Anin's Recurring Dream

Anin's Recurring Dream
Bab 08 - Bujuk Rayu Sosok Bermata Merah



Sejak hari itu, Mela mengaku tak lagi ingin kembali ke rumah Anin, ia juga sempat mengalami trauma dan ketakutan ketika melihat Nenek Diah saat tak sengaja bertemu di waktu mereka berpapasan hendak mengajak Anin untuk berangkat ke kantor bersama.


Anin yang sudah mengetahui semuanya dari sahabatnya itu pun mulanya menganggap hal tersebut hanya halusinasi Mela saja, sebab selama ia tinggal di rumah tersebut tidak pernah mengalami kejadian-kejadian janggal selain melihat sosok makhluk halus saja, mereka hanya diam tidak pernah mengganggu Anin sekali pun.


Akan tetapi, hal lain justru kembali terjadi padanya dan melebihi kengerian yang dialami oleh Mela.


"Pokoknya, ya, Nin. Gue yakin hantu-hantu itu bakal terus muncul selama lo masih kena kutukan, bener kata Pak Darwis, lo kudu cepet-cepet diobatin biar hidup lo normal lagi. Kalau perlu biar gue bantu cariin lo jodoh yang ada biru-birunya!" seru Mela sore itu.


"Punya garis keturunan darah biru, Mela Sarmela. Gak asal biru doang!" kata Anin menggelengkan kepalanya. Saking parnonya, Mela sampai minta ditemani mandi oleh Anin. Alhasil, gadis berambut bondol itu membersihkan diri dengan pintu kamar mandi yang dibiarkan terbuka. Sementara Anin duduk santai di tempat tidur yang segaris lurus menghadap ke arah kamar mandi. Menyaksikan Mela yang was-was selama ia di dalam sana.


"Ya itulah pokoknya! Lo harus sesegera mungkin dinikahin sebelum ada makhluk astral yang ujung-ujungnya nanti malah suka sama lo, gue pernah denger tuh cerita-cerita modelan begitu. Bae-bae lo!" Tangan Mela dengan cekatan menggosok-gosok seluruh bagian tubuhnya dengan sower puff yang sudah dilumuri sabun hingga merata.


"Ngarang banget lo! Mana ada cerita kayak gitu!" elak Anin. Meski dalam hatinya ia merasakan desiran aneh yang entah apa itu, sepintas ia teringat pada mimpinya ketika bertemu seorang laki-laki remaja dan mengajaknya untuk berteman. Mungkinkah?


"Mulai besok lo coba perhatiin, cowok mana yang kiranya masuk ke kriteria yang harus jadi suami lo. Kali aja tuh si Bang PN salah satunya!" celetuk Mela, ia membersihkan tubuhnya yang penuh sabun kemudian meraih handuk di samping bak mandi yang sebelumnya ia gantung di sana.


"Makin ngawur!" Anin hampir saja tersedak ludahnya sendiri, mana ada manusia mesum macam Bang PN memiliki keturunan darah biru? Menurut Anin, keturunan ningrat itu identik dengan sopan santun, bijaksana, berwibawa serta langka. Langka dalam artian susah dijangkau oleh orang biasa. Dengan kelakuan Bang PN padanya, sudah jelas laki-laki itu sama sekali tidak memiliki ciri-ciri tersebut.


"Kita lihat aja nanti," kata Mela.


Mereka terus mengobrol hingga aktivitas Mela di kamar mandi pun selesai.


Malam harinya, seperti biasa Anin pun kembali mengalami mimpi yang sama dan didatangi sosok yang sama pula. Jika sebelumnya sosok laki-laki bermata merah itu menampilkan senyum menawan ke hadapan Anin, kali ini justru berbeda. Wajahnya lusuh, raut mukanya menunjukkan kesedihan bahkan hampir menangis.


Di dalam mimpinya, melihat laki-laki itu menampilakn raut sedih ia pun merasa iba. Dengan perlahan kaki Anin melangkah mendekati sosok tersebut, kemudian berkata, "Kamu kenapa? Ada apa?"


Kepala sosok tersebut menunduk, menggeleng pelan sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan Anin. Kedua tangannya perlahan bergerak menyentuh tangan gadis di hadapannya. Anin sadar ini di alam mimpinya, tapi entah kenapa saat genggaman tangan itu menyentuh permukaan kulitnya terasa begitu nyata. Lembut sekaligus dingin, kedua tangan yang ukurannya lebih besar dari tangan Anin itu mengelus-ngelus punggung tangan sang gadis.


"Kita sudah berteman, jadi jangan pernah membuatku sedih. Ajak aku ke mana pun kamu pergi!" kata sosok tersebut dengan suaranya yang berat, lirih, namun juga sedikit menggema di telinga Anin.


Hati Anin yang tengah diliputi rasa kasihan pun tanpa pikir panjang mengiyakan permintaan tersebut, padahal ia sendiri belum memahami maksud dari perkataan sosok di hadapannya. Ia juga tidak kapan menerima ajakan pertemanan dari sosok tersebut. Namun begitu, Anin memilih untuk tidak memikirkannya lebih, pikirnya mungkin ia lupa karena saking seringnya mimpi ini terulang.


Jawaban Anin sepertinya berhasil merubah mood si pria bermata merah, ia angkat wajahnya yang sejak tadi menunduk, kemudian tersenyum menyeringai. Entah Anin dibutakan oleh apa, di dalam mimpinya kali ini ia seolah tidak lagi merasakan takut malah cenderung menuruti keinginan makhluk tersebut.


"Benarkah?" tanyanya memastikan, dan Anin pun mengangguk-ngangguk saja. Entah kenapa rasanya ia tidak tega, terkesan susah menolak, termasuk ketika si pria tersebut mengajak Anin pergi ke suatu tempat yang Anin sendiri tidak tahu di mana itu.


"Memangnya di sana ada apa?" tanya Anin.


"Ada kampung halamanku, kedua orang tua dan seluruh keluargaku juga ada di sana. Kamu mau kan ikut denganku? Aku akan memperkenalkanmu pada mereka semua!"


Anin lagi-lagi mengiyakan, meski kali ini ada keragu-raguan di hatinya. Tak apakah jika ia pergi menuruti pria di hadapannya ini? Gadis itu seperti tersihir hingga membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Didorong rasa keingintahuan Anin yang begitu besar, ia pun akhirnya menyetujui ajakan sosok tersebut.


"Mari!" ucap pria bermata merah itu sambil membuka lengan kanannya, mempersilakan Anin untuk menggandeng dirinya seperti seorang raja yang hendak menjemput permaisurinya. Wajahnya berseri, bibirnya pun tersenyum dan raut wajah sedih yang ditunjukkannnya tadi hilang seketika.


Tepat ketika Anin melingkarkan tangannya di lengan sosok tersebut, sebuah karpet berwarna merah yang entah datang dari mana muncul begitu saja di hadapan mereka, membentang lurus menembus rumah Anin hingga keluar sana.


Di ujung karpet merah itu Anin melihat sebuah cahaya menyilaukan berwarna kuning keemasan. Tak berselang lama, munculah 6 sosok laki-laki bertubuh gagah mengenakan pakaian semacam prajurit, tangan kanan mereka masing-masing menggenggan sebuah tombak berlapis emas sementara tangan kirinya memegang perisai.


Seketika Anin takjub dibuatnya, matanya berbinar melihat pemandangan asing di hadapannya. Ia dan sosok laki-laki di sampingnya masih diam seolah sedang menunggu dijemput oleh 6 prajurit tersebut.


"Selama dalam perjalanan menuju ke sana, jangan sesekali melepas pegangan tanganmu dariku!" kata sosok tersebut kepada Anin.


Anin sempat tertegun, ia sadar bahwa ini masih di alam mimpinya. Benarkah ia harus mengikuti perkataan laki-laki bermata merah ini? Tidak akan terjadi apa-apa bukan jika ia menurut, pikir Anin toh ini hanya mimpi belaka. Tidak ada salahnya jika ia ingin tahu apa yang ada di ujung karpet merah itu.


"Baiklah!" sahut Anin.


Langkah demi langkah Anin pun berjalan bersama sosok bermata merah tersebut, dengan didampingi 6 prajurit di sisi mereka keduanya menyusuri karpet merah yang membentang tersebut. Tepat ketika beberapa langkah lagi Anin akan menembus cahaya kuning keemasan itu, sebuah suara yang berat serta kencang menggema di telinga Anin.


"Bangun! Pergi dari sana! Cepat pergi!"


Anin seolah tuli, ia tetap berjalan mengabaikan peringatan tersebut. Namun sepertinya pemilik suara tersebut belum mau menyerah, ia terus berteriak mencegah sang gadis. Kali ini suaranya dua kali lipat sari sebelumnya.


"Bangun!!! Pergi dari sana sekarang juga!!!"


Seketika tubuh Anin tersentak, sebuah cahaya yang entah muncul dari mana tiba-tiba saja menarik dirinya dengan sangat cepat, menjauh dari sosok tersebut hingga ia terpental kembali ke dalam kamarnya seorang diri.


Buk!!!


Anin meringis, menyentuh punggungnya yang sakit seperti membentur kencang pada benda keras. Matanya membelalak, ia terkejut saat mendapati dirinya terbangun di atas lantai, tapi masalahnya ... ini bukan di kamarnya.