Because It's You

Because It's You
6. Amukan Penggemar



Sudah beberapa hari ini selalu saja ada yang membuat Sofie kesulitan. Entah itu tiba-tiba banyak permen karet yang menempel di bajunya saat ia menunggu di halte bus, ada telepon teror ke bagian resepsionis yang membuat Sofie kesulitan melakukan pekerjaannya, bahkan ada yang tiba-tiba mengirimkan makanan bento melalui layanan pesan antar yang membuat Sofie harus membayar semuanya. Sofie juga merasa seperti semua orang yang ia lewati di jalan sedang memperhatikan sambil berbisik membicarakannya.


Awalnya Sofie tak peduli dengan keadaan aneh di sekitarnya, tapi semakin lama ia semakin menyadari kalau telah mengalami hari yang menjengkelkan semenjak berita gosip itu diterbitkan. Bahkan beberapa tetangganya mengira Sofie menjadi pacar simpanan si artis karena seringnya ia pulang pagi.


Seperti pagi ini, tanpa ada firasat buruk apapun Sofie dengan semangat berangkat kerja. Seperti biasanya Sofie turun dari bus yang ditumpanginya di halte dekat hotel. Sebelum melangkahkan kakinya menuju tempatnya bekerja, wanita itu menarik nafas panjang menikmati segarnya udara pagi.


Namun tiba-tiba seseorang menabraknya kencang tanpa meminta maaf. Ketika Sofie hendak menegur orang itu, seseorang melemparkan sebuah tikus putih kecil ke tubuhnya.


"Aaaaaaahhh!" Sofie menjerit keras dan berusaha membuang tikus yang menempel di pakaiannya. Belum selesai sampai di situ, ada segerombolan gadis remaja yang mengadangnya. Kemudian dengan begitu saja mereka semua menyiramkan berbagai macam jenis minuman yang mereka pegang. Alhasil tubuh Sofie basah kuyup dan beraroma seperti campuran cokelat, kopi dan teh.


"Jadi ini perempuan yang menggoda Kak Rexa kita? Biasa aja! Apa bagusnya?" kata gadis remaja yang paling modis di antara yang lainnya dengan pongah. Sepertinya dialah ketua genknya.


"Iya, tidak cocok!" sahut teman di sebelahnya.


"Hei, Kak! Jangan cari sensasi! Kakak itu bukan levelnya Kak Rexa. Mending jauh-jauh, deh! Kalau berani menggoda Kak Rexa, kami tak akan tinggal diam. Lihat saja nanti!" kata si gadis modis memberikan ultimatum dengan nada sinis nan galak. Lalu mereka pergi meninggalkan Sofie yang basah kuyup dan kotor begitu saja.


"Aiiish... apa sih mau mereka? Siapa juga yang mau dekat dengan pria aneh itu!" gerutu Sofie lalu bergegas menuju hotel. Sofie masuk lewat pintu belakang. Langsung menuju ruang loker karyawan. Bergegas membersihkan dirinya di toilet dan menelepon sahabatnya, Sonya.


"Ada apa, Sof?" tanya Sonya dari seberang saluran telepon.


"Kamu harus menolongku sekarang juga! Aargh... aku hampir frustasi dengan tingkah laku gadis-gadis gila itu."


"Memangnya apa yang terjadi? Kamu dikerjai penggemarnya Rexa lagi?" tanya Sonya agak terkejut.


"Yups.... Tolong bawakan aku pakaian ganti komplit, ya. Aku benar-benar seperti larutan coffee latte berjalan!"


"Oke... oke... aku akan ke sana sekarang!"


"Sip!"


Untung saja Sofie tiba di kantor lebih awal, sehingga ia masih memiliki waktu untuk membersihkan dirinya. Sonya datang tak lama setelah Sofie selesai membersihkan dirinya.


"Apa yang terjadi, Sof?" tanya Sonya sambil mengulurkan tas kecil berisi pakaian yang diminta Sofie dan gadis itu segera mengganti pakaiannya di dalam toilet.


"Gadis-gadis itu melemparku dengan tikus yang menggelikan dan menyiramku dengan berbagai macam minuman," jawab Sofie sedikit berteriak dari dalam bilik toilet.


"Ya ampun! Separah itukah mereka?" tanya Sonya tak percaya.


"Kamu coba saja sendiri kalau ingin tahu rasanya. Siapa itu penyanyi favoritmu? Katanya kamu sedang bekerja sama dengan dia, kan? Kalau penggemarnya tahu, bisa hancur hari-harimu. Aiish... kenapa ini harus terjadi padaku?" gerutu Sofie sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Apa Rexa tahu perlakuan penggemarnya padamu?" tanya Sonya mengalihkan pembicaraan.


"Entahlah.... Lagipula itu juga bukan salah dia sepenuhnya. Toh, bukan dia yang menyuruh penggemarnya melakukan semua ini padaku," ujar Sofie pasrah sambil menggelung rambut panjangnya.


"Kamu ini! Diperlakukan seperti ini kamu masih merasa tak apa?" tanya Sonya heran.


"Habis mau bagaimana lagi? Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku berteriak-teriak di depan Rexa meminta pertanggung jawaban atas semua perlakuan penggemarnya padaku? Itu tak mungkin kulakukan,"  celetuk Sofie sambil memeriksa kelengkapan seragamnya. "Kapan nametag-ku hilang, ya? Ah... sudahlah pakai cadangannya saja dulu."


"Lalu, kamu mau begini terus?" tanya Sonya masih heran dengan sikap sahabatnya yang terlalu baik hati itu.


"Hmm... akan kupikirkan lagi nanti," jawab Sofie sambil bersiap menuju lobi. "Kamu tidak pergi kerja?" tanya Sofie yang heran melihat sahabatnya masih saja mengikutinya.


"Aku ada janji dengan klien di dekat sini. Masih ada satu jam lagi sebelum janji temuku."


Sementara itu suasana lobi hotel penuh riuh dengan para penggemar B-Men, terutama penggemar Rexa. Entah dari mana saja mereka datang. Bahkan ada beberapa wartawan gosip telah berkumpul di salah satu sudut hotel yang tengah siap meliput dengan kamera dan mikrofon mereka masing-masing. Entah mengapa pagi ini semuanya berkerumun di halaman dan lobi hotel tempat Sofie bekerja.


Lydia yang selalu mengikuti perkembangan gosip terbaru segera menarik Sofie yang baru saja akan menuju lobi kembali ke ruang loker karyawan. Sonya yang masih bersama Sofie pun ikut terkejut dengan tingkah Lydia yang panik.


"Gawat... gawat...! Sepertinya karena postingan berita dan foto di internet itu mereka semua kemari," celoteh Lydia panik.


"Berita di internet? Memang ada berita apa lagi, sih?" tanya Sofie bingung. Sedangkan Sonya segera melihat ponsel pintarnya mencari postingan terbaru tentang Rexa.


"Ya ampun! Kamu benar-benar tak tahu?" tanya Lydia heran.


"Aku benar-benar tak mengerti apa yang kamu bicarakan tadi!"


"Aduh... itu loh, di lobi banyak sekali penggemarnya Rexa dan juga reporter gosip. Mereka semua cari kamu!" jelas Lydia.


"HAH?! Buat apa mereka mencariku?" tanya Sofie kaget.


"Itu karena foto kamu pelukan dengan Rexa semalam di depan pintu kamarnya. Berita itu sudah tersebar di internet tahu! Dan petugas keamanan kita di depan sudah kewalahan menahan mereka semua," sahut Lydia lagi.


"HAH! Siapa juga yang berpelukan dengan dia. Waktu itu aku hanya menolongnya karena dia hampir pingsan. Aduh... kenapa jadi begini, sih?" Sofie mulai panik.


"Tapi kalau dilihat dari sudut pandang foto ini sih, kalian memang terlihat seperti berpelukan dengan mesra." Sonya pun menunjukkan postingan foto Sofie dan Rexa di sosial media melalui ponsel pintarnya. "Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Sonya sama bingungnya.


"Siapa yang mengambil foto ini?" tanya Sofie heran. "Semalam tidak ada siapa pun di lorong itu."


"Ya, mungkin saja ada reporter skandal yang selalu mengikuti Rexa ke mana pun dia pergi," tebak Lydia. "Dia kan, artis terkenal yang sensasional. Selalu ada banyak skandal bersama perempuan di mana pun dia berada. Pasti akan selalu ada paparazzi yang membuntutinya."


"Iya juga ya. Aduh, bagaimana ini?"


"Bagaimana, ya? Mereka itu banyak sekali, sih. Kamu tahu sendiri kan, penggemar fanatik B-Men itu seperti apa? Hiiii~" Lydia bergidik ngeri.


"Tapi aku harus mengklarifikasi hal yang sebenarnya tentang berita itu," tegas Sofie sambil melangkah menuju lobi hotel.


"Hei... apa kamu sudah gila?! Kamu ini sendirian, sedangkan mereka itu ada banyak sekali." Sonya kembali mengingatkan. "Apa kamu ingin cari mati? Kamu tidak tahu kan, apa yang bisa mereka perbuat? Percaya deh padaku, mereka lebih mengerikan dari pada film horor yang kamu tonton tempo hari," jelas Sonya berusaha menyakinkan Sofie untuk tidak gegabah.


"Iya benar kata Sonya. Lebih baik kamu tidak ke sana!" sahut Lydia.


"Aku harus melakukannya, kalau tidak hidupku akan terus menerus mereka usik! Aku sungguh tak tahan!" kata Sofie jengkel.


"Tunggu! Kalau kamu ke sana sendirian, itu cari mati namanya!" Sonya mengulurkan tangannya berusaha menahan Sofie.


Namun Sofie tetap nekat dan tak mendengarkan perkataan Sonya. Dengan menarik napas panjang, Sofie melangkah menuju lobi hotel. Pada akhirnya Sonya dan Lydia hanya bisa mengikuti Sofie dari belakang sambil berharap tidak ada kejadian mengerikan yang akan terjadi nanti.


Suasana di lobi hotel benar-benar ramai. Seluruh penggemar Rexa berteriak sambil mengangkat tinggi-tinggi papan berisi protes di tangan mereka layaknya orang berdemo. Mereka semua tidak setuju kalau perempuan seperti Sofie menjadi pacar idola mereka, Rexa. Mereka semua menuduh Sofie hanya memanfaatkan Rexa saja.


Belum satu menit Sofie menginjakkan kakinya di lobi hotel, kerumunan penggemar Rexa langsung menyerbunya dengan membabi buta. Mereka meminta Sofie untuk tak mendekati Rexa lagi. Beberapa gadis muda mencakarnya bahkan menarik rambutnya hingga gelungan rambut Sofie terurai berantakan.


"Aku bukan pacar Rexa dan aku tidak pernah memanfaatkannya. Mengenalnya pun tidak!" tutur Sofie dengan sedikit berteriak meminta mereka mendengarkan penjelasannya, tetapi usahanya sia-sia. Suaranya tenggelam oleh suara teriakan makian para penggemar Rexa yang melakukan protes.


Sekuat apapun Sofie berteriak, para wanita yang sudah brutal itu tidak menghiraukan perkataannya. Dan tak sedikit Sofie menerima cakaran, tamparan bahkan tarikan di rambutnya. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Sofie ingin melawan namun tenaganya tidak cukup kuat untuk menghalau semua wanita yang menyerangnya.


Sedangkan jauh di belakang kerumunan penggemar histeris itu, Sonya berusaha menghubungi Vino. Dengan panik, Sonya memberitahukan kejadian tersebut melalui ponselnya.


"Kumohon tolong temanku! Salah apa dia sampai mereka memperlakukannya seperti itu?" ujar Sonya nyaris putus asa melihat sahabatnya dikerumuni sebegitu banyak orang. Dan sepertinya Vino juga melihat kejadian tersebut melalui siaran langsung di situs berita online.


Entah apa yang dikatakan Vino pada Rexa dan managernya Nick, tak berapa lama setelah Sonya menelepon mobil Rexa tiba di pintu lobi utama tepat di dekat kerumunan yang menyerang Sofie.


"Ya ampun, Rex! Lihatlah betapa brutalnya para penggemarmu itu? Sungguh mengerikan. Wanita itu tidak akan mati, kan? Ini harus segera kuselesaikan secepatnya. Kamu tunggu saja di si... ni!" ucap Nick sedikit menggantung akhir kalimatnya karena Rexa sudah lebih dulu keluar dari mobil tersebut.


...* * *...