Because It's You

Because It's You
8. Basecamp Para Pria Tampan



Sofie merasa seperti buronan penjahat yang sedang dicari polisi, tidak bisa bebas berjalan ke mana pun ia mau. Ada rasa khawatir bila tiba-tiba penggemar Rexa dan para paparazzi menyerbunya ketika ia sendirian.


Di setiap langkah, kepalanya menoleh ke sekeliling dan matanya menatap waspada. Bahkan saat tiba di halte bus, Sofie seakan mengendap-endap begitu melewati beberapa orang. Khawatir kalau mereka adalah penggemar fanatik Rexa.


Dan benar saja, mata Sofie menangkap beberapa gadis yang mengerjainya tempo hari sedang bersandar pada papan reklame samping halte. Sofie segera memandang sekitar berharap ada tempat untuk bersembunyi. Ia sungguh tak ingin berhadapan dengan mereka saat ini.


"Hei, lihat! Itu kan, perempuan yang di hotel tadi!" Baru saja Sofie hendak meninggalkan halte ketika tiba-tiba salah satu dari mereka memergokinya.


Sofie mencelos sambil berdecak kesal. Kenapa juga dia harus sesial ini. Segera Sofie berusaha menghindar dan berlari mencari tempat bersembunyi, tetapi sepertinya mereka terlalu gigih mengejarnya. Ah, kini ia tahu rasanya jadi Rexa. Pasti sesak napas punya penggemar macam begini.


"Hei, kakak! Kenapa kamu lari? Apa semua gosip itu benar, makanya kamu lari!" teriak salah satu gadis remaja itu sambil mengejarnya.


Sofie tak menjawab dan hanya terus berlari sambil mencari tempat bersembunyi yang aman. Namun untuk sesaat ia berhenti sambil memandang bingung sekekelilingnya. Sofie tersesat. Beberapa meter di belakangnya para gadis itu masih mengejarnya. Sofie menggigit bibirnya panik. Tak tahu harus ke mana sampai sebuah tangan menariknya bersembunyi di balik sebuah tembok tinggi. Sesosok pria bertubuh tinggi itu menutupi tubuh Sofie dengan tubuhnya hingga para pengejar Sofie pergi menjauh.


"Kamu tak apa-apa?" tanya pria yang suaranya semakin familiar di telinga Sofie. Sofie pun menatap pria itu kesal.


"Sedang apa kamu di sini?" tanya Sofie ketus.


"Kupikir kamu kesulitan menghadapi mereka tadi."


"Kenapa kamu lakukan ini padaku?"


"Apa?"


"Tidak mengertikah kamu, kalau tindakanmu di hotel itu menempatkanku pada masalah baru?" Sofie menatap Rexa sengit. "Seharusnya kamu klarifikasi saja semua yang terjadi dan tak perlu menyelamatkanku sewaktu di lobi hotel tadi! Kenapa kamu melakukan hal yang membuat masalahnya semakin rumit!" teriak Sofie kesal menumpahkan semua kemarahannya pada Rexa. "Tindakanmu itu membuat mereka semakin menganggapku seperti musuh bebuyutan! Aku merasa seperti buronan yang harus terus sembunyi dari kejaran para penggemarmu dan paparazzi. Sadarkah kamu kalau kamu telah menghancurkan hidupku dalam sehari?" tutur Sofie nelangsa dengan air mata memenuhi kelopak matanya.


Rexa terdiam menatap Sofie yang mulai terisak. Entah kenapa ia merasa bersalah pada Sofie. Perlahan diraihnya wanita itu dan dipeluknya. Ditepuknya pelan punggung Sofie untuk sekedar meringankan beban hati wanita itu.


Begitu Sofie tenang, Rexa membawanya ke dalam mobil escalade hitamnya. Mengantar Sofie pulang sepertinya satu-satunya cara membuat wanita itu aman dari kejaran penggemarnya.


Mobil melaju di jalanan yang ramai. Rexa mengemudikan mobilnya sambil sesekali melirik Sofie yang masih membisu. Sedari tadi wanita itu hanya menatap jendela di sampingnya dengan mata sembab.


"Bagaimana kamu tahu aku ada di sana?" tanya Sofie akhirnya bersuara. Wanita itu sempat heran ketika mendapati Rexa menolongnya di saat yang benar-benar tepat.


"Itu.... Aku sempat mengikutimu dari hotel," jawab Rexa singkat. "Di mana alamat rumahmu? Biar kuantar!"


"Di Jasmine Residence."


Butuh waktu satu jam sebelum akhirnya mobil Rexa memasuki kawasan perumahan yang Sofie sebutkan tadi. Komplek perumahan di pinggiran kota besar yang tertata cukup rapi dan teratur.


Sofie memandu jalan, tetapi tiba-tiba terdiam karena terkejut begitu mobil Rexa berbelok di ujung gang. Rexa menoleh dan menemukan Sofie hanya menunjuk ujung gang di depan mereka, tempat rumahnya berada. Beberapa paparazzi terlihat berkerumun di sekitar rumah Sofie.


"Apa-apaan ini?" tanya Sofie kaget saat Rexa menepikan mobilnya tak jauh dari rumah Sofie. "Bagaimana mereka tahu aku tinggal di sini? Apa mereka memang segigih itu kalau soal urusan gosip terhangat?" gerutu Sofie kesal dan jengkel.


"Mereka semua lebih mengerikan dari apa yang bisa kamu bayangkan. Sudahlah, sepertinya kamu harus pergi ke tempat lain. Ada tempat lain yang ingin kamu tuju?" Rexa berusaha meberikan solusi sambil mengendarai mobilnya menjauh dari rumah Sofie.


"Sepertinya ke mana pun aku pergi tak akan ada tempat yang aman sampai mereka puas mengorek informasi dariku dan menjadikan gosip ini berita terhangat sepanjang tahun!" celetuk Sofie sinis sambil merengut.


"Masih ada satu tempat yang aman dari mereka semua. Tempat yang paling aman yang tak akan pernah mereka duga," sahut Rexa sambil tersenyum penuh arti dan segera melajukan mobilnya secepat mungkin.


"Kita mau ke mana?"


"Lihat saja nanti!"


Satu jam kemudian, mobil Rexa berhenti tepat di garasi luas di sebuah rumah besar minimalis yang elegant bernuansa putih cokelat. Rexa mematikan mesin mobilnya dan beranjak turun diikuti oleh Sofie yang terlihat bingung.


"Ini di mana? Kamu tidak membawaku ke tempat yang aneh-aneh kan?" Sofie menyipitkan matanya menatap Rexa curiga.


"Sudah kamu ikut saja! Ini tempat paling aman dari para paparazzi dan para penggemar gila itu." Rexa melangkah masuk ke dalam rumah dan Sofie hanya mengikutinya dari belakang.


"Waaah ... ada angin apa kau pulang ke sini, Rex?" tanya Calvin heran melihat Rexa yang tiba-tiba muncul di ruang tengah rumah markas B-Men. Sesaat kemudian dengan setengah terkejut Calvin melihat Sofie yang muncul di belakang Rexa, "Oooh... jadi karena dia, ya?" Calvin menjawab pertanyaannya sendiri sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Hai, Sofie! Ayo sini kumpul bersama kami!" kata Vino ramah sambil menepuk sofa kosong di sebelahnya dan mengisyaratkan Sofie agar duduk.


Sofie melangkah menuju sofa yang ditunjuk Vino. Masih dengan bingung, Sofie menatap Rexa yang dengan cuek pergi menuju kamarnya. Sedangkan anggota B-Men yang lain hanya tersenyum sambil memandang Rexa dan Sofie bergantian.


"Apa ada yang salah denganku?" tanya Sofie heran.


"Tidaaaaaakk! Tapi kami senang kamu bisa membawa Rexa kembali ke rumah ini lagi," balas Vino sambil tersenyum ramah.


"Memangnya selama ini dia tak pernah pulang?" tanya Sofie heran dan dijawab dengan anggukan singkat oleh Vino. "Dasar pria aneh! Rumah senyaman ini malah dibiarkan begitu saja," gerutu Sofie menyindir Rexa.


"Syukurlah kalau begitu." Hingga suara perut Sofie yang bergemuruh terdengar nyaring menginterupsi percakapan mereka. "Aah, aku lapar sekali. Apa kalian punya sedikit makanan?" tanya Sofie sambil memegangi perutnya yang mulai memberontak karena belum diisi makanan sedikit pun. "Hari ini sungguh melelahkan buatku."


"Kau belum makan seharian ya? Suara perutmu benar-benar mengerikan," ledek Calvin dengan gaya kocaknya.


"Iya. Mana mungkin sempat makan kalau dikeroyok puluhan wanita histeris itu!" keluh Sofie sambil mamajukan bibirnya hingga membuat para member B-Men tertawa kecil melihat tingkahnya.


"Hmm ... mungkin masih ada sedikit bahan makanan di kulkas, tapi kami tidak bisa memasak. Atau kamu pesan makanan siap saji saja?" saran Kenzie.


"Tak usah. Aku masak sendiri saja. Boleh kupinjam dapurnya?" Semua pria itu pun mengangguk mempersilakan Sofie menggunakan dapur mereka yang terlihat amat sangat bersih seperti tidak pernah digunakan.


Sofie langsung menyerbu lemari pendingin besar di dapur yang letaknya bersebelahan dengan ruang tengah, memeriksa bahan makanan apa saja yang bisa ia masak. Walaupun hanya ada telur, sosis, kentang juga sayuran beku dan dengan sedikit sentuhan tangannya jadilah beberapa makanan yang enak. Sofie membuat omelete dengan sosis dan kentang goreng yang cukup banyak jika dimakan untuk satu porsi. Sofie akhirnya mengajak para member B-Men untuk makan malam bersamanya.


"Aku sering mendengar Sonya memuji masakanmu dan ternyata benar apa yang dia bilang. Masakanmu memang enak," kata Vino sambil menyuapkan omelete ke dalam mulutnya dan membuat Sofie menatapnya heran.


"Sonya cerita itu? Aku heran, sebenarnya kalian berdua sedekat apa sih?" tanya Sofie sambil memicingkan matanya.


"Uhuuk! Hmm ... itu ... pokoknya kami dekat laaah ...." Vino terlihat salah tingkah. "Telur ini lezat sekali!" celetuk Vino berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Masakan ini membuatku rindu pada masakan ibuku," ujar Calvin dengan mata terpejam menikmati setiap suapan yang masuk ke dalam mulutnya. "Sayangnya kita tak boleh terlalu banyak makan."


"Ah, benar juga! Kalian kan harus selalu menjaga tubuh ideal kalian, ya. Tapi makanan ini pun sebenarnya kurang sehat. Karena aku hanya memanfaatkan bahan makanan yang ada di kulkas dan semuanya adalah makanan beku siap saji. Seharusnya  kalian simpan sayuran segar dan makanan sehat lainnya di kulkas sebesar itu!" celoteh Sofie sambil meneruskan makannya.


"Kami tak memiliki waktu untuk itu. Ketika kami pulang, kami sudah lelah dan makanan yang kami makan pun sudah dipesan khusus dari koki di restoran sehat terkenal," timpal Kenzie yang baru selesai menghabiskan suapan terakhirnya.


"Bagaiamana kalau kau saja yang mengatur menu makan kami?" tanya Calvin semangat mengutarakan ide cemerlangnya itu.


"Aku?" Sofie terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab, "Bisa saja sih."


"Loh, bukannya dia kerja di hotel?" ujar Zhen yang sedari tadi hanya menyimak percakapan teman-temannya sambil menikmati makanannya.


Sambil menggeleng pelan Sofie menjawab, "Aku ... sudah dipecat dari hotel itu."


"Dipecat? Kenapa?" tanya Calvin heran.


"Apa karena kejadian di hotel tadi?" tanya Vino dan Sofie pun mengangguk pelan.


"Kenapa tidak bilang padaku kalau kamu tadi dipecat?" tanya Rexa yang tiba-tiba sudah ada di pintu dapur dengan pakaian yang lebih santai. Seketika saja semua yang ada di meja makan langsung menatap ke arahnya.


"Kenapa aku harus bilang padamu? Memangnya kamu ini siapa? Memangnya dengan aku bilang padamu semua masalahku selesai begitu saja?" sahut Sofie ketus.


"Ya mungkin saja aku bisa membantumu," jawab Rexa dingin.


"Membantu apa? Semakin kamu membantuku rasanya hidupku semakin kacau," gerutu Sofie sambil cemberut. "Kamu seharusnya membayar uang ganti rugi karena aku telah rugi banyak karena tingkahmu!"


"Kalau itu saja, bukan hal yang sulit untukku. Kamu cukup mengikutiku seharian dan aku akan membayarmu. Anggap saja aku memberimu pekerjaan. Bagaimana?" tanya Rexa serius.


"Kenapa pekerjaannya harus mengikutimu terus? Kamu mau aku diserbu penggemarmu lagi?" tanya Sofie heran.


"Kamu cukup bilang 'iya' kalau aku bilang akan membantumu!" balas Rexa tak ingin dibantah.


"Sudah ... sudah! Sebaiknya kamu makan dulu supaya otakmu itu sedikit rileks." Vino berusaha mencairkan suasana dan menarik Rexa untuk duduk di sebelahnya. Kemudian menyodorkan sepiring omelete buatan Sofie dan meminta Rexa mencicipinya, meskipun dengan enggan Rexa memakan suapan pertamanya. Namun untuk suapan berikutnya ia terlihat menikmati makanannya.


"Gimana? Enak, kan?" tanya Vino sambil tersenyum dan dijawab anggukan tanda setuju dari Rexa. "Berarti kamu juga harus membayar semua makanan ini pada Sofie."


Selesai makan malam, para member B-Men pamit pada Sofie untuk beristirahat. Besok mereka harus bangun pagi-pagi sekali dikarenakan jadwal mereka yang padat. Selesai merapikan dapur, Sofie kembali ke ruang tengah dan mendapati Rexa sedang menonton TV dengan tatapan kosong. Beberapa kali tangannya menekan tombol remote TV namun tidak jelas apa yang sebenarnya sedang ia tonton.


"Kenapa kamu tidak tidur seperti yang lain?" tanya Sofie kemudian duduk di sebelah Rexa.


"Aku belum mengantuk!" jawab Rexa datar masih terpaku memandangi layar TV yang terus berpindah-pindah saluran. Untuk beberapa saat Rexa sempat fokus melihat sebuah tayangan infotainment tentang artis Kaisha yang sedang diisukan dengan beberapa aktor tampan dan pengusaha kaya. Ada sederet pria yang selalu menghiasi berita tentang Kaisha ke mana pun ia pergi atau di mana pun ia berada.


"Hei ... kamu seperti orang yang patah hati. Tatapanmu itu bisa membuat TV itu retak. Apa dia itu pacarmu?" tanya Sofie penasaran sambil menunjuk Kaisha di layar TV yang sedang dilihat Rexa tanpa kedip.


"Bukan."


"Lalu, kenapa menatapnya seperti seakan dunia hancur? Apa kamu penggemar rahasianya?"


"Tak ada gunanya menjadi penggemar rahasianya. Menjadi pacarnya pun pasti akan ditendang dan dibuang begitu saja. Sudahlah ... aku mau tidur. Kamu bisa gunakan kamar di sebelah tangga itu. Selamat tidur!" kata Rexa cuek dan bergegas menuju kamarnya di seberang tangga meninggalkan Sofie yang masih menganga heran.


...* * *...