
"Aku yang selama ini mengagumimu, maukah kamu berteman denganku!"
Kalimat itu terus terngiang di telinga Anin meski mimpi tersebut sudah beberapa hari berlalu, namun suara yang terdengar berat dan pelan tersebut rasanya masih tertinggal di ambang telinganya.
Ini adalah akhir pekan, saatnya Anin bebenah rumah dan menikmati waktu luangnya. Sabtu pagi ia memang sempat masuk kantor setengah hari, sisanya ia habiskan untuk mencuci pakaian yang keseluruhannya sudah keluar dari lemari kayu berwarna putih miliknya hingga menghabiskan waktu sekitar 2 jam lamanya.
Sementara Nenek Diah, seperti biasa ... selain di dapur, ia hanya akan menghabiskan waktunya di kamar untuk beristirahat, atau memasuki ruang kecil di pojok dapur yang waktu itu dilihat Anin. Entah apa yang dilakukan nenek tua itu. Pikir Anin, selama tidak mengacak-acak ternak warga, berarti semuanya masih normal. Jadi, biarkan saja!
Lelah dengan aktivitasnya mencuci pakaian, Anin pun berjalan gontai mengambil air minum, haus tentu melanda tenggorokannya hingga terasa kering dan gerah body.
"Aaaah, segarnyaaa!" ucap Anin setelah menandaskan segelas air dingin dari kulkas. Si pocong yang berdiri di samping Anin seperti biasa hanya diam menunduk tanpa bergerak sedikitpun. Dengan isengnya Anin kembali menuangkan air dingin itu dari teko plastik berwarna hijau ke dalam gelas hingga penuh, lalu ia meneguk air dingin tersebut dengan ekspresi puas yang dilebih-lebihkan, tepat di hadapan si pocong.
"Seger banget, aaaaaahhhhhh!" Entah apa maksud Anin, namun ada sedikit rasa penasaran bagaimana jika pocong di sampingnya ini benar-benar bergerak, merampas air minum Anin kemudian menenggaknya. Hanya membayangkannya saja ingin sekali Anin tertawa, pasti si pocong kesusahan mengeluarkan tangannya dan berujung ngambek lantaran terlampau kesal.
Selesai dengan kelakuan randomnya, Anin segera kembali pada cuciannya yang masih harus dijemur di belakang rumah. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 2 lewat 35 menit, namun matahari masih begitu terik di atas sana. Maka Anin memanfaatkan waktu singkat ini setidaknya hingga menjelang maghrib ia biarkan pakaiannya terkena angin.
"Ih, perasaan tadi jemuranku tinggal sedikit lagi, kenapa gak selesai-selesai, sih?" pikir Anin dalam benaknya. Ia merenung sejenak kemudian kembali melanjutkan kegiatannya menjemur baju yang tinggal beberapa helai saja.
Hingga pada jemuran Anin yang terakhir, tiba-tiba saja bulu kuduk gadis itu meremang begitu saja. Mata bulatnya perlahan memperhatikan sekeliling yang tidak biasa. Langit masih cerah, tapi kenapa di sekitar Anin nampak suram? Ini seperti ... Anin sedang diliputi sebuah kabut tebal dan angin yang berembus pelan namun mampu membuat tubuh Anin menggigil kedinginan.
Anin belum berani menggerakkan anggota tubuhnya sedikitpun, ia membeku, menunggu apa yang selanjutnya akan terjadi. Lalu dengan begitu cepat sebuah suara samar-samar melintas di belakang tengkuk Anin. Karena didorong rasa penasaran yang tinggi, Anin pun coba mempertajam pendengarannya.
"Maukah kamu berteman denganku."
Seketika Anin menahan napas, darahnya seakan mengalir begitu cepat ke seluruh tubuhnya hingga merasa panas. Ini benar-benar memacu adrenalin Anin. Mengapa suara itu hadir di dunia nyata? Atau malah mungkin Anin yang kini masih di alam mimpinya? Jantung Anin mulai berpacu dengan sangat cepat, ini benar-benar membuatnya kebingungan.
Sebenarnya siapa sosok laki-laki bermata merah itu? Mengapa Anin merasa sosok itu benar-benar nyata ada di dekatnya?
Kaki Anin mulai gemetar, mulutnya sudah komat-kamit sejak tadi membaca ayat-ayat pendek yang diingatnya. Apa pun Ani baca. Surat Al-falaq, An-naas, Al-fatihah, doa qunut, doa mau tidur, sampai doa mau makan pun Anin baca. Semuanya ia baca.
Mata Anin terpejam, dengan posisinya yang masih sama. Sampai ketika sayup-sayup telinga Anin menangkap sebuah suara yang sangat familiar memanggil dirinya.
Puk!!
Anin terperanjat, saat sebuah tangan bukan lagi menepuknya, melainkan setengah mengguncang tubuhnya. Gadis itu pun berteriak dengan sangat kencang.
"Aaaaaaaakkkk!!"
"Heh! Berisik, Nin!" sentak Mela menggeplak punggung sahabatnya yang tiba-tiba saja berteriak setelah beberapa kali ia memanggil namun Anin malah asyik melamun sendirian di belakang rumah.
"Ya Allah! Melaaa!!" pekik Anin setengah merengek.
"Apaan, sih? Ngapain lo sore-sore gini bengong sendirian di mari, ha? Mana gue panggil dari tadi kagak nyahut-nyahut pula!" gerutu Mela yang heran dengan sikap Anin.
Sudah dari 15 menit yang lalu ia datang ke rumah sahabatnya ini, namun ketika Mela memasuki kamar Anin nyatanya tidak ada siapa-siapa di sana. Lalu ia bertemu dengan Nenek Diah yag baru keluar dari arah dapur dan mengatakan kalau Anin kemungkinan sedang menjemur pakaian di belakang rumah.
"Mikirin apa sih, Nin? Ditepuk dikit kagetnya udah kayak abis didatengin hantu aja!" seloroh Mela kemudian menyodorkan ponsel milik Anin, "nih hape lo, dari tadi tang-ting tang-ting mulu!"
Anin yang belum sepenuhnya menguasai diri itu pun masih saja diam, ia mendengar semua perkataan Mela namun rasanya tangan Anin masih berat bahkan hanya sekadar untuk mengambil ponselnya saja. Mela yang gemas akhirnya meraih tangan Anin dengan kilat kemudian menaruh ponsel tersebut di genggaman Anin.
"Elahhh, lama bener!" kata Mela.
"Mel, tadi tuh aku denger ada ...."
"Tuh, Nin. Nyala lagi hape lo! Coba check dulu siapa tahu penting!" seru Mela memutus perkataan Anin. Baru saja Anin hendak memeriksa pesan-pesan menumpuk yang diterimanya, ekor mata Mela menangkap sebuah gambar menarik yang Anin jadikan wallpaper layar kunci depan ponsel sahabatnya itu.
"Ebujugg! Dada Om-Om mana tuh banyak sekat-sekatnya?" pekik Mela heboh.
"Mata lo emang jeli banget kalau soal beginian, Mel!" Anin mengatakan itu seraya berjalan menuju sebuah kursi berbahan kayu tak jauh dari tiang jemuran. Sedangkan Mela hanya terkikik pelan saja mendegar itu, ia tak bisa menampik sebab itu adalah kenyataan.
"Halah, palingan itu juga hasil dari lo lihat-lihat di gugel terus dijadiin wallpaper, deh!" ledek Mela dengan bibirnya yang ia tekuk ke bawah.
"Yeee enggak, dong! Ini tuh dari si Bang PN yang di aplikasi kencan online itu, Mel!"
Mata Mela seketika berbinar, ia terkejut sekaligus penasaran. Sudah lama ia ingin tahu wajah dari si pemilik nickname tersebut. "Jadi, lo udah lihat mukanya dong, Nin! Ganteng banget pasti!" tebak Mela antusias.
Anin tak langsung menjawab, ia malah fokus memeriksa beberapa pesan yang cukup mencuri perhatiannya. Ada dari Bang PN, ada juga dari Pak PLN, alias Pak Panji Lubis Nugraha, pimpinannya sendiri.
"Ya elah, bengong lagi nih anak! Kesambet kayak orang-orang kantor baru tahu rasa lo, Nin!" sembur Mela.
"Kagak, Meeeel. Itu orang gak ngasih lihat mukanya, cuma ya itu ... bagian perut kotak-kotaknya doang," jawab Anin pada akhirnya.
Kedua bahu Mela langsung melemas, ia padahal sudah sangat gembira lantaran penasaran dengan pria yang selalu menggoda Anin dengan kata-kata vulgarnya di kolom chat. Seperti ....
"Aku punya pertanyaan, dan kamu coba tebak jawabannya, ya! Panjang, berurat, sensitif."
"Kamu suka oreo nggak, Dik? Kalau suka, ini aku punya oreonya. Cara makannya cuma agak beda dikit. Biasanya kan diputar, dijilat, dicelupin. Punyaku sebelum diputar harus di ...."
Plak!
Kini Mela yang terperanjat kaget lantaran kedapatan melamun, gadis itu sedikit meringis sebab Anin menepuk lengan kirinya dengan cukup kencang.
"Sakit, Aniiiiiin!" erang Mela kesal.
"Salah sendiri bengong, kayaknya sekarang lo deh yang mau kemasukan makhluk lain kayak temen-temen kantor kita," ujar Anin.
Mendengar hal itu seketika Mela pun mengingat sesuatu, kemudian berkata, "Lo tahu nggak Nin alasan kenapa waktu itu di kantor pada kesurupan masal?"
Anin merenung sejenak kemudian menjawab, "Gue rasa karena sebelum acara dimulai kita lupa buat doa bersama dulu, deh. Eh tapi, kan ... sebelum mulai tatanan acaranya ada doa pembuka dulu, emang pas itu gak ada, Mel?" Anin yang saat itu tidak mengikuti acara pelantikan sedari awal karena mendadak harus pulang ke rumah pun akhirnya menanyakan hal tersebut.
"Udah, kok," sahut Mela, gadis itu seperti tengah memikirkan sesuatu, "tapi ada yang aneh sama Pak Darwis."
"Pak Darwis siapa?" tanya Anin.
"Itu lho, Nin. Dukun yang waktu itu bertamu ke rumah lo. Emang lo gak tanya namanya?" heran Mela. Anin pun menggeleng, ia sendiri bahkan tidak merasa ingin tahu dengan nama Pak Dukun yang menawarkannya barang-barang aneh waktu itu.
"Pak Darwis bilang, semua makhluk pengganggu itu titahan dari penunggu pohon besar yang ada di tengah-tengah taman yang ada di dalam kantor kita, Nin," beber Mela.
Anin tertegun sejenak, ingatannya kembali di saat ia, Mela, Pak Faisal dan Pak Darwis tengah berlari menuju aula hari itu. Anin memang sempat melihat Pak Darwis tiba-tiba menghentikan langkahnya tepat ketika melewati pohon besar yang ada di taman kecil menuju aula.
Kalau memang itu ulah penunggu pohon besar di sana, apa alasannya? Ada hubungannya kah denga Anin? Atau dengan pimpinan mereka yang baru datang? Entahlah, Anin masih belum mengerti.