
Ketika tubuh yang rapuh terbujur kaku, lalu gerakan perut yang terbiasa naik-turun seakan memompa udara kini terlihat tak lagi bergerak. Seseorang menarik tubuh kecil ku ke belakang sebelum mendekap ku erat, isak tangis kecil terdengar namun aku tak tau harus berbuat apa. Mengapa mereka terlihat menyedihkan?
"Nak, kamu harus ikhlas, ya. Mama kamu harus segera di makam kan."
Mereka membawa tubuh Mama keluar dari rumah di iringi tangisan dan aku masih terdiam tak mengerti. Beberapa kali aku meyakinkan diri bahwa itu hanya sementara, Mama akan segera bangun dan kembali mengelus rambut ku dengan sayang. Namun, detik kemudian aku sadar bahwa mereka yang aku kira sangat menyedihkan justru mengatakan seolah aku yang perlu dikasihani.
"Semoga amal ibadah beliau diterima."
Satu per satu orang kembali pada rutinitas masing-masing dan disaat itu lah aku baru sadar apa artinya kematian. Bagaimana tubuh hangat yang senantiasa mendekap ku erat akhirnya tak lagi terlihat ditelan bumi untuk menuju ke alam yang abadi.
Menjalani hari yang berubah, aku mulai bercerita kepada tetangga soal rasa tenang saat melihat darah, lalu mereka hanya tersenyum seolah itu hanya khayalan yang dibuat oleh anak SD. Aku mencoba percaya, namun hari demi hari rasanya semakin tersiksa hingga akhirnya aku mulai memberanikan diri untuk melukai lengan ku.
•
Aliran deras air sungai dibawah sana tak menyurutkan tekad seorang gadis bergaun putih lusuh yang sedang berdiri di pinggiran pembatas taman. Pandangan nya terlihat kosong, menatap ke arah bawah dengan pikiran berkecamuk.
Terjun! ayo terjun!
Bisikan tersebut berkali-kali masuk ke dalam otak hingga mengganggu akal sehat nya. Tak terduga, ia menjatuhkan tubuh kecil nya ke bawah membuat seseorang yang baru saja duduk di bangku taman memekik terkejut.
"Anjing, gila kali tuh anak!" kaki kecil nya langsung berlari menuju sungai dan semakin panik melihat sungai arus yang deras semakin membawa tubuh gadis kecil itu pergi.
"Sial, apa gue panggil Tara aja? bapak nya kan RT," gumam bocah tersebut.
Menepis pikiran yang menurutnya sia-sia, ia kembali berlari menyusuri aliran sungai hingga terhenti pada anak sungai yang memiliki aliran lebih kecil. Bocah laki-laki yang berumur sekitar sebelas tahunan itu menunduk kemudian melotot senang melihat tubuh gadis kecil yang ia kejar terlihat mengapung karena tersangkut di semak belukar.
"Gotcha!" seru nya bahagia, tanpa pikir panjang ia menarik lengan putih pucat yang sedikit membiru itu dan membawa nya ke tepian.
Tangan kecil nya beberapa kali menepuk-nepuk pipi gadis tersebut namun nihil, tak ada pergerakan apapun. "Hei, are you oke?" ujar nya yang tak mendapat sahutan.
Kepala nya menoleh ke sekitar, sepi. Dalam keadaan seperti ini entah mengapa otak kecil nya mengingat video dewasa yang pernah di perlihatkan sepupu gila nya dulu, kedua netra nya langsung menatap ke arah gadis kecil di depan nya dengan pandangan yang sulit di artikan.
Rambut sedikit pirang sepanjang punggung, alis tebal, bulu mata lentik lalu bibir tipis pucat yang sedikit terbuka membuat nya mengangkat kedua sudut bibir dengan lebar.
"Cantik, kalau bangun berarti lo punya gue," gumam nya tersenyum senang sebelum ******* bibir mungil itu dengan lembut, tangan nya mengusap rambut basah gadis mungil ke belakang dan tak henti menekan dada di dalam dekapan nya, persis seperti yang ada di dalam video dewasa tersebut lakukan.
Gerakan nya yang terlihat seperti pemain profesional sangat kontras dengan umur nya yang masih anak-anak. Pola pikir bocah tersebut telah berubah, kehidupan nya yang selalu tercukupi namun jauh dari pantauan orang tua menjadi faktor utama nya, ditambah lagi memiliki sepupu yang selalu iseng memberikan bocah itu video dewasa membuat pikiran bocah kecil itu mulai berubah.
Jemari pucat yang tak lepas dari genggaman nya itu perlahan bergerak hingga membuat nya kembali menegakkan badan, detik kemudian gadis itu sadar dan memuntahkan banyak air. Kedua tangan mungil nya dengan sigap ikut memijit pelan tengkuk gadis rapuh itu dengan cekatan.
Kedua netra mereka saling mengunci, detik kemudian bocah laki-laki itu mengangkat kedua sudut bibir nya bangga.
"Gue Arkana Dio Abiyaksa, good kisser kan?"
Brak!!
Tubuh Arka yang tak siap menerima serangan pun tersungkur hingga kepala nya membentur batu besar dengan kuat. Darah segar mengalir deras dari dahi. Bukan nya meringis atau pun menangis justru Arka bangkit sambil tertawa kecil, ia tak menduga jika reaksi gadis yang terlihat sangat mungil dari nya itu di luar dugaan.
"Lo aneh, tapi gue nggak bakalan lepas lo gitu aja karena lo gadis pertama yang pernah gue cium."
Arka mendekat ke arah gadis yang terlihat ketakutan, tangan nya dengan cekatan menarik lengan kecil yang terlihat gemetar dan membawa nya ke dalam dekapan nya, untuk pertama kali nya Arka merasa aneh saat mendapatkan luka.
Mengapa luka dari gadis mungil itu terlihat sangat memuaskan?
"Enghh?!"
Arka menunduk, kedua alisnya menyatu mendengar suara kecil gadis mungil itu yang hanya terdengar seperti gumaman.
"Lo ngomong sesuatu?" tanya Arka, namun laki-laki tak ada sepatah kata apapun yang keluar dari bibir pucat itu. "Gue bukan orang jahat, mungkin kita seumuran atau lebih tua gue?"
Kembali tak mendapat sahutan membuat Arka jengkel sendiri. "Gue anter lo pulang," putusnya sembari menarik kecil tubuh rapuh itu untuk berjalan bersisian dengan nya.
Tak ada sepatah kata apapun di dalam perjalanan mereka, gadis itu hanya menunjuk arah menuju rumah dan di balas anggukkan singkat oleh Arka.
Sepuluh menit berlalu, kedua nya terhenti di salah satu bangunan berlantai tiga yang tak begitu jauh dari taman. Rumah paling elite yang ada di perumahan namun terlihat sangat sepi bak tanpa penghuni membuat Arka menoleh ke sebelah nya.
"Rumah lo?"
Gadis itu mengangguk kecil membuat Arka gemas, kedua netra nya menatap tangan gadis itu yang kini meremat gaun basah nya dengan cemas.
"ATLANNA!"
Seruan keras dari dalam pagar mampu membuat asistensi kedua nya teralihkan. Sosok pria bertubuh tegap dengan setelan jas rapi terlihat menyorot marah ke arah mereka, ah... tidak–lebih tepat nya ke arah gadis yang kini sibuk meremat rok nya dengan cemas.
"Are u oke?" tanya Arka pelan.
Ia menggeleng ragu. "P-Papa," bisik nya ketakutan.
Kedua tangan Arka terkepal, kedua netra nya menatap tajam ke arah pria dewasa yang kini mulai berjalan mendekati gerbang. Otak bocah SD itu terus berputar mencari cara untuk menyelamatkan gadis yang telah membuat nya tertarik.
Menyerah dan merasa tak ada yang bisa ia lakukan, tangan kecil itu mendekap tubuh ringkih yang menjadi candu nya sebelum mendaratkan sebuah kecupan ringan pada sudut bibir Atlanna.
••••
"PAPA BANGUN!"
Teriakan menggelegar dari seorang gadis kecil berumur delapan tahunan berhasil membangunkan seorang pria yang tertidur di ruang kerja. Kedua mata nya menyipit untuk menyesuaikan cahaya lampu sebelum netra sayu itu mengusap wajah nya dengan kasar.
"Ada perlu apa Deluna?" ujar nya sabar.
Gadis mungil itu menunduk, kedua tangan nya tertaut di depan dada dengan resah. "Luna pengen main bareng sama Papa, boleh?"
"Papa sibuk."
Hanya dua kata yang keluar dari bibir pria yang disebut Papa mampu membuat Luna terdiam, tangan kecil nya terkepal di belakang punggung sembari mendongak memberikan sebuah senyum palsu. Detik kemudian gadis itu turun dari pangkuan Papa nya tanpa perintah.
"M-maaf, ya, Papa. Luna sama Mama bakal tungguin Papa sampai nggak sibuk lagi–"
"Itu nggak akan mungkin, Luna!" seruan bernada kecewa itu mampu membuat Navaro menoleh, sosok Tear datang sambil membawa nampan makanan dan meletakkan benda tersebut di meja. "Papa harus kerja biar bisa beliin kamu boneka dan hidup berkecukupan. Luna main sama Mama aja, ya?"
Mau tak mau gadis itu mengangguk dan menuruti perintah Mama nya yang memberikan kode untuk keluar dari ruang kerja. Pintu tertutup, sebuah senyum tipis yang baru saja menghiasi wajah cantik Tear pudar dan digantikan oleh raut wajah kecewa.
"Tiga belas tahun dari sekarang kamu belum bisa lupain dia?" lirih Tear, tangan nya menekan kuat sebuah buku hitam usang yang berada di atas tumpukan berkas.
"Lo nggak bakalan ngerti."
"Kita udah punya Luna!" pekik Tear, air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya luruh membasahi pipi mulus nya dengan bebas.
Tiga belas tahun bukan lah waktu yang singkat untuk meyakinkan perasaan Navaro tentang Atlanna, namun kenyataan kembali menamparnya dengan kuat. Masa lalu tetap lah menjadi pemenang meski sebuah hasil dari pernikahan telah ada di tengah kehidupan mereka.
"Kalau kamu nggak bisa sayang sama aku, seenggak nya jangan benci Luna. Dia butuh peran seorang ayah!" teriak Tear, dada nya naik turun tak beraturan hingga isak tangis nya membuat wanita itu susah bernafas.
Navaro memandang nya tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Jujur, ia dipermainkan oleh perasaannya sendiri sejak kematian Atlanna. Dua tahun ia terpuruk dan menyibukkan diri dengan bekerja sebelum dengan brengsek nya ia kembali mendekati Tear hanya demi melupakan kenangan dengan gadis itu.
"Menurut lo gue kerja dari pagi sampai malem bukan peran? gue selalu nurutin apa yang diminta Luna tanpa telat. Peran apa lagi yang lo maksud? uang bulanan kurang banyak? besok gue tambah–"
Plak!
Nafas Tear terdengar memburu, kedua netra yang telah basah itu menatap miris ke arah Navaro yang kini memalingkan wajah karena tamparan nya. Sudah cukup sakit hati yang diberikan oleh lelaki itu, Tear tidak bisa tinggal diam.
"Aku kasih kamu pilihan, bertahan lalu berubah atau kita cerai?"
Navaro terdiam dengan pandangan yang sulit di artikan setelah tubuh rapuh Tear mulai menghilang dari balik pintu. Detik kemudian asistensi nya teralihkan pada buku hitam usang yang berada di bagian paling atas berkas perusahaan, pagi tadi ia baru memberanikan diri membaca diary Atlanna hingga berujung tertidur dan terbawa mimpi.
Tangan nya memijit pelan pangkal hidung nya yang terasa berdenyut. Ia menghela nafas, lengan kemeja putih yang ia kenakan telah digulung hingga siku sebelum kembali membuka halaman terakhir yang ia baca.
Untuk masa lalu, bisa kah engkau diam? aku tidak ingin mengulang masa lampau meski dia pernah berjanji untuk hidup bersama saat dewasa.
^^^Maret, 2012.^^^
Navaro tertohok, tangan nya kembali menggulir halaman selanjutnya dengan perasaan was-was.
Dia adalah orang kedua yang telah membuat ku nyaman, N♡.
^^^Januari, 2021.^^^
Navaro tersenyum, itu adalah bulan dimana pertama kali ia mendapatkan bogeman mentah saat memberanikan diri untuk berkenalan. Inisial N yang diberi tanda love itu sudah tentu nama nya. Ia kembali menggulir halaman selanjutnya.
Untuk masa yang akan datang, entah mengapa aku merasa bahwa hidup ku tak akan lama setelah bertemu dengan Arka. Entah memang dia seseorang yang pernah berjanji dengan ku atau hanya sebuah kebetulan memiliki nama yang sama?
^^^Mei, 2021.^^^
Bulan paling sakral, itu adalah bulan pertama saat Arka menargetkan Atlanna sebagai satu-satunya gadis di dalam Ravloska.
Aku bertemu dengan Raskal, ia memiliki nama yang sama dengan Arka, marga Abiyaksa. Aku nyaman, namun semakin lama rasanya mereka hanya tak lebih dari sebuah kata penenang hingga akhirnya aku kembali duduk di dalam kesendirian.
^^^Juni, 2023.^^^
Jantung Navaro berdegup kencang, itu adalah halaman terakhir yang di coret sebelum kelulusan tiba yang artinya dua bulan setelah nya adalah kematian Atlanna dengan Arka sore itu. Tangan nya kembali menggulir halaman depan yang sempat ia lompati. Pikiran nya kalut, ia kembali membaca kata demi kata yang mampu membuat penyesalan hinggap pada otak nya. Detik kemudian ia menangis mengingat apa yang telah ia lakukan kepada Tear dan Luna hanya karena obsesi khayalan nya semata.
Sebahagia apapun aku dengan orang baru, Arka tetap menjadi pelabuhan terakhir ku untuk pulang meski alam yang telah berbeda. Ah, lupakan.
Suatu saat nanti, aku yakin buku ini berada di tangan seseorang di masa depan. Aku mohon, jangan sampai mereka merasakan apa yang pernah aku rasakan.
Aku tidak butuh uang Papa, aku tidak butuh sekolah elite, aku juga tidak butuh satu gudang boneka yang dititipkan melalui Paman Sam.
Aku hanya ingin waktu dari Papa, bermain bersama lalu tidur berpelukan selayaknya anak dan orang tua tanpa lupa mengucapkan selamat atas peringkat yang aku peroleh.
Mudah, namun tak semua hal bisa aku minta seperti membalikkan telapak tangan, dan aku yakin mereka sama. Kata pangeran Abiyaksa, sebuah senyuman dari orang tua mampu membuat segala nya berubah dan indah pada waktu nya.
Atlanna Abiyaksa, 2015.