
Sebelum tidur, Daisy mengajak Franky mengobrol. Dan hal itu di setujui oleh Franky dengan mengajak Daisy mengobrol di depan rumahnya.
Setibanya mereka di depan , mereka berdua duduk di kursi yang terletak disana.
"Kamu mau ngomong apa Si?" Tanya Franky.
"Kenapa kamu diam saja, ketika mereka bilang aku ini Calon istrimu?" Ucap Daisy yang terlihat marah pada Franky.
"Jika aku bilang kita tidak memiliki hubungan, bagaimana kalau mereka menanyakan perihal Cincin itu? Dan juga aku sudah bilang pada mereka bahwa ketika aku pulang nanti, aku akan memperkenalkan mereka kepada calon istriku."
"Aku ni kan bukan calon istrimu..."Ucap Daisy kesal dengan sedikit berteriak.
Mendengar Daisy yang berteriak, Franky dengan sigap langsung membekap mulut Daisy.
"Bisa tidak, kalau ngomong tu pelan-pelan, gimana kalau di dengar sama mereka." Ucap Franky menggerutu, lalu melepaskan tangannya dari mulut Daisy.
"Biarin mereka tau..."Ucap Daisy.
"Oh Ok! Kalau mereka tau kita tidak menjalin hubungan, lalu mereka bertanya dimana cincin itu? Maka dengan terpaksa aku bilang kau yang menghilangkan cincin itu, lalu kau di penjara oleh mereka. Apa itu yang kau inginkan? Kalau iya, baiklah." Ucap Franky lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Eh jangan- jangan......Baiklah, untuk sementara aku akan jadi calon istrimu yang palsu."Ucap Daisy dengan terpaksa, sehingga membuat Franky duduk kembali.
"Nah itu baru bagus....! Kalau gitu , lebih baik sekarang kita masuk lalu tidur, karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam."Ucap Franky dengan menyunggingkan sedikit senyuman.
Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah menuju ke kamar masing-masing untuk mengiistirahat diri.
¤¤¤
Keesokan harinya, saat sarapan pagi di ruang makan rumah Franky.
"Eky! Elu pinjam mobil siape hah? gue rasa lu ngak punya mobil kek gituan." Ucap Fani kepada sang putra, Franky.
Mendengar ucapan ibunya, Franky menghentikan kegiatan makannya sejenak, lalu melirik Daisy yang duduk di sebelahnya.
Daisy yang merasa diperhatikan, langsung mengangkat kepalanya yang tertunduk, ia melihat ke arah Franky.
'Sorry ya sisi, aku ngak bisa bilang kalau itu mobil kamu' Ucap Franky dengan bahasa isyarat lewat tatapannya. Daisy yang di tatap Franky seperti itu, hanya mengangkat sebelah alisnya, merasa heran akan tingkah Franky yang aneh menurutnya.
'Ngapain nih pria kampungan nih!Tinggal bilang mobil aku apa susahnya sih.'Ucap Daisy membatin.
"Itu..Itu mobil teman kuliah aye Nyak...aye minjam ama dia Nyak."Jawab Franky berbohong.
Daisy yang mendengar tuturan Franky menatap Franky tajam, meminta penjelasan. Tapi tidak di hiraukan oleh Franky. 'Cowok sialan, jelas-jelas mobil aku'Ucap Daisy geram dalam hati.
"Oh gitu....Baek juga teman lu ya. Kapan-kapan ajaklah dia kemari."Ucap Fani sambil mengangguk-nganggukkan kepalanya.
"Nini My honey...jangan berbicara ketika makan, nanti kamu keselek tulang ikan."Ucap Toton, ayahnya Franky menasehati istrinya.
"Elu bisa diam ngak bee, gue lagi ngomong nih ame si bule bujang lapuk. Gue khawatir anak kite nyulik tu mobil, kan ngak lucu anak juragan tanah tukang nyolong. Makanya gue nanya asal-usul tuh mobil"Ucap Fani sewot, padahal dia belum menelan semua nasi yang ada di mulutnya.
Toton terdiam setelah mendengar ocehan sang istri, dia memang sering kalah debat dengan sang istri.
"Nyak! muncrat tuh nasi dari mulut enyak ke muka cantik Aye...kalau ngomong tu kondisikanlah nyak"Ucap Winata protes, adik bungsu Franky sambil mengelap wajahnya yang terdapat beberapa butir nasi.
"Eleh...lebay lu, lu cantikkan juga karena keturunan gue."Ucap Fani.
Kedua anak dan ibu ini, memang sering ribut. Jarang keduanya ini akur, meskipun begitu mereka tetap saling menyayangi.
"Mirip Enyak? Aye aja kayak bule, ya mirip father lah.Muka enyak aja, muka lokal." Ucap Winata kepada sang ibu, sambil menjulurkan lidahnya.
"Father...fatheran lu, banyak gaya lu. Tinggal di kampung panggil Babe lu father." Ucap Fani mengejek putri semata wayangnya.
"Biarin...blweee..."Balas Winata sambil menjulurkan lidahnya kepada ibunya.
"Kalian berdua bisa diam ngak sih? Kenapa hampir setiap hari enyak sama Wina rebut mulu sih. Enggak pernah akur. Kita ada tamu loh, apa ngak malu jadi tontonan?"Ucap Writen menegur keduanya, ia merupakan anak kedua dari pasangan suami istri yaitu Toton dan Fani.
Mendengar teguran sang putra, akhirnya Fani diam dan melanjutkan makannya tanpa ada satu patah kata pun yang keluar dari mulutnya, sedangkan Winata cemberut mendengar teguran sang Kakak.
Daisy hanya diam, melihat tingkah anggota keluarga Franky itu, entah kenapa ia merasakan kehangatan berada di kediaman Franky. Suasana hangat yang penuh candaan dan saling berkomunikasi, membuat Daisy berharap memiliki keluarga seperti ini.
"Neng gelis, calon menantunya enyak. Maaf ye, terjadi keributan saat makan. Kami udah biasa mah kayak gini." Ucap Fani ramah kepada Daisy, yang lebih dulu selesai makan dari yang lain.
"Ya tidak apa-apa Bu..." Ucap Daisy sambil tersenyum manis ke arah Fani.
Setelah selesai sarapan, akhirnya masing-masing dari mereka mulai melakukan aktivitas kesehariannya. Enyak Fani yang pergi ke tokonya kelontong miliknya, Babe Toton yang pergi ke ladangnya memantau para petani memanen lobak dan wotel, Winata yang masih seorang pelajar pergi ke sekolah, Written yang sebagai bos pabrik Teh di desa, hampir semua usaha di desa tempat tinggal Franky di kuasai oleh keluarganya.
Sedangkan Franky dan Daisy, entah tau kemana rencana mereka hari ini. Franky merasa ragu jika mengajak Daisy ke peternakan sapi dan kambing miliknya, ia takut Daisy malah marah padanya.
Tiba-tiba ada satu tempat, yang mungkin Daisy tidak akan menolak, yaitu pabrik susu, yogurt dan keju milik Franky.
"Hufff...Ok deh. Males juga aku kalau berdiam diri dirumah."Ucap Daisy menyetujui usulan Franky.
Mereka berdua pun berangkat ke pabrik susu dengan mengendarai sepeda motor milik Franky. Awalnya Daisy menolak untuk pergi dengan motor, tapi Franky beralasan bahwa jalan ke pabriknya agak sempit.
Daisy menolak pergi dengan motor, bukan karena takut terkena sinar matahari atau debu, tapi dia trauma naik motor.
Di perjalanan, Daisy terus memeluk erat pinggang Franky sambil memicingkan kedua matanya, karena ia takut jatuh dari atas motor.
Franky yang di peluk erat oleh Daisy, merasakan jantungnya berdetak kencang, pipinya memerah karena merasakan gelenyar aneh pada dirinya.
"Si. Pelukanmu terlalu kencang..., lari motorku cuman dua puluh. Tapi pelukanmu, kayak kita naik motor yang kencangnya seratus. Tolong dilonggarin ya?"Ucap Franky gugup sambil mengelap keringat yang menetes dari pelipisnya sesekali.
"Ngak Franky, aku takut jatuh...biarkan aku seperti ini." Ucap Daisy dengan suara yang sedikit gemetar.
Franky yang mendengarkan ucapan Daisy hanya bisa menghela nafas, dan menahan sesuatu yang di selangkangannya agar tidak bangun.
"Sial! Hei little Franky, plese dont wake up."gumam Franky menggerutu menahan sesuatu.
"Kamu ngomong sama siapa sih?" Teriak Daisy.
"Ngomong sama si jagoan..."Ucap Franky ketus.
"Hah?"Ucap Daisy yang heran.
Franky tak menanggapi Daisy, ia hanya memandang lurus ke depan menelusuri jalan dengan sepeda motorya.
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di pabrik susu milik Franky.
"Syukurlah...."Ucap Franky lalu menghela napasnya.
"Hei! kita sudah sampai, sekarang lepaskan pelukanmu dan buka matamu." Ucap Franky sambil menepuk pelan tangan Daisy yang bertengger di perutnya.
Daisy pun membuka matanya dan melepaskan pelukan tangannya di pinggang Franky lalu melihat-lihat area pabrik. Kemudian Daisy mengarah pandangannya ke arah jalan.
"Sialan! Kau membohongiku, kau bilang jalannya kecil. Lihat tuh! jalannya aja seperti bisa di lewati mobil truk." Ucap Daisy ketus sambil menatap Franky kesal.
"Aku malas bawa mobil, sudah terbiasa pakai motor pabrik" Ucap Franky santai, lalu berjalan pergi masuk ke pabriknya meninggalkan Daisy yang tengah menggerutu kesal padanya.
"dasar modus! bilang aja kalau mau di peluk olehku"Ucap Daisy menggerutu sambil menatap kesal ke arah Franky yang sudah masuk pabrik.
Daisy berjalan masuk ke pabrik mengikuti langkah Franky. Setibanya di dalam pabrik, Daisy menjadi pusat perhatian oleh para pekerja pabrik disana yang mana pada umumnya laki-laki semua.
Mereka menatap kagum Daisy, dan bahkan ada yang tersenyum tak jelas ke arah Daisy.
"Neng gelis, siapa namanya? Kenalin nama abang Puad, panggil aja sayang...Hahahaha."Ucap salah satu pekerja pabrik yang menghampiri Daisy yang sedang berdiri.
'hish...nih orang mintak di tonjok kayaknya.'Gumam Daisy kesal dalam hati.
Daisy hanya diam tidak memperdulikan Puad yang mengajaknya berbicara.
"Neng, ngomonglah...Udah susah payah abang ngomong ama eneng tapi ngak di hiraukan. Jangan sombong dong Neng...." Ucap Puad.
Tiba-tiba ada sebuah tangan menepuk pundak Puad, sehingga membuat Puad terkejut lalu menolehkan kepalanya ke belakang.
"Eh Mas Aten....Ada apa ya mas." Ucap Puad takut melihat tatapan tajam pria itu kepadanya.
"Jangan macam-macam kamu Puad, dia ni calon istrinya bang Eky. Mau, kamu saya bilang sama dia kalau kamu menggoda calon istrinya?"Ucap Writen, adik Franky.
"Astaga...maaf bang Aten saya ngak tau, tolong jangan bilang sama bos. Bisa-bisa saya di pecat nanti."Ucap Puad cemas karena takut di pecat.
"Ya sudah, kali ini saya maafkan. Sekarang kamu kerja sana."
"Baik Bang Aten, sekali lagi saya minta maaf....dan Eneng gelis Saya juga minta maaf ya!"
Writen dan Daisy hanya menganggukkan kepalanya, setelah itu Fuad pergi dari pandangan mereka.
"Kakak ipar ngapain disini?" Tanya Writen kepada Daisy.
"Oh itu bang...mau lihat-lihat pabrik milik Franky." Ucap Daisy yang terlihat kikuk.
"Eh...jangan panggil abang akunya toh mbak, panggil Aten aja. Dan juga panggil bang Eky itu dengan Abang atau mas gitu, kan bang Franky lebih tua dari mbak dan bentar lagi jadi suami. " Ucap Writen.
'Sialan di suruh panggil abang, ogah mah aku'ucap Daisy membatin.
"Oh Oke Aten..." Ucap Daisy dan tersenyum lemah.
Bersambung.....