Atlanna Abiyaksa

Atlanna Abiyaksa
6 | Tendangan Bison



Pagi hari, Raskal terbangun saat cahaya matahari mulai menyusup melalui celah-celah jendela kamar nya. Lelaki itu meringis, kepala nya terasa berat dan sekujur tubuh nya terasa linu.


"Udah bangun?" Raskal menoleh, dahi nya berkerut mendengar nada datar dari Bunda nya.


"Kenapa?"


"Masih nanya kamu?!" Sheila menatap tajam putra nya, wanita muda itu berjalan ke sudut kamar dan menyibak selimut yang ada di sofa dengan gerakan pelan. Kedua mata Raskal mendelik melihat Atlanna tidur disana dengan tenang. "Kamu tidak ingat kejadian semalam?"


Raskal menggeleng, ia hendak beranjak turun namun kembali meringis merasakan perutnya yang terasa nyeri. Tak tau saja, tadi malam Atlanna menghajarnya habis-habisan karena hampir melecehkan gadis itu.


"Perut Raskal sakit banget, Bunda." Ia mengadu, tangan nya mengelus pelan perut sixpack tipis nya. "Kayak habis di tendang bison."


Sheila mendelik, wanita itu tak menghiraukan putra nya kemudian berjongkok di dekat Atlanna. Tangan nya terangkat pelan, hendak membangunkan gadis itu namun terhenti saat melihat lengan nya.


"Ya Tuhan," batin Sheila.


Luka dengan pola garis-garis abstrak yang masih memerah mendominasi luka lebam yang ada di lengan kiri nya membuat Sheila terdiam. Gadis itu.. mengapa bisa sampai seperti itu?


Raskal menggeleng pelan tanda tak mengerti saat Bunda nya menatapnya penuh tanya. Lelaki itu menghiraukan nyeri pada perutnya kemudian menghampiri bunda nya.


"Raskal mohon sama Bunda, jangan tanya apapun soal kehidupan Atlanna nanti."


•••


Kedua mata tajam Atlanna perlahan terbuka, mengerjap beberapa kali sambil menatap langit-langit kamar dalam diam. Ia baru saja bermimpi, seseorang mengelus rambut panjang nya dengan lembut dan memberikan selimut tebal ditengah malam.


Nyaman, elusan penuh kasih sayang itu sama seperti elusan Mama nya sebelas tahun yang lalu, terasa hangat dan menenangkan.


Tangan kanan nya terangkat mengusap lengan kiri nya yang memerah lalu naik perlahan hingga menurunkan kerah bajunya. Jemari lentik yang dominan pucat itu mengusap daerah leher yang dihiasi bercak merah.


'Kenapa gue nggak marah?'


Pertanyaan itu muncul begitu saja saat otaknya mengulang kembali memori malam tadi. Nekat meminta bantuan anggota Ravloska untuk mengantarnya ke rumah Raskal. Hal itu terjadi begitu saja, bahkan saat Raskal menyentuhnya dan membuat beberapa kissmark barulah ia sadar dan menghajar lelaki itu habis-habisan.


"Pagi, cantik!" Sheila tersenyum melihat Atlanna yang hanya memandang nya datar tanpa ekspresi, wanita muda dengan gadis kecil di gendongan nya itu mendekat dan duduk di sebelah Atlanna dengan nyaman. "Maaf gara-gara Raskal kamu harus dateng ke sini malam-malam."


"Raskal belum sampai melakukan itu ke... kamu, kan?"


"Jangan nyakitin diri sendiri, ya?" Sheila mengecup rambut nya pelan. "Anggap tante seperti ibumu. Panggil saya Bunda, oke?"


Tubuh Atlanna terasa lemas, kedua mata nya terpejam dengan erat, menahan mati-matian air mata yang memaksa untuk keluar. Gagal, Sheila tersenyum tipis mendengar isak kecil dari bibir gadis kecil itu.


"Tidak perlu ditahan, kamu berhak untuk itu."


Bibir Atlanna bergetar. "Ke-napa?"


"Karena kamu istimewa." Sheila berkali-kali mengecup pelipis Atlanna sambil mengusap nya dengan sayang. "Tujuan kita di dunia itu untuk hidup. Hanya orang-orang hebat yang bisa bertahan dan kamu termasuk salah satu nya."


Jemari nya terangkat menghapus air mata yang mengalir pada pipi Atlanna sebelum bangkit dari duduknya. "Nggak boleh sedih, sekarang kan udah punya Bunda," ujar Sheila.


Kedua sudut bibir Atlanna terangkat pelan membentuk sebuah lengkung tipis, sangat tipis. Ia mengangguk kecil. "Terimakasih, bun-da."


Itu adalah pertama kali nya ia tersenyum dan kembali merasakan sebuah emosi bahagia sejak sebelas tahun yang lalu. Dan itu, berkat keluarga... Raskal.


Atlanna mengikuti langkah Sheila yang menuntunnya keluar kamar. Rumah Raskal hanya terdiri dari dua lantai namun terlihat sangat megah. Lantai dua berisi tiga bilik kamar dan satu perpustakaan, sedangkan lantai satu berisi dua kamar, ruang keluarga, ruang kerja dan dapur. Tak sebesar rumah Atlanna, namun rumah ini terasa sangat nyaman bagi gadis itu.


"Gambaran gue kalau punya istri, pagi-pagi udah lihat si cantik." Raskal mengedipkan sebelah mata nya membuat Atlanna mengerutkan dahi tak suka.


"Percaya diri banget kalau Atlanna mau sama kamu," sahut Sheila sinis, wanita itu menarik lembut lengan Atlanna ke salah satu kursi kosong. "Sini sayang."


Raskal mendengus. "Emang nya Bunda nggak mau punya mantu kek Atlanna?"


"Mau." Sheila mengangguk. "Tapi Bunda kasihan sama Atlanna kalau harus punya suami kek kamu."


"Mana ada kek gitu." Raskal berdecak.


Wajah Sheila nampak cuek bebek, wanita itu meletakkan lauk pauk dengan porsi besar sayur hijau ke dalam piring Atlanna dengan lempeng. "Dimakan, ya, sayang. Pokoknya harus habis biar kuat."


"Dimikin yi siying, pikiknyi hiris hibis biir kiit." Raskal nyinyir.


Sheila menaikan kedua alisnya. "Kalau Bunda pikir-pikir kek nya bener, kalian kalau udah gede harus nikah. Soalnya Raskal udah berani bikin kissmark segitu banyaknya sewaktu Bunda sama Papa nggak ada di rumah."


"Uhuk!" Sesendok nasi yang hendak ia telan langsung menyembur keluar karena perkataan Sheila. Atlanna melotot, gadis itu menutup mulut nya dengan kedua tangan melihat Raskal yang menatap nya penuh arti. "Sialan!"