
"Hari ini adalah hari terakhirku disini, besok aku harus balik ke kampung." Ucap Franky menatap lurus ke arah depan, tanpa memandang lawan bicaranya.
"Kalau begitu sampai jumpa. Besok, sebelum kau pergi, aku kan memberikanmu uang sebagai tanda ganti rugi atas hilangnya cincin itu."Ucap Daisy
Mendengar ucapan Daisy, Franky langsung mengalihkan pandangan ke arah Daisy yang tengah menatapnya, sehingga mereka dalam keadaan saling menatap.
"Nona, sudah berapa kali ku katakan padamu. Aku tidak ingin ganti rugimu, yang aku butuhkan hanya cincin itu. Kau harus ingat! Besok aku kembali tidaklah sendiri, kau juga ikut."Tegas Franky.
Mendengar ucapan Franky, Daisy hanya memutar bola matanya malas.
"Bagaimana kalau aku menolak untuk ikut denganmu?" Tanya Daisy menantang Franky.
"Maka aku akan meminta kakak sepupuku bertindak untuk menangkap gadis sombong sepertimu."Ucap Franky santai lalu mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum menyeringai.
"Hish, dasar pria kampungan."gumam Daisy kesal setelah menatap senyuman Franky yang sangat menyebalkan menurutnya.
Malam harinya, Daisy pergi menemui Daddynya, meminta izin pergi ke desa bersama Franky.
"Sayang, kenapa kamu harus pergi liburan ke desa. Padahal kamu bisa pergi ke luar negeri, seperti ke Paris, London, Jepang, atau negara lainnya. Di desa itu tempat yang kotor nak...."Ucap Tora, Daddy Daisy.
"Aku maunya cuman ke desa, aku udah bosan pergi liburan ke tempat yang Daddy sebutkan tadi. Aku maunya ke desa, karena di desa itu udaranya sejuk. Ngak bising seperti di kota."Ucap Daisy beralasan.
'Kalau bukan karena ancaman si pria kampungan itu, aku ogah mah sebenarnya ke desa, Daddy.'Gumam Daisy dalam hati sambil menghela nafasnya.
"Baiklah, Daddy izinin kamu pergi ke desa. Tapi dengan syarat, kamu harus bawa tiga bodyguard." Ucap Tora memberi syarat.
Mendengar ucapan Daddynya, Daisy membolakan matanya karena terkejut.
"Ngak bisa gitu dong Dad. Cukup si Franky aja, nanti aku jadi pusat perhatian di Desa kalau bawa tiga bodyguard."Ucap Daisy memprotes.
"Kalau gitu, Daddy ngak izinin kamu pergi ke desa." Tegas Tora.
Daisy mencoba berpikir keras, supaya Daddynya menyetujui keinginannya.
Lumayan lama dia terdiam setelah mendengar ucapan Daddynya, akhirnya Daisy mendapat sebuah pencerahan. Ia akan berdrama lagi seperti yang ia lakukan sebelumnya, ketika membujuk Daddynya.
"Asal Daddy tau saja, Desa tempat aku liburan. Tidak boleh membawa orang asing terlalu banyak. Cukup dua saja, kalau lebih dari dua. Kami akan du kenakan denda."Ucap Daisy membodohi Daddynya.
"Darimana kamu tau?" Tanya Tora sambil menatap curiga putrinya itu.
"Aku taunya dari Franky lah Dad. Desa itu kan kampung halamannya."Ucap Daisy.
'Hehehe...aku memang cerdas...'Gumam Daisy dalam hati.
"Hufff....Panggil Franky kemari!" Ucap Tora memerintah putrinya untuk memanggil Franky ke ruangan, tempat ia berada sekarang.
"Ok Daddy." Saut Daisy, lalu pergi keluar dari ruangan itu.
5 menit kemudian, Daisy dan Franky masuk ke ruangan tempat Daddy Daisy berada.
Sekarang mereka duduk dalam keadaan saling berhadapan, kecuali Franky, Ia masih dalam keadaan berdiri.
"Duduklah Franky" Titah Tora, Daddy Daisy.
"Baik, terimakasih Tuan."Saut Franky sambil menunduk hormat, lalu duduk di samping Daisy.
"Apa benar, Desa yang akan di kunjungi Daisy merupakan kampung halamanmu?" Tanya Toratanpa tanpa basa-basi memulai pembicaraan.
"Iya Tuan besar." Balas Franky singkat sambil menunduk hormat kepada Tora.
Daddy Daisy hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Franky.
"Apa kau bisa menjaga putriku disana dan memastikan keselamatannya?"
"Saya pasti bisa menjaga Nona, Tuan Besar. Saya akan selalu menjaganya ,meski nyawa saya taruhannya." Ucap Franky mantap, tak tau itu dusta atau memang berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Daisy yang mendengar ucapan Franky sempat tersentuh, tapi tak lama kemudian ia tersadar bahwa Franky pasti sedang bersandiwara~ Menurutnya.
"Baiklah, Daddy izinkan kamu ke desa bersama Franky. Tapi paling lama kalian disana cuman satu minggu, tidak boleh lebih. Mengerti?"Ucap Tora dengan tegas.
Mereka berdua hanya menganggukkan kepala, sebagai tanda mengerti.
"Kalau tidak ada yang mau di katakan lagi, lebih baik kalian berdua keluarlah."
Franky menganggukkan kepalanya lagi, sedangkan Daisy angkat bicara.
"Daddy kok ngusir aku?"Ucap Daisy dengan nada manja.
"Daddy ngak bermaksud ngusir kamu, honey. Ada hal penting yang Daddy bicarakan dengan Bento (Sekretaris Tora)."
"Oh gitu...,oklah. Aku keluar Dad"
"Iya Sayangku" Saut Tora dan tersenyum ke arah putri semata wayangnya itu.
Daisy dan Franky pun keluar dari ruang kerja Daddy Tora.
Daisy yang langkahnya di ikuti Franky merasa geram.
"Ngapain kau ngikutiku? Pergi Sana." Ucap Daisy ketus.
"Aku kan bodiguardmu, tentu saja mengikuti kemana pun kau pergi, Nona Sisi."Ucap Franky sambil tersenyum jahil ke arah Daisy.
"Jadi kalau aku ke kamar mandi, kau juga mengikutiku, begitu?" Ucap Daisy sambil menatap nyalang ke arah Franky.
"Kalau Nona mengizinkan...Heheheheh." balas Franky sambil terkekeh.
"Hiii....Dasar pria kampungan yang mesum." Ucap Daisy sambil bergidik ngeri.
Franky yang mendengar ucapan Daisy hanya tertawa, merasa tak tersinggung akan ucapan Daisy yang selalu menghinanya.
◇♧◇
Keesokan harinya....
"Hati-hati disana ya honey." Ucap Tora kepada putrinya.
"Iya Daddy..."Ucap Daisy lalu memeluk Daddynya.
"Dan kamu Franky, tolong jaga putri Saya. Jika sampai terjadi sesuatu pada putri Saya, kamu akan menanggung akibatnya." Ucap Tora menatap tajam dan mengancam Franky.
Franky hanya menganggukkan kepalanya dan membungkuk hormat kepada Daddynya Daisy.
"Siap Tuan besar."Ucap Franky.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Daisy dan Franky berangkat meninggalkan kediaman Daisy yang megah itu.
Mereka pergi ke desa, tempat tinggal Franky. Menggunakan mobil jeep milik Daisy, dan mobil tersebut di kendarai oleh Franky.
Ketika di perjalanan, tidak satu pun yang memulai pembicaraan. Keduanya hanya diam fokus pada kegiatan masing-masing, Daisy yang fokus menatap keluar jendela sedangkan franky fokus menatap lurus sambil mengendarai mobil.
Hingga akhirnya, suara bersin Franky memecah keheningan.
"Ha...ha...hatchiiiimm...." Suara bersin Franky.
Daisy yang sedang menikmati pemandangan dari jendela mobil, terperanjat dan syok setelah mendengar suara bersin Franky yang sangat keras.
"Hei, kalau mau bersin tu, kondisikan....Jantungku hampir copot nih!"Teriak Daisy emosi dan menatap Franky garang.
"Sorry lah....habisnya ngak tahan Hehehehe..." Ucap Franky lalu tertawa cengengesan.
Daisy yang mendengar alasan Franky memutar bola matanya malas, lalu kembali memalingkan wajahnya ke jendela mobil.
Franky sesekali melihat ke arah Daisy, memperhatikan wajah cantik Daisy.
"Cantik, tapi sayang galak dan sombong" gumam Franky dalam hati, lalu kembali memalingkan wajahnya ke depan, fokus mengendarai mobil.
Tiga jam lamanya menempuh perjalanan, akhirnya mobil yang di kendarai Franky memasuki gang desa tempat tinggal Franky, nama desa tersebut adalah Desa Bangku.
"Sebentar lagi kita akan sampai di rumahku." Ucap Franky lalu memalingkan wajahnya ke samping melihat Daisy.
"Hmmm..."Gumam Daisy tanpa menoleh ke arah Franky.
Franky yang melihat respon Daisy, hanya menghela napas ringan.
"Ada apa dengannya?" gumam Franky dalam hati.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sudah tiba di kediaman Franky. Sekarang mobil jeep milik Daisy sudah terparkir di halaman rumah Franky.
Mereka berdua turun dari mobil.
"Lumayan pula rumah pria kampungan ni. Sedari tadi kami melewati rumah, cuman rumahnya saja yang paling bagus." Gumam Daisy dalam hati, sambil menatap sekitar rumah Franky.
"Ayo masuk Si..." Ucap Franky membuyarkan lamunan Daisy.
"Oh ok." Saut Daisy singkat.
Mereka masuk ke dalam rumah Franky secara bersamaan. Setibanya di dalam, mereka di sambut hangat oleh anggota keluarga Franky.
"Nak. Kau sudah pulang ternyata, apa ini calon istrimu?" Tanya Toton, Ayahnya Franky sambil menepuk bahu putranya.
Franky yang akan menjawab pertanyaan Ayahnya terhenti, karena di potong lebih dulu oleh ibunya.
"Alamak....si Bule...dapet bini bule pula ya bee...Cakep banget kamu ya neng!"Ucap Fani, ibunya Franky tersenyum ramah, dan tanpa aba-aba langsung memeluk Daisy, sedangkan Daisy hanya diam mematung.
Daisy yang mendengar ucapan kedua orang tua itu menatap Franky, meminta penjelasan.
Franky yang di tatap tajam oleh Daisy hanya tersenyum canggung.
Bersambung....