
"Awssss!" Anin meringis, menyentuh kepalanya yang terasa berat, pinggangnya cenat-cenut akibat terjatuh dari atas tempat tidur setinggi paha orang dewasa. Berdiri setengah sempoyongan, lalu duduk di tepi kasur, mata Anin pun mengitari ruangan yang tak dikenalinya.
Cahaya redup menerobos celah-celah gorden tebal. Anin kini berada di sebuah kamar bernuansa putih polos yang tidak terlalu luas, hanya ada beberapa furniture di sana, sebuah meja kecil dan ranjang yang Anin tempati, juga tikar berbahan karet yang terhampar di samping ranjang.
"Ini gue masih mimpi atau udah bangun, ya? Kamar siapa, nih?" gumamnya sambil mengelus pelan pinggulnya yang masih terasa nyeri.
Tak lama berselang, pintu bercat cokelat keabuan itu terbuka. Nampak seorang bapak-bapak mengenakan sarung, baju koko berlengan panjang serta peci hitam di kepalanya tersenyum lega berjalan ke arahnya. Di susul oleh Nenek Diah, Pak Faisal pamannya Anin dan juga istrinya, terakhir Mela, sahabat Anin itu pun ikut memasuki ruangan tersebut dengan memasang wajah penuh kekhawatiran sekaligus lega.
"Alhamdulillah," ucap syukur semua orang.
"Anin cucu Nenek!" wanita tua dengan tubuh yang sudah renta itu menghambur ke pelukan sang cucu. Ia menangis haru sambil berkali-kali mengucap syukur.
"Ini ada apa? Nenek kenapa nangis?" tanya Anin penuh keheranan. Ia menatap satu persatu semua orang yang kini mengelilinginya. Seingat Anin, terakhir kali ia tidur di dalam kamarnya bersama Mela yang saat itu tengah menginap. Lalu bagaimana bisa sekarang ia malah terbangun di tempat asing yang dipenuhi banyak orang. Apa yang sebenarnya terjadi?
Beribu pertanyaan bersarang di benak Anin, namun belum ada satu orang pun yang mau membuka suara. Sikap mereka pun rasanya nampak aneh di mata Anin, seperti penuh kehati-hatian cenderung waspada.
"Mel, apa yang terjadi? Kenapa lo diem aja?" Anin bertanya tanpa suara, namun ia yakin sahabat karibnya itu dapat membaca gerakan bibirnya. Mulutnya bahkan sampai monyong-monyong lantaran sudah gemas dan tidak sabar. Sementara sang nenek masih terisak di pangkuannya, mengusap-usap punggung Anin tepatnya di area yang cenat-cenut tadi, tentu saja Anin keenakan.
"Mbak Anin," suara Pak Ustadz memecah keadaan yang semula hening, hanya terdengar isakan dari Nenek Diah saja.
"Iya, Pak," Anin melirik ke asal suara, "sebenarnya ini ada apa?" lanjutnya bertanya.
"Perkenalkan, nama saya Nizam. Mbak bisa panggil saya Ustadz Nizam," kata Pak Ustadz berusia sekitar 55-an tahun itu memperkenalkan diri, "saat ini, Mbak sedang berada di rumah keponakan saya. Tapi sebelum itu, tolong jawab pertanyaan saya!"
Sambil menyimak perkataan Ustadz Nizam, Anin mempersilakan sang nenek untuk duduk di sampingnya, ia tidak tega membiarkan tubuh ringkih itu berdiri terlalu lama. Khawatir nanti tumitnya getar-getar karena encok sang nenek kumat.
"Iya, Pak. Silakan!" kata Anin, ia sudah tidak sabar bagaimana ceritanya bisa berpindah tempat dalam waktu singkat. Tidak mungkin kan kalau dirinya mengigau hingga jalan-jalan keluar rumah? Apa kata orang nanti? Bisa runtuh reputasi Anin sebagai Nona Sekdes anggun nan cantik jelita.
Sebelum lanjut berkata, Pak Ustadz Nizam nampak menghela napas sejenak. "Mbak ingat siapa yang sedang memeluk Mbak saat ini, kan?"
Meski heran dengan pertanyaan Pak Ustadz, Anin memutuskan untuk tetap menjawab dengan cara mengangguk. Kemudian Pak Ustadz melanjutkan pertanyaannya, "Apa Mbak juga ingat siapa orang-orang yang ada di hadapan Mbak sekarang?"
Anin kembali mengangguk. Pikir Anin, pertanyaan Ustadz Nizam ini sungguh tidak berbobot, jelas ia ingat siapa orang-orang yang kini berdiri mengelilinginya, menatapnya dengan pandangan penuh kekhawatiran itu. Meski Anin rasa mereka cenderung menatap iba padanya.
"Lalu ..., apa Mbak juga ingat apa yang terjadi selama 3 hari ini?" tanya Pak Ustadz lagi dengan penuh kehati-hatian.
Kali ini Anin tidak bisa langsung menanggapi, ia tertegun dengan tubuh yang seketika membeku. Apa maksud 3 hari yang dikatakan Ustadz Nizam?
"Lo udah gak sadar selama 3 hari, Nin!" Mela menimpali seraya mengacungkan 3 jari ke hadapan Anin. Tatapannya ikut menyelidik seolah memperhatikan gerak-gerik sahabatnya itu.
Seketika Anin tertawa kering, ia beranggapan bahwa semua orang tengah mengerjainya. Apalagi Mela yang biasa bercanda dengannya, ini pasti ulah gadis itu. Tapi tawa Anin perlahan surut, saat melihat raut wajah serius semua orang.
"Beneran?" Saat Anin ingin kembali bersuara, ia menangkap sosok laki-laki yang dikenalnya sedang berdiri, melipat kedua tangannya di dada, dan bersandar ke daun pintu kamar di belakang sana.
"Mbak Aninnya dikasih minum dulu, biar lebih tenang!" ucap laki-laki itu dengan suaranya yang khas.
"Pak Panji." Anin bergumam dengan mata yang tak lepas dari pimpinannya tersebut. Seorang ibu-ibu berpakaian tertutup datang membawa nampan dengan segelas air putih di atasnya. Ia memghampiri Anin kemudian menyodorkan gelas tersebut kepada istri Pak Faisal, bibi Anin.
"Tolong berikan pada Mbak Anin, Bu!" kata ibu-ibu berparas ayu tersebut, pembawaannya sangat lembut dan ramah. Perkiraan Anin pasti itu adalah istri dari Ustadz Nizam.
Bibinya Anin pun mengikuti perintah tersebut, memberikan air minum itu kepada ponakannya. Anin menurut kemudian menandaskan satu gelas air hingga tandas, ia seperti orang kehausan sebab air bening tersebut entah kenapa terasa jauh lebih segar dari biasanya, tenggorokan Anin bak tersiram air es setelah sekian lama dilanda kekeringan. Sepertinya pernyataan Pas Nizam yang mengatakan bahwa dirinya tidak sadarkan diri selama berhari-hari adalah kebenaran.
Setelah dirasa Anin cukup tenang, Pak Ustadz Nizam pun melanjutkan ceritanya.
"Selama 3 hari ini Mbak dirasuki roh dari entitas lain, jiwa Mbak ini sepenuhnya dikuasai oleh roh tersebut dengan maksud ingin membawa jiwanya Mbak Anin ke dunianya," ujar Pak Utadz Nizam.
"Gue pas itu kaget banget, Nin. Lagi nyenyak tidur tiba-tiba kebangun gara-gara lo teriak histeris gak karuan. Untungnya ada Pak Panji pagi-pagi datang ke rumah." Mata Mela melirik ke arah atasannya, sang lurah muda yang sejak tadi memperhatikan Anin dari kejauhan.
"Saya terpaksa datang ke sana karena pesan dan telepon saya gak disahuti satu pun, padahal minggu pagi kemarin kan harusnya Mbak ngejalanin tugas dari saya, mendata semua anak yatim-piatu kemudian mengabari mereka untuk berkumpul di balai desa untuk acara santunan. Ingat kan sabtu sorenya Mbak Anin udah menyanggupi?" timpal Pak Panji kembali mengingatkan.
Anin sepertinya semakin linglung, ia belum siap menanggapi apa pun. Yang dilakukannya hanya menyimak, berusaha mencerna keanehan yang terjadi padanya. Menerima keyataan terbangun setelah 3 hari kemudian pun Anin masih shock, ini ditambah lagi ia kesurupan dan jiwanya terancam dibawa ke dunia lain. Bukankah itu artinya ia hampir mati? Oh, Tuhan!
"Sudah, Mbak Anin tenangkan diri saja dulu. Nanti kita harus bicara lebih jauh lagi mengenai masalah ini, ya. Hubungan Mbak Anin dan makhluk itu sudah terlalu jauh, kalau terus dibiarkan ... maka nyawa Mbak Anin-lah taruhannya. Bahkan saya rasa orang-orang terdekat Mbak juga sudah mulai diganggu, kan?" ujar Pak Ustadz Nizam panjang lebar.
Seketika Mela menelan ludahnya kasar, ingatannya tertarik ke kejadian saat ia bertemu dengan Nenek Diah palsu. Bergidik ngeri Mela dibuatnya.
"Istirahat yang cukup, Mbak! Jangan khawatir, saat ini Mbak Anin sedang berada di rumah saya. Om Nizam ini adalah paman saya, sengaja diundang karena saya takut lihat Mbak Anin teriak-teriak kayak mau makan orang."
Pak Panji menegakkan tubuh jangkungnya, dan hendak berbalik meninggalkan kamar ini. Namun sebelum itu, ia kembali berbicara.
"Ngomong-ngomong, Mbak Anin berat juga," katanya. Suasana mulai mencair, dan Pak Panji pun berlalu dari sana, meninggalkan Anin dengan wajahnya yang memerah.
Ah, rupanya laki-laki itu yang sudah membawa Anin ke tempat ini.