
Beberapa menit kemudian, setelah Daisy dan Writen lumayan lama mengobrol. Akhirnya, orang yang sedari tadi di cari Daisy menampakkan batang hidungnya.
Franky berjalan menghampiri saudaranya dan Daisy yang tengah mengobrol.
Daisy yang melihat kedatangan Franky, langsung memasang wajah sangarnya.
"Sialan Kau! Kemana saja kau tadi? Setelah kau ajakku kemari, kau main tinggal pergi begitu saja." Ucap Daisy ketus, ia kesal karena Franky meninggalkannya sendiri.
Written yang mendengar nada bicara Daisy dan tingkah lakunya pun terkejut, ia tak menyangka ternyata Gadis cantik jelita seperti Daisy ternyata memiliki sifat tersembunyi seperti itu.
"Aku tadi benar-benar lupa dengan ke hadiranmu. Aku biasanya kemari tidak pernah bawa wanita."Ucap Franky santai, dan tidak menghiraukan tatapan menghunus dari Daisy.
Daisy yang mendengar jawaban dari Franky menghentak-hentakkan kakinya karena menahan rasa kesal di hatinya.
"Kalau tidak ada adikmu disini, sudah ku cekik kau sampai mati" gumam Daisy dalam hati, sambil menggeratakan giginya sehingga menimbulkan bunyi.
"Hehehe...sudah, sudah....jangan bertengkar disini Bang dan kakak ipar. Nanti para pekerja pabrik ini mengira kalau kalian tidak akur."Kata Written menengahi mereka berdua yang terlihat menyulutkan aura permusuhan.
"Kami memang tidak akur!" Saut Daisy dan Franky secara bersamaan, sehingga mereka berdua mènjadi pusat perhatian.
"Hehehe..."Written tidak dapat berkata-kata lagi, yang bisa ia lakukan hanya melihat tingkah keduanya sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Kenapa kalian terlihat begitu saling membenci? Kalian ini saling cinta atau tidak sih?"Gumam Written membatin.
Beberapa menit kemudian setelah melakukan perdebatan, kini mereka bertiga duduk di sebuah warung kopi yang jaraknya 2 meter dari Pabrik susu, tapi Warung itu terlihat seperti sudah tak layak untuk di gunakan.
Awalnya Daisy menolak untuk minum dan makan di warung itu, karena melihat warung itu tidak bersih dan tempatnya yang sudah peyot, ia merasa ilfil. Tapi karena rasa hausnya yang tidak dapat di tahan lagi, terpaksa ia pergi ke warung itu dengan perasaan dongkol.
Ketika duduk-duduk di warung sambil menikmati minuman dan makanan yang mereka pesan masing-masing.
"Huffhhh....ternyata menguras tenaga pula ya, berdebat denganmu"Ucap Daisy sambil menyedot air mineral dengan pipet lalu menyandarkan kepalanya ke tonggak penupang warung.
"Hmmm ya! Kering kerongkongan ku rasanya."Saut Franky membenarkan ucapan Daisy.
"Yaelah....Abang dan kakak ipar. Aku saja yang melihat kalian berdebat merasa lelah. Apalagi kalian berdua."Gumam Written membatin dan menatap keduanya dengan jengah.
Tiba-tiba ketika mereka yang tengah mengobrol, tonggak penupang warung kopi bergoyang-goyang, sehingga mereka bertiga dan penikmat kopi lainnya serta pemilik warung menjadi panik.
"Eh. Eh. eh....!Kenapa goyang-goyang?"Teriak Daisy sambil menahan tonggak tempat ia bersandar tadi agar tidak roboh.
"Sialan! Dasar warung abal-abalan, ngak punya modal apa pemilik warung untuk memperbaiki warungnya?."Teriak Daisy membatin dan di selingi perasaan cemas.
"Neng! Jangan bersandar di tonggak itu. Aduhhh......"Ucap Pemilik warung yang terlihat panik sambil menjambak rambutnya yang di sanggul rapi, yang kini terlihat berantakan.
"Hancur sudah warungku. Semuanya keluar dari warung ini, kalau tidak mau tertimba bangunan warung!."Teriak Pemilik warung akhirnya, karena melihat warungnya bergetar.
Semua orang yang ada di warung itu pun langsung berhamburan keluar dari warung itu.
Beberapa detik kemudian, warung tersebut roboh dan rata dengan tanah. Semua penikmat kopi di warung itu hanya melongo menyaksikan karamnya warung kopi yang peyot itu.
"Benar-benar luar binasa, warungnya runtuh seketika.... Padahal Kopi yang aku pesan belum sempat kuminum loh"Ucap Written sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memutar kepalanya ke samping menyaksikan kedua orang yang sedang melongo di sampingya.
"Benar-benar keparat nih orang, orang lagi dapat musibah. Sempat-sempatnya dia memikirkan kopinya."Ucap Franky membatin dalam hati, dan menatap adiknya itu seperti menatap seekor monyet yang hanya peduli terhadap pisang.
Setelah menyaksikan warung kopinya yang runtuh, dengan geram Ibu pemilik warung itu menghampiri Daisy dengan keadaan rambut berantakan padahal sebelumya ia sanggul dengan cantik sebelumnya.
"Hei Neng! Saya minta pertanggung jawaban anda, kalau bukan karena anda, warung saya pasti masih baik-baik saja."Bentak Ibu itu emosi sambil berkacak pinggang menatap Daisy, dan menatap Daisy dengan tajam seperti mau keluar saja bola matanya itu.
"Ibuk ini, mau nak ku jambak rasanya."Gumam Daisy dalam hati dan menatap kesal ke arah Ibu itu.
Franky yang melihat Daisy yang seperti menahan emosi, ia pun mendekat ke arah Daisy. kemudian membisikkan sesuatu.
Mendengar ucapan Franky, Daisy menoleh ke arah samping. Menatap Franky dengan kesal
"Pokoknya saya tidak mau tau, anda harus ganti rugi warung saya beserta isinya."Ucap Ibu pemilik itu lagi.
Melihat Ibu warung itu yang ngotot, Daisy pun menyetujui permintaannya. Baginya uang tidaklah masalah, cuman tadi yang membuatnya geram adalah bentakan dari Ibu pemilik warung itu.
Dengan sabar Daisy berkata.
"Baiklah, berapa yang ibu inginkan?" Tanya Daisy dengan angkuhnya.
Pemilik warung itu melihat ke arah Daisy, ia memperhatikan penampilan Daisy yang elegan dari atas hingga ke bawah.
"Wah...kayaknya nih orang banyak duit, minta ganti rugi dengan jumlah puluhan ngak papa lah ya "Gumam Ibu warung itu dalam hati sambil tersenyum miring.
"Cukup 20 jt saja!"Seru Ibu warung kopi itu dengan semangat.
Mendengar ucapan Ibu pemilik warung itu membuat semua orang terkejut.Sedangkan Daisy malah bertambah emosi, tapi ia bisa masih menahan amarahnya, karena menjaga imagenya di depan banyak orang.
"Wah...ini perampasannya namanya Bu. Warung anda saja seperti kandang ayam, anda malah meminta ganti rugi 20 jt? Apa anda tidak takut dikecam sebagai penipu?"Sela Written ceplas-ceplos membela Daisy.
"Betul...!Tanah warungnya aja mungkin sekitar 10 jt-an. Ini malah minta duit 20 jt buat ganti warung peyot. Berarti mahalan warungnya daripada tanahnya ya? Hahahahha...."Ucap salah satu penikmat kopi di warung itu sambil mengejek ibu pemilik warung.
Semua orang yang berada disana pun juga ikut membenarkan akan ucapan Written dan pria itu.
"Itu sekalian dengan isi-isinya loh, bukan warungnya saja. Kalian kalau tidak tau apa-apa, lebih baik diam saja." Ucap Ibu warung.
Sedangkan Franky tidak ikut membela Daisy, yang dia lakukan sekarang hanya berpangku tangan menyaksikan itu semua.
Daisy yang melihat Franky yang tak acuh, merasa geram. Dengan rasa kesal ia pun menginjak kaki Franky sekuat tenaga, akibatnya Franky mengaduh kesakitan sambil memegang ujung kakinya yang terasa nyut-nyutan.
"Hei! Sakit tau! kau ini kenapa sih? Main injak kaki orang saja."Ucap Franky kesal.
"Hei Sialan!Dasar pria tak bertanggung jawab, kau bilang aku calon istrimu, tapi kau biarkan aku di bully oleh ibu-ibu warung."Saut Daisy geram sambil mengacungkan tinjunya ke hadapan Franky.
"Kita kan cuman pura-pura. Atau kau berharap aku jadi suami sungguhanmu kelak? Tapi mohon maaf kau bukan tipeku, Nona." Ucap Franky pelan dengan menyombongkan diri.
Mendengar tuturan Franky, Daisy merasakan telinga, dan hidungnya berasap- asap, seperti banteng yang siap menyeluduk.
"Kau pikir, kau tipeku juga hah? Sorry aku tidak suka dengan pria kampungan seperti dirimu!"Ucap Daisy agak keras sambil menunjuk-nunjuk hidung mancung Franky dengan perasaan sangat kesal.,
"......"
Mereka berdua makin lama makin tak terkendali hingga tidak tau sedang berada di situasi seperti apa. Ibu warung, Written dan orang yang ada disana hening, kini penglihatan mereka tertuju kepada Franky dan Daisy yang seperti mau bergulat saja.
"Mereka ini ngapain sih?"Ucap Written bingung.
"Entahlah....Gimana ini perihal warung saya?"Saut Ibu warung.
Written memutar kepalanya kesamping, lalu berkata.
"Warung, warung, warung. Nanti lah Buk! Minta uangnya sama abang Eky Noh, dia calon suaminya eneng itu"Ucap Written kesal lalu menunjuk kearah Franky yang lagi berdebat dengan Daisy.
"Eh...?Dasar anak muda yang tidak sopan, untung cakep, kalau ngak udah melayang nih sendal jepit elegan." Ibuk Warung yang kesal dengan nada bicara Written kepadanya.
Setelah mengucapkan kalimat itu, Written pergi meninggalkan tempat itu, menghiraukan kedua manusia yang jadi tontonan orang-orang disana.
"Bodo amat....bodo amat...!"Ucap Written saat dalam perjalanan pulang.
Bersambung.....