
Setelah membayar ganti rugi atas robohnya warung kopi milik seorang ibu-ibu. Daisy dan Franky memutuskan pulang ke kediaman Franky.
Ketika perjalanan pulang
“Benar-benar rugi besar aku, kau yang merobohkan malah aku yang ganti rugi.”Ucap Franky kesal.
“Cuman 5 juta saja, kau perhitungan sekali.”Saut Daisy dengan santainya.
“Apa! Apa kau bilang?” Teriak Franky sambil mendekatkan kupingnya ke arah Daisy.
“Cuman 5 juta? Hei! uang sebanyak itu, bisa menghidupimu selama 1 tahun di desa ini.”Kesal Franky dan menatap tajam ke arah Daisy yang terlihat tak bersalah.
"Dan Untung Ibu tu mau di ganti rugi 5 juta, kalau ia tetap kekeh 20 juta gimana? Dengan apa kau ganti rugi?"Ucap Franky lagi.
“1 tahun? Uang lima juta itu, dalam sekejap lenyap di tanganku. Malah dapat dibilang tidak cukup untuk sehari.”Ucap Daisy.
"KAU!!"
Franky yang sudah lelah berdebat dengan Daisy, memilih untuk diam.
“Hal yang paling sial dalam hidupku adalah saat aku berjumpa denganmu. Gadis sombong.”batin Franky.
Ketika sampai dirumah, Daisy disambut bahagia oleh Bu Fani, Ibunya Franky.
“Eneng, menantunya enyak udah pulang, sini. Sini duduk dekat enyak.”Ucap Ibunya Franky saat melihat kepulangan Daisy dan putra sulungnya.
Daisy yang dipanggil segera menghampiri Fani, ibunya Franky.
“Ada apa ya bu?”Tanya Daisy yang sudah duduk disamping Fani.
“Eh! (menepuk bahu Daisy) Kalian berdua ni kapan kawinnya sih? Jangan lama-lama, kasihan Franky yang terlalu lama membujang.”Ucap Fani dan terkekeh pelan.
Daisy yang mendengar ucapan Ibunya Franky spontan melebarkan kedua matanya karena saking kagetnya. Sedangkan Franky yang sedang minum, menyemburkan air dari mulutnya, lalu mengalihkan tatapannnya ke arah sofa, tempat Daisy dan ibunya berada.
“Enyak! Apa-apaan sih?”Protes Franky kesal sambil meletakkan gelas yang ia pegang ke atas meja dengan kasar.
“Nyak…Nikah dulu, baru kawin. Apa kata dunia bang Franky kawin dulu, ngak kasihan enyak apa? Si bujang lapuk masuk neraka jahanam karena berzina .Hahahahaha”Ucap Winata dan diakhiri dengan tawa.
“Dek! Jangan sampai jitakan maut abang melayang ke kepalamu yang kecil itu ya”Ucap Franky yang makin kesal dan diselingi ancaman.
“Gimana rasanya tu bang, apakah enak bang.?” Balas Winata, ia bukannya takut akan ancaman Franky, tapi malah mengejek Franky.
“Rasanya pedas dan menyengat seperti di sengat lebah.”Jawab Franky asal karena kesal.
“Mau dong bang, aku pesan satu ya? Hahahahaha…”Ucap Winata dan tertawa, kemudian berlari masuk ke kamarnya karena melihat Franky yang hendak menghampirinya.
Daisy yang melihat tingkah kakak beradik itu ikut tertawa, ia merasa tenang dan ikut bahagia akan keharmonisan keluarga itu.
“Mereka berdua itu sering seperti itu, jarang akurnya. Rumah ini hampir setiap hari di isi dengan keributan ketiga anak-anak Enyak.”Ucap Bu Fani dan terkekeh, diikuti Daisy yang juga ikut terkekeh.
~~
Malam harinya...
Kedua orang tua Franky, Franky, Winata dan Daisy makan malam bersama di meja makan. Dengan suasana seperti biasanya yakni diselingi sedikit perdebatan antara Winata dan Ibunya, Fani.
"Nyak! Ini ikan kok familiar ya? Seperti pernah lihat gitu."Ucap Winata sambil menusuk-nusuk ikan yang tergeletak tak berdaya di piringnya.
"Ya jelaslah familiar, itu kan ikan gurame yang kamu pelihara di akurium."Ucap Franky tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Winata.
"APA?!!!!"Teriak Winata menggema, sehingga semua orang yang ada di meja makan menutup telinga kedua telinga.
"Hishhh...berisik!"Bentak Bu Fani kepada Winata sambil menutup kedua kupingnya.
"Nyak! Aye ngak terima si Gume aye enyak sambel kayak gini. Hidupin lagi ngak?!!" Ucap Winata tak terima dengan mata berkaca-kaca.
"Cah elah lebay lu...ikan gurame itu memang pantas di goreng. Lu nya aja yang aneh, mana ada orang naroh ikan gurame dalam akurium. Daripada ngotorin tuh akurium, mending gue goreng."Bu Fani yang cuek.
"Nyak!!!! Si Gume itu pemberian dari Vicko sebagai kenang-kenangan."
"Mentang-mentang mantan pacar lu punya peternakan ikan gurame. Ikan gurame dijadiin kenang-kenangan. Udah! lupain aja si teko itu, cari laki-laki lain, yang ngak pelit kayak dia."
"Nyak, Vicko! Bukan teko."Ucap Winata yang tidak terima Bu Fani salah menyebutkan nama mantan terindahnya.
"Ah gue ngak peduli nama tu anak. Mending lu Move on deh, terus pacaran sama Panci anaknya Rosidah."
"Panji Nyak! Bukan Panci."Ucap Franky membenarkan.
"Ya itulah...Hahahaha. Gue lebih setuju elu sama tu si Pan...Pan..."
"Bukan Panjul, Babe and Enyakku, tapi Panji."Ucap Franky dengan rasa sabar.
"Lu ye...sama aja kayak gue. Sok-sok an nimbrung lu."Ucap Fani kepada suaminya, sedangkan Pak Toton hanya terkekeh.
"STOPPP!!!!"Teriak Winata yang sudah kesal.
"Aye ngak mau sama si Panji, dia itu orangnya jorok dan mesum. Kalau nyak mau, nyak aja yang sama dia."Ucap Winata.
Fani mendengar ucapan Winata menatap putri bungsunya itu dengan kesal, sedangkan Pak Toton hanya menghela nafas lelah.
"Gila lu ye, Lu nyuruh gue buat nyelingkuhi babe lu? Dasar anak durhaka."Ucap Bu Fani lalu mengangkat sendok nasi yang ada ditangannya dan hendak memukul kepala Winata, tapi terhenti karena ada yang datang.
"Ngak ada kata diam saat acara kumpul-kumpul keluarga ya Mpok."Ucap seorang ibu-ibu yang tiba-tiba nongol entah darimana.
Melihat kedatangan ibu itu, Bu Fani langsung memasam wajah masam.
"Oi Maryam...Main nyelonong aje lu masuk rumah orang. Lewat pintu mana lu?"
"Itu, lewat pintu dapur yang terbuka lebar (sambil nunjuk pintu belakang yang terbuka) Wah....pas banget, aye belum makan Mpok. Numpang isi lambung ya Mpok?"Ucap Maryam dengan raut wajah gembira, dan tanpa basa- basi menarik kursi kosong yang terletak di samping Daisy.
Daisy hanya menatap bingung ke arah Maryam, lain halnya dengan Ibu Fani, ia menatap tajam ke arah Maryam.
"Eitss....Siape yang nyuruh lu ikut makan? Pulang sono."Ucap Bu Fani.
Maryam tidak menghiraukan celoteh Bu Fani, ia asik menyendokkan nasi dan ayam kedalam piringnya.
"Benar-benar lu ya. Itu semur ayam gue masak untuk calon menantu gue, malah lu habisin."Bentak Bu Fani yang emosi.
"Hah, calon menantu? Franky udah bawa pulang calon bininya?"Kaget Maryam dan menghentikan acara makannya.
"Terus, siapa tuh yang duduk disamping lu, kalau bukan calon mantu gue."Ketus Bu Fani sambil menunjuk Daisy dengan dagunya.
Maryam pun menolehkan kepalanya ke samping.
"Astoge.....cakep bener menantu lu Mpok. Bule ya Neng?" Tanya Maryam antusias.
"Hehehe...iya Bu."Jawab Daisy yang canggung akan tatapan memuja dari Maryam.
"Kemana aja lu tadi? Baru sekarang lu nampak calon mantu gue."batin Bu Fani.
"Lu model ya Neng?mulus bener kulit lu."Ucap Maryam sambil mengelus-ngelus kulit tangan Daisy. Daisy yang diperlakukan seperti itu hanya bisa tersenyum kecut.
"Wah...kalau gini nih, ngak selesai-selesai nih makan."Sindir Pak Toton yang mulai kesal karena sedari tadi, terus merasa terganggu.
Setelah selesai makan malam, Daisy memutuskan untuk pergi kehalaman belakang rumah Franky. Disana ia duduk bermenung sambil menatap ikan-ikan di kolam.
"Sedang apa?"Ucap Franky yang memecahkan keheningan.
Daisy hanya menolehkan kepala sekilas, kemudian fokus lagi pada ikan-ikan di kolam.
"Apa kau tidak lihat, aku lagi ngapain?" Ketus Daisy.
"Buset. ketus amat sih, ngak bisa jawab baik-baik apa?" Kesal Franky.
Daisy menghiraukan ucapan Franky, ia malah balik bertanya.
"Berapa hari lagi kita disini sih? Katanya mau mencari cincin berlian yang hilang, tapi malah berlama-lama disini."
"2 hari lagi kita akan balik ke kota, untuk sekarang jangan buru-buru balik. Nanti kedua orang tuaku curiga."Jelas Franky dan dibalas anggukan oleh Daisy.
Keesokan harinya, Daisy yang sudah terbiasa setiap pagi lari maraton, memutuskan untuk berlari maraton sendirian melewati beberapa perumahan di desa, tanpa ditemani Franky.
Sepanjang perjalanan, tidak ada satupun orang yang nampak lalu lalang untuk berolahraga pagi. Yang Daisy lihat hanya beberapa orang yang sibuk di sawah dan pekerjaannya masing-masing, tidak ada yang maraton di pagi hari.
"Uh! Tidak ada satupun niat mereka untuk berolahraga, tidak sama dengan orang-orang di kota."keluh Daisy.
Tiba-tiba ada seorang laki-laki menghampirinya.
"Hai Neng? Lagi ngapain nih, sampai berkeringatan."Ucap pria itu dan tersenyum menggoda.
Daisy hanya memutar bola matanya malas, dan terus berjalan tanpa menghiraukan pria itu.
"Hei. Neng!! Sombong amat sih."Teriak pria itu sambil berlari-lari kecil kearah Daisy.
"Ngapain sih, nih orang gila ngikutin."gerutu Daisy kesal.
Bersambung...