
Lima hari berlalu sejak kejadian yang menimpa Anin, kini gadis berambut panjang sepunggung itu sudah kembali bekerja. Ia masih ingat betul bagaimana pengobatan ruqyah yang dilakulan Pak Ustadz Nizam terhadapnya di rumah Pak Panji.
Anin benar-benar kualahan kala Pak Ustadz membacakan doa-doa ruqyah yang terus dilantunkan untuknya, tubuh Anin bergetar hebat kemudian memuntahkan hampir seluruh isi perutnya. Dan yang membuat Anin terkejut ialah, dari muntahannya tersebut terdapat gumpalan darah sebanyak 5 kali dengan ukuran yang tidak lazim. Anin bahkan kembali pingsan sesaat setelah proses ruqyah dilakukan.
Selain karena kelelahan, ia juga tidak lagi bisa membendung rasa ngeri dari pemandangan yang ia lihat secara langsung di depan matanya. Mungkinkah manusia bisa mengeluarkan gumpalan darah seukuran kepalan tangan orang dewasa?
Pak Ustadz Nizam menjelaskan bahwa sosok bermata merah yang muncul di mimpi Anin itu tak lain ialah wujud lain dari makhluk menyeramkan yang sebelumnya Anin lihat di luar jendela, yaitu genderuwo. Sosok tersebut merasa bahwa dirinya sudah terikat dengan Anin dan menganggap Anin sebagai kekasihnya. Maka itulah, sosok tersebut berusaha untuk membawa Anin ke dunianya agar bisa dimiliki seutuhnya.
Beruntung saat itu Anin tidak benar-benar mengikuti ajakan si mata merah hingga menembus cahaya kuning keemesan, karena kalau sampai itu terjadi, bisa saja Anin tidak lagi kembali. Maka Pak Ustadz pun menyarankan agar Anin terus mendekatkan diri pada Tuhan.
Kata Pak Ustadz, "Semua yang terjadi pada manusia adalah kehendak yang Maha Kuasa, termasuk kejadian yang menimpa Mbak Anin. Dunia gaib itu ada, dan kita hidup berdampingan dengan mereka yang tak kasat mata, maka semua hal bisa saja terjadi. Tetap serahkan segala urusan kita pada-Nya, cari pertolongan dan perlindungan hanya pada Allah semata. Banyak-banyak berdoa, ya, Neng! Insya Allah semua bisa terlewati, banyakin istighfar!"
Anin dan keluarganya bisa bernapas lega, mereka bersyukur setelah bertemu dan diobati oleh Pak Ustadz Nizam, Anin tidak lagi mendapat kejadian-kejadian aneh lagi, ia juga sudah tidak pernah bermimpi buruk dan bertemu dengan sosok itu lagi.
Sepulang dari rumah Pak Panji pun Anin sempat dibawa ke puskesmas untuk memeriksakan kesehatannya kalau-kalau gadis itu butuh penanganan lebih. Syukurnya Anin dinyatakan sehat dan ia tidak perlu dirawat, akhirnya Anin dan keluarganya kembali diantarkan pulang oleh Pak Panji ke rumah Nenek Diah.
Jarak rumah Anin dari rumah Pak Panji terhitung dekat, hanya sekitar 20 menitan saja. Melewati 2 perkampungan yang masih dalam satu kelurahan. Semenjak kejadian itulah, hubungan Anin dan juga Pak Panji pun semakin dekat.
Terlalu lama beristirahat di rumah membuat Anin tidak betah, apalagi Mela pun sudah tak mau lagi datang ke rumahnya. Maka ia pun memutuskan kembali bekerja walau sang nenek beberapa kali melarangnya.
"Istirahat di rumah dulu aja, Neng. Nenek khawatir terjadi apa-apa sama kamu, di kelurahan kan pernah terjadi kesurupan masal," kata Nenek Diah dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Anin adalah satu-satunya yang ia miliki di hidupnya, meski masih ada sang putra, tetapi hanya Anin-lah yang selalu membersamainya.
"Nenek tidak usah khawatir, aku akan baik-baik aja. Pak Ustadz bilang kan yang penting kita banyakin doa, eling, banyak-banyak istighfar." Berkali-kali Anin meyakinkan sang nenek, hingga akhirnya ia pun diizinkan berangkat ke kantor dengan syarat Anin tidak diperbolehkan membawa kendaraan sendiri.
Akhirnya, Anin memesan ojek yang biasa mangkal di depan gang melalui ponselnya. Selang berapa lama, tukang ojek yang kerap disapa Bang Iki pun datang menjemput Anin. Setelah berpamitan dengan Nenek Diah, Anin dan Bang Iki pun berangkat menuju kantor kelurahan.
"Pelan-pelan aja, ya, Bang!" kata Anin.
"Siap, Neng!" sahut laki-laki berusia 30-an tahun itu dengan senyum ramahnya sambil menjalankan motor.
Selama dalam perjalanan, laki-laki berstasus duda itu pun tak henti-hentinya mengajak Anin bercanda, mengobrol hal-hal seru dan berujung menggoda Anin.
"Mbak Anin kan cantik, tapi kok Abang gak pernah lihat ada laki-laki yang main ke rumah?" tanyanya.
"Maksud Abang?"
"Yaaa ..., pacar gitu, Mbak," kata laki-laki itu dengan nada bercanda.
Di belakang, Anin hanya tersenyum, kemudian menjawab dengan candaan pula, "Gak ada, Bang. Kayaknya gak ada yang mau sama saya."
"Gak mau ah, nanti dijadiin janda keduanya Abang lagi," canda Anin mengingatkan laki-laki itu yang memang sudah meninggalkan istrinya tak lama setelah satu bulan melahirkan anak pertama mereka, begitulah kabar yang Anin dengar dari mulut ke mulut hingga menyebar ke setiap sudut kampung.
"Nggaklah, Mbak. Kalau Abang punya istri modelan Mbak Anin mah gak mungkin Abang tinggalin, yang ada Abang kekepin terus di rumah. Dilaminating kalau perlu!" lanjut sang duda terus menggoda.
Kali ini Anin tak lagi menanggapi, sebab perkataan Bang Iki sudah tak lagi enak dibuat candaan. Untungnya, mereka kini sudah sampai di depan area kantor desa. Anin turun kemudian menyerahkan sejumlah uang untung membayar jasa ojek laki-laki tersebut.
"Ah, gak usah, Neng. Bayarnya nanti aja, kan pulangnya harus Abang jemput lagi."
"Oh, iya. Nanti aja sekalian, ya, Bang!"
Setelah melakukan kesepakatan tersebut akhirnya Bang Iki pun berpamitan untuk lanjut mencari penumpang, sementara Anin masuk ke dalam kantor.
Entah ini kebetulan atau bagaimana, tepat ketika kaki Anin masuk ke dalam ruang kerjanya, Pak Panji ternyata sudah ada berdiri di sana, seolah-olah sengaja menunggu kedatangan dirinya.
"Bapak kok di ruangan saya, ngapain?" tanya Anin.
"Begitukah caramu menyapa atasan?" ucapnya seraya menegakkan badan, kakinya perlahan mendekat ke arah Anin membuat kaki Anin refleks mundur ke belakang, semakin mundur hingga membentur dinding. Kini Anin terpojok, ia tak bisa bergerak sebab kedua tangan Pak Panji mengurung tubuhnya.
Saking dekatnya, hidung Anin bisa mencium aroma mint dari napas yang berhembus menyapu lembut wajahnya. Sejenak Anin terpana, baru kali ini ia berkesempatan untuk bisa menatap wajah tampan dengan kulit coklat eksotis milik Pak Panji. Alisnya tebal, hidungnya yang bangir dengan garis rahang yang tajam. Satu hal yang palik menarik di mata Anin, Pak Panji ternyata memiliki bulu mata yang lentik sehingga terlihat lebih indah ketika mata itu berkedip.
"Selamat pag ...."
Belum sempat Anin memperbaiki sapaannya, Pak Panji sudah lebih dulu bertanya, "Dianterin siapa?"
"Maksudnya?" tanya Anin heran, pasalnya ia tidak mengerti mengapa Pak Panji mempertanyakan hal tersebut, rasanya tidak penting saja.
Sudut bibir Pak Panji tertarik ke atas, ia tersenyum yang tampak menawan bagi Anin. Sungguh, Anin tidak bisa berbohong bahwa laki-laki di hadapannya ini mampu menyihir wanita mana pun dengan pesonanya, termasuk Anin.
"Yang anterin kamu tadi siapa?" tanyanya lagi masih dengan posisi yang sama, namun kali ini satu tangannya sudah berada di pundak Anin.
"Tukang ojek," jawab Anin sambil menahan kegugupannya. Dalam hati ia merutuki situasi ini, ingin cepat selesai sebelum detak jantungnya tak lagi bisa terkontrol.
Kepala Pak Panji mengangguk-ngangguk, kemudian menarik diri dan menegakkan tubuhnya. Masih berdiri di hadapan Anin, ia pun kembali berkata, "Pulangnya biar saya yang antar, sekalian mau ketemu Nenek Diah."
Setelah mengatakan itu Pak Panji berbalik badan lalu keluar dari ruang kerja Anin, sementara Anin masih di tempatnya, bertanya-tanya dengan maksud perkataan Pak Panji.
"Masa iya dia mau ngapelin Nenek gue," gumam Anin.