
Rexa memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Entah mengapa ia menyesali tindakannya terhadap Sofie semalam. Terlebih ketika wanita itu menatapnya marah dengan tatapan terluka, lalu meninggalkan apartemennya begitu saja tanpa pamit bahkan sebelum matahari muncul sepenuhnya.
Semalam ia tidak sadar saat menatap wajah Sofie. Yang muncul justru ilusi wajah Kaisha yang tersenyum manis padanya. Ilusi yang seakan menarik keluar rindu yang terkurung dalam relung jiwanya yang terbelenggu kelam. Ataukan ada suatu magnet yang membuatnya tak bisa melepaskan pandangannya dari wajah Sofie.
Wajah mungil Sofie, dengan hidung mancung dan garis bibir tipis namun penuh itu mengingatkannya pada Kaisha-nya yang dulu. Wanita manis yang dulu ia cintai sepenuh hati.
Ada perasaan nyaman berada dekat dengan Sofie sama seperti yang dulu pernah ia rasakan saat bersama Kaisha. Belum lagi tatapan Sofie yang seakan menariknya masuk. Membuat dirinya semakin kehilangan kontrol semalam. Dan Rexa sangat tahu kalau tindakannya salah karena menjadikan Sofie pelampiasan semata saat ia teringat perasaannya pada Kaisha.
"Argh ... sial!!!" gerutu Rexa sambil memukul stir mobilnya. "Kenapa dia bisa mengingatkanku pada sosok Kaisha yang dulu? Kenapa juga aku melampiaskannya pada Sofie?" kata Rexa marah lebih kepada dirinya sendiri.
Rexa mengembus napas kasar. Mencoba meredakan amarahnya sebelum keluar dari mobilnya. Saat hendak memasuki lobi studio, Rexa berpapasan dengan Sofie yang sepertinya juga baru datang.
Sofie melihat Rexa sekilas tanpa menyapanya. Terlihat tak acuh dan berlalu begitu saja. Rexa pun berlari mengejarnya. Kemudian menarik lengan Sofie hingga wanita itu berdiri diam menatapnya. Rexa sempat mendengar wanita itu mendengkus pelan.
"Maaf untuk semalam," ucap Rexa tanpa basa-basi.
"Jangan bahas itu lagi!" sungut Sofie jengkel berusaha menghindari tatapan Rexa.
"Apa kamu masih marah?" tanya Rexa sambil memandang Sofie. Mata Sofie membulat ketika Rexa bertanya sambil menatapnya lekat-lekat.
"Kamu pikir saja sendiri!" jawab Sofie ketus lalu melepaskan tangan Rexa dari lengannya dan bergegas masuk ke studio.
Rexa tidak mengejar. Wanita itu tidak akan mau mendengarkan alasan apapun kalau sedang marah. Lagipula bukan salahnya sepenuhnya karena semalam ia dalam pengaruh alkohol. Meskipun Rexa sadar kalau tindakannya salah tapi ia masih berharap Sofie mau sedikit mengerti keadaannya.
Selama pengambilan video klip diam-diam Rexa mencuri pandang pada Sofie yang tengah memperhatikannya. Fokus Rexa terbagi. Meskipun ia bisa menyanyikan bagiannya dengan sempurna layaknya seorang pecinta wanita. Tipe lagu yang sering membangkitkan ingatan tentang masa lalunya. Rexa berusaha menjiwai isi lagu tentang bagaimana seorang pria yang begitu memuja wanita yang mampu membuatnya sebegitu jatuh cintanya. Walaupun sorot mata Sofie yang penuh kemarahan semalam terus saja membayangi. Rexa berusaha melakukan bagian adegannya dengan sangat baik dan profesional. Bahkan Rexa terlihat sangat intim dengan model video klip tersebut. Benar-benar seperti seorang pria yang jatuh cinta pada kekasihnya.
Diam-diam Rexa kembali melirik Sofie di sudut ruang studio dan mendapati wanita itu tengah mengumpat saat melihatnya bermesraan dengan sang aktris wanita. Rexa semakin memainkan perannya. Begitu nyata hingga membuat sang model terlihat jatuh cinta sungguhan pada pria itu. Bahkan sepertinya wanita itu terlihat benar-benar tidak bisa menolak pesona Rexa.
Rexa kembali melirik Sofie. Senyum tipis terukir di bibirnya saat melihat Sofie kembali menggerutu. Entah kalimat apa yang keluar dari mulut Sofie tapi Rexa yakin semua tertuju padanya. Terlihat bagaimana kesalnya Sofie saat menatap Rexa dan anehnya Rexa begitu menikmati ekspresi kesal di wajah Sofie. Rexa kembali fokus memainkan perannya. Berharap pengambilan gambar video klip berakhir secepatnya.
"CUT!!!" Terdengar suara teriakan keras dari sutradara dan bersamaan dengan itu para member B-Men berjalan menuju tempat istirahat mereka.
"Hai Sofie. Apa semua berjalan lancar?" Terdengar Nick bertanya pada Sofie. Pria itu baru saja tiba sehabis meninjau lokasi shooting untuk drama minggu depan.
"Ya? Ah ... semua berjalan lancar kok," jawab Sofie tergagap saat tatapannya berserobok dengan tatapan Rexa yang berjalan ke arahnya.
"Hai, Sofie!" Suara Vino mengalihkan perhatian Sofie. "Semalam kamu pergi ke mana? Apa Rexa tak mengantarmu pulang? Sonya sampai meneleponku, takut kalau kamu diculik penggemarnya Rexa!" kata Vino saat mendekat ke arah Sofie untuk mengambil minuman yang dibagikan wanita itu.
"Aku ...."
"Dia bermalam di apartemenku," jawab Rexa singkat saat melewati Vino dan duduk di kursi sebelah Sofie.
"Maksudnya ... aku hanya numpang berteduh, kok. Jangan berpikiran macam-macam!" jelas Sofie sambil tersenyum kikuk. Setengah jengkel karena Rexa tidak menjelaskan secara utuh kejadian sebenarnya.
"Aku tidak berpikir yang macam-macam kok Sofie, jadi jangan pasang wajah kesal begitu." Vino tersenyum tipis. "Tapi Rex, tidak biasanya kamu seperti ini? Bukankah kamu paling anti membawa wanita ke apartemenmu?" tanya Vino heran tapi Rexa hanya duduk diam dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya. "Wow ... Sofie, kamu orang pertama yang menginap di apartemen Rexa, loh!" seru Vino sambil tersenyum menggoda wanita yang sedari tadi hanya diam sambil merengut saat menatap Rexa.
"Itu darurat. Mau bagaimana lagi!" sahut Rexa cuek lalu memejamkan matanya.
"Hei ... apa kamu sakit? Wajahmu terlihat pucat?" tanya Ghea, sang penata rias B-Men yang sedang merapikan Rexa. Hal itu jelas membuat Sofie langsung menoleh ke arah mereka.
"Tidak apa-apa. Mungkin karena aku kurang tidur semalam," jawab Rexa asal. Rexa membuka matanya dan kembali berkata, "Nick, tolong bilang pada sutradara, aku ingin istirahat sebentar lagi."
"Baiklah. Tapi, kau yakin tak apa-apa?" tanya Nick khawatir.
"Iya, aku tak apa-apa."
Rexa kembali memejamkan matanya. Menghela napas pelan. Berusaha mengumpulkan kembali fokusnya yang sempat berantakan karena Sofie.
Meskipun matanya terpejam tapi inderanya yang lain berusaha mengamati keberadaan Sofie yang duduk di sampingnya. Samar terdengar langkah Sofie menjauh dan kembali setelah beberapa menit kemudian.
"Ini kubawakan makanan. Kalian makanlah supaya tambah semangat!" terdengar Sofie berkata pada member B-Men lainnya sambil meletakkan beberapa bento makanan dan jus di sebuah meja besar.
Lalu langkah kaki berselimut sepatu bertumit tinggi itu jelas terdengar menghampiri Rexa. Sofie terlihat sudah kembali duduk di samping Rexa dengan aroma makanan mengusik hidungnya. Sofie tengah menjulurkan sebuah kotak bento makanan tepat di depan hidung Rexa. "Ini makanlah!"
"Aku tidak lapar!" jawab Rexa cuek masih sambil memejamkan matanya.
"Ayo cepat buka mulutmu!" ucap Sofie tak sabar.
"Apa?" Rexa membuka matanya dan merasa heran dengan sikap Sofie yang tiba-tiba berubah. Bukankah dari tadi wanita ini sedang marah padanya?
"Cepat buka mulutmu!" ucap Sofie lagi sambil mengacungkan satu sendok penuh makanan yang dibawanya tepat di depan mulut Rexa. "Dunia entertainment itu keras. Bagaimana bisa kamu kerja bila perutmu kosong?" ucap Sofie meniru perkataan Rexa yang dulu pernah ditujukan padanya di saat seperti ini. Tentu saja hal tersebut membuat Rexa berdecih pelan kemudian tersenyum tipis.
"Baiklah, aku akan makan."
"Jangan pernah hilang akal seperti semalam lagi! Atau aku akan bilang pada semua pemujamu kalau kamu ini orang yang tidak waras!" gertak Sofie sambil kembali menyuapi Rexa makanan yang dibawanya. Bibir merengut yang menghiasi wajah mungil Sofie terlihat menggemaskan membuat seulas senyuman kembali terbit di wajah kaku Rexa.
Sepertinya hidup Rexa akan semakin menarik dengan adanya asisten barunya ini. Wanita yang mood-nya sering berubah-ubah dengan cepat. Terlebih wajah judesnya yang sering membuat jengkel tetapi menggemaskan dalam waktu bersamaan.
...* * *...