
Pagi-pagi sekali Atlanna telah berada di sekolah karena menghindari Papa nya. Usai terlibat aksi tawuran kemarin siang, gadis itu mendekam di base camp seharian, pulang tengah malam dan berangkat ke sekolah sebelum matahari menampakan sinarnya.
Ia masih terlalu takut untuk menampakan diri seperti biasa karena kehilangan perisainya. Sejak kemarin siang, Navaro belum menampakan batang hidung nya sama sekali, yang jelas mungkin alasannya adalah menjaga Tear.
"Ikut gue!" tubuh Atlanna tersentak merasakan tangannya ditarik oleh seseorang. Ekspresi wajah tak bersahabat nya mulai melunak mengetahui orang yang seharusnya ia hindari kini berada di depannya.
"Gue kira lo marah sama gue."
"Marah bukan berarti nggak ada alasan buat gue ketemu lo."
Atlanna menahan senyum nya, entah sejak kapan ia menyukai berkontak langsung dengan Raskal. Hanya lelaki itu yang mau menemuinya saat marah, bahkan Navaro dulu memilih pergi untuk beberapa saat sewaktu Atlanna berbuat masalah pada Ravloska.
Eh? Atlanna menggelengkan kepalanya, mengapa ia membandingkan Raskal dengan Navaro?
"Duduk!" titah Raskal, wajahnya terlihat datar sehingga Atlanna hanya menurut. Ia menarik salah satu kursi di kantin dan duduk dengan tenang.
Kedua netra nya menatap kegiatan Raskal, mulai dari berjalan ke stand makanan hingga kembali sambil membawa satu porsi chicken katsu ditangannya. Setelah di perhatikan, Atlanna baru sadar jika Raskal telah menggunakan jarsey basket sekolahnya sepagi ini.
"Makan!" Raskal duduk di depan Atlanna sambil menyodorkan makanan yang usai ia pesan tanpa menatap Atlanna, gadis itu tersenyum jahil.
"Gue nggak laper."
Raskal mendongak, lelaki itu menaikan sebelah alis lalu mendekatkan tubuh nya ke arah Atlanna dengan sengaja. "Makan, atau lo yang gue makan," bisik nya berat.
Tubuh Atlanna meremang, ia mengumpat kasar. Sial, niat ingin menjahili Raskal namun malah ia yang dijahili lelaki itu. Tanpa banyak bicara, Atlanna meraih piring di depannya dan langsung menyantapnya dengan lahap.
Melihat itu, Raskal menahan senyum. Bukan suatu kebetulan ia membelikan Atlanna makanan, ia sangat yakin jika gadis itu belum memasukan makanan apapun ke dalam perutnya sejak kemarin siang pasca tawuran.
Mengingat tawuran membuat Raskal kembali berdecak dalam hati. Tangannya terulur untuk menghapus saos di bibir Atlanna, gadis itu dibuat melotot saat Raskal menjilat sisa saus yang ada di tangannya.
"Jorok!" kesal Atlanna.
Raskal hanya tersenyum, lelaki itu berdiri kemudian menepuk pucuk kepala Atlanna karena melihat piring yang sebelumnya penuh kini terlihat kosong.
"Gue nggak suka lihat lo pakai perban apalagi hoodie sialan itu," ujar Raskal, ia menatap Atlanna lembut. "Harusnya gue marah sama lo, tapi nggak bisa. Lo selalu bikin tidur gue nggak tenang, Atta."
Sialan. Atlanna mengepalkan kedua tangan nya merasakan ribuan kupu-kupu seperti berterbangan di dalam perutnya. Gadis itu menggigit bibir bawah nya kuat, netra nya tak henti memandangi punggung Raskal yang mulai berlari menjauh menuju lapangan. Ia bahkan tak menyadari keberadaan seseorang yang mengepalkan tangan menatapnya.
Dinginnya angin malam berhembus, menampar lembut wajah tampan seorang lelaki yang sedang berdiri di pembatas jembatan sembari menatap ke arah bawah. Perlahan kepalanya mendongak, menghembuskan asap vape ke atas dan membiarkan sang angin membawanya terbang bebas.Malam selalu membuatnya merasa tenang, entah suasana atau anginnya. Malam selalu memiliki cara untuk meringankan masalahnya.
"Obsesi lo nggak akan pernah bisa dapetin dia." Lelaki itu menoleh, kedua mata nya menatap tak suka ke arah sosok gadis yang tangan hingga wajah nya dipenuhi dengan perban.
"Sehat lo pakai begituan?"
Nita berdecak. "Ini ulah cewek obsesi lo, Arka. Dia hajar gue habis-habisan di sekolah tapi kesiswaan nggak mau ambil tindakan karena dapet perlindungan dari Raskal."
Kedua mata Arka terpejam, lidahnya bergerak menjilat bibir nya yang basah dengan gerakan erotis. "Atlanna," gumam nya sembari mendesah lirih.
"Dasar cowok gila, psikopat!" batin Nita.
"Gue butuh bantuan lo." Kedua mata Arka yang semula terpejam langsung terbuka, buru-buru Nita mengangkat kedua tangan nya ke udara dengan panik. "Maksud gue, kontrak."
"Kontrak?"
Nita mengangguk pasti. "Gue bantuin lo dapetin Atlanna tapi bantu gue dapetin Raskal, gimana?"
Arka nampak menimang-nimang, lelaki itu kembali menghembuskan asap vape nya ke atas menampilkan jakun indah yang membuat Nita menelan susah payah saliva nya. Arka itu tampan, lelaki itu terlihat sangat sempurna dan hampir tidak memiliki celah, sayang nya ia terlalu terobsesi dengan kekerasan yang membuat nya tak jauh dari kata gila.
"Lo... mau?" tanya Nita hati-hati.
Arka tersenyum penuh arti, ia mengangguk. "Lo mau gue ngapain?"
"Terserah, intinya buat Atlanna jauh-jauh dari Raskal. Mau lo hamilin dia atau bahkan lo bunuh, gue nggak peduli."
"Gue berencana pengen mati bareng sama dia, gimana menurut lo?"
Nita mengangguk saja, ia takut jika Arka akan berubah pikiran. "Selama lo seneng, nggak ada larangan."
Arka tersenyum senang, tangan nya terangkat untuk mengelus pucuk kepala Nita dengan lembut. "Nggak sia-sia punya sepupu, padahal gue pernah berniat bunuh lo dihari Valentine."
Pengakuan Arka yang terlampaui tenang membuat Nita benar-benar tercengang.