
Ada sekitar 20 menitan Anin da Pak Panji berdiam diri di dalam mobil, keadaan sangat sunyi dengan situasi di luar yang masih sama. Belum ada lagi yang berani memulai pembicaraan, baik Anin mau pun Pak Panji seakan sudah tahu apa yang telah terjadi pada mereka berdua. Keadaan cukup hening tanpa suara, hanya deru napas keduanya saja yang sesekali terdengar.
Sampai ketika laki-laki itu melihat wajah Anin yang mulai rileks akhirnya Pak Panji pun memutuskan untuk keluar dari mobil.
"Lho, Pak Panji mau ke mana?"
"Mau check sekitar dulu sebentar, Mbak tunggu aja di mobil, ya!"
"Gak mau, saya ikut!" putus Anin. Pak Panji menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil menyadari bahwa Anin ternyata bukanlah tipikal gadis yang manut-manut saja. Sepertinya akan sedikit menantang jika di kemudian hari ia memaksa sang gadis agar menurut padanya.
Anin dan Pak Panji akhirnya keluar dari mobil dengan tubuh yang sedikit menggigil, mengetahui hal tersebut membuat Pak Panji berinisiatif untuk mengambil sebuah sweeter miliknya yang berada di bagian jok belakang mobil.
"Tunggu sebentar, ya, Mbak!" katanya meminta izin.
"Ngapain?" Anin memutar badan menghadap Pak Panji yang posisinya beerada di belakang diirnya.
"Ambil dulu sweater di mobil, bentar, ya!"
"Bukannya dari tadi, ih!" gerutu Anin sedikit mengerucutkan bibirnya.
"Lupa," kata Pak Panji, tanpa menunggu jawaban dari sang gadis laki-laki itu pun berjalan sedikit menjauh dari Anin untuk kembali ke mobilnya. Sementara Pak Panji berada di belakang sana, Anin yang kini sendirian mulai coba menelisik hal apa saja yang bisa matanya tangkap di tengah kabut tebal yang menyelimuti mereka.
Hingga pada akhirnya Anin pun sadar bahwa dirinya tertanya tidak bisa melihat keberadaan Pak Panji padahal mereka baru beberapa langkah berjalan saja.
Anin coba memanggil atasannya tersebut dengan harap-harap cemas, "Pak! Bapak masih di sana, kan?"
Hening ....
Tangan Anin menyilang di depan dada lalu mengusap-usap kedua bahunya yang sudah mulai menggigil. "Ambil sweater-nya udah belum?" tanyanya lagi, ia bahkan setengah berteriak lantaran takut Pak Panji tidak bisa mendengar suaranya.
Lama Anin menunggu dalam diam, namun belum ada tanda-tanda keberadaan Pak Panji. Rasa takut pun mulai kembali menghinggapi dirinya. Jujur, dalam situasi seperti ini siapa pun rasanya tidak ada yang bisa tetap berpikir jernih dan tenang, pikiran-pikiran buruk pasti memenuhi isi kepala. Begitu pula dengan Anin, gadis itu mulai panik meski sudah berulang kali meyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi tetap saja tidak bisa.
Tak lama gumpalan angin dari belakang Anin melaju dengan cepat menyibak rambut sang gadis yang terurai mengoyaknya hingga tak menentu, refleks kedua tangan gadis itu pun memeluk dirinya sendiri.
"Ya Allah!" ucap Anin menyebut Sang Pencipta, dengan dada yang naik turun ia sadar bahwa daya tahan tubuhnya sudah mulai melemah, akan tetapi sekuat tenaga ia menahannya. Kepalanya mulai didera rasa pusing, tubuhnya kedinginan hingga semakin menggigil. Anin merasa menyesal karena sudah memutuskan untuk turun dari mobil, jika tahu akan seperti ini ia tentu akan memilih diam tak melakukan apa-apa hingga kabut menghilang.
Anin menghangatkan tubuhnya dengan terus mengusap-usap kedua bahunya, hingga ia tiba-tiba ia dikejutkan oleh sebuah bayangan hitam yang melintas di belakangnya.
Wuzzhh!
Kepala Anin pun refleks menoleh.
"Pak!" panggil Anin, "Pak Panji! Jangan bercanda, deh. Gak lucu!" Anin memekik seraya kaki yang terus melangkah setapak demi setapak, sampai ketika ia menyadari bahwa yang dipijaknya bukan merupakan aspal jalanan, melainkan tanah dengan keadaan yang becek serta lengket.
Jantung Anin seketika berdegup kencang, kini ia yakin bahwa mereka memanglah tersesat ke alam yang tidak seharusnya mereka singgahi, namun ketika ia menyadari bahwa saat ini tengah terpisah dari Pak Panji mungkinkah hanya dirinya saja yang mengalami hal ini? Hanya Anin yang tersesat?
Ini bukan lagi keanehan pertama yang dialaminya, pikir Anin jika memang semua kejanggalan yang terjadi padanya merupakan ulah dari makhluk menyeramkan itu maka ia pun memutuskan untuk memanggil makhluk tersebut. Bagaimana pun wujud yang akan ia temui nanti, ia siap menghadapinya meski dengan kaki gemetar sekalipun.
"Keluar! Urusanmu hanya denganku, bukan dengan mereka atau siapa pun. Keluar! Tunjukkan dirimu!" seru Anin dengan napas yang memburu.
Keadaan semakin tegang, kala mata Anin secara perlahan menangkap sesuatu yang benar-benar mengejutkannya. Sosok genderuwo? Bukan. Sosok hantu remaja bermata merah? Bukan.
Anin melihat di ujung sana, di dekat pohon bambu yang lebat itu terdapat sepasang laki-laki dan perempuan tengah melakukan hubungan badan dialasi oleh dedaunan. Dan laki-laki tersebut tak lain ialah Bang Iki yang seingat Anin telah dikuburkan beberapa saat lalu. Mata Anin membola melihat adegan itu, wajahnya memucat dengan tubuh yang gemetar hebat.
Ada keanehan lain yang disadari Anin kala tak sengaja menatap wajah Bang Iki, laki-laki itu sama sekali tidak menikmati kegiatannya. Ekspresinya nampak tertekan bahkan hampir menangis, seolah ia melakukannya dengan terpaksa. Masih dengan tubuhnya yang membeku, Anin melihat tubuh Bang Iki yang digusur paksa sesaat setelah ia memberikan kepuasan kepada sesosok makhluk yang Anin sendiri tidak mengetahui jenis makhluk tersebut.
Matanya hitam kemerahan dengan rambut yang acak-acakan, juga tubuh yang setengah hancur di beberapa bagian hingga terlihat beberapa daging yang terbuka sampai mengeluarkan darah bercucuran ke tanah.
Dada Anin semakin sesak melihat pemandangan di hadapannya, tubuh Bang Iki diseret paksa, disiksa dengan cara dicambuk kala laki-laki itu coba menolak meniduri makhluk lainnya. Anin membekap mulutnya sekuat tenaga, hanya dirinya yang bisa melihat keberadaan mereka, sementara mereka seolah tidak bisa melihat keberadaan Anin.
"Itu adalah balasan bagi siapa pun yang coba merebut kekasihku!"
Bulu kuduk Anin seketika berdiri mendengar suara berat yang lebih geraman tersebut, Anin yakin kalau itu adalah makhluk menyeramkan yang selalu menggaggu dirinya, dalang dari semua kejadian nahas yang menimpa Bang Iki.
"Tunjukkan dulu dirimu, baru bicara!" balas Anin berusaha sekuat tenaga menyingkirkan rasa takutnya.
Tawa keras menggelegar seketika terdengar di udara, seolah mengejek Anin yang saat ini berputar-putar mencari asal suara. Tepat di saat Anin hendak kembali berbicara, sebuah bayangan mengerikan tiba-tiba melaju dari depan sana mengarah lurus padanya.
Anin pun refleks berteriak sambil menutup matanya menggunakan kedua tangan.
"Astaghfirullah!"
bersamaan dengan itu sebuah tangan yang entah datang dari mana menarik tubuh Anin hingga dipeluknya erat-erat. Dengan mata yang tertutup rapat Anin berharap tebakannya tidak meleset, bahwa yang saat ini mendekap dirinya tak lain adalah Pak Panji, atasannya yang sejak tadi ia tunggu
-tunggu kehadirannya.
"Alhmdulillah, akhirnya kamu datang juga, Pak!" ucap Anin seraya terisak.
Laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa, ia hanya diam dengan napas yang memburu sambil terus mendekap Anin berusaha menenangkannya.
"Maaf, saya kecolongan," bisik Pak Panji di telinga Anin.