
"Sebenarnya kita mau ke mana sih?" tanya Sofie yang sedari tadi merengut selama berada di dalam mobil Rexa.
"Kamu tidak ingat jadwalku malam ini apa?"
"Bukannya malam ini tidak ada jad-wal. Ooooh ... aku baru ingat! Artis judes tadi itu kan mengajakmu makan malam," jawab Sofie sambil menepuk keningnya pelan. "Lalu kenapa aku harus ikut?"
"Aku tidak ingin dia berkhayal macam-macam kalau hanya berdua denganku!"
"Aiish ... pikiranmu itu sungguh buruk. Belum tentu juga kan dia berpikir macam-macam. Siapa tahu hanya karena ingin berteman denganmu saja atau sekedar lebih dekat denganmu mungkin."
"Kamu ini polos atau bodoh?" tanya Rexa sambil menyentil kening Sofie. "Kalau wanita mengajak pria makan malam berdua itu tandanya dia ingin menarik hati pria itu, bukan hanya untuk berteman. Mengerti!"
"Masa sih seperti itu?"
"Karena itu aku mengajakmu. Aku tak ingin dia berpikiran terlalu jauh tentang makan malam ini. Aku hanya sekedar menghormati ajakannya saja."
"Tapi bagaimana kalau dia memang ingin makan malam romantis denganmu? Bagaimana kalau dia memang benar menyukaimu?"
"Itu tugasmu untuk menyelamatkan dan mengeluarkan aku dari situasi seperti itu!"
"Tapi ... dia pasti akan kecewa sekali kalau aku ada di antara kalian."
"Sudah, diamlah! Dan ikuti saja instruksiku!" kata Rexa jengkel dengan kepolosan Sofie.
Tak lama mobil Rexa berhenti di lobi sebuah restoran mewah dengan gaya modern klasik lengkap dengan interior mewahnya yang elegant. Berbagai foto dan lukisan yang dibingkai apik menghiasi setiap dindingnya membuat kesan klasiknya terasa kental.
Dengan gaya angkuh dan sikap dinginnya yang khas, Rexa turun dari mobilnya. Lalu menyerahkan kunci mobil pada petugas valet. Raut wajahnya seolah bagai topeng batu yang tak berekspresi sama sekali. Entah karena memang tak suka situasinya atau karena dia memang sengaja memasang ekspresi seperti itu.
"Ayo masuk!" titah Rexa saat melihat Sofie hanya termangu mengagumi bangunan restoran tersebut.
"Apa aku harus ikut masuk juga? Aku tunggu di sini saja ya!" pinta Sofie dengan tatapan memelas.
"Ayo cepat masuk!" ucap Rexa dengan nada tak ingin dibantah sambil menatap Sofie tajam.
Meskipun enggan, Sofie melangkahkan kakinya memasuki restoran mewah tersebut dan dengan langkah perlahan Sofie berjalan tepat di belakang pria itu sambil menggerutu.
Dari kejauhan Azalea melambaikan tangannya ke arah Rexa. Wajahnya terlihat berseri begitu melihat sosok pria yang ditunggunya tiba. Namun langsung berubah muram begitu melihat Sofie yang berjalan tepat di belakang Rexa.
Tuuuh kan, benar dugaanku! Tatapan wanita itu seperti harimau yang akan memakan bangkai rusa, gumam Sofie dalam hati.
"Kupikir kamu benar-benar sedang dalam waktu luang," sindir Azalea pada Rexa sambil melirik Sofie dengan tajam.
"Apa?"
"Apa asistenmu itu tidak ada pekerjaan lain sampai ia harus mengikutimu ke sini?" tanya Azalea yang sama sekali tidak menutupi ketidaksukaannya akan kehadiran Sofie.
"Itu memang tugasnya untuk selalu mengikutiku," jawab Rexa santai. "Jadi mana menunya? Kamu mau mengajakku makan malam atau hanya ingin menatapku saja?" sindir Rexa tak kalah tajam hingga membuat bibir Azalea sedikit berkerut karena kesal.
Setelah semua hidangan yang mereka pesan tersedia, Sofie memakan makanannya dengan canggung. Sementara itu, Azalea terus mengawasinya dengan tatapan tajam sambil sesekali mengobrol dan tersenyum ramah pada Rexa. Makanan yang Sofie kunyah pun rasanya tak sanggup ia telan. Lehernya terasa seperti tercekik di tengah situasi yang tak mengenakkan. Sofie sungguh menyesal karena tak berusaha menolak perintah Rexa yang satu ini.
"Hmm ... aku ke toilet dulu!" Sofie berdehem pelan diikuti sindiran Azalea 'Baguslah kalau kamu mengerti!' dan melangkah menuju toilet sesegera mungkin. Sofie sudah terlalu jengah mendapat tatapan intimidasi dari artis cantik judes itu yang seakan berusaha mengusirnya.
Dan memang benar saja, kepergian Sofie ke toilet benar-benar dimanfaatkan Azalea untuk kembali menggoda Rexa. Berbagai keramahan dan senyum termanis yang Azalea punya telah ditunjukkan untuk kembali memikat Rexa namun semua itu tidak juga bisa menggerakkan hati seorang Rexa yang masih diam menatap Azalea dengan dingin sambil menyantap makanannya.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan?" tanya Rexa seolah bisa membaca pikiran wanita di hadapannya.
"Apa maksudmu?"
"Apa yang kamu inginkan? Apa yang ingin kamu sampaikan?" tanya Rexa lagi yang sepertinya sudah muak dengan sikap manis Azalea yang dibuat-buat.
"Baiklah. Sebelumnya aku benar-benar bersyukur bisa jadi lawan mainmu dalam beberapa waktu terakhir. Aku sungguh senang saat pertama kali managerku bilang siapa lawan mainku," kata Azalea sambil memainkan gelas wine-nya.
"Tak perlu panjang berbasa-basi seperti itu," potong Rexa.
"Oke, kalau itu maumu." Azalea meletakkan gelas wine-nya dan menatap Rexa intens. "Aku jatuh cinta padamu. Aku ingin kita lebih dari sekedar 'partner'?" Azalea sengaja menekankan kata partner karena Rexa selalu menganggap wanita yang bersamanya untuk suatu kepentingan hanyalah seorang partner. "Maksudku ... aku ingin menjadi pacarmu. Pacarmu sebenarnya bukan pacar satu malam," ucap Azalea dengan sorot mata serius yang menatap Rexa lekat-lekat.
"Maaf, tapi kamu bukan tipeku! Dan urusan kita sudah selesai waktu itu."
"Azalea, aku sudah memenuhi undangan makan malammu tapi aku tak bisa penuhi keinginanmu yang lain. Maaf!" kata Rexa sambil bangkit dari kursinya.
"Setidaknya kamu bisa berikan nomor ponsel barumu, kan?" kata Azalea pantang menyerah sambil ikut bangkit berdiri.
"Aku tak bisa berikan nomorku ke sembarang orang. Terima kasih makan malamnya. Selamat malam!" ujar Rexa dingin dan melangkah pergi sambil menekan sebuah nomor di ponselnya.
"Aku takkan berhenti mengejarmu. Akan kulakukan apapun sampai aku bisa menjadi pacarmu!" tandas Azalea penuh keyakinan sebelum Rexa jauh berlalu.
Rexa tak menggubrisnya. Tanpa melirik Azalea sedikit pun Rexa meninggalkan wanita itu yang kini menggerutu kesal sendirian di mejanya.
Ponsel Sofie berdering dengan nama Rexa tertera jelas di layarnya, begitu wanita itu keluar dari toilet. Dengan segera Sofie menggeser tombol hijau dan menjawab teleponnya.
"Apa yang kamu lakukan?! Cepat kemari!" bentak Rexa dan langsung menutup teleponnya sebelum Sofie sempat menjawab.
"Apa-apaan orang itu? Seenaknya saja!" gerutu Sofie sambil bergegas kembali ke meja mereka tadi.
Belum juga Sofie sampai ke meja tersebut, Rexa yang tengah berjalan meninggalkan meja langsung menarik Sofie keluar dari restoran. Dengan wajah bingung Sofie hanya mengikuti Rexa dalam diam sambil melirik ke arah Azalea yang terlihat kesal.
Haduuuh ... Punya musuh baru nih kayaknya! gumam Sofie dalam hati.
"Hei! Sebenarnya apa yang telah kamu lakukan sampai dia terlihat sangat kesal begitu?" tanya Sofie hati-hati saat mereka dalam perjalanan menuju rumah Sofie.
"Wanita itu bilang mau jadi pacarku."
"Lalu apa jawabanmu?"
"Bukan tipeku."
"Ya, ampun. Kamu ini dingin sekali sih sama perempuan. Apa tidak ada kalimat penolakan yang lebih halus? Tapi kenapa dia kesal bukannya sedih?"
"Aku tak ingin berurusan dengannya lagi. Merepotkan."
"Dasar! Semua pria sama saja. Mereka memikat wanita hanya karena memang ingin sesuatu dari mereka. Lebih senang dikelilingi wanita tanpa mau terikat."
"Sudahlah! Urusi saja dirimu sendiri. Jangan sampai jatuh cinta dengan pria yang buruk lagi!"
"Apa kamu bilang?! Setidaknya dulu dia pernah sangat baik padaku," balas Sofie sengit.
"Untuk apa baik padamu tapi akhirnya selingkuh di belakangmu? Apa kamu menyesal berpisah dengannya? Dasar bodoh!"
Sofie terdiam mendengar perkataan Rexa. Ia memang sempat merasa menyesal tapi bukan karena berpisah dengan Fabian, tapi karena seperti yang dikatakan Rexa, dia memang bodoh karena terlalu terpesona dan percaya dengan kebaikan Fabian.
"Iya aku memang bodoh! Puas!" teriak Sofie kesal. Rexa hanya tersenyum simpul melihat Sofie yang sedang mengerucutkan bibirnya sambil mendengkus kesal.
"Sudah sampai! Sana turun! Jangan lupa, besok datang pagi sekali ke basecamp. Kami semua butuh sarapan sehat."
"Baik booossss!" sahut Sofie sambil menjeling, masih kesal dengan ucapan Rexa tadi.
Mobil Rexa berhenti di depan pagar rumah Sofie bersamaan dengan mobil Vino yang berhenti tepat di belakangnya. Sedangkan Sofie dan Sonya turun bersamaan dari kedua mobil pria tersebut.
"Kamu sedang apa di sini?" tanya Rexa terkejut melihat Vino turun dari mobilnya.
"Hanya mengantar Sonya," jawab Vino santai.
"Sonya? Siapa?" tanya Rexa heran kemudian menoleh saat Vino menunjuk seorang wanita yang kini berdiri di samping Sofie. "Dia pacarmu? Kalian habis berkencan?"
"Urus saja urusanmu sendiri, Rex!" sahut Vino sambil menunjuk Sofie yang sedang menatap kedua pria itu heran. "Sudah ya Sonya, aku pulang dulu. Jangan lupa mimpi indah!" pamit Vino sambil tersenyum manis. "Kamu mau pulang ke basecamp tidak?" tanyanya pada Rexa yang masih diam mematung.
"Iya. Aku pulang ke sana. Dan kamu, Sofie! Besok jangan sampai telat!" Rexa sambil menunjuk Sofie untuk mengingatkan kembali tugas yang harus dikerjakan wanita itu.
"Iya, aku tahu! Sudah sana pergi!" jawab Sofie sambil memajukan bibirnya.
"Aduh ... kalian ini seperti anjing dan kucing saja. Setiap hari ribut terus. Kapan akurnya, sih?" tanya Vino sambil menggelengkan kepala. "Bye Sonya! Sampai ketemu lagi!" Vino langsung masuk ke dalam mobil sebelum sempat Rexa dan Sofie mengeluarkan protesnya.
...* * *...