Anin's Recurring Dream

Anin's Recurring Dream
Bab 11 - Kecemburuan



Siang hari menjelang jam makan siang, Anin meregangkan otot-ototnya lantaran merasa pegal akibat duduk terlalu lama. Dari kejauhan, Mela datang menghampiri ruangan Anin yang kebetulan pintunya sedang dalam keadaan terbuka. Dengan senyum sumringah di kedua belah bibirnya, gadis berambut bondol itu pun masuk ke ruangan sahabatnya.


"Ke kantin yok, Nin!" ajak Mela bersemangat. Kedua tangannya bertumpu di atas meja kerja Anin menopang tubuh mungilnya.


"Oke!" Anin pun tak kalah bersemangat, rasanya ia sudah sangat rindu dengan jajanan yang disediakan di sana. Apalagi seblak Bi Inah yang bumbunya selalu terasa pas di lidah Anin. Ah, Anin sudah tidak sabar untuk mencicipinya.


Berjalan beriringan menyusuri lorong panjang bercabang, Anin dan Mela sesekali tertawa bercanda ria selama dalam perjalanan menuju ke arah kantin. Tentu saja mereka juga harus melewati taman kecil yang terdapat pohon besar menjulang tinggi di tengah-tengah bangunan kantor. Badan pohon yang menembus atap bangunan membuat Anin dan beberapa rekan kantornya yang lain kurang mengetahui jenis pohon tersebut. Tapi yang pasti, pohon tersebut nampak sedikit menyeramkan ketika dilalui, apalagi ketika menjelang sore hari.


"Karena ini hari pertama lo balik masuk kerja, jadi biar gue yang bayarin!" kata Mela.


"Ih, bener, ya?" Anin sempat menghentikan langkah ketika mengatakannya, kemudian lanjut berjalan.


"Kapan sih gue bohong, Nin?" Kali ini Mela yang menghentikan langkah, yang diikuti pula oleh Anin.


"Iyaaa, iyaaa, Mela Sarmelaaa."


"Tapi bayarin paket skin care gue dulu, ya! Gak mahal, kok. Cuma 400 rebu doang," ujar Mela sambil tertawa.


Mulut Anin terbuka, sudah ia duga kalau kebaikan Mela pasti ada udang di balik pasir pantai. Dengan gemas ia pun berkata, "Empat ratus rebu lo kata cuma? Itu jatah bensin motor gue sebulan juga masih sisa buat jajan mie ayam, Mel!"


Mela terbahak mendengar gerutuan sahabatnya, sebenarnya ia sengaja menggoda Anin lantaran rasanya sudah cukup lama tidak mendengar ocehan gadis yang sempat hampir kehilangan nyawanya tersebut. Mela benar-benar sangat ketakutan kala melihat sosok Anin namun bukan Anin yang sebenarnya. Mela harap kejadian mengerikan itu tidak terulang kembali. Ia bahkan sudah bertekad akan membantu sahabatnya itu untuk mencarikannya jodoh. Harus!


Ada sekitar 5 menitan Anin dan Mela berdiri sambil terus melempar candaan, sampai akhirnya Mela menyadari bahwa saat ini posisi mereka tepat berada di samping taman, mata Mela tiba-tiba menyipit, ia seperti tengah memperhatikan sesuatu yang janggal tengah bergerak-gerak di ujung dahan pohon besar.


Anin yang posisi berdirinya membelakangi pohon besar tersebut belum menyadari apa yang sedang dilihat oleh temannya itu, namun ketika Mela tiba-tiba menunjuk ke arah belakangnya mau tak mau kepala Anin pun menoleh.


"Itu yang gerak-gerak apa, ya, Nin?" tanya Mela sambil mengangkat tangan kanannya ke arah pohon besar tersebut.


Anin tak langsung menjawab, ia hanya diam dengan tubuh yang seketika menegang. Dengan susah payah Anin menelan ludahnya, ia pun refleks memalingkan wajah saat mengetahui sesuatu yang dilihatnya.


"Oh, daun kering yang jatoh ternyata," kata Mela sambil tertawa. Tanpa banyak berkata, mereka berdua pun lanjut berjalan ke area kantin.


Dalam hati Anin mengomel sendiri, kenapa pula ada makhluk seperti itu tiba-tiba menampakkan dirinya di siang bolong seperti ini, apa mungkin karena emang kondisi Anin belum sepenuhnya pulih? Masih terekam jelas di penglihatan Anin, sosok yang tadi bergelantungan di pohon besar itu menjulurkan lidahnya yang panjang dengan tetesan darah yang berasal dari mulutnya. Matanya bolong, wajahnya gosong, dengan rambut yang panjang terurai.


Namun begitu, Anin coba melupakan kejadian barusan dan berusaha bersikap biasa saja di hadapan Mela. Ia tidak ingin sahabatnya itu ketakutan sekaligus khawatir lantaran ia kembali mendapat gangguan.


Suasana di kantin ternyata cukup ramai, di sudut sebelah kanan pojok kantin, Pak Panji tengah menikmati makan siang bersama salah seorang rekannya. Ia adalah Pak Nandar berkisar usia 40-an tahun. Anin melempar senyum kecil pada dua laki-laki tersebut sebagai bentuk sapaan, dan tentu Pak Panji dan Pak Nandar pun membalas sapaan senyum Anin. Tidak ada kejadian yang berarti selama ia di kantin. Namun setelah waktu menunjukkan jam pulang kantor Anin tiba-tiba merasakan firasat aneh. Entah apa itu, Anin pun tak tahu.


Sesuai kesepakatan sebelumya, Bang Iki tukang ojek pesanan Anin tadi pagi pun kembali datang untuk menjemputnya. Anin melihat kedatangan laki-laki itu dari balik jendela ruang kerjanya yang kebetulan menghadap ke area parkir samping bangunan. Anin merapikan meja, kemudian bersiap untuk pulang. Tepat ketika ia hendak beranjak dari kursinya, Pak Panji datang dan langsung mengungkung tubuh Anin hingga bokongnya kembali terhempas ke atas kursi. Kedua tangan gadis itu bertumpu pada pegangan kursi, tanpa sadar ia pun meremas kedua sisi kursi yang didudukinya.


"Dijemput?" ucap Pak Panji dengan suara rendahnya. Anin tak sadar jika ia saat ini tengah menahan napas. Tuhan ... mengapa posisinya sedekat ini?


"I-iya, udah terlanjur janji tadi pagi, Pak," sahut Anin gugup.


Kepala Pak Panji sempat tertunduk, kemudian tersenyum manis di hadapan sang gadis sambil menatapnya. Lalu berkata, "Janji? Kamu lebih pilih janjian sama tukang ojek daripada sama saya?"


"Bukan gitu, kan udah duluan ...."


"Oke, lain kali saya yang akan antar-jemput kamu," putusnya seraya menarik diri, "kalaupun kamu nggak mau, saya akan paksa." Laki-laki itu mengatakannya dengan kaki yang melangkah keluar ruangan, hingga telinga Anin pun hanya bisa mendengar kalimat akhir tersebut dengan samar-samar.


Bibir Anin mencebik, kenapa laki-laki itu suka sekali membuat dadanya berdebar? Kalau dibiarkan seperti itu terus lama-lama Anin bisa jantungan. Gadis itu tidak langsung berdiri, ia berusaha menenangkan diri sebentar kemudian beranjak dari sana, keluar kantor dan menemui Bang Iki yang sejak tadi sudah standby menunggunya di atas motor.


"Jalan sekarang, Mbak? tanya Laki-laki itu yang entah kenapa penampilannya terlihat lebih rapi menurut Anin, rasanya tadi pagi Bang Iki hanya mengenakan kaos oblong bergambar calon ketua DPR dengan celana jeans belel saja, dan sendal jepit yang sudah usang. Namun kali ini duda muda tersebut sepertinya ada janji temu dengan orang penting, sebab dari rambutnya saja sudah terlihat kelimis bak dipahat menggunakan ukiran tembok china. Entahlah, Anin hanya asal menebak saja.


Motor yang ditumpangi Anin pun perlahan keluar dari area parkiran balai desa, tanpa Anin sadari ada sesosok makhluk halus tengah mengintainya di kejauhan sana, tepatnya di balik tembok pembatas bangunan desa tengah menatap ke arah Anin dan Bang Iki dengan sorot mata yang penuh kemurkaan.


"Mati, mati, mati!"