
Raskal menatap ruangan lebar yang di dominasi warna abu-abu dengan beberapa garis vertikal mengerikan yang di buat dengan pecahan kaca di dekat ranjang.
Lelaki itu tersenyum kecil lalu menunduk, tangan kanan nya terulur untuk mengusap sebuah buku bersampul hitam yang ia temukan di laci paling bawah nakas.
Atlanna, mengingat satu nama itu membuat kedua mata Raskal mengalir. Andai saja ia tau lebih dulu, mungkin ia tak akan mendekati Atlanna dan bahkan menaruh perasaan pada gadis itu.
Atlanna, jika diibaratkan benda itu terlalu rumit untuk di pahami dan terlalu rusak untuk diperbaiki. Ditinggalkan sosok ibu saat masih kecil dan di asuh oleh ayah yang memiliki gangguan mental. Raskal bersyukur mendengar kabar bahwa pria gila itu telah di amankan oleh pihak rumah sakit jiwa.
Rasa pening mulai berdenyut, Raskal meringis kecil namun tetap berusaha untuk tegak. Memori nya kembali mengingat masa-masa dimana dia dan Arka bermain bersama di bangku sekolah dasar.
"Gue Arka, lo dingin banget. Coba ngomong halo!"
Sudut bibir Raskal terangkat tipis, itu pertama kali nya ia bertemu dengan Arka yang menjadi tetangga baru nya.
"Tadi gue di ajak main sama anak nya pak RT, kata nya di depan rumah dia banyak ikan nya."
"Itu kecebong Arka!"
"Oh!"
Memori kedua, mata tajam Raskal mulai terpejam mengingat keakraban pertama mereka saat bermain bersama di lapangan bola, dengan polos nya lelaki itu membawa satu toples penuh berisi kecebong.
"Raskal, janji jangan bilang ke Mama yah? gue habis nolongin anak orang yang udah ngapung di atas sungai deket taman."
"Sejenis ikan buntal gitu?"
"Bukan anjing otak lo isi nya cuma mainan doang, dia tenggelam gitu terus gue tolongin."
Raskal terkekeh pedih, memori itu lah yang membuat nya semakin merasa bersalah. Bayangan dimana wajah Arka kecil dengan dahi yang bercucuran darah masih teringat jelas di dalam kepala, dengan kata-kata kasar nya dan otak dewasa nya. Semua itu tak akan mudah terlupakan.
"Kamu apain?"
"Gue cium," ujar Arka bangga. "Gue kira udah nggak nafas, eh, ternyata waktu sadar malah ngamuk sampai jedotin jidat gue di batu sungai. Anjing banget, kan?"
"Sakit?"
Arka kecil bergumam kesal. "Sakit lah bego, tapi yah... gak masalah deh, dia cantik banget. Minus nya kek cewek aneh."
"Lebih aneh kamu yang malah senyum waktu di jedotin ke sungai."
"Hahahah!!"
Mereka tertawa bersama membuat kepala Raskal semakin berdenyut nyeri, jantung nya berpacu lebih cepat dan kedua tangan kekar nya terkepal kuat hingga bulir-bulir air hangat mulai jatuh mengenai buku hitam Atlanna yang ia genggam.
"Sial," desis Raskal kecil.
"Gue terpaksa pindah besok buat temenin Nita, kata Papa keluarga nya dibunuh massal."
"Raskal, gue nggak tau kapan balik ke sini lagi. Terserah lo mau percaya atau nggak, gue pengen nikahin cewek aneh itu kalau udah besar."
"Lo mau bantu gue buat jaga dia, kan?"
Raskal memukul kepala nya berulang kali. Bodoh, mengapa pada saat itu ia mengangguk?
"Nama nya Lanna, tapi gue pengen ngasih nama belakang dia sama nama gue."
"Atlanna Abiyaksa. Tolong jagain dia dan jangan sampai suka sama dia, oke?"
"ARGHHHH!" Raskal mengusap wajah nya frustasi.
•••••••
Tepat tengah malam, seribu lilin mulai di nyalakan, semerbak wangi bunga mawar yang ditaburkan membuat malam semakin terasa sesak.
Sebanyak lima ratus murid mulai mengheningkan cipta, berdoa kepada Tuhan agar nyawa yang menjadi korban diterima.
Tak ada lagi nama Ravloska yang menjadi raja jalanan, Navaro sebagai ketua langsung membubarkan geng tersebut setelah kematian Atlanna tempo lalu.
"Kalian bubar bukan berarti aman, bapak harap setelah kejadian ini kalian akan berhenti huru-hara di jalanan ataupun mencari lawan di luar sana. Mengerti?"
"Mengerti, Pak."
Pak Seto mengangguk, mata tua beliau menatap satu per satu murid nya yang perlahan berjalanan menepi dari pusaran seribu lilin hingga terhenti pada sosok Navaro. Lelaki itu lebih banyak diam dan terlihat seperti kehilangan separuh nyawa nya.
"Bukan kah memang seperti ini yang anda mau, Pak?"
Langkah Pak Seto terhenti tepat dua langkah di belakang punggung Navaro. Beliau tersenyum masam, tangan yang semula menggantung di udara itu mendarat tepat pada punggung siswa nya dan mengelusnya pelan.
"Maaf," bisik Pak Seto. "Ini semua salah saya."
Navaro menggeleng dengan pandangan kosong, ia terkekeh hambar. "Kenapa baru seperti ini anda paham? kenapa? andai bapak tau alasan saya hanya diam saat diberi hukuman, andai bapak tau alasan saya hanya diam saat dicaci, andai bapak lebih cepat mengambil keputusan. Kami tidak akan seperti ini, Pak–" nafas Navaro tersendat, lelaki itu memukul dada nya yang terasa sesak hingga bulir air mata yang ia tahan akhirnya turun dengan deras.
"Saya–" Pak Seto merangkul bahu lemah Navaro ke dalam dekapan nya. Isakan tangis kecil mulai terdengar membuat Pak Seto ikut merasakan sesak, tak pernah sekalipun Navaro menangis seperti ini meskipun badan nya terasa remuk redam karena serangan musuh.
"Sekali lagi bapak minta maaf." Pak Seto menarik tubuh nya hingga membuat jarak di antara mereka. Beliau tersenyum, tangan nya bergerak menghapus air mata Navaro hingga mengusap keringat pada dahi lelaki itu selayaknya putra nya.
"Kematian bukan akhir dari segala nya. Bapak yakin, Atlanna pasti bangga di atas sana melihat kalian mulai berubah."
Navaro terdiam. "Gue pengen jadi bintang, terbang bebas di atas awan sambil lihat mimpi-mimpi kalian."
Reflek ia mendongak, menatap sebuah bintang paling terang di dekat bulan. Bibir yang semula bergetar karena menahan tangis itu perlahan terangkat hingga membentuk sebuah senyum tipis.
Pak Seto tersenyum, beliau mundur teratur tanpa suara bertujuan untuk memberi ruang bagi Navaro, lelaki itu butuh waktu.
"Lo bahagia?" gumam Navaro, detik kemudian ia menggeleng tegas. "Lo harus bahagia!"
"Dia memang udah bahagia."
Navaro menoleh, terlihat seseorang dengan pakaian serba hitam sama seperti nya datang mendekat sambil membawa buku hitam yang tak asing bagi nya.
"Darimana lo tau?"
"Papa nya udah divonis punya riwayat gangguan jiwa dan Arka adalah orang yang punya peran penting sewaktu Atlanna kecil."
Navaro terdiam, kedua netra nya menatap buku hitam yang di sodorkan Raskal dengan pikiran berkecamuk.
"Kalau gitu, kenapa lo–"
"Gue nggak tau apa-apa sama hal nya seperti Arka, dia juga nggak tau kalau Atlanna adalah orang yang pernah dia janjiin ke gue waktu kecil," potong Raskal.
"Janjiin?" Navaro menatap mata Raskal yang tampak tanpa kebohongan.
Raskal mengangguk kecil. "Dia pengen gue jagain Atlanna Abiyaksa, nya."
"Masalah marga, gue nggak tau pasti, bunda nggak pernah mau angkat bicara tentang itu, yang gue tau cuma prihal kita bukan saudara."
Raskal mengangkat buku hitam ditangan nya sebelum meletakkan benda kecil itu dipangkuan Navaro. "Lo bisa baca sendiri diary Atlanna, belum gue buka sama sekali. Oh iya..." Raskal menatap kedua netra Navaro yang kini terlihat lebih tenang tanpa emosi.
"Penyesalan selalu datang paling akhir, sama seperti lo, gue selalu menyesal udah ngasih harapan kosong buat Atlanna yang sial nya balik sendiri ke diri gue."