
Raskal mengulurkan tangan nya ke atas, ia tertegun melihat Atlanna menutupi wajahnya sambil memejamkan mata. Dekapan erat ia berikan, elusan lembut ia lepaskan. Tubuh Atlanna yang semula tegang berangsur tenang dan membaik.
"Gue suka lo yang sekarang," bisik Raskal.
Atlanna menatap nya tak percaya. "Terimakasih, Aksa." Mata nya berkaca-kaca, ia kira Raskal akan memukulnya sama seperti apa yang dilakukan Papa nya. Namun ternyata salah, Raskal mengulurkan tangan hanya ingin mengusap pucuk kepala nya.
Raskal tertegun.
"Kita pergi dari sini!" Tanpa memperdulikan Atlanna, pria itu menarik lengan Atlanna lembut menjauhi koridor kelas sebelas dengan cepat. Langkah lebar nya berhenti sekilas saat melintasi gerombolan anggota Ravloska kemudian tersenyum miring menatap Navaro yang menegang, kedua tangan lelaki itu terkepal kuat.
"Gue mohon, jangan jatuh lagi..." lirih Raskal, kini kedua nya berada di taman kota yang ada di sebelah sekolah. "Biarin gue ganti posisi Navaro."
"N-Navaro cuma kakak gue," kilah Atlanna.
"Gue udah tau semua hal yang lo sembunyiin, termasuk perasaan lo." Atlanna tertohok, ia menunduk.
Mengapa ia terlihat selemah ini di depan Raskal?
"Lo bahkan belum bisa mencintai diri sendiri, kenapa lo rela berkorban demi cowok yang nggak bisa bales perasaan lo?"
"Gue lagi berusaha."
"Jangan!" tegas Raskal. "Navaro udah gue backlist dari hidup lo, dia udah masa lalu. Lupain dia!"
"Gue nggak bisa," jujur Atlanna, ia menggeleng tegas. "Sejauh apapun lo buat gue benci sama Navaro, itu nggak bakalan bisa terjadi. Gue sayang sama dia, dan itu pasti."
"Sekalipun ada orang yang sayang nya melebihi dia?" Atlanna mengangguk membuat bahu Raskal melemah. "Gue harus apa biar lo buka mata?"
"Mati." Raskal menoleh saat mendengar nada Atlanna yang kembali dingin, tatapan gadis itu kembali seperti semula saat mereka pertama kali bertemu. Tatapan penuh keputusasaan.
"Atta?"
"Gue bukan Atta, gue Atlanna!" pekik Atlanna, nada nya naik satu oktaf.
Greebb!!!
Atlanna memberontak sekuat tenaga merasakan tubuh kekar Raskal menubruk tubuh nya, kedua tangan kekar lelaki itu memeluk pinggang nya erat. Kuku-kuku tajam Atlanna mencengkram kuat leher Raskal tanpa sadar.
"Lepasin gue!"
Atlanna menjerit sekuat tenaga merasakan pandangannya mulai memburam, gadis itu memejamkan kedua mata, menggigit bibir bagian bawah nya hingga berubah warna menjadi putih pucat. Sefl harm Atlanna kembali kambuh.
"Lepas, Atta!" Raskal memaksa jari nya masuk ke bibir Atlanna, mencekal pergerakan gigi gadis itu agar tidak melukai bibir nya lagi. Lelaki itu meringis merasakan cakaran tajam dan gigitan dari Atlanna bersamaan.
"S-sakit," bisik Atlanna, tubuh nya semakin menegang.
Raskal menggeleng kecil, ia tak lagi merasakan sakit di leher maupun di jari nya karena kebas. "Tidak apa-apa, lepaskan!"
"Sleep well my little angel," bisik nya lembut sebelum mengangkat tubuh Atlanna menjauh dari tempat awal mereka berada.
Raskal tak menyadari kehadiran seseorang dibalik dinding belakang sekolah yang kini mengepalkan kedua tangan melihat kedekatan mereka.
"Lo tau, lo adalah orang paling jahat di dunia karena nambah beban Atlanna buat gabung ke Ravloska."
"Lo cuma orang baru, lo nggak tau apa-apa tentang dia."
"Kenapa gue nggak tau?" Tear tertawa remeh. "Lo narik Atlanna masuk Ravloska biar apa?"
Kedua tangan Navaro terkepal kuat. "Gue... pengen ngelindungin dia."
"Bullshit. Hari ini mungkin lo bisa bunuh musuh, tapi gimana kalau besok lo yang dibunuh musuh?" Tear menepuk bahu Navaro dua kali. "Atlanna satu-satunya cewek di Ravloska, lo tau maksud gue."
Tear melangkah kan kaki menjauhi taman, meninggalkan Navaro yang kini terdiam dengan jantung yang berdegup kencang memikirkan ucapannya. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi?
•••
Kedua mata Atlanna menyipit merasakan kepala nya berdenyut nyeri, gadis itu menatap sekeliling ruangan sunyi yang tak asing lagi di mata nya. UKS, salah satu tempat yang dibenci Atlanna setelah rumah sakit dan rumah. Ia mencoba bangkit lalu tertegun merasakan cairan berbau besi yang mengalir melalui lubang hidung nya, buru-buru gadis itu mengusap nya saat mendengar pintu kaca berdecit pelan.
"Kamu sudah sadar?" Atlanna hanya mengangguk kecil membiarkan petugas UKS memeriksa keadaannya, wanita muda berpakaian serba putih itu memberikan Atlanna suplemen penambah darah.
"Tekanan darah kamu cukup rendah, perbanyak minum air putih dan istirahat yang cukup, vitamin nya jangan lupa diminum."
Atlanna menerima vitamin tersebut kemudian mengangguk. "Terimakasih," sahutnya singkat.
Petugas kesehatan tadi tersenyum geli, ia menunjuk seorang lelaki yang tertidur di dekat brankar yang Atlanna tempati. Gadis itu terkejut, bagaimana bisa ia tak sadar jika Raskal tertidur di sana?
"Tingkah nya membuat saya pusing. Kamu yang sakit tapi dia yang merengek dengan muka datar," kesalnya. "Kalau gitu saya pamit dulu."
Atlanna menatap kepergian petugas kesehatan sembari menahan senyum. Tangannya terangkat pelan, mengelus rambut Raskal dengan gerakan seringan kapas sembari tersenyum kecil.
"Udah mulai suka sama gue?" Atlanna terkejut.
Hap!
Raskal tertawa setelah menangkap tangan Atlanna, lelaki itu naik ke atas brankar kemudian merengkuh tubuh Atlanna dengan erat, sebelah tangannya bergerak mengacak rambut gadis itu.
"Ta, nikah yuk. Gue gemes pengen cepet-cepet kekepin lo dikamar."
"Ngaco!" jerit Atlanna, ia berusaha lepas dari dekapan Raskal. "Lepasin gue!"
"Nggak mau, hahaha." Raskal tertawa renyah, ia semakin mengeratkan rangkulannya membuat Atlanna jengkel. "Lo terlalu indah untuk menjadi sarang luka, Atta."