang belajar, Ia mendengar deru mobil memasuki pekarangan rumahnya. Saat melihat dari balkon, Nata-Ayahnya berjalab sempoyongan menuju rumah. Jadilah, Ia berlari turun menjemput.


"Ayrin?"


"Ayah gak papa?" tanya Ayrin membantu sang Ayah berdiri.


Meski dengan bau alkohol yang menyengat menganggu penciuman Ayrin. Ia mencoba untuk terlihat tidak masalah dan membantu sang Ayah masuk ke dalam kamar.


"Ayah dari mana?"


Nata menyandarkan badan pada bagian atas kasur. Tangannya tergerak memijit sisi pelipis yang terasa berdenyut. Ayrin membantu membuka sepatu kemudian menaikkan kaki Ayahnya pada atas kasur.


"Ayah dari pesta ulang tahun perusahaan teman kerja Ayah,"


Ayrin mengangguk mengerti. "Mau Ayrin ambilkan minum?" tawarnya.


"Tidak. Mending kamu pergi ke kamar dan segera tidur. Besok pagi bukannya masih sekolah?"


Ayrin menghela napas. Lagi dan lagi Ayahnya menolak segala perhatian yang Ia berikan.


"Yaudah, Ayrin ke kamar dulu, Yah. Selamat malam."


"Hm,"


Cklek


Pintu tertutup. Ayrin terdiam sebentar, mendongak untuk menghalau air mata yang akan jatuh. Ia bukan hanya tersiksa dengan kehilangan Bundanya. Namun, Ia juga tersiksa dengan perubahan cinta pertamanya, seseorang yang selalu menjadi tempatnya berkeluh kesah,


dulu.


OoO


"Gimana, gimana?" tanya Rere sedikit heboh.


Ia baru saja selesai mencatok curly rambut bagian bawahnya.


"Perfect," balas Ayrin tersenyum bangga.


Sontak Rere menepuk tangan senang. Ia berjalan menghampiri Cessa yang berada di panggung sedang mengatur tinggi standing mic.


Sedangkan Felly dan Dita fokus dengan persiapan kamera.


Semuanya tampak berharap memberikan yang terbaik apalagi ini akan di siarkan secara live. Meski bukan di layar televisi nasional. Namun, mereka tidak ingin mengambil resiko dengan membuat kecewa dedikasi para penggemar di luar sana.


"Kita mulai, ya?" intruksi Dita.


Rere dan Cessa mengangguk kompak.


"1, 2, 3, Action!"


Rere mulai menekan tuts piano dengan lembut. Alunannya memenuhi ruangan dan menarik atensi.


Pun saat suara Cessa terdengar menyapa indra, Ayrin memejamkan mata terbawa latar suasana.


It's not simple to say


Tidak mudah untuk mengatakannya


Most days I don't recognize me


Hampir setiap hari aku tak mengenali diriku


That these shoes and this apron


Bahwa sepatu dan celemek ini


That place and its patrons


Tempat itu dan para pengunjungnya


Have taken more than I gave them


Telah mengambil lebih dari yang kuberikan pada mereka


Felly mendudukkan diri. Sambil tetap mengamati jalannya live dengan penonton yang terus bertambah. Dita sesekali terlihat menatap kagum. Ayrin sendiri asik dengan memori-memori indah menghiasi pikirannya.


It's not easy to know


Tidak mudah untuk mengetahuinya


I'm not anything like I used to be


Aku tidak seperti dulu lagi


Although it's true


Meskipun itu benar


I was never attention's sweet center


Aku tak pernah menjadi pusat perhatian yang manis


I still remember that girl


Aku masih ingat gadis itu


Cessa memejamkan mata. Menikmati apiknya pikiran menyimpan rapi sekelebat kenangan meski buruk.


She's imperfect, but she tries


Dia tidak sempurna, tapi dia mencoba


She is good, but she lies


Dia baik, tapi dia berbohong


She is hard on herself


Dia keras pada dirinya sendiri


She is broken and won't ask for help


Dia hancur dan tidak mau meminta bantuan


She is messy but she's kind


Dia berantakan tapi dia baik hati


She is lonely most of the time


Dia sering merasa kesepian


She is all of this mixed up


Dia adalah campuran semua ini


And baked in a beautiful pie


Dan dipanggang dengan pai yang indah


She is gone but she used to be mine


Dia sudah pergi tapi dia dulu milikku


Seandainya, waktu bisa terulang dan garisan takdir bisa di pilih maka Ayrin tidak akan pernah memilih lahir dalam keluarganya. Menjadi boomerang hidup bagi Ayahnya. Namun, manusia tidak memiliki kuasa demikian.


It's not what I asked for


Sometimes life


Terkadang hidup


Just slips in through a back door


Masuk melalui pintu belakang


And carves out a person


Dan mengukir seseorang


And makes you believe it's all true


Dan membuatmu percaya itu semua benar


And now I've got you


Dan kini aku memilikimu


And you're not what I asked for


Dan kau bukan yang ku minta


If I'm honest I know


Jika aku jujur aku tahu


I would give it all back for a chance to start over


Ku akan kembalikan semuanya sebagai kesempatan tuk memulai kembali


And rewrite an ending or two


Dan tulis ulang satu atau dua akhir


For the girl that I knew


Untuk gadis yang aku kenal


Who'll be reckless, just enough


Siapa yang ceroboh, cukup


Who'll get hurt


Siapa yang akan terluka


But who learns how to toughen up when she's bruised


Tapi siapa yang belajar bagaimana menguatkan diri saat dia memar


And gets used by a man who can't love


Dan digunakan oleh pria yang tak bisa mencintai


And then she'll get stuck


Dan kemudian dia akan terjebak


And be scared


Dan takut


Of the life that's inside her


Akan kehidupan yang ada di dalam dirinya


Growing stronger each day


Tumbuh lebih kuat setiap hari


'Til it finally reminds her


Sampai akhirnya mengingatkannya


To fight just a little


Untuk bertarung sedikit


To bring back the fire in her eyes


Untuk mengembalikan api di matanya


That's been gone


Itu sudah hilang


But used to be mine


Tapi dulu milikku


Used to be mine


Dulu milikku


Perandaian dalam hidup memang tidak akan memiliki hasil. Hal itu hanya akan menyakiti seseorang secara perlahan. Yang perlu dilakukan hanya terus berusaha menjadi baik. Meski sedang tidak baik-baik sekali pun.


She is messy, but she's kind


Dia memang berantakan, tapi dia baik hati


She is lonely most of the time


Dia sering merasa kesepian


She is all of this mixed up


Dia adalah campuran semua itu


And baked in a beautiful pie


Dan dipanggang dengan pai yang indah


She is gone but she used to be mine


Dia sudah pergi tapi dia dulu milikku


Tes


Air mata yang ditahan akhirnya jatuh. Mengiringi kepingan-kepingan ingatan yang bagai mimpi buruk bagi keduanya. Mereka tidak salah. Keadaan mereka tidak salah. Namun, mereka juga tidak tahu apa yang harus disalahkan dalam pembenarannya.


Ruangan mendadak hening. Hanya terdengar deru napas pendek dan isak tangis. Siaran sudah di akhiri oleh Felly beberapa menit setelah tampilan selesai.


Meski tidak tahu apa-apa. Dita bergerak memeluk Ayrin erat diikuti Felly,  juga Rere yang melakukan hal sama pada Cessa.


Dalam hati mereka bertanya-tanya.


Apa yang sebenarnya terjadi?


.


.


.


TBC