Because It's You

Because It's You
2. Pengkhianatan



Hall Center Hotel Savero telah dipenuhi penggemar yang terlihat antusias menunggu kedatangan para idolanya. Lampu kelap kelip dan beberapa dekor panggung menambah semaraknya suasana konser B-Men. Sesuai namanya B-Men yang berarti Bright, Briliant, and Brave Men, kelima membernya memiliki wajah yang tampan cemerlang, pintar dan berperawakan gagah dengan tinggi rata-rata 180 sentimeter yang membuat para wanita mengidolakan mereka.


Suasana semakin riuh terdengar dengan teriakan histeris para penggemar. Juga tepukan tangan membahana memenuhi setiap sudut ruangan. Dan akan semakin riuh ketika para pria tampan itu mengeluarkan suara emas mereka.


Konser mereka berakhir meriah dengan gemuruh tepukan tangan penggemar setia mereka. Antrian penggemar yang ingin bertemu mereka saat acara meet and greet pun tak kalah banyaknya. Bahkan sampai tengah malam semua sesi acara mereka baru selesai.


"Haaaahhh~ Aku sungguh lelah hari ini," kata Vino sambil memijat tengkuknya perlahan. "Para wanita itu sungguh gila. Teriakan mereka bisa membuatku tuli."


"Tangan mereka sungguh mengerikan. Mereka bahkan mencubit pipiku dengan gemas," gerutu Calvin sambil merengut.


"Kamu itu masih lebih beruntung dibandingkan Rex!" ucap Zhen sambil menepuk bahu Rexa dan yang bersangkutan hanya tersenyum miris karena sempat mendapat cakaran di tangannya saat para penggemar berusaha menyalaminya dengan tak sabar.


"Hei! Berhentilah mengeluh. Ingat! Kalian bisa sampai seperti ini berkat penggemar kalian yang gila itu loh!" sahut Nick sambil memasukkan beberapa berkas ke dalam tasnya. "Kalau begitu aku duluan, ya. Ada beberapa hal yang harus aku urus di kantor."


"Aku juga harus pergi sekarang. Dan mobilku ada di halaman parkir depan. Jadi... Sampai nanti, bye!"


"HEI!!! Apa kau tidak akan pulang lagi hari ini?" tanya Calvin yang sudah hapal kebiasaan temannya yang pencinta wanita itu. Rexa hanya melambaikan tangannya sekilas dan terus berlari menuju halaman depan hotel.


Di waktu yang sama, Sofie baru saja menyelesaikan shift-nya dan sedang berjalan menyeberangi lobi hotel. Saat tiba di halaman parkir, Sofie melihat seseorang yang amat dikenalnya. Seseorang yang selama ini ia rindukan terlihat berdiri tepat di gerbang keluar hotel. Fabian, kekasihnya terlihat baru saja turun dari mobilnya kemudian menghampiri seorang wanita semampai dengan rambut sebahu yang terlihat elegan. Fabian mencium pipi si wanita berambut pendek lalu memeluknya dan membukakan pintu mobil agar wanita itu bisa naik. Belum sempat Sofie melihat siapa wanita itu, mobil Fabian telah membawa keduanya pergi. Karena terlalu terkejut melihat pemandangan di hadapannya, Sofie berlari sekuat tenaga berusaha mengejar mobil Fabian namun tiba-tiba sebuah mobil escalade hitam melaju ke arahnya dan nyaris saja menabraknya. Sofie hanya bisa terpaku sambil menutup matanya saat mobil tersebut berhenti tepat di depannya. Terlalu terkejut untuk tahu yang terjadi selanjutnya.


"HEI!!! Apa yang kamu lakukan? Apa kamu mau mati?" teriak si pengendara mobil yang ternyata adalah Rexa, sang member B-Men yang kemudian turun menghampiri Sofie.


"Maaf... maaf.... Ah ya, tolong aku mengejar mobil yang barusan, ya! Ayo cepat-cepat-cepat!!!" desak Sofie sambil mendorong Rexa kembali ke mobilnya.


"Hei! Apa-apaan ini?" protes Rexa.


"Sudah, ayo cepat! Anggap saja ini balasan untuk kejadian tadi siang!" ucap Sofie tak sabar kemudian bergegas naik ke dalam mobil Rexa begitu saja. "Ayo cepaaaaaat!!!" Sofie mengangkat tangan Rexa dan memaksanya memegang kemudi mobil. Akhirnya mau tak mau Rexa pun menuruti permintaan Sofie untuk mengikuti mobil Fabian hingga ke halaman sebuah komplek apartemen di tengah kota.


Sofie tahu betul kalau itu adalah apartemen Fabian. Sofie berkali-kali meremas jemari tangannya dengan gelisah. Jantungnya berdebar kencang saat ia turun membuntuti Fabian dan wanita tersebut. Sedangkan Rexa menggerutu pelan sambil mengamati gerak gerik Sofie yang mencurigakan.


"Apa yang dia lakukan? Apa aku juga harus turun untuk melihat? Aaah... menyusahkan saja!" Akhirnya Rexa memutuskan untuk turun dari mobilnya karena penasaran dengan apa yang akan Sofie lakukan. Dengan mengenakan topi dan kacamata hitam supaya tak dikenali paparazi dan para penggemarnya, Rexa pun berjalan pelan sambil mengendap-endap di belakang Sofie dengan gaya sok kerennya.


Sofie sempat tertinggal ketika keduanya menaiki elevator. Tapi melihat lantai elevator yang terus naik, Sofie yakin mereka akan ke unit apartemen Fabian. Sofie baru keluar elevator saat melihat dikejauhan keduanya masuk ke unit apartemen Fabian. Sofie melangkah cepat tanpa suara. Untuk beberapa saat Sofie ragu untuk membunyikan bel, sedangkan Rexa hanya mengamati Sofie dari kejauhan saja.


Sepuluh menit Sofie berdiri bimbang di depan pintu. Sambil menarik napas pelan berusaha menguatkan diri untuk kemungkinan terburuk yang ia curigai. Sofie pun menekan bel dengan tangan bergetar. Ada jeda beberapa saat dan akhirnya pintu dibuka perlahan. Seorang wanita muncul dengan rambut yang sedang berusaha dirapikan dan blus yang terlihat kusut seperti habis bergulat. Wanita itu mendelik kesal meskipun tak terlihat kaget dengan kedatangan Sofie.


"Kyla?!" Sofie setengah tak percaya menatap wanita di hadapannya. Ia memang sedikit mengenal wanita yang bernama Kyla itu. Sang manager restoran di hotel tempat Sofie bekerja yang terkenal dengan elok tubuh dan mulut manisnya. Semua pelanggan bahkan memujanya. Dan wanita yang tengah menatap Sofie dengan angkuh sambil melipat kedua tangan di dadanya ternyata berhasil menaklukkan kekasihnya.


Tak lama Fabian keluar dari dalam apartemen dengan kondisi sama kusutnya. Wajah Fabian sama terkejutnya dengan Sofie, tak menyangka kekasihnya bisa mengetahui apa yang selama ini selalu berusaha disembunyikannya. Sofie yang sangat terguncang hanya terpaku menatapi mereka berdua yang terlihat habis bersenang-senang.


"SOFIE! Sedang apa kamu di sini?"


"Apa yang kalian lakukan?" tanya Sofie getir dengan suara parau bergetar berusaha menahan amarahnya.


"Sayang, memangnya kamu belum bilang padanya tentang hubungan kita? Apa kamu masih belum putus juga dengan dia?" tanya Kyla sinis.


"Apa selama ini kamu tak pernah menjawab teleponku karena sedang bersenang-senang dengannya? Jadi ini yang kamu lakukan di belakangku?" Sofie menatap Fabian tajam. "Kamu benar-benar jahat!" Sofie sungguh muak melihat dua manusia di depannya ini, gadis itu berbalik pergi sambil berusaha menahan air mata yang nyaris meluncur turun.


"Tunggu Sofie!!!" panggil Fabian sambil berusaha mengejar Sofie hingga ke lobi apartemen.


Sofie tak menggubris dan terus berlari hingga ke parkiran mobil sambil menyeka air mata yang sempat menetes. Pria seperti Fabian tak pantas untuk ditangisi dan Sofie tak ingin mendengar penjelasan apapun dari pria itu. Namun Fabian tak berhenti mengejarnya. Begitu jarak keduanya menyempit, Fabian kembali menarik tangannya kemudian mencengkeramnya dengan erat.


"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan tanganku!" bentak Sofie.


"Aku hanya ingin kamu mendengarkan penjelasanku Sofie!" Fabian masih tetap menggenggam erat tangan Sofie.


"Tidak ada lagi yang perlu aku dengarkan! Aku sudah lihat semuanya! Sekarang lepaskan aku!" sahut Sofie ketus.


"Ak... aku dan wanita itu hanya ketidaksengajaan. Aku masih mencintaimu Sofie!" Fabian mencoba meyakinkan Sofie.


"Ketidaksengajaan??? Setelah kamu mencium dan memeluknya dengan mesra bahkan kamu membiarkan wanita itu ada di apartemenmu di malam selarut ini dan kamu bilang hanya ketidaksengajaan? Omong kosong! Mulai sekarang jangan temui aku lagi. Kita putus!" pungkas Sofie sambil berusaha melepaskan tangannya yang masih dipegang erat Fabian agar bisa segera pergi dari tempat itu. Tangan Sofie berhasil terlepas, tetapi Fabian kembali menangkapnya.


"Oke... oke... Aku memang salah. Aku minta maaf. Jadi berhentilah merajuk! Kita lupakan saja semua yang sudah berlalu dan memulainya lagi dari awal. Ya?"


"Omong kosong! Berhentilah membual dan lepaskan aku! Aku tak ingin melihatmu lagi!" teriak Sofie kesal berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Fabian yang semakin erat  mencengkeramnya.


"Kenapa kamu begitu marah dia bermalam di tempatku? Sedangkan kamu sebagai pacarku selalu menolak saat kuajak bermalam di sini. Apa kamu tidak sadar, pria mana yang tahan berpacaran dengan wanita kolot dan kaku sepertimu?" ucap Fabian dengan nada mencemooh. "Aku butuh wanita yang bisa membuatku nyaman dan merasa dicintai. Bagaimana bisa kamu membuatku nyaman dengan sikapmu yang sok suci itu! Aku bahkan ragu kamu benar-benar mencintaiku dengan sikap kakumu itu," tudingnya lagi.


Sofie menggeretakkan rahangnya. Sudah cukup ia menahan sabar dengan apa yang telah ia lihat. Sudah cukup dadanya terasa sesak dikhianati seperti ini. Hingga sebuah tamparan mendarat sempurna di permukaan pipi Fabian. Kini Sofie menatap pria itu seolah menantangnya. Menatap tajam tepat di kedua netra pekat yang balas menatapnya tak percaya.


"Apa wanita itu membuatmu nyaman dengan berada disisimu dengan cara seperti itu? Apa harus seintim itu denganmu baru kamu merasa nyaman dan benar-benar dicintai?" tanya Sofie sinis. "Aku memang bukan wanita sempurna tapi aku tahu batasannya. Aku hanya ingin memberikan semua yang kupunya termasuk tubuhku hanya pada pria yang menjadi suamiku, pria yang akan menemaniku sampai akhir usiaku. Untuk apa kamu menyatakan kamu mencintaiku kalau nyatanya kamu tidak bisa menjaga wanitamu bahkan dari nafsumu sendiri. Apa aku salah? Kupikir kamu benar-benar memahamiku tapi ternyata kamu sama sekali tidak mengerti aku! Kalau kamu tidak bisa menghargai prinsipku, sebaiknya hubungan kita selesai di sini saja!" Dengan napas nyaris terengah Sofie memuntahkan semua isi hatinya.


"Tapi Sofie—" Fabian kembali menarik lengan Sofie.


"Lepaskan tanganku!" Fabian masih mencengkeram erat tangan Sofie sambil menatap Sofie tajam. "Kubilang lepaskan tanganku!"Suara Sofie mulai terdengar dingin, sedingin tatapannya kepada Fabian.


"Dia bilang lepaskan tangannya!" Tiba-tiba sebuah tangan menarik lengan Sofie dari cengkeraman Fabian.


"Kamu ini siapa? Berani-beraninya mencampuri urusan kami!" bentak Fabian kesal pada pria yang menarik tangan Sofie. Tatapannya tajam menghunus menatap pria bertopi dan berkacamata hitam yang berdiri di samping Sofie.


"Aku temannya. Ayo kita pergi!" sahut pria yang tak lain adalah Rexa yang sedari tadi hanya diam menyaksikan perdebatan Sofie dan Fabian dari kejauhan. Rexa berjalan cepat menarik Sofie menjauh dari Fabian tanpa menghiraukan teriakan makian dari pria itu. Sedangkan Sofie hanya mengikuti Rexa sambil mengusap genangan air mata yang memenuhi pelupuk matanya.


"Sepertinya pria menyebalkan itu tak lagi mengejarmu," kata Rexa sambil mengeluarkan kunci mobilnya. "Pria seperti itu tak pantas untuk kamu tangisi! Jangan sia-siakan air matamu yang berharga itu!" katanya sambil memberikan sebuah sapu tangan sutra berwarna biru laut.


"Siapa yang menangis. Mataku kelilipan debu!" sungut Sofie dengan bibir mengerucut. "Tapi, terima kasih sudah menolongku tadi," ucap Sofie tulus.


"Sekarang kita impas. Kalau begitu aku pergi duluan ya, bye!" Rexa pun naik ke mobilnya dan pergi meninggalkan Sofie yang terbengong-bengong melihat kelakuan Rexa yang pergi tanpa berbasa-basi mengajaknya serta.


"Dasar pria menyebalkan! Kenapa menolongku setengah-setengah! Setidaknya kamu antarkan aku ke stasiun terdekat. Sudah selarut ini mana ada kendaraan yang lewat di jalan ini." Sofie mendengkus jengkel.


"Argh... benar-benar hari yang gila!!!" gerutu Sofie kesal sambil berjalan meninggalkan halaman apartemen menuju jalan raya dan berharap masih ada taksi yang lewat.


...* * *...