Atlanna Abiyaksa

Atlanna Abiyaksa
8 | Yakin masih capek?



Raskal terlihat berjalan mondar-mandir di depan ruang IGD dengan perasaan cemas, beberapa kali juga lelaki itu terlihat mengusap wajah frustasi saat dokter yang berada di dalam sana tak kunjung keluar.


Pikirannya benar-benar kalut, pilihannya untuk menetap beberapa saat di depan rumah Atlanna ternyata benar. Ia tak tau, entah sejak kapan pria gila itu menyakiti Atlanna atau mungkin kah luka yang setiap hari menghiasi kulit putih pucatnya berasal dari pria itu juga?


"Raskal, bagaimana keadaan Atlanna?" tubuh Raskal tersentak, ia membalikkan badan dan mendapati Bunda nya berjalan tergesa menuju tempat nya berada.


"Belum tau, Bun. Dokter belum keluar," kata Raskal pelan.


Sheila menghela nafas tertahan, wanita muda itu mengelus pundak putra nya dengan lembut. "Kenapa bisa sampai masuk rumah sakit? kamu apakan dia?"


"Raskal nggak tau Bun, tadi baru aja mau pamit pulang terus tiba-tiba Atlanna pingsan di depan rumah."


"Oke." Sheila mengangguk saja, ia tau jika putra nya sedang menyembunyikan sesuatu. "Loh, Aily mana?"


"Lah?" Raskal mengerutkan dahi. "Bunda kesini nggak sama Aily kok."


"Aduh!" pekik Sheila, wanita muda itu terlampaui panik hingga tak sadar meninggalkan putri nya di kamar saat Judo berada di kamar mandi. "Aily ketinggalan."


Raskal hendak melayangkan kalimat protes namun suara pintu kaca yang berdecit pelan membuat asistensi nya beralih pada sosok berpakaian serba putih yang baru saja menarik pintu.


"Keluarga pasien?"


"Saya Bunda nya," sahut Sheila cepat.


Raskal tak berkomentar, wajah nya kembali tegang melihat dokter yang menatap kedua nya dengan raut wajah yang sulit di artikan.


"Pasien akan kami pindahkan ke ruang rawat, boleh ikut ke ruangan saya?"


Kedua nya saling pandang, Raskal mengangguk membiarkan Bunda nya bertemu dengan dokter sedangkan ia mengikuti perawat yang mendorong hospital bed milik Atlanna.


"Kakak nya cantik banget, ya?"


Raskal mengangguk tanpa sadar, perawat tersebut tersenyum tipis kemudian kembali mengecek aliran infus untuk kedua kalinya.


"Suster, mata nya gerak!" seru Raskal.


Perawat tersebut terkekeh, merasa lucu dengan tingkah Raskal. Ia hanya diam tanpa berniat menyahut, membiarkan gadis yang baru saja sadar dari pingsannya itu mengerjapkan mata beberapa kali berusaha menyesuaikan cahaya.


"Gue... dimana?" gumam Atlanna.


"Di hati gue," sahut Raskal tengil, ia meletakkan jemari Atlanna pada pipi nya. "Lo bikin gue panik lagi, Na."


Kedua mata Atlanna menyipit, alisnya menyatu kemudian melirik sekilas pada suster yang kini cekikikan di balik punggung Raskal.


"Aduh, maaf mengganggu moment kalian. Cepat sembuh ya cantik." Perawat tadi mengelus lengan kiri Atlanna dengan lembut. "Kalau ada masalah jangan di pendam, banyak yang sayang sama kamu. Oke?"


Atlanna tertegun, kedua mata nya tak berhenti menatap kepergian wanita muda yang kini mulai menghilang dari pandangan nya. Setelah itu, ia baru sadar jika Raskal mengecup punggung tangannya beberapa kali.


Raskal melotot. "Heh, nggak boleh ngomong kasar!"


"Lo bajingan!" Atlanna tak peduli, beberapa saat kemudian ia meringis merasakan ngilu pada kepala nya yang membuat Raskal kembali kalang kabut.


"Nah kan, karma nya langsung datang."


Atlanna melotot, ia menghela nafas pelan. "Lo ngapain disini?"


"Kenapa, nggak boleh? gue yang bawa lo ke sini," jawab Raskal, lelaki itu sibuk sendiri dengan mangkuk yang ada di tangan nya. "Buka mulut nya sayang."


"Najis!"


Raskal terkekeh, tangannya terulur untuk mengusap pucuk kepala Atlanna dengan lembut. "Nolak bacok, rewel *****."


"Anjing!" Atlanna membuka mulut nya dengan terpaksa membuat Raskal tersenyum puas, kapan lagi bisa membuat gadis keras kepala itu menurut?


"Lo cantik, kalau nggak keras kepala."


"Lo ganteng kalau gak banyak tingkah," sinis Atlanna.


Kedua alis Raskal terangkat sombong. "Gue banyak tingkah aja ganteng apalagi pendiem?"


"Kek ijat."


Raut wajah Raskal berubah datar. "Mulut lo nggak ada filter?"


Atlanna hanya bergumam tak jelas, mulut nya kembali terbuka menerima satu suapan dari Raskal tanpa penolakan. Kedua pipi nya terlihat sedikit memerah, kedua tangannya meremas baju rumah sakit yang ia gunakan dibawah selimut.


Sebelumnya, Atlanna sangat membenci rumah sakit. Entah karena bau obat nya atau makanan nya, namun mengapa kali ini terasa berbeda?


Raskal meletakkan ponselnya di atas nakas setelah membalas pesan singkat dari Bunda nya. "Kata Bunda, lo besok udah bisa masuk sekolah. Bareng gue, ya?"


"Nggak!" tolak Atlanna.


"Kenapa?" dahi Raskal berkerut. "Bukannya lo nggak pernah bolos sekolah?"


"Capek," ujar Atlanna singkat.


Kepala Raskal mengangguk-angguk paham, lelaki itu menatap jahil ke arah Atlanna yang melamun ke arah langit-langit kamar.


Cup!


Raskal kembali menegakkan tubuh nya saat merasakan tubuh Atlanna yang menegang. Ia terkekeh kecil, tangannya terangkat untuk mengusap dahi Atlanna yang sedikit berkeringat.


"Yakin masih capek?"