Anin's Recurring Dream

Anin's Recurring Dream
Bab 13 - Kabut Tebal Pembawa Sial



Masih ingat betul dalam benak Anin, saat terakhir kali ia bertemu dengan mendiang Bang Iki. Lantaran laki-laki itu mengenakan pakaian formal untuk menarik penumpang. Anin pun sempat menggodanya dengan beberapa candaan.


"Rapi bener, Bang. Kaya mau kondangan."


"Wanginya udah kayak remaja mau ngapel aja, semerbak bener, dah!"


Laki-laki itu hanya tersenyum seraya mulai menghidupkan motornya ketika akan mengantar Anin pulang ke rumahnya, sambil sesekali menjawab.


"Emang mau ngapel, Mbak."


"Wah, yang bener, nih?"


"Ya bener. Kan ini pacarnya lagi Abang jemput," candanya.


Rasanya saat itu Anin tidak memiliki firasat buruk apa pun tentang apa yang akan terjadi pada Bang Iki, lantaran semua tampak normal dan tidak ada yang mencurigakan. Perlahan Anin mulai menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang sudah menimpa laki-laki itu.


Akan tetapi, benarkah ini semua ada hubungannya dengan mimpi Bang Iki waktu itu? Benarkah ini adalah ulah makhluk mengerikan itu? Jika memang benar, Anin rasanya tidak akan sanggup menerima kenyataan tersebut, bahwa ia jadi alasan di balik kepergian seseorang.


Anin bahkan belum bisa melupakan tawa renyah Bang Iki ketika beberapa kali menggodanya di atas motor. Cukup lama Anin tenggelam dalam lamunannya, sebuah tangan terasa hangat tiba-tiba merangkul dirinya dari arah belakang.


"Proses pemakamannya udah selesai, ayo kita pulang!" ucap Pak Panji menarik kesadaran Anin. Gadis itu mengangguk, kemudian memperbaiki letak kacamata hitamnya beserta penutup kepala dengan warna senada yang ia sampirkan di kepalanya.


Jenazah mendiang Bang Iki sudah selesai dikebumikan, dihadiri oleh para pelayat yang mengantarkan laki-laki itu ke peristirahatan terakhirnya. Mendiang dimakamkan di tempat pemakaman umum setempat tak lama setelah proses pengurusan jenazah dilakukan. Tak banyaknya sanak-saudara membuat semua proses berjalan dengan begitu cepat dan tanpa kendala. Hanya ada mantan istri almarhum, serta ibunya yang sudah tua, juga beberapa kerabat dan teman-teman satu pangkalan mendiang Bang Iki. Anin kurang begitu tahu di mana keluarga mendiang yang lain berada.


"Saya adalah orang terakhir yang dia temui sebelum kecelakaan itu terjadi, Pak," ucap Anin. Ia masih berdiri di sana tak jauh dari gundukan tanah berwarna merah dengan batu nisan di atasnya.


Tangan Pak Panji yang masih berada di pundak Anin perlahan mengelusnya dengan lembut, seolah sengaja menghantarkan rasa tenang untuk gadis di sampingnya.


"Jangan berpikir yang buruk-buruk! Kadang sesuatu terjadi karena berasal dari pikiran buruk itu sendiri," kat Pak Panji, tangannya masih terus mengusap lembut bahu Anin. Tak ada penolakan sedikit pun dari sang gadis, ia mengerti bahwa atasannya itu hanya bermaksud menghiburnya saja. Tidak lebih.


"Saya cuma masih belum percaya aja, Pak. Rasanya baru kemarin kami bertemu." Anin mulai terisak kecil berusaha menahan tangisnya.


"Udah, kita pulang dulu, yuk! Nenek Diah pasti bakalan cemas kalau kamu kelamaan di sini," ajak Pak Panji dengan lembut. Langit sudah mulai mendung, suara gemuruh di atas sana pun terdengar berulang kali seolah menegaskan akan turunnya hujan yang cukup lebat.


Beberapa orang petugas pemakaman dan pelayat lainnya masih berada di sana, gemuruh kembali terdengar diikuti petir yang menyambar berulang kali. Anin dan Pak Panji pun dengan segera meninggalkan area pemakaman dengan langkah kaki setengah berlari.


"Cepat masuk mobil, Mbak. Sepertinya hujannya akan cukup deras!" seru Pak Panji seraya membukakan pintu mobil untuk Anin.


"Kamu mikirin apa, Mbak, Kenapa bengong?" tanya Pak Panji memecah keheningan setelah beberapa waktu terdiam.


"Hem, oh, nggak ada. Gak mikirin apa-apa," sahut Anin sedikit tersentak kaget.


Mobil yang dikendarai Pak Panji pun perlahan menjauhi area pemakaman. Namun tanpa diduga, hujan yang semula tenang tiba-tiba berubah ganas.


"Duh, sampe tebel gini kabutnya, Pak. Petirnya juga gak nyantai," keluh Anin sambil melihat ke sekitar jalanan yang mereka lalui.


"Jangan panik, Mbak. Kita gak akan nyasar juga, toh arah jalannya cuma satu dan udah biasa kita lalui juga." Meski sebetulnya Pak Panji sendiri mulai diliputi perasaan cemas, tapi laki-laki itu coba terus berusaha menenangkan sang gadis. Ia akan berusaha menjalankan kendaraannya sehati-hati mungkin dan tidak membuat sang gadis semakin gelisah.


Mobil terus berjalan melewati suatu perkampungan yang nampak sepi, meski terkesan janggal bagi Anin sebab ia tak melihat satu orang pun di sana, terkesan sepi dan tak berpenghuni. Entahlah mungkin hanya perasaan Anin saja yang sejak tadi terus memikirkan hal-hal buruk.


Akan tetapi, meski sudah berulang kali ia menenangkan diri, Anin tetap tidak bisa membohongi hatinya yang berdebar hebat ketika sudah hampir 1 jam mobil melaju namun masih belum melihat satu orang pun di luar sana. Saat Anin hanyut dalam pikirannya, Pak Panji tiba-tiba saja kembali membuka suara.


"Kamu ngerasa nggak, Mbak? Kok dari tadi sepi, ya. Ini juga udah satu jam saya nyetir kok rasanya muter-muter aja, gak nyampe-nymampe," ujar Pak Panji keheranan. Padahal jarak dari TPU ke rumah Anin itu hanya memerlukan waktu kurang lebih setengah jam saja, apa mungkin karena pengaruh hujan? Jadi perjalanan terasa sangat lambat.


"Saya bahkan belum lihat satu orang pun di luar sana, padahal normalnya kan meski ada topan sekalipun pasti kita akan berpapasan sama satu atau dua orang pejalan kaki, Pak!" kata Anin setengah bergumam, namun tentu Pak Panji masih tetap bisa mendengarnya.


Rasa takut sekaligus cemas kian meyelimuti diri Anin, ia bahkan sudah merapalkan doa sejak menyadari adanya kejanggalan.


"Udah, Mbak yang tenang. Saya yakin ini hanya perasaan kita aja, sebentar lagi juga kita akan sampai."


Tepat setelah Pak Panji mengatakan hal itu, sebuah asap tebal tiba-tiba muncul menutupi pandangan mereka. Mau tak mau Pak Panji pun terpaksa mengurangi kecepatan laju mobilnya, ia khawatir jika ia akan salah jalan hingga menabrak sesuatu jika terus dipaksakan.


"Lho, kok. Ini gelap banget, Pak. Saya gak bisa lihat apa pun!" Seru Anin panik.


Karena tidak tega dengan sang gadis, Pak Panji pun memutuskan untuk menepikan mobilnya sebentar secara perlahan.


"Kok berhenti?" tanya Anin penuh keheranan.


"Kita tenangin diri dulu sebentar, ya, Mbak. Aku gak bisa fokus berkendara selama kamu masih gelisah begini."


Lampu depan mobil sudah dinyalakan, namun entah kenapa mereka masih tetap tidak bisa melihat apa pun. Mungkinkah kabut bisa datang setebal ini? Sebenarnya, mereka ada di mana sekarang?