Because It's You

Because It's You
13. Nyaris Hilang Akal



Acara jumpa penggemar kali ini benar-benar disambut antusias oleh para pengagum B-Men. Buktinya ballroom hotel tersebut penuh sesak oleh para wanita pemuja kelima pria tampan ini. Para penggemar itu saling berebut menarik perhatian idola mereka masing-masing. Membuat Sofie harus menutup telinga mendengar beberapa wanita berteriak tepat di dekatnya.


Bahkan ada beberapa penggemar yang berkomentar sinis tentang kehadirannya yang tiba-tiba berubah status dari pegawai hotel menjadi asisten idola mereka. Sofie berusaha tidak menghiraukan komentar itu. Namun nyatanya beberapa di antara mereka memaki kecewa dan tak terima dengan kehadiran Sofie di dekat idola mereka.


Beberapa kali Sofie harus bertahan dari desakan dan dorongan para penggemar yang antusias ingin melihat dan menyentuh tubuh idola kesayangannya. Beberapa kali juga tangannya sempat terkena cakaran kuku jari para wanita fanatik itu. Sofie benar-benar harus banyak bersabar menghadapi tingkah para penggemar yang ajaib tersebut.


Barisan penggemar mengular panjang di samping podium. Hampir semua penggemar meminta Sofie memotret mereka dengan sang idola saat mendapat giliran berjabat tangan. Bagi Sofie itu bukan masalah. Yang menjengkelkan adalah bagaimana tatapan sinis selalu menyerangnya hanya karena ia berdiri di samping Rexa. Bahkan tak jarang penggemar wanita yang tak menyukainya mencibir dan memprotesnya terang-terangan.


"Hei, kalian! Antrian di belakang masih panjang. Kalian kan sudah dapat foto dan pelukan. Ayo giliran baris berikutnya!" teriak Sofie yang mulai jengkel dengan beberapa remaja yang masih bergelayut manja di kedua lengan Rexa hingga membuat pria itu sedikit risih, meskipun senyuman tipis masih tersungging di bibirnya.


"NEXT!" teriak Sofie lagi memanggil penggemar yang mendapat giliran selanjutnya. Gaya Sofie yang galak justru membuat Rexa menahan senyum karena sikapnya sungguh tak cocok dengan tubuh mungil dan gaya berpakaiannya yang feminin.


Karena waktu yang terbatas, banyak penggemar yang tak mendapat giliran. Banyak yang mengeluh kecewa bahkan nekat menerobos barikade pengamanan pengawal B-Men.


"Maaf teman-teman, nampaknya acara ini kami akhiri sampai di sini dulu. Lain kali akan kami lanjutkan di kesempatan mendatang. Terima kasih untuk partisipasinya hari ini. Support kalian tak akan kami lupakan. Sekali lagi terima kasih banyak!" kata Nick menutup acara jumpa penggemar tersebut diikuti kelima member B-Men yang melambaikan tangan sambil tersenyum pada para penggemarnya.


Nick melirik Sofie untuk mengisyaratkan persiapan meninggalkan ruangan tersebut. Sofie pun menggangguk pelan lalu merentangkan salah satu lengannya untuk melindungi member B-Men ketika melewati penggemar yang masih berusaha menggapai idola mereka.


"Maaf, ya. Permisi. Sampai jumpa lain kali. Terima kasih!" ucap Sofie berusaha tersenyum saat bertahan melindungi Rexa dari tangan-tangan rakus penggemar fanatik yang mencoba menyentuh tubuh pria tampan itu.


Dengan susah payah Sofie menghalau mereka semua dan menahannya agar tak semakin mendekat. Sementara Nick dan beberapa petugas keamanan berusaha membuka jalan untuk meninggalkan ruangan tersebut.


Namun tiba-tiba salah seorang penggemar Rexa mendorong Sofie hingga tersungkur tepat di hadapan pria itu. Tidak tinggal diam, Rexa membantunya berdiri. Sedangkan penggemar lainnya menggunakan kesempatan itu untuk mendekati Rexa. Untung saja beberapa petugas keamanan segera menghalaunya. Rexa segera menarik tangan Sofie kemudian meninggalkan ruangan tersebut bersama member lainnya.


"Kamu tak apa-apa Rexa? Apa mereka menarikmu?" tanya Sofie khawatir karena hampir saja Rexa diserbu penggemar karena kecerobohannya tadi.


"Seharusnya kamu pikirkan dirimu dulu! Lihat kakimu! Apa tidak sakit begitu?" tegur Rexa sambil memapah Sofie yang sedikit tertatih.


"Aku tidak apa-apa!" sahut Sofie sambil tersenyum. "Maaf, ya. Seharusnya aku bisa lebih baik lagi menjaga tubuhmu. Huh ...  bagaimana bisa mereka sebrutal itu pada idola kesayangan mereka? Apa mereka tidak tahu kalau tubuhmu tak ternilai harganya!" gerutu Sofie sambil mendengkus kesal mengingat kejadian tadi.


"Sudah, tak perlu pikirkan mereka. Aku juga baik-baik saja. Kamu bisa jalan tidak?" tanya Rexa sedikit khawatir melihat keadaan Sofie.


"Tak apa. Aku masih bisa jalan sendiri kok!"


"Wah ... wah ... wah ... Coba lihat siapa ini?" Tiba-tiba sebuah suara yang sangat dikenal Sofie terdengar semakin dekat ke arahnya. "Jadi, sekarang kamu sudah bisa menggoda seorang pria? Hebat sekali. Sepertinya gosip itu benar adanya," sindir Fabian yang kini berdiri tepat di hadapan Sofie sambil memandangi kedua insan itu secara bergantian.


"Apa artis ini yang sedang kamu rayu itu? Apa kamu seputus asa itu berpisah dariku? Apa pria ini tahu seperti apa dirimu?" Setiap kalimat yang keluar dari mulut Fabian terdengar sinis saat menatap Rexa. 


"Apa yang kamu bicarakan?" sungut Sofie tak kalah sinis.


"Aku sungguh kasihan padamu. Kamu ini artis terkenal, untuk apa tergoda dengan perempuan macam dia. Dia ini wanita yang membosankan! Lebih baik lupakan dia!" kata Fabian pada Rexa dengan angkuhnya menjelek-jelekkan Sofie.


"Hanya pria bodoh yang menganggapnya begitu. Ayo, Sofie!" balas Rexa dingin sambil menarik Sofie meninggalkan tempat tersebut menyusul teman-temannya yang berjalan lebih dulu.


Selama perjalanan pulang Sofie hanya diam melamun. Kata-kata Fabian tadi sempat menusuk hatinya. Belum pernah ia dipermalukan seperti itu oleh pria yang pernah dicintainya. Bahkan sesampainya di basecamp pun Sofie hanya diam membisu, tidak seceria biasanya.


"Lupakan saja semua perkataan buruknya! Tak perlu kamu ingat lagi pria seperti itu!" kata Rexa sambil menepuk puncak kepala Sofie pelan. Sofie hanya menatap Rexa sambil tersenyum tipis. "Apa kakimu baik-baik saja? Benar kamu bisa jalan sendiri?" tanya Rexa lagi.


"Ya. Aku baik-baik saja," sahut Sofie singkat kemudian segera masuk ke dalam rumah mendahului Rexa.


"Dasar! Apanya yang baik-baik saja kalau kakinya diseret begitu!" gerutu Rexa saat memandang Sofie yang masuk ke dalam rumah dengan sedikit tertatih. "Kemarikan kakimu!" pinta Rexa yang sudah berdiri di hadapan Sofie yang tengah duduk di sofa ruang tamu sambil memeriksa kakinya yang terkilir.


"Apa?"


"Cepat lepas sepatumu!" ucap Rexa lagi sambil berjongkok untuk memeriksa kaki Sofie kemudian memijatnya perlahan. "Apakah kakimu merasa baikan?"


"Lumayan. Terima kasih!"


"Ayo kuantar kamu pulang! Tak mungkin kamu pulang sendiri dengan kaki seperti itu!" Rexa bangkit berdiri kemudian membantu Sofie berjalan menuju mobilnya.


Selama di dalam mobil Rexa,  Sofie melirik pria itu sesekali. Namun tampaknya Rexa tidak ingin bicara sama sekali, hanya fokus pada jalanan di depannya. Bahkan Sofie sampai tertidur karena bosan dan ketika ia terbangun, mobil tersebut tengah berhenti di tepi jalan dalam keadaan hujan deras. Di sampingnya Rexa tampak sedang terlibat percakapan serius dengan seseorang melalui ponselnya.


"Ya, baik. Kalau sudah selesai, tolong antarkan ke apartemenku. Ya, terima kasih."


"Ayo turun! Dari sini lebih dekat ke apartemenku daripada ke rumahmu!" kata Rexa cuek sambil mengambil sebuah payung dari bawah jok mobilnya.


"Apartemenmu? Maksudnya?"


"Apa kamu mau terus berada di mobil ini selama hujan? Karena sepertinya hujan ini akan lama berhentinya."


"Mobilnya?"


"Mogok! Ayo cepat! Kamu masih bisa jalan, kan?"


"Bisa sih ...." Belum selesai Sofie mengatakan sesuatu, Rexa sudah turun dari mobil sambil menggunakan payung. Kemudian membukakan pintu untuk Sofie dan memintanya segera turun.


Hujan turun sangat deras. Payung yang mereka gunakan tak cukup besar untuk membuat mereka tetap kering. Beberapa kali tetes hujan membasahi pakaian mereka. Sampai akhirnya Rexa terpaksa merangkul Sofie agar mereka berdua tidak semakin kebasahan. Dan memang benar kalau apartemen Rexa dekat dari tempat mobil tersebut berhenti.


Tidak sampai lima menit mereka sudah tiba di apartemen mewah milik Rexa. Begitu masuk ke dalam unit apartemen, udara hangat langsung menyapa Sofie yang telah menggigil kedinginan. Dengan segera Rexa pun mengambilkan handuk dan pakaian ganti untuk Sofie yang setengah pakaiannya sudah basah kuyup karena hujan lalu meminta wanita itu untuk segera berganti pakaian.


"Tampaknya malam ini aku tak bisa mengantarmu pulang. Mobilku masih dalam perbaikan," jelas Rexa ketika Sofie menghampirinya di sofa ruang tengah sehabis berganti pakaian. "Baru saja kutelepon perusahaan taksi, mereka menolak perjalanan ke arah rumahmu. Ada beberapa pohon tumbang di jalan dekat daerah rumahmu karena hujan deras ini," lanjut pria itu lagi.


"Apa boleh buat." Sofie duduk di samping Rexa. Wanita itu mengenakan kaos dan celana panjang Rexa yang terlihat kebesaran di tubuhnya.


Untuk sesaat suasana canggung meliputi keduanya. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, sampai Rexa membuka suara lebih dulu.


"Untuk sementara kamu bisa pakai kamar di samping ruang baca. Istirahatlah!" Rexa menunjuk pintu sebuah kamar di samping kanan ruang tamu.


"Baiklah. Selamat malam!" Sofie pun bangkit dari sofa dan menuju kamar yang ditunjuk Rexa.


Walaupun tidak bisa langsung memejamkan mata, Sofie tetap merebahkan tubuhnya di tempat tidur empuk di kamar tersebut. Sesekali ia melirik pintu kamar untuk memastikan ia sudah benar-benar menguncinya. Debaran jantungnya sedikit tak keruan karena ini pertama kalinya ia menginap di rumah seorang pria dan hanya ada mereka berdua di sana.


Sofie terbangun di tengah malam karena panggilan alam darurat di tubuhnya. Selesai menunaikan hajatnya, Sofie menuju dapur mencari segelas air untuk melegakan tenggorokannya yang kering. Di sana ia melihat Rexa sedang duduk termenung di meja minibar sambil memegang sebuah botol minuman.


"Kamu belum tidur, Rex?" tanya Sofie saat melihat raut wajah Rexa yang tak seperti biasanya. "Sepertinya kamu sedang tidak baik? Ada apa?"


"Tak apa!"


"Kalau memang suasana hatimu tak baik, kenapa harus melampiaskannya pada minuman itu?" ucap Sofie sambil menunjuk botol yang dipegang Rexa. "Alkohol tak baik untuk kesehatan tahu!" tegur Sofie galak.


"Lalu aku harus bagaimana?"


"Ceritalah pada seseorang. Setidaknya itu bisa mengurangi beban pikiranmu. Atau mau kubuatkan sesuatu?"


"Tak perlu. Aku tak apa!"


Melihat Rexa yang kembali menegak minumannya, Sofie mengambil botol minuman beralkohol itu dan menyingkirkannya.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Berhenti minum miras! Minuman ini bisa merusak tubuhmu!"


"Kamu ini memang tak takut padaku atau memang nekat? Beraninya kamu mengusik pria yang sedang minum!" hardik Rexa jengkel sambil menarik tangan Sofie.


"Makanya kamu jangan mabuk lagi! Sadarlah!"


"Wah, kamu semakin mirip Kaisha kalau sedang marah!" Rexa berdecih dan menatap Sofie tajam.


"Rexa, jangan bercanda! Sebaiknya kamu istirahat sekarang. Sepertinya otakmu rusak karena minuman ini!" tegur Sofie lagi sambil berusaha menyingkir dari mata elang Rexa yang siap menerkamnya.


Sofie berusaha menghindar untuk melindungi diri namun Rexa lebih cepat menangkapnya, menguncinya di tembok dapur dan membuatnya tidak berkutik. Sofie meronta dan menggeliat berusaha membebaskan diri. Namun Rexa jauh lebih kuat. Kini wajah Rexa hanya sisa sejengkal dari wajah Sofie. Nyaris saja pria itu mendaratkan bibirnya saat salah satu tangan Sofie yang bebas menamparnya keras meninggalkan setitik luka di sudut bibir Rexa.


"Dasar mesum!!! Otak udaaaang!!! Sadaaaaar dong!!! Aku bukan si Kaisha pacar kamu itu!!!" maki Sofie sambil menatap Rexa marah. Sofie mendorong tubuh pria itu kasar kemudian berlari pergi ke kamarnya dan mengunci pintunya rapat-rapat. Bergulung di balik selimutnya sambil mengucapkan berbagai kata umpatan dan makian.


...* * *...