Atlanna Abiyaksa

Atlanna Abiyaksa
19 | Marga yang sama



Gemuruh mulai mengamuk, rintik air yang terjatuh manja berubah ganas seakan turut menghujam mimpi-mimpi mereka. Sebanyak hampir lima puluh siswa dari SMA Trisatya menunduk sedih, perlahan mereka berkumpul membentuk pusaran ditengah lapangan.


Tempat yang seharusnya mereka kenang saat kelulusan sekolah hari ini berubah menjadi kolam darah. Hujan turun, membentuk kubangan darah dan mengalir dari segala arah menuju area resapan.


Dari lantai dua terlihat Pak Seto berlari dengan lunglai, disebelahnya Tear sedang mengepalkan kedua tangan kuat, ketakutannya benar-benar terjadi, Atlanna menjadi tumbal dalam lingkaran maut kali ini.


Kedua tangan Navaro terkepal hingga buku-buku tangan nya memutih, dalam hati ia menyalahkan seluruh manusia yang berdiri di pusaran, netra nya menatap satu per satu anggota nya dengan benci.


Mengapa tragedi ini terjadi begitu saja? mengapa harus Atlanna? Navaro tak bisa berfikir jernih, otaknya berkali-kali mengutuk kepada aparat yang tak kunjung bergerak. Andai, andai saja mereka lebih cepat, mungkin Atlanna tidak akan tergeletak ditengah kubangan aliran darah hari ini.


"Va?"


"Lepasin gue!" sentak Navaro dengan galak, ia mengusap wajah nya yang dipenuhi air hujan dengan kasar. Kedua kaki nya tetap berusaha berdiri meskipun terasa sangat berat dan tak bertenaga.


Tear mundur teratur, ia memberikan waktu untuk Navaro sendiri. Diliriknya ke samping dimana Pak Seto terdiam dengan raut wajah bersalah, netra nya menatap naas dua manusia berbeda gender yang saling bertautan.


"N-Na, katanya lo mau lihat mimpi-mimpi kita?" nafas Devano terasa seperti tersangkut di tenggorokan, lelaki itu sampai susah bicara melihat sebuah luka yang menganga lebar pada perut gadis itu. "J-jawab gue!"


"N-Na, lo harus ba-ngun. D-disini dingin, lo bilang benci sakit k-kan?"


"Lo minggir brengsek!" Navaro jatuh terduduk tepat di samping Atlanna membuat air merah pekat yang bercampur dengan darah itu mencuat ke atas mengenai wajah Navaro.


"Na, dengerin gue! lo harus dengerin gue!" Tangan Navaro gemetar, ia memberanikan diri untuk menggenggam tangan pucat Atlanna yang terasa dingin. Sangat dingin, Navaro menggigit bibir bawah nya menahan tangis, ia tak merasakan denyut nadi gadis itu saat meletakkan pergelangan tangannya di pipi nya. "L-lo bercanda, bangun bangsat!" maki Navaro.


"Katanya lo s-suka sama gue, katanya lo sayang sama gue, kenapa lo cuma diem bangsat! Kita jadian, b-besok bakalan gue sebarin ke seluruh sekolah atau bahkan seluruh kota kalau lo mau, tapi lo harus bangun dulu. Gue mohon, bangun A-Atlanna." Navaro kembali terisak, kedua tangan nya tak henti membogem paving sekolah dengan kuat.


Angin badai menerjang kuat, meliukkan pepohonan di sekitar lapangan. Burung gagak bersuara nyaring setelah hujan mulai mereda, meninggalkan dunia fana yang kembali terasa hampa.


Siang ini, alam menjadi saksi bagaimana terpuruknya Ravloska melihat tubuh yang terbiasa bersinar ditengah kerusuhan mereka meredup.


Pak Seto datang, beliau memberanikan diri untuk menepuk punggung Navaro yang masih enggan meninggalkan jasad gadisnya. "Kita kembali dulu, ya? Atlanna harus segera dimakamkan."


•••


Prosesi pemakaman Atlanna berlangsung lancar meski sempat beradu mulut dengan kedua orang tua Arka yang mengatakan jika putra nya pernah berjanji agar selalu bersama dengan gadis yang ia temui dimasa kecil dan mereka tak bisa menyangkal.


Sheila menatap ke arah putra nya dengan sendu, Raskal menjadi semakin dingin dan suka mengasingkan diri seperti semula. Jujur saja, Sheila juga masih tak percaya jika gadis serapuh Atlanna akan berakhir tragis seperti ini.


Raskal tidak merespon, bibir nya terlalu kelu meski sekedar berkata iya maupun mengangguk singkat. Seluruh tubuh nya terasa tidak bertenaga, hati nya remuk redam bak dirajam ratusan kali saat melihat peti mati milik Atlanna dan Arka mulai dimasukan ke dalam liang yang sama.


Sakit, beberapa kali ia memukul kepala nya dengan kuat. Disaat raga tak lagi bernyawa, mengapa Raskal baru menyadari perasaannya kepada gadis itu?


Sial.


Tangan Raskal terkepal pada kedua sisi saku celana nya, kedua mata lelaki itu kembali berair menatap gundukan tanah yang dipenuhi taburan bunga.


Nita datang, gadis itu terlihat menahan senyum dan berjalan ke arah Raskal, dengan sengaja ia mengaitkan lengan nya ke dalam lengan besar Raskal.


"Atlanna nggak bakalan bangun meski lo tangisin sampai kering, dia udah jadi masa lalu."


Raskal tetap bungkam, ia tak berkomentar membuat Nita berdeham kecil.


"Raskal, kita pulang yuk–aahh, lo apa-apaan sih?" seseorang menarik tubuh Nita dengan sengaja membuat gadis itu terhuyung hingga terjatuh di atas nisan makam lain, ia mendongak, seketika bibir nya kaku Navaro datang bersama Devano dengan wajah tak bersahabat.


Sebuah bogeman melayang dan berhenti di udara, Raskal tetap diam tak bergeming membuat Navaro menggeram kesal sebelum menurunkan tangan nya kembali, wajah lelaki itu terlihat sendu.


"Lo hutang penjelasan sama gue!" ujar nya serak sebelum pergi meninggalkan makam sendirian, menaiki motor besarnya dan melesat cepat disusul anggota Ravloska yang lain.


"Lo sekarang tau kan, betapa berharga nya Atlanna di Ravloska?" Devano berkata membuat Raskal membalikkan badan.


"Gue tau," ujar Raskal pelan pada akhirnya, suara nya terdengar berat.


Devano menghela nafas berat, ia mengepalkan kedua tangan nya. "Lo salah satu dari banyaknya cowok yang suka sama Atlanna, termasuk gue dan Navaro."


Pengakuan Devano membuat Raskal terkejut beberapa saat. "Tear?"


Devano menggeleng. "Menurut lo?"


Devano menepuk punggung Raskal beberapa kali, netra nya menatap nyalang sebuah nisan bertuliskan 'Atlanna Abiyaksa' yang ditaburi banyak bunga, ia tersenyum kecil, pada akhirnya ia mengikhlaskan Atlanna. Lebih baik gadis itu mati daripada menanggung beban dan rasa sakit setiap hari.


"Gue nggak tau gimana bisa marga Arka bisa sama seperti marga keluarga lo." Devano berubah serius. "Lo hutang penjelasan sama Ravloska atau keluarga lo jadi jaminan nya. Navaro bukan orang yang suka bercanda, apalagi menyangkut sama orang yang dia suka."