
Pagi sekali sebelum para member B-Men bangun, Sofie sudah sibuk menyiapkan sarapan di dapur yang mewah tersebut. Sambil bernyanyi riang, Sofie mengayunkan spatulanya mengaduk beberapa sayuran segar dengan mayonaise yang sebelumnya ia beli di minimarket dekat markas B-Men yang sempat ia lihat ketika datang ke rumah itu. Walaupun lumayan melelahkan jika ditempuh dengan berjalan kaki.
Zhen dan Kenzie yang pertama tiba di dapur dengan pakaian yang sudah rapi. Keduanya duduk dan meneguk air mineral yang mereka ambil dari lemari pendingin. Kemudian tersenyum memperhatikan Sofie yang sedang mengaduk saladnya sambil mendengarkan lagu melalui earphone dan tak menyadari kedatangan keduanya. Sofie terus bernyanyi dengan riang, meskipun suaranya benar-benar memprihatinkan. Tidak lama kemudian Vino dan Calvin pun ikut bergabung.
Begitu asiknya Sofie bernyanyi hingga tidak menyadari ke empat pria itu sudah berkumpul mengelilingi meja makan. Sofie benar-benar terkejut begitu ia membalikkan badannya hendak meletakkan semangkuk besar salad ke meja makan dan mendapati semua member B-Men kini tengah menatapnya sambil tersenyum geli.
"Pagi sekali kamu bangun, Sofie? Dan suaramu itu benar-benar luar biasa," puji Vino sambil tersenyum geli membuat wajah wanita itu memerah sambil melepaskan earphone-nya.
"Ah ... kalian sudah bangun. Selamat pagi, ayo sarapan!" ucap Sofie salah tingkah.
"Di mana Rexa? Apa dia belum bangun?" tanya Zhen sambil menatap ke sekeliling dapur dan ruang makan.
"Belum. Mungkin karena semalam ia menonton berita infotainment itu sampai larut," sahut Sofie cuek sambil menuang salad ke dalam beberapa piring yang telah lebih dulu ia tata di meja.
"Infotainment? Tak biasanya dia suka infotainment," celetuk Zhen lagi sambil bertukar pandang dengan Vino.
"Buktinya semalam matanya nyaris keluar tak berkedip sedikit pun saat menonton infotainment tentang siapa itu, penyanyi yang sering digosipkan dengan banyak pria." Keempat pria di hadapannya terlihat berpikir. "Wanita yang terkenal kontroversial itu loh. Kalau tidak salah namanya Ka—Kashia ... eh ... Ka— aduh aku lupa namanya."
"Kaisha!" jawab Vino dan Zhen berbarengan.
"Iya itu. Namanya Kaisha. Dia menonton berita itu sampai terlihat seperti orang mau mati karena patah hati saja," jelas Sofie sambil meletakkan mangkok salad yang kosong di tempat cucian piring.
"Jadi masih seperti itu, ya?" gumam Vino.
"Memangnya apa hubungannya dengan si Kaisha itu?" tanya Sofie penasaran.
"Kaisha itu mantan pacar Rexa!" celetuk Calvin asal sambil mengunyah saladnya.
"Benarkah? Semalam waktu kutanya seperti itu dia bilang bukan."
"Eh ... sebenarnya mereka itu benar pernah pacaran, kan?" tanya Calvin tak yakin pada Vino.
"Hmm ... Hubungan mereka itu sulit dijelaskan dengan kata-kata. Benar-benar rumit," sahut Vino.
"Hei! Apa yang kalian bicarakan tentang aku di pagi buta seperti ini?" kata Rexa yang tiba-tiba sudah berada di belakang Sofie.
"Ah, bukan apa-apa. Kamu ini perasa sekali. Ayo cepat sarapan! Katanya jadwal kalian akan padat dari pagi." Sofie mengalihkan pembicaraan dan mendorong Rexa menuju kursinya.
"Wow ... sepertinya ada pesta di sini! Kenapa tak ada yang mengundangku?" sapa Nick yang baru saja datang sambil melintasi ruang tengah menuju ke ruang makan.
"Ayo bergabung dengan kami! Kemarin Rexa membawa seorang koki hebat yang cantik," sahut Calvin yang selalu ceria.
"Hai, Sofie. Saya sudah mendengar tentangmu dari Rexa. Katanya kau akan ikut membantu kami hari ini," kata Nick ramah.
"Membantu apa, ya?" tanya Sofie bingung.
"Kan, sudah kubilang kamu harus mengikutiku sepanjang hari agar aku bisa membayar ganti rugimu!" terang Rexa.
"Kau ini! Seharusnya kau memberitahunya lebih detail. Tak apa Sofie, biar saya jelaskan lagi padamu nanti. Untuk sementara ini kau cukup menjadi seperti saya. Anggap saja kau seperti asisten manager," jelas Nick sambil tersenyum.
"Siapa bilang dia asisten manager? Dia itu asistenku, karena aku yang akan membayarnya bukan agensi!" pungkas Rexa cuek.
"Hei ... jangan diskriminasi begitu. Nanti member yang lain cemburu, loh!" protes Nick.
"Kalau mereka mau, mereka bisa cari sendiri," ujar Rexa cuek diikuti tawa ringan member lainnya.
"Hei ... hei ... kalian hanya bercanda, kan? Kalian tidak benar-benar menginginkan asisten pribadi seperti Rexa, kan? Lagipula bagaimana nasibku bila kalian semua menginginkan asisten pribadi. Lalu apa yang akan kukerjakan nanti?" protes Nick.
Sebelum memulai pekerjaan barunya, Sofie menyempatkan diri pulang ke rumah untuk mandi dan berganti pakaian. Nick dengan sukarela mengantar Sofie pulang sedangkan para member B-Men langsung menuju lokasi syuting untuk pengarahan dan lain sebagainya.
Untunglah rumah Sofie kali ini terlihat sepi karena para paparazzi yang semalam berkumpul di depan pagarnya sudah pergi. Sonya juga sudah berangkat kerja sejak pagi tadi. Dengan waspada sambil sesekali melirik ke kanan dan ke kiri rumahnya, Sofie membuka pintu secepat kilat. Lalu dengan segera menarik Nick yang masih heran dengan tingkahnya masuk ke dalam rumah.
"Kenapa kau celingak-celinguk seperti maling begitu?" tanya Nick penasaran.
"Semalam di sini penuh paparazzi. Saya takut jadi bahan gosip lagi. Ampuuun ... jangan lagi deh, dikeroyok wanita-wanita brutal kemarin."
"Benarkah? Mereka sampai mencarimu kemari? Waah ... berarti saya harus hati-hati dengan mereka."
"Betul. Mereka mengerikan! Kak Nick tunggu di sini sebentar ya, saya siap-siap dulu," kata Sofie kemudian menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian.
Tidak lama kemudian Sofie keluar kamar dengan pakaian yang benar-benar rapi. Kemeja siffon babypink dengan rok selutut biru tua ditambah dengan tatanan rambut yang digelung ketat di kepalanya. Benar-benar rapi layaknya seorang sekretaris presdir perusahaan besar.
"Ayo kita berangkat, Kak Nick!" kata Sofie setelah selesai merapikan bajunya. Namun yang ditanya masih diam terpaku tak berkedip. "Kak Nick? Ayo kita berangkat!" kata Sofie lagi. "Kok bengong? Apa pakaianku kurang rapi? Apa aku harus ganti dengan yang lain?" tanya Sofie heran.
"Ah, tidak. Itu sudah cukup kok. Terlihat sangaaaat rapi. Kalau begitu, ayo kita berangkat!" kata Nick sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
Selama diperjalanan, Nick menjelaskan pekerjaan seperti apa yang akan Sofie hadapi nanti dan bagaimana cara mengatasinya. Nick menjelaskan dengan detail semua acara B-Men hari ini lengkap dengan profil semua orang yang akan B-Men temui selama jadwal mereka yang padat ini.
"Apa jadinya ya, kalau para penggemar Rexa sampai tahu kau menjadi asisten pribadinya?" tanya Nick penasaran.
"Kak Nick, pasti akan melihatku tenggelam di danau. Mungkin! Kakak kan tahu sendiri penggemarnya Rexa itu benar-benar menyeramkan!" jawab Sofie sambil bergidik ngeri.
"Separah itukah?" kata Nick sambil tertawa renyah diikuti anggukan mantap kepala Sofie.
Akhirnya mereka tiba di studio besar dan mewah yang akan digunakan B-Men untuk syuting iklan. Keduanya memasuki studio sambil tertawa riang karena beberapa lelucon yang saling mereka lontarkan. Namun dari kejauhan Rexa sedang mengamati keduanya dengan seksama, terutama penampilan dan tingkah laku Sofie.
"Wooow! Kau cantik sekali Sofie!" puji Calvin saat Sofie tiba di depan para member B-Men.
"Kamu terlihat seperti manager artis profesional. Keren!" puji Vino yang membuat Sofie tersipu.
"Pakaian apa itu yang kamu pakai?!" protes Rexa dingin. "Kamu ini bukan resepsionis hotel lagi yang harus berdandan serapi mungkin. Kamu ini akan mendampingi artis populer. Kamu harus punya fashion yang bagus bukan yang kaku!" tegur Rexa tajam dan dengan sengaja Rexa menarik lepas jepit rambut Sofie hingga gulungan rambut wanita itu meluncur terurai melewati bahunya. Merapikan rambut Sofie yang tergerai kemudian membuka kancing teratas kemejanya yang membuat wajah Sofie merah padam karena malu diperlakukan seperti ini oleh Rexa. "Nah, begini lebih baik!"
"Oh, rupanya julukanmu sebagai penakluk wanita di luar sana itu ternyata benar. Kamu benar-benar punya selera yang bagus terhadap wanita," sindir Zhen.
"Aku hanya menunjukkan seperti apa dunia kita. Di mana penampilan menjadi poin penting!" balas Rexa dingin. "Dan, kamu! Cepat belikan aku kopi!" titah Rexa sambil menunjuk Sofie.
"Kopi?"
"Iya, kopi! Kopi hitam tanpa gula! Apa kamu tidak tahu apa itu kopi?"
"Baiklah boooss! Akan kubelikan."
"Apa mau kuantar?" tanya Nick. Namun belum sempat Sofie menjawab, Rexa sudah mendahuluinya.
"Tak perlu. Kamu kan harus bertemu dengan sutradara dulu. Lagipula dia sudah besar, bisa pergi sendiri!" kata Rexa dingin.
"Ah, benar juga. Maaf ya, Sofie. Kau hati-hatilah di jalan. Jangan sampai para penggemar Rexa membuatmu tenggelam di danau," kata Nick sambil berbisik pelan di telinga Sofie yang membuat Rexa menatap keduanya tajam.
"Tidak apa, Kak Nick. Kalau mereka melakukan itu, Kakak harus cepat membereskan masalahnya. Oke, aku pergi dulu!"
...* * *...