
Mata Franky membulat besar, mulutnya menganga lebar setelah melihat begitu megah dan mewahnya rumah yang ada di hadapannya itu, pagar yang tinggi, pintu besar nan megah, taman yang begitu indah, yang membuatnya tanpa henti menatap sekeliling halaman rumah itu.
“Hey! Dasar udik, baru pertama kali kan lihat rumahku yang bak istana ini. Ayo masuk, tapi cuci kaki dan tangan dulu karena kau kotor” Ucap Daisy ketus.
Franky yang mendengar tuturan Daisy hanya bisa menghela napas sambil mengusap dadanya pelan agar bersabar menghadapi sifat angkuh nona kaya itu.
“ Hmmm Ya.” Balas Franky dan mendelik malas ke arah Daisy.
Franky melaksanakan apa yang dikatakan Daisy, karena ia benar-benar malas berdebat dengan gadis sombong itu sekarang.
Setelah itu, mereka berdua pun berjalan ke arah pintu rumah yang tampak megah itu, Franky hanya mengekor di belakang mengikuti langkah Daisy. Namun langkahnya di hadang oleh bodyguard yang berdiri di samping pintu rumah itu.
Daisy yang melihat itu pun menegur bodyguardnya.
“Lepaskan dia!” Ucap Daisy menatap ke arah bodyguard itu.
“ Tapi Nona, Tuan Besar tidak mengizinkan orang asing masuk tanpa se izinnya.” Ucap Bodyguard yang berbadan tinggi dan kekar itu sambil tertunduk hormat pada Daisy.
“Minggirlah, aku nanti akan mengatakannya pada Daddy. Dan sekarang lebih baik lepaskan dia, biarkan dia masuk.”
“Maaf Nona, Saya tidak bisa menuruti keinginan anda. Ini sudah aturan dan ketentuan yang telah Tuan Besar buat.” Balas Bodygurd itu.
Daisy yang mendengar penuturan dari bodyguard itu, langsung memutar bola matanya malas.
“Haishhh baiklah, Aku hubungi Daddy dulu.” Ucapnya ketus lalu mengeluarkan benda pipih dari saku roknya.
Daisy dan Daddynya sedang berbicara melalui panggilan handphonenya, ia menjelaskan tentang kedatangan Franky ke rumahnya dan membujuk Daddynya agar Franky diperbolehkan masuk.
“Nah! Aku sudah menghubungi Daddy, dan Daddy mengizinkan temanku ini masuk. Sekarang lepaskan dia.” Ucap Daisy.
Bodyguard itu pun membiarkan Franky lewat. Franky lanjut melangkah memasuki rumah mewah itu, menuruti langkah Daisy yang berjalan menuju ke sebuah ruangan.
Sekali lagi mata Franky tak henti-hentinya menatap interior rumah, barang-barang antik yang terpajang, serta begitu luasnya rumah. Franky hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan berdecak kagum akan kemegahan rumah itu.
Setibanya mereka di sebuah ruangan tempat tujuan Daisy, Franky melihat seorang pria yang duduk membelakangi mereka sedang menatap ke
arah luar jendela. Entah siapa pria itu, Franky hanya diam membisu.
“Daddy?” Ucap Daisy memanggil pria itu.
Mendengar suara Daisy, pria tersebut langsung memutar kursinya menjadi berhadapan dengan keduanya.
“Hay Honey…” Ucap pria itu yang berumur sekitar 50 ke atas, ia berdiri kemudian menghampiri Daisy lalu memeluknya.
“Kamu berani ya, mengecoh ke dua bodyguard itu dengan memberikan obat sakit perut pada mereka. Dan baru sekarang kamu balik, ke mana saja kamu?” Ucap Daddy Daisy menatap tajam putrinya itu setelah melerai pelukannya.
“Mmmmm Daddy, aku itu tadi….”Ucap Daisy cengengesan, tapi dipotong oleh ucapan Daddynya.
“Bertemu dengan pacarmu itu kan? Sudah Daddy bilang, Daddy tidak akan pernah menyetujui hubunganmu dengannya. Dia bukanlah laki-laki yang baik, Daisy.”
“Tapi Daddy bilang aku boleh berhubungan dengan siapa saja, asalkan jangan dengan orang yang memiliki status di bawah kita.” Bantah Daisy.
“Iya. Daddy memang mengatakan itu padamu.Pacarmu memang orang yang sederajat dengan kita, tapi dia bukanlah pria yang baik.”Ucap Daddy Daisy dengan nada yang sedikit meninggi.
Daisy mengalah, ia hanya menghela napas lelah. Sudah beberapa kali Daisy meminta persetujuan dari ayahnya itu. Tapi Daddynya itu tetap tak menyetujuinya. Jadi Daisy lebih baik sekarang mengalah dulu, tapi bukan berarti ia akan menyerah dengan hubungannya dengan sang pacar. Daisy akan tetap membujuk Daddynya itu.
Daddy Daisy mengalihkan penglihatannya ke arah Franky, ia menatap Franky dengan tatapan tajam yang siap mencabik mangsanya.
“Daisy, siapa pria ini?” Ucap Daddy Daisy, ia menatap nyalang ke arah Franky, sambil melihat penampilan Franky dari atas sampai bawah.
“ Calm Down Daddy, he just my friend.” Ucap Daisy sambil tersenyum dan menepuk-nepuk pundak Daddynya pelan.
“Kau berteman dengannya? Apa kau sudah tidak kapok, setelah di khianati oleh teman mu yang orang miskin itu. Dan sekarang kau malah membawa orang miskin lagi ke dalam hidupmu?” Ucap Daddy Daisy yang mulai marah.
Daisy terdiam sejenak memikirkan kata-kata untuk membujuk Daddy, sebenarnya Daisy juga malas membawa Franky ke rumahnya, tapi ia sudah berjanji akan bertanggung jawab dan mengikuti pria itu kemanapun dia pergi, sebelum cincin berlian itu di temukan.
Setelah lumayan lama terdiam akhirnya Daisy pun angkat bicara, sebuah kebohongan akan terlontar dari mulutnya yang cantik itu.
“ Daddy…Dia ini adalah penyelamatku. Dia menyelamatkanku dari kejaran para fansku di jalan, coba Daddy bayangkan apa jadinya putrimu ini jika di kerubungi oleh para fans fanatik. Aku pasti pulang dalam keadaan yang tak berbentuk lagi.” Ucap Daisy bersandiwara sambil menatap Daddynya mengiba.
“Emangnya kamu punya fans? kamu kan bukan artis." Kata Daddy Daisy menatap putrinya curiga.
"Hmmm...Tentu saja, aku ini kan cantik, kaya lagi. Siapa sih yang tidak mengidolakanku." Ucap Daisy menyombongkan diri sambil meletakkan kedua tangannya di pinggang.
'Cuman orang gila saja yang mengidolakan, kamu menyombongkan diri. Dasar gadis angkuh.' Ucap Franky membatin menatap jengah ke arah Daisy yang mulai kumat narsisnya.
"Emangnya kamu diapain sama para fansmu itu hingga bisa kamu pulang dalam keadaan tidak utuh?”
“Daddy, mereka itu rebutan ingin memelukku lah, minta tanda tanganlah, cipika cipikilah. Daddy kan tau, aku ini tidak suka di sentuh oleh sembarangan orang.Bagaimana kalau aku terkena penyakit rakyat jelata setelah bersentuhan dengan mereka ?”Alasan Daisy lagi dan berpura-pura bergidik ngeri.
“ Oh putriku yang malang… Daddy tidak akan biarkan itu terjadi padamu, Daddy akan memberikan kamu seorang bodyguard lagi.” Ucap Daddy Daisy pura-pura iba sambil memeluk putrinya dengan sayang.
Daddy Daisy tau, kalau sebenarnya putrinya itu sedang bersandiwara. Daripada melihat drama putrinya yang tidak akan habis kalau belum ia setujui, jadi lebih baik sekarang ia mengikuti permainan putri kesayangannya itu.
“Eh! Jangan Daddy, aku tidak mau bodyguard lagi. Bagaimana kalau daddy pekerjakan saja temanku ini.”Bujuk Daisy sambil menepuk pundak Franky yang sedang berdiri di sebelahnya.
“Dia! Apa kamu yakin dia bisa menjagamu, Nak?" Ucap Daddy Daisy kurang yakin.
"Tenang Daddy, percaya saja padanya. Dia ni jago bela diri Daddy malah jauh lebih hebat dibanding ke dua bodyguard itu, ia bisa menyingkirkan para fansku yang berjumlah lumayan banyak."
"Oh ya. Apa itu benar? Bahwa kau adalah orang yang sangat jago bela diri." Tanya Daddy Daisy menatap ke arah Franky.
Franky yang ditatap jadi gelagapan, ia bingung mau bilang apa. Karena sebenarnya ia tak sehebat yang di bilang Daisy.
Dengan terpaksa Franky menganggukkan kepalanya.
"Iiiya Tuan.." Saut Franky gugup.
"Wah bagus itu! Baiklah, mulai sekarang kau aku percayakan untuk menjaga putriku."
Mendengar ucapan Daddynya, Daisy langsung tersenyum lebar menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi.
"Terimakasih Daddy." Ucap Daisy tersenyum, lalu bergelayut manja di lengan Daddynya.
Sedangkan Franky hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Jadi, mulai sekarang bodyguardmu menjadi tiga orang Honey...Mereka akan...."
"No no no ...Daddy, Just him. The two bodyguards don't follow me anymore." Ucap Daisy sambil menyilangkan kedua tangannya sebagai tanda menolak.
"Kenapa Honey?" Tanya Daddy Daisy bingung.
"Daddy, cukup satu orang saja yang mengikuti kemanapun aku pergi. Dua saja aku sangat risih, apalagi tiga orang Daddy. I really don't like that!" keluh Daisy.
"Itu Daddy lakukan agar kamu terlindung dari bahaya Honey..." Bujuk Daddy Daisy, agar putrinya itu mengerti.
" Daddy, I'm not your little girl anymore, I'm an adult. Please do me this one favor." Ucap Daisy memohon.
Daddy Daisy yang mendengarkan penuturan putrinya itu langsung terdiam, dan tidak lama kemudian ia pun menghela nafas.
"Huffff...Baiklah honey...Daddy kabulkan permintanmu." Ucapnya dan menghela nafas lelah.
"Aku harap kau sanggup melindungi putriku, berjanjilah untuk selalu melindunginya, meskipun nyawa taruhannya."Ucap Daddy Daisy pada Franky, ia telah mempercayakan putrinya pada Franky.
Franky hanya menganggukkan kepalanya pasrah.
' Astaga! cobaan apa lagi ini Ya Tuhan..." Teriak batin Franky.