
Di tempat lain, Fardhan berjalan semangat menuju rumah yang terletak tak jauh di depan rumahnya. Ia menenteng sepiring brownies buatan sang Bunda yang harus di cicipi oleh sahabatnya dari kecil.
"Sore, Pak!" sapanya kepada satpam rumah.
"Eh, Den Fardan. Sore juga, tumben kesini pengen di bukain pager, biasanya langsung masuk aja!" balas Pak Wino bercanda.
"Idih, si bapak bisa aja nyinyirnya kayak Bu Rt,"
"Hush! Aden teh gimana kalo orangnya lewat terus denger,"
"Ahahah... Kalo ada lewat terus denger tinggal saya bilang kalo itu ucapan Pak Wino bukan saya,"
Fardhan sedikit berlari meninggalkan Pak Wino yang mengelus dada sabar. Heran menyikapi segala tingkah absurd sahabat majikannya.
"Assalamualaikum! Spada!" pekiknya langsung nemasuki rumah.
Wanita paruh baya tergesa-gesa datang dari arah dapur. "Waalaikumsalam, Den Fardhan toh, Bibi kira kurir beneran,"
"Enggak dong, mana ada kurir ganteng!" ucapnya percaya diri.
Bi Nina tersenyum maklum. "Den Fardhan mau nganterin brownies buat Non Ayrin?" tanyanya melihat brownies di tangan Fardhan.
"Iya bi, Ayrin di mana? Kamar?"
"Eh, Den Fardhan emangnya gak liat mobil non Ayrin di depan teh gak ada?"
"Lah? Iya juga, mobil tuh anak gak ada di depan!"
"Non Ayrin belum pulang dari sekolahnya, Den,"
"Masa sih, bi? Ini udah lebih dari jam pulang kok,"
"Bibi juga gak tau aden, non Ayrin gak kasih kabar ke telpon rumah."
Fardhan mengetuk-ngetukkan kaki pada lantai sambil berpikir. "Yaudah bi, Fardhan titip browniesnya ke bibi. Mau pulang dulu. Assalamualaikum!"
Setelah menyerahkan browniesnya, Fardan langsung melengos pergi.
"Waalaikumsalam! Den Fardhan kebiasaan banget suka langsung pergi."
OoO
Nomor yang anda tuju sedang berada-
Tut
"Kemana perginya dah tuh bocah kecil?!" monolog Fardhan.
Ia berjalan mondar mandir tak tentu arah di dalam kamarnya. Sekali lagi, jari jempol tangannya menekan nomor Ayrin.
Nomor yang anda tuju sedang berada-
Tut
"Ck! Bodolah! Kesel gue lama-lama!"
Handphone berlogo apel tergigit itu memental di atas kasur. Kebiasaan sultan. Marahnya membuang ponsel ke tempat sembrangan.
Beberapa menit bergelung dengan posisi terlentang, dering ponsel masuk ke pendengarannya. Fardhan mengambil kembali ponselnya kemudian mengangkat panggilan tanpa melihat id caller.
"Hm," sapanya malas.
"Hallo Fardhan?" balas Ayrin di seberang telepon.
Reflek tubuhnya menegak. Ia menjauhkan ponsel melihat nama pemanggil terlebih dahulu.
"Hallo? Kenapa nelpon, Dhan?"
Fardan mendecap lidah dengan keras. "Lo dimana, Ay?" sewotnya.
"Di rumah Cessa, nih... Lagi nemenin Rere latihan musik. Kenapa?"
Terakhir mereka bertemu bahkan satu minggu yang lalu. Padahal sebelumnya hal ini tidak pernah terjadi sama sekali. Apalagi melihat kedekatan keduanya dari masa kanak-kanak meski tidak pernah berada di satu sekolah yang sama.
Rasanya, Farzan menyesal pernah bilang tak sudi satu sekolah dengan sahabat kecilnya itu.
"Dan? Kok lo diem? Masih di sana 'kan? Ada apa sih telpon?"
Suara Ayrin membuyarkan segala pemikirannya.
"Udah sore, cepet pulang, Ay!"
Tut
Panggilan di akhiri sepihak. Pelaku tentu saja seorang Fardhan Arhesta.
"Baru beberapa minggu, Ay. Dan lo udah sejauh ini dari gue..." gumamnya gusar.
Ia seperti terlempar pada masa-masa di mana Ayrin bercerita tentang kepindahan sekolahnya pada Fardhan. Sudut bibir lelaki itu terangkat tersenyum hambar. Tak menyangka rindu diam-diam menyelinap ke dalam relung hatinya.
"Emangnya, gue se-jahat apa ke mereka?" tanya Ayrin dengan wajah lelah.
Fardhan di sampingnya menatap sendu. Tak menyangka Ayrin mengalami hal demikian di masa sekolah abu-abu.
"Bukan gue yang rebut perhatian guru-guru. Bukan gue yang rebut cowok incaran mereka. Bukan gue, Dan! Bukan gue!" lanjutnya putus asa.
Fardhan menghela napas. Menarik Ayrin masuk ke dalam pelukannya. Tangan kekar itu mengusap pelan punggung rapuh Ayrin.
Entah seperti apa semesta berperan pada kehidupan gadis di pelukannya ini. Setelah menyaksikan kematian Sang Bunda dengan kepala sendiri berlanjut sampai kehilangan kasih sayang seorang Ayah dan sekarang di asingkan teman sekolah hanya karena ambisi mereka meraih peringkat pertama.
"Gak usah di pikirin, Ay. Lo cewek baik, mereka bakal nyesel mengasingkan seseorang kayak lo. Lo itu cantik, pinter, bertalenta, mereka iri sama apa yang lo punya, Ay."
Bahu Ayrin bergetar di susul isak tangis yang kian kencang. Suasana sepi di taman komplek mereka membuat Ayrin leluasa menangis sepuas hati. Apalagi, sekarang sudah hampir menuju tengah malam. Kecil kemungkinan orang akan lewat.
"Tapi gue gak tahan terus-terusan menghadapi bullying secara nonverbal kayak gini, Dan! Fisik gue emang gak kenapa-kenapa. Tapi psikis gue rasanya bener-bener mau nyerah,"
Fardhan memejamkan mata. Bagian terdalam dirinya merasa sakit mendengar ucapan yang terlontar begitu mudah dan biasa.
"Heh! Ngomong apa lo barusan?!" Ia meregangkan pelukan mereka. Menatap tajam Ayrin yang sudah banjir air mata.
"Denger gue, Ayrin. Sekolah di Jakarta enggak satu. Lo bisa masuk yang lebih favorit lagi dari SMA lo sekarang. Kalo tetep pendirian lo gak mau sesekolah sama gue, ada SMA Nusantara yang masih jauh lebih bagus dan pastinya lebih berkualitas dari SMA Gelora Bangsa. Testing masuk ke sana juga kayaknya kecil buat lo. Ayolah, mana Ayrin yang kuat yang punya seribu jalan keluar buat mengatasi setiap masalahnya? Hm?"
Kini Fardhan memberi tatapan lembut dan senyuman lebarnya untuk menambah semangat Ayrin.
"Lo bisa masuk sekolah mana pun. Jangan bego dengan diam aja berada di sana membiarkan psikis lo hancur kayak gini. Orang bego dan tolol itu perlu pelajaran kehilangan dulu untuk mengerti seberapa berharganya kehadiran seseorang. Jadi, lo gak ada alasan buat kalah dari mereka semua. Oke?"
"Lo bener. Thanks, Dan!" Ayrin tersenyum tipis.
Kembali menubrukkan diri ke dalam pelukan hangat Farzan Arhesta.
"Gitu, dong. Ini baru Ayrin Medrica."
Fardhan terkekeh kecil mengingatnya. Jika dipikir-pikir, bodoh sekali dirinya saat itu membuang kesempatan. Padahal situasi Ayrin sedang terdesak, mengapa Ia tidak mengajaknya bersatu sekolah yang sama.
Bukannya itu akan menjadikan kedekatan mereka lebih awet lagi?
Tapi jika di suruh memilih antara kebahagiaannya dengan kebahagiaan Ayrin, maka Fardhan dengan tegas akan memilih kebahagiaan Ayrin.
Karena mungkin, Ia sudah di kendalikan oleh kekuatan cinta dari kebersamaan bersama seorang Ayrin Medrica.
Sahabat kecilnya, cinta kedua setelah Bundanya juga seseorang yang selalu berhasil mengusik ketenangannya saat tidak terpandang mata.
.
.
.
TBC