
Suasana berubah canggung setelah kedatangan Navaro di atas tribun lapangan indoor. Atlanna mencoba tak peduli, sebanyak apapun ia mencoba melupakan jika terus meladeni Navaro akan tetap sama. Maka Atlanna mencoba menutup mata, atau mungkin ia akan memilih untuk membuka hati kepada Raskal? tak ada yang tau, semua terasa tiba-tiba.
"Maaf." Suara itu terdengar setelah lama diam. Atlanna menoleh sekilas, netra nya kembali fokus ke arah Raskal yang sibuk latihan. "Gara-gara gue, lo hampir kena babat."
"Bukan hampir, tapi udah kena."
Navaro menunduk, ia kehabisan kata-kata. "Kenapa lo ngilang waktu tawuran kemarin, sebelumnya lo nggak pernah gini." Atlanna menohok nya kembali.
"Gue harus bawa Tear ke rumah sakit–"
"Sampai malem?" serobot Atlanna.
Alis Navaro berkerut samar. "Lo marah soal kemarin? gue jagain dia karena mentalnya keganggu, Tear jadi orang linglung sejak jadi tawanan nya Arka kemarin."
"Mental gue juga keganggu tapi lo cuma ngobatin gue habis itu pergi, kan?"
"Lo bukan Tear, mental lo lebih kuat dari dia karena lo biasa ikut tawuran," sangkal Navaro, nada bicara nya naik satu oktaf.
Atlanna bergumam sinis, ia berdiri saat Raskal menatapnya dari bawah. "Terserah lo, permintaan maaf lo barusan juga nggak ada kaitannya sama gue. Mau gue dibacok bahkan jadi bulan-bulanan musuh juga mungkin lo cuma diam."
Kedua tangan Navaro terkepal, ia menatap punggung kecil Atlanna yang kini bergerak menuruni tribun untuk menemui Raskal dibawah sana sambil membawa satu botol minuman dingin. Melihat itu, mengapa rasanya Navaro tidak terima?
"Nungguin doi lagi mengetik.
Halo, Atlanna cantik."
Atlanna memberikan tatapan tajam nya membuat lelaki yang baru saja melontarkan pantun langsung kicep. Raskal tertawa kecil, ia menerima air di tangan Atlanna dan meneguknya setengah.
"Spil dukun nya dong, manjur amat."
Raskal bergumam tak jelas. "Thanks, gue mau mandi sebentar. Mau ikut?"
"Bujank mulut lo!" bukan Atlanna, melainkan Airlangga yang sejak tadi menguntit di belakang Raskal membuat cowok itu mencak-mencak.
"Apa sih?"
"Atlanna lo dukunin dimana sat?" pekiknya tak percaya.
"Lo bisa diem?" tajam Raskal.
Airlangga tertawa tidak jelas, bibir nya mengatup rapat dengan mengangkat dua jari ke arah Raskal. "Maap."
Bibir Raskal terbuka hendak kembali bersuara namun Airlangga yang kembali berulah membuat nya jengkel. "Sumpah Atlanna, lo harus mandi kembang tujuh rupa, jangan mau di dukunin sama Raskal."
"Kita pulang!" tegas Raskal menarik lengan Atlanna membuat Airlangga tertawa geli, ia melambaikan tangan berulang kali dengan wajah lucu.
"Papay babucin!" pekiknya tertahan membuat anggota cheerleader yang sedang latihan ikut memekik kegirangan.
Airlangga menatap gerombolan gadis berpakaian kurang bahan dengan garang. "Apa lo anjeng?"
Atlanna hanya menggelengkan kepala melihat itu dari kejauhan, netra nya kembali menatap ke arah depan, terlihat lah punggung tegap Raskal yang terlihat basah karena keringat.
"Nanti aja, gue bawa hoodie. Kenapa?" Raskal beralih bertanya, ia menggenggam erat jari-jari Atlanna.
"Nggak apa-apa, mau kemana?"
Raskal tersenyum kecil. "Jalan-jalan. Gue pengen lebih kenal sama lo."
•••
Atlanna tak henti-hentinya berdecak kagum dalam hati melihat pemandangan indah di depan nya. Sore ini Raskal menepati janji untuk membawanya jalan-jalan dan tujuan mereka terhenti di tepi pantai sambil menikmati senja.
Deburan ombak yang terpecah oleh baru karang menciptakan sensasi tenang untuk kedua nya. Matahari jingga yang mulai meredup digantikan cahaya pantulan dari bulan membuat Atlanna tersenyum tipis.
"Cantik." Atlanna mengangguk membenarkan gumaman Raskal sedangkan lelaki itu tersenyum kecut, ia menatap senja dengan sendu.
"Senja itu indah, tapi nggak bertahan lama." Ia menoleh ke arah Atlanna, rasa takut mulai menggerogoti relung hatinya.
Atlanna itu, terlalu rumit untuk dipahami dan terlalu rusak untuk diperbaiki.
"Lo orang kedua yang gue percaya setelah Navaro."
"Jangan terlalu mudah percaya sama orang," lirih Raskal.
Atlanna mengangguk menyetujui, di dunia ini kita tidak boleh terlalu percaya dengan seseorang meskipun itu adalah sumber bahagia. Terkadang, gula yang manis juga dapat memberikan rasa sakit. Atlanna percaya itu namun ia memilih untuk menutup mata, ia hanya ingin merasakan bahagia di dalam hidupnya meski itu menyakitkan.
"Semudah itu lo percaya sama gue?"
"Ya!" Atlanna menjawab dengan pasti. "Ada yang lo sembunyiin dari gue tapi gue nggak peduli."
Tubuh Raskal menegang, rahang lelaki itu nampak mengeras membuat Atlanna tertawa kecil. Betapa lucu nya dunia mempermainkan takdir nya saat ini. "Lo udah ngajarin gue cara nya hidup dengan benar. Gue nyaman sama gue yang sekarang, tapi gue benci sama mental gue yang nggak sekuat dulu."
"Lo... sama seperti Navaro." Atlanna bangkit dari duduknya, ia mengulurkan tangan untuk mengelus rambut Raskal yang terasa lembut. "Kalian hanya tak lebih dari sebuah kalimat penenang."
•••
Seorang pria paruh baya menutup gerbang utama seperti semula setelah melihat mobil tuan muda nya memasuki pekarangan rumah. Beberapa saat kemudian Raskal turun dengan gurat wajah yang terlihat lelah, ia belum sempat istirahat sama sekali sejak pagi karena berlatih untuk turnamen akhir jabatannya kelas 12. Ditambah sejak ia mengenal Atlanna, kehidupannya berubah 180°.
"Tumben baru pulang, den?"
Raskal hanya mengangguk, ia memberikan kunci kepada Pak Bagyo yang bertugas sebagai keamanan di rumahnya. Lelaki itu berbalik hendak masuk ke dalam rumah namun mengernyit menyadari kehadiran sebuah mobil asing di dalam garasi nya.
"Itu punya siapa?" tanya Raskal.
"Oh, itu punya nya den Abi."
Dahi Raskal berkerut. "Abi siapa lagi?"
"Gue." Raskal menoleh cepat mendengar suara yang tak asing lagi di telinga nya. Tubuh nya mematung, kedua mata nya melotot melihat tubuh tegap seseorang yang kini menatapnya dari pintu membuat semangat yang tersisa pada diri Raska menjadi padam.
Lelaki itu terkekeh, ia berjalan mendekat kemudian menepuk bahu tegap milik Raskal. "Halo?"