
Sesaat sebelum Pak Panji menemukan keberadaan Anin, ia bertemu dengan seorang kakek tua yang entah datang dari mana. Usianya sekitar 70-an tahun, rambutnya putih panjang sepinggang dengan dilengkapi pengikat kepala di atasnya, semacam totopong atau udeng. Jalannya bungkuk dibantu tongkat di tangannya untuk menyeimbangkan bobot badan ringkih si kakek.
Mulanya Pak Panji sama sekali tidak menaruh curiga pada kakek tua tersebut, hatinya malah merasa lega lantaran pada akhirnya bisa bertemu dengan sosok manusia dan ia pun berencana untuk menanyakan di mana dirinya sekarang berada. Akan tetapi, ketika sang kakek tua mendekat dan berbicara padanya, laki-laki itu pun sadar jika ia telah salah menduga.
"Pergi, bawa cucuku dari sini!" geram sang kakek. Tongkatnya ia angkat tepat ke hadapan pemuda yang berdiri kaku di hadapannya.
Pak Panji sendiri tetap bergeming, ia masih bingung dengan yang kakek tua itu katakan. Namun saat si Kakek berbicara untuk kedua kalinya, akhirnya Pak Panji pun mengerti dengan kesadaran yang saat itu juga seolah tertarik ke permukaan.
"Kubilang pergi, bawa gadis bodoh itu dari sini sekarang juga!" sentak si Kakek.
Setelah mengatakan hal itu, rombongan para burung gagak di udara berputar-putar tepat di atas kepala Pak Panji, dalam beberapa saat fokus laki-laki itu pun teralihkan ke atas sana.
"Ikuti burung-burung itu!" suara sang kakek tua kembali mengeluarkan perintah, namun saat Pak Panji hendak menengok ke arah berdirinya si Kakek tadi, percaya atau tidak sosok kakek tua tersebut tiba-tiba sudah menghilang begitu saja dari hadapan Pak Panji. Lenyap tanpa jejak.
Tak ingin terus larut dalam kebingungan, Pak Panji pun bergegas mengikuti arahan si Kakek untuk mengikuti burung-burung gagak tersebut yang seketika terbang menunjukkan arah.
Sebetulnya sebelum bertemu dengan Anin, Panji Laabid Nugraha adalah orang yang skeptis terhadap hal-hal berbau mistis. Laki-laki tampan lulusan sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia dengan predikat cum laude itu sedari kecil mengenyam pendidikan yang tentunya diikuti dengan pikiran-pikiran yang masuk akal.
Akan tetapi, semua berubah total setelah ia berurusan dengan gadis cantik yang selalu berhasil mencuri perhatiannya. Mulai dari Anin yang mangkir dari tugas di hari pertama ia bertugas sebagai kepala desa, Anin yang kerapkali telat merespons pesan mau pun panggilannya, sangat jauh berbeda dengan teman perempuan Panji yang ia temui di sebuah aplikasi. Anin berbeda, gadis itu terlampau cuek bagi dirinya yang memiliki wajah tampan dan memikat.
Puncaknya saat gadis itu dirasuki oleh roh dari entitas lain, selama tiga hari Anin di rumahnya untuk diobati oleh sang paman, dan selama itu pula ia memperhatikan sang gadis meski dalam kondisi yang memprihatinkan. Panji jadi tahu bahwa dunia gaib memang benar adanya.
Dan akhirnya, hari ini ia sendiri mengalami langsung hal-hal diluar nalar manusia. Sesuatu yang sebelumnya sama sekali belum pernah terjadi di hidupnya, dan untuk pertama kalinya ia pun sekarang mengalaminya.
Dua insan yang tengah saling memeluk itu tenggelam dalam sesuatu yang menelan tubuh keduanya, memasuki sebuah fortal khusus dengan cahaya putih bersinar membawa mereka kembali ke alam yang seharusnya. Namun, sesuatu justru terjadi diluar dugaan Anin dan Pak Panji.
Bruk!
Brak!
"Arghh!" erang keduanya secara bersamaan.
"Duh, kepala gue sakit banget!" keluh Anin menyentuh kepala bagian belakangnya, sementara Pak Panji menopang tubuhnya menggunakan kedua tangan menjaga jarak dengan sang gadis agar tidak terlalu menindihnya. Bobot tubuhnya pasti akan membuat Anin sesak dan berat.
"Ini lutut saya juga kayaknya lecet." Pak Panji mengelus lutut bagian kirinya yang terasa nyut-nyutan.
"Ini gimana sih, Pak. Kok kita bisa begini?"
"Gak tahu, Mbak. Mana sempit banget lagi, duh!"
Keduanya terus merintih dan mengerang kesakitan, kala dua tubuh orang dewasa itu terhimpit antara jok mobil bagian depan dan belakang. Mereka seakan dibanting dengan keras dari ketinggian yang entah dari mana hingga terjerembab di dalam mobil Pak Panji sendiri.
"Coba, Pak Panji pelan-pelan bangun. Setelah itu bantu tarik saya!" kata Anin memberi solusi. Rasanya sudah sangat sesak berada dalam posisi seperti ini, kaki Anin bahkan tak bisa digerakan.
Anin dan Pak Panji terus berusaha melepaskan diri masing-masing, saling mendorong dan mencari cara yang pas agar bisa keluar dari situasi aneh tersebut. Akibatnya, tanpa sadar aktivitas mereka sedari tadi di dalam ruang sempit itu mau tak mau membuat mobil yang mereka tumpangi bergoyang-goyang tidak karuan.
Hingga membuat beberapa pasang mata yang tak sengaja menyaksikan pemandangan itu pun mengira sedang ada sepasang muda-mudi melakukan yang enak-enak di dalam sana.
Mereka adalah empat orang santri yang kebetulan lewat ke area belakang pondok hendak menuju ke mesjid untuk melaksanakan shalat subuh berjamaah.
"Terus, Pak. Tapi pelan-pelan aja!"
"Bentar, ini bokong saya nyangkut ke kolong jok. Susah, Mbak."
"Duh, terus gimana, dong?"
"Tenang, mari kita coba lagi!" Keduanya terengah dengan posisi yang masih sama.
Sementara dari kejauhan, keempat orang santri yang mengenakan baju koko, sarung, serta peci tadi sambil membawa obor di tangan masing-masing itu pun kini perlahan mengendap-endap mendekati mobil bergoyang tersebut dengan emosi membumbung di dada.
Bisa-bisanya ada manusia tidak beradab berbuat mesum di pagi buta seperti ini, apalagi ini di area pondok pesantren daerah Bogor dekat Gunung Putri yang selalu menjunjung tinggi adab, kesopanan, dan ilmu agama. Pikir mereka.
"Amir, sini!" kata pria berperut buncit sambil melambaikan tangannya dengan gemas.
Laki-laki berbadan kurus bernama Amir itu pun bergegas mendekati kawannya sambil sesekali membetulkan gulungan sarung miliknya yang hampir melorot.
"Jangan kenceng-kenceng, Gus. Biar mereka bisa kita gerebek aja sekalian!" peringat Amir.
"Betu itu betul," timpal dua laki-laki lainnya ikut bergabung. Keempat laki-laki itu masih bersembunyi di balik semak-semak tak jauh dari mobil yang masih terus bergoyang.
Di dalam, Pak Panji sudah mulai bisa melepaskan diri dari Anin, meski bokongnya terasa sangat ngilu sebab didorong lutut Anin secara paksa. Gadis itu sepertinya menumpahkan seluruh tenaganya untuk menekan bagian pinggang laki-laki yang mengerang kesakitan namun Anin seakan tak memperdulikan itu.
"Ahh, sakit, Mbak!"
Keempat laki-laki tadi sontak menggelengkan kepala seraya beristighfar mendengar erangan seorang pria dewasa dari dalam mobil.
"Astaghfirullah, ini mah udah pasti anu-anuan. Reza, Ipan, burukeun kalian berdua kepung dari arah sana. Aku sama si Amir dari arah berlawanan, hayuk, cepet!"
"Kita ngikut kamu ajalah, Gus!" Para santri bernama Agus, Amir, Reza dan Ipan pun mulai menjalankan rencana mereka. Keempatnya pun berpencar membuat formasi mengelilingi mobil.
Keadaan yang masih sangat gelap membuat salah satu dari santri perlahan mengangkat obor diikuti oleh ketiga santri lainnya dan mendekatkannya ke arah kaca jendela mobil. Dan benar saja, tepat di saat itu mereka melihat dua orang laki-laki dan perempuan sedang bergumul di dalam sana dengan posisi yang tumpang tindih. Mata keempat santri pun langsung membulat sempurna saking terkejutnya.
"Nahh, kalian tertangkap basah!"