Anin's Recurring Dream

Anin's Recurring Dream
Bab 07 - Mela Yang Malang



Wajah Mela melongo, ia masih berusaha mencerna dengan apa yang didengarnya, otaknya berputar keras memeroses cerita yang keluar dari mulut sahabatnya sendiri. Bagaimana bisa Anindya Widura anaknya Bapak Muhidin mendapat kutukan tak masuk akal seperti itu?


"Tolong kondisikan mukanya dong, Mel! Gue tuh dari kemarin-kemarin pengen cerita ke lo tapi gak jadi-jadi terus. Dan sekarang gue udah gak tahan lagi," ujar Anin pada Mela yang duduk bersandar di atas kasur miliknya, sementara ia tidur terlentang dengan kedua kaki diangkat ke atas ditempelkan ke dinding kamarnya. Tepat di samping Mela.


"Bentar, bentar, bentar!" Mela mengangkat kedua tangannya ke hadapan Anin, "jadi, kelebihan lo bisa ngelihat para makhluk-makhluk ghaib itu gara-gara kena kutukan ..., gitu?"


Anin hanya mengangguk ringan dalam posisinya yang kini menyamping menghadap Mela seraya menyangga kepalanya dengan satu tangan. Beberapa saat lalu Anin memang menceritakan secara rinci kepada sahabatnya itu tentang apa yang terjadi padanya, mulai dari mimpi Anin yang tiba-tiba keluar tanda kebiru-biruan di bahunya, kutukan yang dijelaskan Pak Darwis waktu itu, sampai alasan mengapa kutukan itu didapatkannya.


"Lo bilang kan kata Pak Darwis pohon besar yang ditumbangin Mbah Emis gak bener-bener ilang, kan?" tanya Mela bersemangat, baginya ... ini seperti sebuah teka-teki yang harus diungkapkan. Dan ia merasa menjadi seorang detektif dadakan sekarang.


Anin pun kembali mengangguk, kali ini ia sambil menatap layar hape yang ia genggam dengan sesekali tersenyum samar. Entah apa yang dilihatnya di sana.


"Apa jangan-jangan pohon kepuh yang Pak Darwis maksud itu ... pohon yang ada di dalam kantor kita, ya, Nin? Kan sama-sama gede, tuh!" tebak Mela, "dan dia sendiri yang bilang kalau pohon itu ada penunggunya, mana udah kayak leader tu hantu ampe bisa kasih perintah ngacauin acara kita di kantor!"


Mela terus saja berbicara, tanpa tahu kalau Anin sekarang tengah fokus pada ponselnya, dan tepat ketika Mela mendengar suara cekikikan Anin barulah ia sadar bahwa sahabatnya itu tidak lagi mendengarkan celotehannya. Mela yang kesal dengan jailnya merampas ponsel tersebut dari tangan Anin.


Hap!!


"Melaaaa!" pekik Anin, "siniin!" Anin ingin kembali merebut ponselnya, meski nyatanya gagal sebab Mela lebih dulu teriak heboh setelah memeriksa isi dari benda pipih tersebut. Mela sialan, Anin kini ketahuan!


"Ya ampun, ya ampun, Aniiiiin. Ha-ha-ha, buset nih orang, ya. Ternyata kalian udah pada sejauh ini!" Mela terbahak dengan mulut yang terus komat-kamit.


Sudahlah, Anin pasrah. Memang ia tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari sahabatnya itu. Anin mengubah posisinya menjadi duduk dengan bantal tidur di atas pangkuannya, wajahnya ia tekuk seraya memperhatikan Mela yang sedang cekikikan lantaran tengah membaca isi pesan dari seseorang.


Dezahan Bang PN: "Dik, lagi apa?"


Dezahan Bang PN: "Weekend gini biasa main ke mana, Dik? Abang mau jalan tapi kurang greget kalau gak ada yang nemenin. Malam mingguannya sama kamu aja, deh!"


Dezahan Bang PN: "Penasaran mau lihat wajah cantik kamu."


Rintihan AW: "Lagi di rumah aja, ayo kita malam mingguannya di chat, ya, Bang! Coba sini aku mau lihat wajah tampan Abang dulu."


Mela semakin teriak heboh kala membaca lanjutan pesan-pesan tersebut di ponsel Anin, menyandarkan kepalanya ke dinding, Anin semakin tak berdaya dibuatnya. Terserah Mela sajalah!


Dezahan Bang PN: "Foto ini aja, ya. Tapi nanti gantian. Oke, Cantik?"



(Sumber gambar; Pinterest)


"Wooowwwww, ha-ha-ha. Lihat sini, Nin, lihat!!" Mela semakin heboh, mulutnya tidak bisa diam begitu pun dengan tangannya yang memukul-mukul paha Anin, tentu saja Anin meringis. Tak tahan, Anin pun segera kembali merampas ponsel miliknya. Ia sendiri terkejut dengan apa yang dilihatnya kini.


Kenapa laki-laki itu suka sekali memamerkan otot-otot perutnya? Mulut Anin mengerucut, kemudian mengomel dengan jarinya yang menari-nari di atas layar ponsel mengetik balasan untuk si pria mesum.


Karena, ya ... sepertinya Anin suka. Buktinya sekarang bibir mungil Anin melengkung membentuk senyuman. Sungguh hal yang satu ini tidak mampu gadis itu tolak. Mengenal orang tersebut dengan cara seperti ini entah harus Anin anggap musibah, ataukah anugerah?


"Halah!" Mela menyikut lengan Anin agak kencang, "gak usah lo tahan-tahan, Anindya. Keluarin aja semua, Niiin, keluariiiin. Kasihan tuh bulu-bulu idung lo udah meronta-ronta mau keluar sambil bilang 'lepaskan aku, Aniiin, lepaaas. Aku bahagia melihat perut bak papan penggilasan ituuu', salting lo agak laen wahai, Nona Sekdes! Senyum aja pake lo tahan!" Mela terbahak, ia sangat puas meledek sahabatnya yang sedang menahan gengsi.


Anin tak langsung menggubris ledekan Mela, ia malah beringsut dari kasur kemudian turun dengan bantal di tangannya. Kemudian ....


Buk! Buk! Buk! Buk!


Bantal Anin melayang, memukul-mukul gemas sahabatnya. Bukannya marah, Mela malah semakin terbahak, tawanya yang lepas memenuhi seluruh ruangan kamar Anin yang tidak terlalu besar. Menggoda Anin memang mengasyikkan untuknya, dan karena ia masih belum puas, maka ia memutuskan untuk menginap saja.


"Udah, ah. Udah sore, gue mau mandi dulu!" kata Anin, ia menyambar handuk kemudian masuk ke kamar mandi.


"Nanti gantian, ya, Nin. Jangan lama-lama, udah mau maghrib!" seru Mela.


Haus tiba-tiba menyerang tenggorokan Mela, ia pun memutuskan untuk keluar kamar menuju ke arah dapur untuk mengambil air minum. Keadaan rumah nampak temaram, Mela pikir mungkin Nenek Diah lupa menyalakan lampu. Kakinya terus melangkah perlahan meski rasanya hawa dingin tiba-tiba menyeruak dan menusuk tulang. Apa mungkin karena menjelang maghrib? Maka suhu di ruangan yang ia pijak seperti sedang berada di Puncak.


Tepat saat Mela selesai minum, ia dikagetkan dengan kedatangan Nenek Diah yang sudah berada di belakang dirinya.


"N-Nenek!" kata Mela dengan wajah keheranan. Dari mana Nenek Diah muncul? Kenapa tiba-tiba sudah ada di sini? Nenek tua tersebut tak menjawab, ia hanya diam dan suasana pun terasa sunyi tanpa ada yang bersuara. Mela yang keheranan ingin kembali menyapa, namun urung saat ia menangkap senyuman yang terukir di wajah sang nenek.


Bulu kuduk Mela seketika berdiri, dan sialnya mata gadis itu seperti terkunci, ia tak bisa mengalihkan pandangan yang bermaksud untuk memutus tatapannya pada wajah Nenek Diah di tengah suasana setengah gelap.


Apalagi ketika senyuman itu perlahan berubah seperti seringaian, dengan pelan dan tertata, sang nenek pun lalu berkata, "Kalau udah mau maghrib ..., jangan terlalu berisik, ya, Neng Mela!"


Entah kenapa tubuh Mela gemetar, otaknya mendadak kosong dengan mulut yang terkunci.


Puk!


"Mel, katanya mau man ...."


"Nin!"


Anin yang baru datang menemui Mela di dapur pun keheranan, kenapa sahabatnya itu berdiri sendirian dengan wajah yang pucat pasi?


"N-Nenek Diah, ini ...." Mata Mela seketika melotot, ia terkejut saat bermaksud menunjukkan keberadaan sang nenek pada Anin, tapi ketika ia menoleh ternyata di sana tidak ada siapa-siapa.


"Oh, lo cari Nenek. Itu ada di kamarnya, barusan gue ketemu."


Makin terkejutlah Mela, tubuhnya bahkan sampai membeku dengan perasaan yang campur aduk. Kalau Nenek Diah ada di kamarnya, lalu yang bersamanya tadi ..., siapa?


"Eh, cepet katanya mau mandi! Kita dapat tugas dadakan dari Pak Panji, buruan!!" Tanpa menaruh curiga Anin beranjak dari dapur, meninggalkan Mela sendirian dengan wajah kebingungan.