Anin's Recurring Dream

Anin's Recurring Dream
Bab 12 - Akhir Kisah Bang Iki



"Mati, mati, mati!"


Suaranya menggema, berat, serta penuh amarah.


Kegiatan jemput menjemput itu pun nyatanya berlangsung selama 2 hari. Berangkat Anin diantar oleh Bang Iki begitupun ketika pulang kantor ia pun kembali dijemput oleh orang yang sama.


Sama seperti sebelumnya, selama dalam perjalanan baik ketika berangkat mau pun pulang, Anin dan Bang Iki terlibat dalam obrolan yang seru, laki-laki itu kerap mengeluarkan celetukan-celetukan bernada candaan yang ditujukan untuk Anin. Dan di hari kedua ini, Anin sudah bisa mengimbangi godaan laki-laki tersebut.


"Abang udah mumet-mumet nyari pasangan, eeh tahunya ada di depan mata. Kalau semisal jodoh Abang ini Mbak Anin lucu juga, ya," kata Bang Iki seraya fokus mengendarai motornya.


"Lucu dari mananya, Bang? Malah serem yang ada." Anin tertawa setelah mengatakan hal itu.


"Lha, kok serem sih, Mbak? Abang kan manusia, bukan genderuwo."


"Ha-ha-ha, ya emang bukan, Bang. Tapi kalau sampai itu terjadi, bukannya bahagia saya malah jadi bahan gunjingan tetangga nanti. Abang kan artis di kampung kita," tutur Anin membalas candaan laki-laki yang kini mengenakan pakaian formal itu, entah mau ke mana, Bang Iki sepertinya akan pergi kondangan setelah mengantarkannya pulang, harumnya semerbak, lebih ke menyiksa indera penciuman Anin. Saking menyengatnya.


"Ah, Mbak Anin ini bisa aja!" Bang Iki mengulum senyum mendengar balasan gadis di belakangnya, rupanya cukup susah untuk memgambil hati sang kembang desa yang sering ia jadikan bahan obrolan ketika sedang berkumpul di pangkalan ojek bersama teman-temannya.


Entah Anin memgetahuinya atau tidak, segala yang Anin miliki sebenarnya selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi para pria yang ada di sana. Bang Iki merasa dirinya sangat beruntung karena berkesempatan untuk bisa dekat dengan gadis incarannya. Setelah pulang nanti, ia harus berterima kasih pada Nenek Diah karena sudah dengan suka rela memintanya agar coba mengambil hati cucunya.


Kekhawatiran Nenek Diah pada keselamatan sang cucu, membuat wanita berusia lanjut itu mau tak mau harus turun tangan, berinisiatif mencarikan seorang laki-laki yang akan menjadi suami Anin. Tapi tentu hanya sebatas itu saja yang wanita tua itu lakukan, selebihnya semua keputusan ada di tangan Anin. Diam-diam ia melakukan rencana tersebut tanpa sepengetahuan cucunya. Dan Bang Iki ini adalah laki-laki kedua yang Nenek Diah tunjuk sebagai kandidat.


"Ngomong-ngomong genderuwo, Neng. Kemarin malam Abang kayaknya dimimpiin sosok nyeremin gitu, deh," kata Bang Iki tiba-tiba.


Anin sempat tertegun, namun ia menepis pikiran aneh di benaknya. Mendengar nama makhluk genderuwo disebut-sebut membuat Anin jadi kembali teringat pada sosok yang kerap mendatanginya di mimpi. Tidak mungkin kan jika yang mendatangi Bang Iki adalah sosok yang sama? Anin tersenyum ketika menyadari perkiraannya yang sudah pasti salah. Akan tetapi, tak lama kemudian senyum di bibir Anin pun surut, seiring Bang Iki yang melanjutkan ceritanya.


"Awalnya Abang gak takut, Mbak. Mau seseram apa juga Abang diem aja, tapi lama-lama mukanya makin nyeremin, terus berubah jadi sosok laki-laki remaja gitu. Matanya melotot, warnanya merah. Mana bisa ngancam Abang pula, katanya gini 'jauhi, tinggalkan kekasihku jika kamu masih mau hidup!' suaranya kenceng banget!" Bang Iki terlihat menggerakkan kedua pundaknya mengekspresikan kengerian dari mimpi yang ia alami.


Seketika tubuh Anin membeku di belakang Bang Iki, wajahnya menegang lantaran kini ia yakin bahwa sosok yang mendatangi Bang Iki ialah sosok yang sama yang sebelumnya selalu mendatangi Anin melalui mimpi juga. Meski Anin masih belum mengerti mengapa hal tersebut bisa terjadi.


Sesampainya di depan rumah, Anin pun kembali melakukan pembayaran seperti hari kemarin. Bang Iki pamit, kemudian pergi meninggalkan Anin yang masih termenung dengan hati yang tidak menentu, berkali-kali ia memanjatkan doa berharap semua akan baik-baik saja.


Hari berlalu, Anin pun perlahan bisa melupakan cerita yang Bang Iki sampaikan padanya. Kecemasan yang ia rasakan sebelumnya pun perlahan menghilang, sebab setelah hari itu nyatanya tidak ada kejadian apa pun dan semua tampak normal-normal saja. Anin pun kini sudah diizinkan berangkat ke kantor membawa kendaraannya sendiri atas izin sang nenek, dan ia pun sudah tak pernah lagi bertemu dengan Bang Iki.


"Senyam-senyum senyam-senyum, lihat apaan sih, Mbak?" tegur salah satu rekan kerja Anin yang menduduki posisi sebagai pengadministrasi umum di kantor, Gani.


Laki-laki berperut buncit berusia 37-an tahun itu manggut-manggut saja seraya menenteng sebuah berkas di tangannya. Ia pun lanjut berkata, "Mbak Anin 2 hari kemarin pulangnya diantar-jemput tukang ojek yang sering mangkal di depan itu, ya? Kalau gak salah, namanya ... Bang Iki."


Gerakan tangan Anin di layar ponselnya pun seketika terhenti setelah Pak Gani menyebutkan nama tersebut, sambil tersenyum Anin pun meletakkan ponselnya terlebih dahulu kemudian menjawab, "Pak Gani merhatiin aja. Iya, 2 hari kemarin saya emang menggunakan jasa ojeknya Bang Iki, soalnya kondisi saya sebelumnya masih kurang sehat betul."


Pak Gani tersenyum seraya mengangguk-angguk. "Tapi, sekarang udah sehat kan, Mbak?" tanyanya masih dengan posisi berdiri di samping kursi yang diduduki Anin.


"Alhamdulillah, Pak. Udah kuat ngabisin seblak dan mie ayam kantin 2 porsi," canda Anin terus berusaha menetralkan perasaannya yang entah kenapa makin merasa tidak nyaman.


"Wah, hati-hati sakit perut kalau kebanyakan. Nanti masuk rumah sakit kayak Bang Iki," ujar Pak Gani kembali membahas orang yang sama.


Jantung Anin mendadak berdegup dengan kencang, meski ia belum tahu apa penyebabnya. Namun dalam hati ia berharap bahwa laki-laki itu baik-baik saja, ia terus menepis pikiran buruk yang terus muncul di kepalanya. Anin masih ingat betul mimpi Bang Iki yang diceritakannya waktu itu.


"Pasti gara-gara kebanyakan makan yang pedas-pedas juga, ya, Pak?" tanya Anin harap-harap cemas.


Pak Gani mengibaskan tangan. "Dari kabar yang saya dengar sih katanya Bang Iki kecelakaan motor sepulang nganterin Mbak Anin waktu itu, kasihan ... keadaannya sekarang lumayan parah katanya, Mbak. Masih belum sadar juga itu di rumah sakit."


Tubuh Anin menegang, tangannya bahkan sudah gemetar dan ia pun refleks menautkannya. Baru saja Anin hendak bersuara, seseorang datang menghampirinya sedikit tergesa.


"Mbak Anin, dipanggil Pak Panji tuh di ruangannya!" seru salah seorang perempuan, rekan kerja Anin . Anin pun segera beranjak dan berpamitan pada Pak Gani dengan hati yang gamang.


"Mari, Pak Gani. Saya pamit dulu," kata Anin seraya mengambil ponselnya di atas meja. Laki-laki itu mengangguk kemudian mempersilakan.


Anin berjalan sendiri menuju ruang Pak Panji, meski pikirannya sudah penuh dengan dugaan-dugaan buruk mengenai informasi yang ia dengar tadi. Dari jarak 2 meter ia sudah bisa melihat Pak Panji tengah duduk di ruangannya, pintu tersebut memang selalu dibiarkan terbuka lantaran atasannya itu mengaku lebih suka seperti itu. Ruangan yang tidak terlalu besar membuat laki-laki itu merasa sesak jika harus bekerja dalam ruangan tertutup.


Sebelum kaki Anin sempat memasuki ruangan Pak Panji, dari lorong sebelah kiri Mela datang setengah berlari seolah ingin cepat-cepat menyampaikan sesuatu yang penting padanya.


Dengan napas yang terengah-engah Mela berkata, "Lo udah denger belum, Nin?"


Kening Anin mengkerut lantaran Mela menggantungkan ucapannya, "Soal apa?" tanya Anin, ujung matanya menangkap pergerakan Pak Panji yang perlahan berdiri dan mendekat ke arah mereka.


"Itu ..., Bang Iki meninggal."