
Pagi sekali Sofie sudah tiba di basecamp B-Men. Tangannya penuh belanjaan bahan makanan yang dibelinya di pasar pagi dekat rumahnya. Sedikit kewalahan, Sofie menekan password pintu basecamp yang Nick berikan padanya kemarin. Berjalan sedikit mengendap langsung menuju dapur yang masih bersih mengkilap.
Dengan hati-hati diletakkannya barang belanjaan yang baru dibeli di atas meja. Sebagian lagi ia masukkan ke dalam lemari pendingin. Untuk stok.
Kini segala kebutuhan di basecamp menjadi tanggung jawab Sofie. Terlebih kemarin Nick juga sudah memberinya kartu debit khusus untuk membeli keperluan rumah tangga di basecamp. Dan sudah menjadi tanggung jawabnya juga untuk memperhatikan makanan yang dikonsumsi para member.
Seperti saat ini, Sofie terlihat mulai bergerak lincah menyiapkan semua peralatan masaknya, membersihkan sayuran dan segera mengolahnya. Sesekali wanita itu berdendang sambil memutar spatulanya. Pukul delapan tepat, semua menu sarapan sehat yang Sofie buat telah rapi terhidang di meja makan.
"Waaah ... kau sudah datang, Sofie. Harum makanan ini benar-benar membuatku lapar." Calvin yang pertama kali keluar kamar langsung duduk di kursi meja makan.
"Kalau begitu cepat bangunkan yang lainnya sebelum semua makanan ini menjadi dingin!" pinta Sofie sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Siapa yang perlu kamu bangunkan, Sofie? Kami sudah di sini kok!" sahut Vino yang baru masuk ke ruang makan bersama Zhen dan Kenzie.
"Tanpa kamu bangunkan pun, wangi masakanmu ini bisa membuat kami berjalan sambil tidur," canda Kenzie.
"Benarkah? Sekarang, ayo lekas habiskan sarapan kalian itu!" sahut Sofie sambil tersenyum.
"Oke!" kata mereka serempak.
"Hei ... mana Rexa? Sofie, coba tolong kamu panggilkan dia di kamarnya!" pinta Vino yang sudah mulai menyuap makanannya.
"Baiklah."
Sofie bergegas menuju kamar Rexa dan mengetuk pintunya pelan. Hening. Tidak ada jawaban dan suara apapun. Dicobanya sekali lagi, tetapi masih tetap tidak ada jawaban. Akhirnya dengan sedikit keberanian Sofie membuka pintu kamar yang ternyata tidak dikunci itu.
"Rexa!" panggil Sofie sambil melangkah masuk ke dalam kamar Rexa. "Rexa, kamu sudah bangun belum? Ayo sarapan! Jadwal pagi ini kan padat, jangan sampai terlambat!" teriak Sofie sambil mencari ke sekeliling kamar yang tertata rapi dengan gaya maskulin dengan warna dominan putih abu-abu.
"Apa yang kamu lakukan di kamarku?!" tanya Rexa yang baru saja keluar kamar mandi dengan masih mengenakan handuk dan rambut yang masih basah.
"Ma ... maaf ... a ... aku kira kamu belum bangun. Maksudku jangan sampai terlambat! Hari ini kan-" Sofie otomatis memalingkan wajahnya. Terbata-bata menjawab karena terlalu terkejut melihat Rexa hanya mengenakan handuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
"Berani sekali kamu. Apa kamu tidak takut masuk ke kamar seorang pria dewasa sendirian seperti ini?" tanya Rexa sambil mendekati Sofie dan membuat wanita itu harus mundur beberapa langkah.
"Ap ... apa ... yang akan kamu lakukan?" tanya Sofie gugup. Matanya terpaku pada dada bidang Rexa yang sejajar dengan hidungnya saat pria itu terus mendekatinya. Membuatnya semakin terpojok di tembok kamar. Rexa masih menatapnya tajam.
"Lalu, apa yang kamu lakukan di sini? Mau mengintipku berganti pakaian?" kata Rexa balik bertanya sambil mengunci Sofie di tembok.
"Aku ... aku ...." Sofie semakin gugup. Tubuhnya bergidik saat Rexa semakin mempersempit jarak di antara keduanya. Hanya setengah lengannya. Jantungnya berdetak brutal. Apalagi saat Rexa mendekatkan wajahnya. Sofie langsung memalingkan wajah, menahan napas sambil menutup kedua matanya.
"Sudah sana keluar! Aku mau ganti pakaian!" Rexa melangkah menuju lemari pakaiannya sambil terkekeh geli. Sedangkan Sofie dengan secepat kilat berlari meninggalkan kamar pria itu. Rexa hanya tersenyum simpul mengingat betapa gugupnya Sofie saat ia menggodanya. Baru kali ini Rexa bertemu wanita selugu Sofie yang justru panik melihat tubuh dan dada bidangnya.
Sekembalinya ke dapur, Sofie langsung duduk manis bersama member lainnya di meja makan. Fokus menyuap makanannya dan berusaha mengelak dari tatapan Rexa ketika pria itu bergabung. Tidak besuara sedikit pun sampai Nick datang.
Nick mencomot roti sandwich yang tersisa di meja makan sambil memberikan pengarahan pada para member tentang kegiatan mereka hari ini. Semua berusaha mendengarkan dengan baik kecuali Rexa yang terlihat tak acuh.
Setibanya di lobi gedung, para member B-Men, Sofie, dan Nick secara tidak sengaja berpapasan dengan Azalea dan Kaisha yang bernaung dalam rumah manajemen yang sama. Azalea tersenyum manis menatap Rexa berusaha menarik perhatian pria itu, sedangkan Kaisha hanya menatap Rexa sambil tersenyum tipis.
"Nick ... dengan agency mana kita akan bekerja sama?" tanya Rexa heran saat melihat adanya Kaisha di gedung yang sama.
"Apa bos tak memberitahumu?" tanya Nick balik dan Rexa hanya menggeleng pelan. "Oh ... maafkan aku Rexa. Kalian baru saja bertemu lawan main kalian."
"What?! Mereka itu?" sahut Vino tak percaya sambil melirik Rexa yang terlihat amat tidak senang.
"Bos pikir kalau drama ini akan berdampak sangat baik untuk promo album baru kalian," Nick mencoba menjelaskan. "Kalian bintang yang sedang bersinar disandingkan dengan dramaqueen, Kaisha yang menjadi role model fashion gadis remaja masa kini. Belum lagi ditambah Azalea sang bintang baru yang berbakat di bawah manajemen yang sama dengan Kaisha. Bos berharap drama ini akan sukses besar."
"Tapi bukankan bos tahu kalau ...." Calvin tak jadi melanjutkan kalimatnya saat melirik Rexa yang mulai tak nyaman.
"Bos pikir, di sini dibutuhkan profesionalisme. Lagipula ini merupakan saran dari sutradara Erick yang langsung menangani dramanya. Sutradara pikir akan baik menggunakan aktor dan aktris yang sedang diidolakan oleh masyarakat terutama para remaja. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk ini," jelas Nick.
"Sudahlah, kalian tak perlu khawatir. Lagipula itu sudah lama berlalu," jawab Rexa santai walaupun ada getar tak yakin dalam nada suaranya. Ia belum sempurna menata hatinya jika harus berhadapan dengan Kaisha lagi. Akan tetapi ia juga harus bersikap profesional sebagai aktor.
Dari samping, Vino diam-diam memperhatikan Rexa. Meskipun dari luar Rexa terlihat cuek dan santai seolah tidak ada apa-apa, tapi Vino yakin kalau temannya itu tidak baik-baik saja. Begitu juga dengan Sofie yang tengah memperhatikan setiap ekspresi wajah Rexa yang kini terlihat lebih dingin dari sebelumnya. Rahangnya terlihat mengeras dan lebih kaku dari biasanya meskipun senyuman tergambar samar menghiasi wajahnya.
Wajah tegang dan kaku Rexa tak kunjung menghilang meskipun saat ini para member B-Men telah duduk tenang di balik sebuah meja panjang ruang pertemuan. Mendengarkan penjelasan dari sutradara dan tim penulis skrip drama. Di hadapan mereka duduk dengan anggun Kaisha dan Azalea beserta manager mereka masing-masing.
Sutradara menyebutkan bahwa pemeran utamanya adalah Rexa, Kaisha, dan Azalea. Membuat ketiganya saling tatap. Meskipun Rexa bersikap seolah cuek, tapi melihat Kaisha sedekat ini membuat pergolakan itu muncul lagi di dalam dadanya. Terlebih Sutradara Erick terlampau berharap drama ini akan meledak dan sukses dipasaran.
Selesai menjabarkan semua peran dan inti cerita drama ini, sang produser menyerahkan berkas kontrak kerja yang harus mereka sepakati.
"Baiklah semuanya, syuting akan langsung kita mulai minggu depan. Sampai ketemu lagi lusa untuk reading script!" kata sang sutradara setelah semua kontrak ditandatangani dan buku skrip drama dibagikan.
"Mulai sekarang kita akan bekerja sama lagi, Kak. Mohon bantuannya ya!" kata Kaisha dengan senyum sedikit angkuh sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Rexa saat produser dan sutradara sudah keluar ruangan.
"Oke!" Hanya kata itu yang keluar dari mulut Rexa yang terasa kelu menatap wanita yang pernah menjadi cintanya sebelum akhirnya ia memilih segera pergi dari ruangan tersebut.
Sofie yang sedari tadi berdiri di samping Rexa sampai tak berani menyapanya. Sofie hanya mengikutinya dalam diam sambil sesekali mencuri pandang menatap wajah pria dingin itu. Sedangkan Nick segera mengingatkan acara jumpa penggemar mereka di hotel Savero.
Untungnya wajah Rexa sudah kembali seperti biasa saat mereka tiba di hotel. Mereka masuk melalui pintu belakang dengan keamanan super ketat. Namun ketika akan memasuki lobi utama, Sofie menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan dirinya dari rasa gugup. Suara ribuan penggemar B-Men terdengar keras sekali nyaris membuat nyali Sofie menciut mengingat terakhir kali mereka mengeroyoknya. Nick menepuk pelan bahu Sofie untuk menghilangkan kegugupan wanita itu dan memberinya beberapa instruksi tentang apa yang harus dilakukan Sofie.
"Kau bisa melakukannya, kan? Lakukan saja seperti yang kukatakan tadi," kata Nick mencoba menenangkan Sofie. Sebelumnya pun Nick sudah mengajarkan Sofie bagaiamana cara menangani situasi seperti ini namun tetap saja itu tak membantu mengurangi rasa takut Sofie terhadap para penggemar fanatik kelima pria tampan ini.
"Tenang saja, mereka tidak akan bisa menenggelamkanmu di danau. Tidak ada danau di sekitar sini!" canda Nick berusaha membuat Sofie kembali bersemangat.
"Danau memang tak ada, tapi kolam renang banyak di sini!" sahut Sofie berusaha tersenyum. "Baiklah, ayo kita lakukan! Kawal para pria tampan ini untuk membuat mereka semua iri!"
"Oke. Ayo kita mulai!" sahut Nick sambil tersenyum ikut semangat.
...* * *...