Atlanna Abiyaksa

Atlanna Abiyaksa
15 | Mimpi-Mimpi



Sebanyak 40 siswa lebih dikumpulkan oleh Tear ditengah lapangan atas kasus tawuran tempo lalu. Navaro, Atlanna, Devano, Radja dan Raka berdiri menjadi satu barisan paling depan karena berperan sebagai lima anggota inti utama.


Matahari sedang terik, Radja mengepalkan kedua tangan nya melihat wajah Tear yang seperti tidak memiliki salah sedang berdiri di depan sana. Sedangkan Devano, lelaki itu berdiri sedikit condong untuk melindungi Atlanna dari panas matahari.


"Turun lima puluh kali!" Tear menatap satu persatu anggota Ravloska. "Gue yang hitung."


"Lo lama-lama ngelunjak, ya?"


Raka menyenggol lengan kembarannya. "Jangan gitu lah bang, anak kesayangan nya guru konseling tuh, hahaha!"


"Mau aja jadi babu sekolah."


"Paling juga bayaran bang, hahaha!"


"Jiakkk, dikasih apa lo sama tuh guru, Ar? sini gue kasih lo lebih mahal!"


Makian kasar mulai terdengar sahut-menyahut menghakimi Tear yang kini terdiam dengan wajah malu. Atlanna tak peduli, tak dapat dipungkiri jika ia sangat membenci OSIS, apalagi saat melihat Navaro tak memberikan pembelaan apapun untuk Tear, ia semakin merasa senang.


"Diam!" Jeno, lelaki berwajah tampan yang memiliki jabatan sebagai wakil ketua OSIS itu terlihat marah. Kedua tangan nya terkepal kuat hingga buku-buku tangan nya memutih.


"Dimana sopan-santun kalian? OSIS udah berusaha ngajuin keringanan ke konseling biar kalian nggak dikeluarin. Kenapa hukuman sekecil ini masih bicara yang tidak-tidak?" kini Asya, gadis imut dengan bando merah di kepala.


"Eh?" Devano tertawa. "Ya udah kalau itu mau kalian. Ravloska bisa aja bubar, tapi jangan pernah minta bantuan kita kalau sewaktu-waktu Jartien datang buat ngebacok kalian semua."


Seluruh anggota OSIS terdiam, Atlanna yang merasa jengah langsung duduk lesehan tanpa memperdulikan perdebatan yang masih berlangsung.


Merasa diperhatikan, netra nya mengedar ke seluruh sisi dan terkunci saat bertatap mata dengan Raskal di lantai dua. Sebuah senyum tipis ia perlihatkan saat Raskal memutus kontak terlebih dahulu. Kedua nya terlihat asing sejak terakhir mereka berada di pantai beberapa hari lalu.


"Kalian nggak bisa damai?"


"Lo aja sana yang damai. Gue bakal sungkem sampai jilat sepatu lo kalau berhasil balik ke sini bawa kepala," sahut Radja membuat tubuh mereka kompak meremang.


•••


Airlangga menatap miris ke arah Raskal, lelaki itu rela duduk di balik kain putih dari kelas seni demi melihat Atlanna yang menjalankan hukuman dari atas tanpa diketahui gadis itu.


Airlangga duduk, ia menyodorkan satu gelas air mineral yang ia ambil dari lab. "Cerita lo rumit juga, ya?"


"Harus nya nggak, tapi gara-gara gue semua jadi berantakan." Raskal membuka penutup gelas dan meneguk isi nya hingga tandas. "Thanks."


Airlangga mengangguk saja, ia telah mendengar seluruh kronologi ceritanya dari Raskal. "Terus gimana?"


Terjadi jeda cukup lama. Raskal menumpukan wajah nya pada siku sambil menatap sendu ke arah bawah dimana tubuh Atlanna yang terlihat lemah itu bergerak naik turun sesuai hitungan dari Tear.


"Gue nggak tau. Gue salah, gue udah minta Atlanna dari Navaro tapi sekarang harus ingkar janji, gue nggak bisa terus di dekat dia."


"Lo suka sama Atlanna?"


Pertanyaan sensitif, Raskal menatap Airlangga dengan pandangan tak terbaca. "Dia mirip Bunda, gue cuma pengen bantu dia keluar dari zona merah."


"Bohong!" seru Airlangga, lelaki itu tertawa mengejek. "Bohong banget lo nyet, kita sahabatan udah tiga tahun kali. Jangan kan masalah cewek, warna ****** lo hari ini aja gue tau."


Airlangga mendelik saat Raskal melemparnya dengan sampah gelas air mineral, beberapa detik kemudian ia mendengus sambil mengusap jidatnya yang terasa basah. "KDRT lo."


"Gue serius anjing!" kesal Raskal.


"Gue juga serius!" bantah Airlangga tak mau kalah, wajah nya yang terlihat seperti bayi itu semakin lucu saat kedua mata nya melotot.


"Serah!"


Raskal berdiri, ia hendak kembali masuk ke dalam lab namun suara Airlangga kembali membuat pikirannya berkecamuk.


"Yang perlu lo singkirin itu ego lo. Kalau suka, kenapa lo jauhin?"


••••


"Tcakep!"


"Eh, ada neng Atlanna, kok cakep amat?"


Kelas IPA satu yang mayoritas penduduknya berisi anggota Ravloska terdengar kisruh saat Raka mulai mencoba menggoda Atlanna. Menurut mereka, wajah kesakitan Raka setelah diberi bogeman kesayangan dari Atlanna itu sungguh memuaskan.


Radja tertawa geli, ia menatap adiknya prihatin. "Jidat udah lebar masih aja ngotot godain Atlanna, benjol gak tuh?"


"Sialan lo," gerutu Raka, ia kembali duduk di sebelah Tristan dengan kalem. "Bagi contekan dong!"


"Belajar yang bener, nyontek mulu kerjaan lo. Kata nya mau jadi presiden?"


Raka tertawa ngakak, ia mulai kesemsem. "Iyah, presiden para jandah."


"STRESS!"


Seisi kelas IPA satu mulai menempeleng kepala Raka bergantian membuat pemilik nya menjerit kesal. "SAKIT SU!" kesal nya. "Emang cita-cita lo pada apaan?"


Perlahan namun pasti, keadaan berubah sunyi setelah Raka berkata demikian. Hanya terdengar suara dua ekor jangkrik pada akuarium penelitian membuat lelaki dengan tampang tengil itu menggaruk tengkuknya yang tak gatal dengan canggung. "Ngopi ngapa ngopi, sepi amat kek kuburan."


"Gue pengen jadi camat." Tristan mulai membuka pembicaraan membuat Raka mengubah wajah nya seserius mungkin. "Biar suka bersosialisasi, yah?"


"Nggak, biar kece doang."


Raka menatap lelaki itu dengan horor. "Lama-lama gue cincang titid lo monyet!" batin nya dongkol.


Radja menahan tawa nya melihat ekspresi kesal Raka, ia menjadi terbawa suasana gara-gara saudara kembar tengil nya. "Gue pengen jadi dokter biar bisa nyelametin nyawa orang."


"Kalau gue pengen jadi guru, nggak bakalan gue biarin murid-murid gue jadi berandal kek kita."


Mereka semua terdiam, larut dengan pikiran masing-masing. Suara tawa kecil dari bibir Navaro membuat asistensi mereka tersita seluruh nya.


"Punya mimpi besar tapi hobi tawuran, pada nggak sadar diri!" ejek nya bercanda.


Devano memandang nya sewot. "Yah, elu ngajak nya penuh kesesatan mulu setan. Si Raka mau ikut berangkat sholat jum'at malah lo bawa ke warteg mang Ijan."


"Raka kan non islam sialan!" Navaro ikut sewot.


"Oh, iya."


Nah, kan. Definisi minta di gaplok tapi takut dosa. Navaro menatapnya sambil misuh-misuh dalam hati. Sedangkan Raka yang menjadi bahan pembicaraan kini menatap lempeng ke arah Atlanna.


"Kalau lo, Na. Mau jadi apa?"


Semua mata menatap ke arah Atlanna, wajah mereka yang terlampaui serius membuat kedua sudut bibir Atlanna terangkat, ia tertawa kecil hingga Raka kembali berbuat ulah.


"Ah, damage nya nembus dimensi!"


"Alay!" Radja menempeleng kepala adiknya dengan keras membuat Tristan memandang nya tak suka.


"Lo juga alay, pipi lo merah!"


"Tangan lo gemetaran!"


"Jidat lo sampai ingusan!"


"Lah, mana ada jidat ingusan bego!"


"Lo pada bisa diem nggak!" sungut Devano menatap ke arah si kembar dan Tristan dengan kesal. Otak nya tiba-tiba kembali ke setelan pabrik, waras.


Mereka langsung terdiam dan kembali menatap ke arah Atlanna penuh perhatian.


"Gue pengen jadi bintang, terbang bebas di atas awan sambil lihat mimpi-mimpi kalian."