
Atlanna menatap pantulan wajah nya pada cermin yang ada di dalam kamar mandi rumah sakit. Kedua sudut bibir nya terangkat, memberikan semburat warna merah tipis yang terlihat kontras pada kulit nya yang pucat. Ia menunduk, tangan kanan nya terkepal dengan gemas.
"Gue sering denger Varo panggil lo Anna, gue nggak mau sama-an sama dia. Gimana kalau gue panggil lo, Atta?"
Sialan. Atlanna menggeram tertahan, sejak kapan lelaki itu mulai memenuhi isi kepala nya?
"Atta, lo di dalem udah hampir setengah jam. Oke?"
"JANGAN PANGGIL GUE ATTA!"
Raskal terkekeh geli mendengar pekikan menggelegar dari dalam kamar mandi. Saat ini ia sedang menyandarkan punggung nya pada dinding kamar mandi, menunggu seorang gadis cantik yang sedang berganti baju dari pemberian Bunda nya.
"Atta?" panggil Raskal.
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Atlanna yang sedang menatapnya tajam. "Jangan panggil gue Atta, anjing!" pekik Atlanna disertai pekikan nyaring di akhir kata.
Raskal menundukkan badannya tepat di sebelah telinga gadis itu, ia tersenyum miring. "Sekali lagi lo ngomong kasar ke gue, lo bakalan tau akibatnya," bisik nya pelan.
"Gak jelas!" Atlanna menggedikkan bahu geli merasakan hembusan nafas Raskal dileher nya. "Gue nggak mau sekolah!"
Raut wajah Raskal berubah datar. "Mau gue cium kek semalem?"
"Nggak, mulut lo bau jigong."
"Anjing!" Raskal terkekeh geli tak habis pikir. "Lo bakalan jadi good girl kalau sama gue, oke?"
Atlanna benar-benar mendengus. "Gue nggak ma–UUUU RASKAL!!"
Raskal tak menghiraukan teriakan Atlanna yang hampir merusak gendang telinga nya. Lelaki itu mengangkat tubuh Atlanna bak karung beras dengan ringan. Tangan kekar nya membuka pintu kamar ruang rawat dan berjalan sepanjang koridor rumah sakit dengan tenang.
"Sialan, sialan, sialan!" maki Atlanna berulang kali. "Lepasin gue brengsek, lo mau mati?!"
"Lo nggak malu jadi pusat perhatian?" ujar Raskal heran.
"Lo–" Atlanna kehabisan kata-kata nya. "Serah!"
Sebelah sudut bibir Raskal tertarik ke atas, tangan kanan nya membuka pintu mobil dengan bebas dan menurunkan tubuh Atlanna di samping kemudi dengan pelan. Setelah nya, lelaki itu berlari memutar dan duduk di bangku supir.
"Turunin gue di halte sekolah!"
"Nggak semudah itu lo minta ke gue." Raskal melajukan mobil nya menjauhi rumah sakit tanpa menghiraukan tatapan marah dari Atlanna, ia seakan terbiasa dengan sikap labil gadis itu.
"Lo kenapa suka banget campurin hidup gue, nggak bakalan ada faedah nya di hidup lo, Raskal!" frustasi Atlanna, gadis itu takut, sungguh takut. Bagaimana jika ia mulai melupakan Navaro dan beralih kepada Raskal?
"Panggil gue Aksa," kata Raskal lirih.
"Hah?"
"Panggil gue Aksa," ulang Raskal.
Atlanna menggeleng tegas. "Gue nggak mau."
Atlanna terdiam, gadis itu menatap manik mata Raskal dari samping dengan dalam. Tak ada kebohongan dan keraguan pada mata itu membuat Atlanna mengepalkan tangannya merasa ragu.
"A-Aksa."
Raskal mengangkat kedua sudut bibir nya, ia tersenyum manis. "Gue suka sama lo, gue tertarik sama lo, gue pengen ngelindungi lo, dan gue pengen hilangin rasa trauma lo." Atlanna tertegun.
"Awalnya gue pengen jadi pilot, tapi lama-lama gue pengen jadi psikolog biar bisa jadi penyembuh pertama buat lo. Gue pengen–" Raskal menggantung ucapannya, ia menunduk kecil sebelum lampu jalan berubah hijau. "Jadi salah satu ilusi lo yang abadi."
"Ras–Aksa," ralat Atlanna, gadis itu menggeleng lemah. "Gue nggak butuh belas kasihan lo–"
"Gue nggak kasihan sama lo, gue suka sama lo, Atta!" bantah Raskal tegas. "Apa perlu gue duel sama Navaro lagi di depan lo, supaya lo bener-bener percaya sama gue?"
"Duel?" nafas Atlanna tercekat.
Raskal mengangguk, untuk pertama kali nya ia tersenyum sombong dengan yakin. "Gue menang, dan gue udah minta lo ke Navaro."
••••
Sejak turun dari mobil Raskal beberapa menit yang lalu, Atlanna semakin merasa risih melihat beberapa pasang mata menatapnya berbagai pandangan. Bisik-bisik mulai terdengar, sial. Atlanna sudah menduga nya dan ia benci hal itu.
"Udah jebol apa belum?" langkah Atlanna terhenti, kepala nya menoleh ke samping dengan sinis. "Maksud?"
Nita tertawa kecil, gadis yang semula menyandarkan punggungnya pada dinding kelas itu melompat kecil menghampiri Atlanna. "Oh, belum ya? ternyata kak Raskal bisa nahan nafsu juga, hahaha."
Kedua tangan Atlanna terkepal kuat, kedua mata tajamnya menyorot tak suka ke arah Nita membuat tawa gadis itu berangsur mereda. Tak bisa dipungkiri, Atlanna adalah anggota inti Ravloska, aura nya mampu mengintimidasi seseorang dengan baik.
"Jadi lo yang ngasih obat perangsang ke Raskal?" suara Atlanna mereda, intonasi nya terdengar tenang.
"Kenapa kalau iya?"
Sebelah sudut bibir Atlanna terangkat, gadis itu tersenyum aneh membuat Nita memasang badan waspada.
"Mau apa lo–BUGHH!!"
Tubuh Nita terpelanting ke belakang dengan bebas karena bogeman Atlanna karena tak sempat menghindar, gerakan Atlanna terlalu cepat. "Lo gila?!"
Tak peduli dengan teriakan gadis itu, Atlanna berjalan maju seakan belum puas dan menarik rambut panjang Nita, menghempaskan kepala nya ke dalam kelas membuat beberapa siswi yang berada di dalam terdengar memekik ketakutan.
"IBLIS!" teriak Nita.
Atlanna tersenyum miring. "Terimakasih."
"Lo gila, jauh-jauh dari gue!" jerit Nita, tubuh nya mundur ketakutan melihat Atlanna yang berjalan maju ke arah nya. "ATLANNA!"
BRAKK!!
Atlanna memiringkan kepala nya ke samping melihat Nita yang tak lagi bergerak, kedua mata nya tertutup, dahi gadis itu terlihat memar dengan sudut bibir yang berdarah. Senyum aneh kembali tercetak jelas membuat murid yang berada di kelas tak ada berani bergerak menolong Nita. Sebuah langkah kaki yang terdengar teratur dan familiar ditelinga nya memasuki ruang kelas membuat tubuh Atlanna mematung beberapa saat.
"Atta?"