
"Kemaaalll!!!"
Sontak semua penghuni kelas Ips 3 menutup telinga mereka rapat-rapat. Menatap Dita yang tengah mendongak melihat pelaku pencuri ponsel berjoget ria di atas meja.
Saat ini, jam istirahat pertama di habiskan Ayrin dkk untuk memakan bekal di kelas Ayrin sesuai kesepakatan bersama saat tadi malam.
Awalnya, semua berjalan dengan tenang dan khidmat. Hingga Kemal menghampiri meja mereka dan membawa lari keliling kelas ponsel Dita yang tergeletak begitu saja di samping tempat makannya.
Naasnya pula, ponsel tersebut sedang berada di kamera instagram. Menyebabkan Dita yang hafal dengan tabiat usil Kemal tak bisa tinggal diam.
Alhasil, berakhirlah Kemal naik ke atas meja agar Dita berhenti mengejarnya. Untung saja Dita ini memiliki famour sebagai selebgram dua juta followers. Kalau tidak, sudah di pastikan Ia akan menjadi bulan-bulanan anak Ips 3.
"Balikin gak?!" sentak Dita tajam menengadahkan tangannya dihadapan Kemal.
Tersangka, malah menggoyangkan jari telunjuknya ke kanan dan kiri dengan sebelah tangan mengangkat tinggi ponsel milik Dita.
"Kemal ih! Lo mau gue nangis?" ancam Dita dengan mata yang dibuat berkaca-kaca.
Dasarnya Kemal tidak pantang menyerah. Ia malah balik mengancam. "Nangis aja, nanti gue upload di IGeTiVi. Lumayanlah numpang tenar.." balasnya bersedekap dada.
Dita mengacak rambut frustasi. "Aaaa!! Kemal! Lo ngeselin banget, sih!" teriak Dita kembali.
"I love you too!" balas Kemal ngawur
"Lo tuh ya?! Ish!" Saking kesalnya, kali ini Dita menggoyangkan meja yang menjadi pijakan Kemal membuat tubuh pria itu bergerak tak seimbang.
"Eh, eh, berhenti Dit! Kalo gue jatuh gimana?!" panik Kemal. Raut tengilnya berganti menjadi pucat pasi.
Bukannya menurut, Dita malah tersenyum miring dan menggerakkan meja lebih brutal. Menghiraukan teriakan pertolongan Kemal dan wajah cemas teman-temannya serta Rendi dan Willy yang tertawa puas.
"Buat jatuh ajalah, Dit! Emang ngeselin si Kemal, nih!" kompor Willy.
"Diem lo, Will!!" Kemal melayangkan tatapan tajamnya. Ia berusaha jongkok untuk mengurangi kemungkinan jatuh.
"Aduh, Dita udah! Nanti itu kalo si Kemal jatuh terus kebentur kepalanya terus geger otak, gimana?" heboh Rere.
Ayrin dan Felly saling pandang kemudian mendengus malas saat alay Rere 'kumat.
Untung saja sebagian teman sekelas Ayrin memilih keluar kelas saat aksi Dita dan Kemal berlangsung, menyisakan Ayrin dkk, Rendi, Willy dan satu siswi kutu buku yang terlihat acuh sedari tadi.
"Iya, udah Dita biarin aja, bahaya." Ayrin menyipit melihat Kemal yang semakin bergerak tak tentu menjaga keseimbangan.
"Gak bisa, Ay. Kemal pasti mau main-main sama instagram gue!" jawab Dita menambah kecepatan gerak meja.
"Eh, eh, Dit! Aaa--
Brukk
Mereka mengerjap mata kaget saat Kemal kini sudah terduduk di lantai memegangi pinggang.
Gelak tawa Rendy dan Willy pecah sedangkan para perempuan meringis kecil antara ingin ketawa juga tapi tak tega.
Apalagi wajah Kemal sudah meminta untuk di kasihani.
"Aduhh.. Tai! Sakit banget nih pinggang gue!" semprot Kemal pada Dita.
Dita hanya memeluk ponselnya yang berhasil Ia selamatkan sebelum ikut terjun dengan Kemal. "Makanya, jangan macam-macam sama Dita! Jadinya kena karma 'kan?!" balas Dita sinis.
Rendi dan Willy yang merasa iba pun berinisiatif membantu Kemal untuk duduk di bangkunya meski masih bergerai tawa.
"Puas banget liat temen susah!" gumam Kemal.
"Lo sih! Aneh-aneh aja kerjaannya!" omel Rendi.
"Abisnya, Dita kalo kesel itu lucu. Kan gue suka jadi gemes!"
"Sinting!" Willy tak habis pikir.
"Ewhh!" Dita bergidik ngeri mendengar ucapan Kemal. Ia mengibaskan sebelah rambutnya kemudian berjalan menghampiri ketiga sahabatnya dengan kaki yang di hentakkan kesal.
Semua sontak terkejut. Tak terkecuali siswi kutu buku yang tanpa sengaja menjatuhkan bukunya.
"Ma-maaf, maaf," gumamnya gugup saat semua pandangan terosorot padanya.
"Apa sih, yang? Jangan teriak-teriak terus. Suara kayak toa masjid juga!" sahut Kemal dengan tangan tak berhenti memijat pinggangnya.
Rendi dan Dita kompak membuat gerakan seolah-olah akan muntah.
Felly yang berada di samping Dita memanjangkan leher untuk melihat apa yang di lakukan Kemal pada ponsel sahabatnya itu hingga membuat Ia akan mengeluarkan mata bulatnya.
"Ppftt..." Suara Felly yang menahan tawa mengalihkan perhatian mereka.
"Ada apa, Fell?" tanya Ayrin penasaran. Dita mengerling kesal kemudian memberi tatapan peringatan pada Felly saat cewek itu berhasil merebut ponselnya.
Bukannya takut, Felly malah tertawa keras membaca caption di postingan instagram Dita yang menampilkan wajah jelek Kemal.
"Kemal post foto fullfacenya di akun instagram Dita! Captionnya gini 'My Mine it's not like you mine! Ini pria tampanku. Happy fisrt year anniversary.' Bhawahahha..."
Sontak yang lain ikut tertawa. Mengabaikan wajah masam Dita dan mimik bodoh Kemal.
"Lo kok jadian gak bilang-bilang sih, Dit?! Mana udah satu tahun anniversary aja lagi," goda Rere di sertai kerlingan jahil.
Dita memandang Rere tajam kemudian mengambil kasar handphonenya dari genggaman Felly yang masih tertawa. Hanya Ayrin saja yang waras di sini karena tertawa sewajarnya.
Berbeda dengan Rendi yang guling-guling di lantai. Willy memukul meja berkali-kali dan si kompak Rere-Felly tanpa aesthethicnya sambil memegang perut mereka.
Dita berkutat untuk menghapus postingannya dan membuat snapgram sebagai konfirmasi.
"Hallo guys, buat kalian yang udah liat postingan terbaru gue hari ini. Gue klarifikasi yah.. Itu sebenarnya adalah postingan yang di buat oleh salah satu fans anarkis gue. Jadi, gue nyatakan bahwa postingan tersebut seratus persen hoax! Gue, Anandita Kinsera masih berstatus single sampai saat ini, oke? Bye guys.." ucap Dita singkat, padat.
Setelahnya, Dita mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam saku seragam. Ia membereskan tempat makan dan mulai berjalan keluar kelas meninggalkan raut sahabatnya yang bingung.
Rere, Felly serta Ayrin saling melempar pandang. Sedetik kemudian, mereka mengendikkan bahu acuh.
"Dahlah, gue mau ke kelas aja!" kata Felly.
"Gue juga, deh! Lagian istirahat tinggal sisa lima menit lagi," timpal Rere.
Ayrin mengangguk mengerti. Setelah kedua sahabatnya membereskan kotak makan mereka, Ia mengeluarkan novel dari dalam tasnya.
"Bye, Ay!!" pamit Felly dan Rere.
"Bye!!"
Rendi dan Willy memperhatikan mereka cengo. "Itu si Dita kayaknya marah gak ada yang ngejar?" tanya Willy heran.
Rendi mengangkat bahu acuh. "Hanya mereka dan Allah yang tahu," jawabnya dramatis.
Willy bergidik jijik. "Alay, lo!" sentaknya menjitak kepala Rendi.
"Tau gue! Cewek emang kayak gitu kali, gak peka!" Kemal tiba-tiba menimpali.
Rendi dan Willy saling bertukar pandang. Setelahnya menatap Kemal prihatin.
"Apa?" bingung Kemal.
"Lo curhat?"
.
.
.
TBC