Because It's You

Because It's You
5. Cinta Masa Lalu



Rexa baru turun dari taksi menuju lobi hotel tempatnya menginap. Dengan setengah sadar dan kepala pusing, Rexa segera naik elevator menuju kamarnya.


Saat tiba di depan pintu kamarnya, Rexa merogoh semua kantong baju untuk mencari kartu akses kamar hotelnya. Namun sialnya setelah beberapa menit mencari, ia sama sekali tak menemukan kartunya.


Rexa kembali turun ke lobi hotel menghampiri meja resepsionis untuk meminta kartu cadangan. Lydia yang berjaga di sana menyambutnya dengan sapaan ramah ala resepsionis yang baik.


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu?" sapa Lydia ramah.


"Kartu aksesku tertinggal di dalam kamar. Aku lupa membawanya tadi. Bisa bantu buka pintu kamarnya?" tanya Rexa sambil memijat pelipisnya yang masih terasa pusing.


"Boleh saya lihat kartu identitas Anda?" Rexa menyerahkan kartu identitasnya pada Lydia yang kemudian segera memeriksa data tamu hotel melalui komputernya.


"Baik, Tuan. Untuk kamar 6022 ya? Silakan, rekan saya yang akan membantu Anda membuka pintunya." Lydia pun segera mengambil kartu akses kamar tersebut dari laci meja resepsionis. Lalu menyerahkannya pada Sofie yang kebetulan baru kembali dari toilet.


"Nih Sof! Tolong antarkan ke kamar 6022 ya. Tuan ini lupa membawa kartunya dan tertinggal di dalam kamar. Tolong kamu bukakan ya!" bisik Lydia sambil menyerahkan kartu tersebut pada Sofie.


"Kamar 6022?" Sofie melongo heran. Tapi Lydia menunjuk tamu yang berdiri di hadapannya sambil menunduk.


"Ayo cepat antarkan! Sepertinya dia tidak terlihat baik."


Sofie mengangkat wajahnya. Menatap tamu yang bersandar pada meja resepsionis sambil memijat pelipisnya. Sofie pun menyapanya dengan ramah.


"Permisi Tuan, silakan ikuti saya!" Rexa mengangkat kepalanya membuat Sofie tercengang menatapnya.


Dia lagi!


"Kamu—" Ingin rasanya Sofie memaki pria itu karena masih kesal dengan kejadian tadi pagi, tapi diurungkannya. "Silakan ikuti saya." ucap Sofie berusaha sesopan mungkin layaknya resepsionis profesional. Sofie mendahului Rexa menuju elevator di seberang meja resepsionis. Entah kenapa Sofie selalu kesal setiap kali melihat Rexa. Terlebih lagi penggemar fanatik pria itu mengerjainya tadi pagi. Sofie ingin sekali segera menjauh sejauh-jauhnya dari Rexa. Bahkan instingnya mengatakan kalau berada di dekat Rexa akan menjadi malapetaka untuknya. Buktinya hanya karena ditarik Rexa tempo hari saja hidupnya jadi sulit seperti ini.


Sofie melangkah cepat menuju kamar bernomor 6022. Menempelkan kartu yang dibawanya pada kotak sensor di atas gagang pintu. Membukanya dan menjulurkan lengannya.


"Silakan, Tuan!"


"Thanks!" balas Rexa pelan sambil melangkah mendekat ke pintu kamar dengan tubuh sempoyongan. Sofie yang semula ingin segera angkat kaki jadi tidak tega melihat kondisi Rexa yang seperti itu.


"Sepertinya kamu terlihat tidak baik hari ini?" tanya Sofie agak khawatir melihat tamunya sempoyongan. "Apa perlu aku panggilkan bantuan?"


Rexa menoleh ke arah Sofie dan berkata, "Aku tidak apa-apa." Dengan suara parau yang tak begitu jelas, Rexa terlihat amat kacau.


Ketika hendak masuk ke kamarnya, tiba-tiba Rexa terjatuh tepat menimpa Sofie yang berada di depannya. Tapi untungnya Sofie masih bisa bersandar pada kusen pintu kamar. Kalau tidak mereka berdua bisa terjatuh dengan kondisi yang amat tidak menguntungkan bagi Sofie.


Dengan susah payah Sofie memapah Rexa yang berat badannya hampir dua kali lipat berat badan Sofie ke sofa terdekat. Dengan posisi sedekat itu Sofie bisa menghidu bau alkohol yang menguar dari pakaian Rexa. Membuat Sofie nyaris muntah. Wanita itu benci bau alkohol. Bau yang mengingatkannya pada kejadian buruk.


Berulang kali Rexa memegang kepalanya yang terasa pusing. Sofie tak bisa meninggalkan pria itu terkapar dan sebagai pegawai hotel yang baik, Sofie membuatkan cokelat hangat untuk membantu memulihkan kesadaran Rexa. Anggap saja balas budinya untuk kejadian tempo hari. Sofie membantu Rexa untuk meminum cokelat hangat tersebut. Hingga beberapa saat kemudian kesadaran Rexa pun mulai berangsur pulih walau belum sepenuhnya.


"Benar kamu tak apa-apa?" tanya Sofie tak yakin.


"Baiklah. Kalau kamu perlu bantuan, kamu bisa hubungi meja resepsionis. Aku ada di sana sampai besok pagi." Akhirnya Sofie pun meninggalkan Rexa sendirian di kamarnya.


Rexa duduk merenung dalam kegelapan kamar. Kembali terbayang apa yang terjadi antara dirinya dan Kaisha setahun yang lalu. Waktu itu Kaisha masih artis pendatang baru di label tempat Rexa dan B-Men bernaung. Rexa sang senior akhirnya terpesona oleh wajah manis dan sikap polos Kaisha. Wanita itu benar-benar terlihat sempurna di matanya.


Semakin lama mereka berdua semakin dekat. Bahkan keduanya sering mendapat tawaran kerja bersama. Tak jarang mereka membintangi berbagai drama sebagai pasangan. Sudah banyak juga iklan, dan film yang mereka bintangi berdua. Juga sering mendapatkan penghargaan sebagai pasangan terbaik di beberapa ajang penghargaan televisi. Menurut para penggemar, keduanya merupakan pasangan yang serasi.


Di lain kesempatan, Kaisha juga selalu hadir di setiap acara yang diadakan B-Men. Bahkan Kaisha pernah khusus datang membawakan buket bunga besar dan mengucapkan selamat pada Rexa saat peluncuran album baru B-Men.


Rexa sempat berpikir kalau Kaisha benar-benar tulus padanya, dan karena itu pula Rexa menganggap kedekatan mereka sebagai hubungan spesial layaknya pasangan kekasih. Mereka saling memberi perhatian dan simpati satu sama lain. Kaisha juga terlihat tak keberatan dengan perlakuan Rexa yang memanjakannya. Di mata Rexa, Kaisha merupakan wanita yang baik yang akan selalu mengisi hari-harinya dengan senyuman.


Namun semua hanya seperti mimpi yang menghilang ketika bangun tidur. Rexa melihat Kaisha bergandengan tangan dengan seorang pria yang nampak seperti seorang pengusaha kaya. Keduanya terlihat amat mesra.


Rexa tak ingin terlalu cepat ambil kesimpulan. Rexa pun membuntuti keduanya dan tanpa sadar membuat hatinya semakin terluka dalam. Karena kenyataannya Kaisha telah menghujamkan bilah pisau tepat ke jantung Rexa saat pria itu melihatnya berciuman mesra dengan si pengusaha kaya raya tepat sebelum masuk ke dalam apartemen pribadinya.


Rexa terperangah. Matanya membelalak. Di dalam dadanya bergemuruh. Hati Rexa hancur berkeping-keping. Kepercayaannya akan cinta yang tulus menguap seketika. Angan-angannya tentang cinta yang bahagia bersama Kaisha pun menghilang.


Dikhianati seperti itu benar-benar membuatnya marah dan kecewa. Rexa tak pernah membayangkan Kaisha bisa berbuat seperti itu di belakangnya. Ia merasa benar-benar tertipu. Dan yang lebih menyakitkan adalah pria yang mencumbu Kaisha. Orang yang benar-benar dikenal Rexa.


Rexa ingat dengan jelas saat emosi menguasainya dan nyaris memukul pria berjas mahal itu. Saat Rexa melihat wajahnya, seketika itu dadanya seperti dihantam palu gada raksasa. Menyesakkan.


"Kak Axel?!" seru Rexa tak percaya dengan rahang bergeretak menahan marah. "Kenapa bersama Kaisha?"


"Kamu tanyakan saja padanya!" sahut pria itu sambil melirik Kaisha.


"Dia ini pria yang bisa mewujudkan semua impianku."


"Lalu... kamu anggap apa aku selama ini?"


"Kita kan hanya rekan kerja saja. Apa menurutmu aku mau jadi kekasihmu? Yang menyebut kita seperti sepasang kekasih itu para penggemar dan kru film saja. Aku tak pernah merasa kalau kita ini sedang berkencan," jelas Kaisha dingin.


Rexa menatap Kaisha tajam. Rexa benar-benar kecewa sampai kehilangan kata-katanya hingga akhirnya memilih pergi dari tempat itu dan memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menuju tempat terjauh dari kehidupannya yang sudah luluh lantak karena Kaisha.


Sejak kejadian itu, Rexa sempat menghilang bagaikan angin selama seminggu. Sang manager yang tak tahu di mana keberadaan Rexa harus membatalkan beberapa kontrak yang telah disepakati sebelumnya. Bahkan muncul gosip mengenai keretakan hubungan Rexa dan Kaisha. Berita yang dengan cepat menyebar di seluruh media yang ada. Para member berusaha mencari Rexa di semua tempat favoritnya namun nihil. Dan orang yang pertama kali menemukannya adalah Vino. Hingga pada akhirnya Vino berhasil membujuk Rexa kembali meski kondisinya sedikit tak baik dan terlihat lusuh.


Dan karena masalah itu juga Kaisha pindah ke agensi yang berbeda dari Rexa. Seolah mereka tak pernah mengenal satu sama lain. Agensi Kaisha yang baru segera membereskan masalah ini dengan cepat. Menghapus semua rumor dan gosip yang beredar dengan menggelar konferensi pers yang menyatakan bahwa di antara keduanya sama sekali tidak ada hubungan yang serius. Hanya sebatas rekan kerja saja.


Meski begitu, Rexa masih nekat meminta penjelasan tentang semua yang terjadi pada Kaisha dan sebuah jawaban yang cukup membuat Rexa terpukul keluar dari mulut Kaisha. Jawaban yang membuat Rexa berubah dari pria hangat, ceria dan ramah menjadi pria dingin, angkuh dan semaunya sendiri.


Pada malam yang dingin itu dengan angkuhnya Kaisha berkata, "Tak pernahkah kamu tahu? Aku adalah orang yang ambisius. Apapun akan kulakukan agar aku terkenal dan menjadi kaya. Tak ada urusan cinta dalam kamusku. Jangan pernah pakai hati dalam hubungan seperti ini kalau kamu ingin sukses. Terima kasih sudah membuatku terkenal, Kak!" kata Kaisha sinis dan pergi begitu saja meninggalkan Rexa dengan seluruh kekecewaannya.


...* * *...