
Akhirnya setelah drama itu, keduanya tidur dengan baik. Bagas mengalah tidur di sofa, sementara Manda tidur di kasur.
Pukul 06.15
Manda tersenyum dan beranjak dari tidurnya, dia pergi menghampiri Bagas dan berjongkok di dekat sofa. Ia menatap lekat wajah Bagas yang masih tertidur, matanya yang terpejam terlihat sangat tenang, hidungnya sangat mancung dan bahkan dalam posisi apapun laki-laki di depannya ini tetap terlihat tampan.
Manda menjulurkan jari telunjuknya dan menyentuh hidung Bagas, “Hidungnya mancung sekali,” pujinya lirih.
Srtt
Bagas menarik tangan Manda dan posisi wajah mereka sangat dekat. Hidung mereka bahkan hanya berjarak beberapa inci saja. Rasanya, saat itu nafas Manda terhenti. Ada yang mencekal jalannya nafasnya tapi dia bisa merasakan hembusan pelan nafas Bagas.
Bagas yang merasa posisi ini sangat familiar seperti di film romansa dimana pemeran utama pria akan menarik wanitanya dan menciumnya. Tapi, Bagas memilih bangun dan duduk di sofa dengan tenang, dia juga melepaskan tangan Manda.
“Kenapa menahan nafas?” ucap Bagas yang kemudian duduk dengan memeluk bantal di depan dadanya.
“Ehemn,” ucap Manda yang salah tingkah, dia langsung berdiri dan memilih mencari alasan.
“Hmm tidak kok, aku memang bernafas pelan,” ucapnya mengelak.
Bagas tersenyum dan berdiri, “Selamat pagi,” ucapnya kemudian mendekat dan mencium kening Manda.
Dia kemudian mundur lagi dan berkata, “Aku tunggu di bawah mari sarapan setelah bersiap, aku akan mandi di kamar sebelah,” jelasnya.
Manda masih berdiri, dia sangat kaget sekaligus senang. Bahkan dia masih belum sadar apa yang harus dia lakukan sebagai respon atas tindakan mendadak Bagas yang membuatnya berdebar ini.
Bagas berhenti setelah beberapa langkah berjalan dan berkata,”Cepat mandi, pelayan membelikan baju untuk mu di pasar. Kenakan saja itu,” ucapnya kemudian pergi.
Pukul 08.00
Jam tepat sarapan pagi, sebelum pukul 09.00. Manda baru saja turun dan Bagas sudah lebih dulu siap di bawah.
“Lama sekali, memangnya wanita melakukan apa saat bersiap?” tanya Bagas yang agak kesal.
“Ada lah, jangan banyak mengeluh ayo makan.”
“Kenapa bajumu begitu?” tanya Manda kepada Bagas.
“Kita akan memancing hari ini.”
“Ha?” ucap Manda kaget.
***
Manda hanya pasrah dan ikut memancing bersama dengan Bagas. Tadinya sangat membosankan, tapi setelah mendapatkan ikan, Manda menjadi tertarik dan minta di ajari. Hingga akhirnya keduanya menghabiskan waktu berdua di atas kapal memancing.
Setelah cukup lelah dan hasil tangkapan mereka sudah banyak, keduanya menepi dan memilih untuk beristirahat di villa lagi.
“Aku ingin mandi,” ucap Manda kepada Bagas.
“Mandilah.”
“Kapan kita pulang?” tanya Manda.
“Saat kamu mau pulang, tapi jika masih ingin disini kita tetap bisa di sini.”
Manda hanya mengangguk dan pergi ke kamar. Sementara itu, Bagas pergi ke dapur dan membuat sashimi dari hasil tangkapannya tadi. Dia sangat senang bisa memancing setelah sekian lama tidak memancing.
***
Jam makan siang
Bagas duduk di sofa, dia menonton televisi sambil menunggu Manda turun untuk makan bersama.
“Manda,” panggil Bagas .
“Apa?” jawab Manda yang turun dengan pakaian baru.
“Mari makan,” ajak nya.
Manda setuju dan keduanya langsung makan, setelah makan Manda mencuci piring karena dia tahu Bagas telah memasak.
“Bagas,” panggil Manda kepada Bagas yang duduk di sofa.
“Apa?.”
“Boleh bertanya?” ucapnya sembari menaruh piring terakhir karena cucian piringnya sudah selesai.
“Kemarilah,” ucap Bagas seraya melambai kepada Manda untuk mendekat dan benar Manda mendekat dan tidur di paha Bagas.
Manda menghela nafas panjang dan dia di posisi itu, “Ada apa?” tanya Bagas sembari mengelus tangan Manda, tapi matanya masih fokus di televisi. Manda menyisihkan tangan Bagas, dan dia mulai berbicara.
"Hidup di sini nyaman ya, semuanya ada. Kita tidak perlu jadi sempurna untuk bisa jadi pewaris," ucap Manda.
"Setelah aku pikir, menjadi anak orang kaya terlalu banyak tuntutan, padahal untuk bahagia hanya cukup dengan usaha yang tulus dan waktu yang cukup," ucap Manda.
Manda terdiam, dia tidak tahu maksud ucapan Bagas ini apa. Dia juga tidak ingin terlalu percaya diri dengan menganggap itu adalah ajakan serius, pasalnya keduanya baru saja bertemu setelah sekian lama.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Bagas.
"Kamu tidak bertanya."
"Aku tanya sekali lagi, apakah kamu ingin hidup seperti ini bersama ku?" tanya Bagas sekali lagi.
Manda terdiam dan mulai menjawa, "Aa..aku rasa itu bukan hal yang bisa diputuskan secepat ini," ucapnya malu-malu kemudian berdiri dan duduk di samping Bagas.
Bagas menatap ke arah Manda, "Berarti kamu menolakku?" tanya Bagas.
"Tttidak, bukan begitu maksud ku," katanya kemudian.
"Lalu?."
"Maksud ku, kita baru saja bertemu dan ajakan itu terlal," ucapan itu terpotong karena Bagas mencium Manda. Bibir Bagas mencium Manda dan tidak bergerak dalam beberapa saat, dia melihat Manda memejamkan mata dan mulai melanjutkan ciuman itu menjadi *******. Bagas mulai mengabsen seisi mulut Manda, bibirnya yang ranum dan lidah mereka yang bertemu dan saling beradu saliva. Bagas bahkan tidak segan menyentuh tengkuk Manda dan mendekatkan tubuh mereka.
"Eumm," erang Manda yang tertahan karena kehabisan nafas.
Bagas melepaskannya dan ketika itu keduanya menatap satu sama lain. Keduanya terdiam dan tidak berbicara dalam beberapa saat, hingga Manda bicara," Aku mau."
"Mau apa?" tanya Bagas dengan senyum yang mengejek.
"Ya tadi, aku mau pokoknya," ucapnya kemudian.
"Baiklah," jawab Bagas kemudian memeluk Manda. Manda menerima pelukan itu dengan senyum bahagia, akhirnya mereka jadian.
***
Sorenya mereka berkemas dan pulang ke kota. Bagas harus segera mengurus bisnis karena sudah terlalu lama absen, sementara itu Manda juga harus bekerja karena butiknya cukup lama ditinggal.
"Mau diantar kemana?" tanya Bagas ketika keduanya di dalam mobil menuju ke kota.
Manda kaget, "Bukannya dia mengajak tinggal bersama," batin Manda.
"Manda," panggil Bagas.
"Ya," jawabnya lirih.
"Ada apa?."
"Bukan apa-apa," jawab Manda malas.
"Yakin?" tanya Bagas.
"Hm," jawab Manda yakin.
Bagas tersenyum dan mengentikan mobilnya di pinggir jalan yang memang memiliki bahu jalan yang luas khusus untuk berhenti pengendara mobil yang lelah.
"Ada apa? Kamu marah karena apa?."
"Bukan apa-apa, ayo pulang."
Bagas kebingungan tapi sekeras apapun dia berpikir juga tidak menemukan jawabannya.
"Apa kamu masih belum mau pulang?" tanya Bagas.
"Bukan itu."
"Hmm, oke."
"Kalau bukan itu lalu apa?" tanya Bagas.
"Kenapa pulang? Kan kamu mengajak tinggal serumah," ucap Manda keceplosan.
Bagas tersenyum dan memegang kepalanya seolah pusing.
"Astaga, ku kira apa."
Bagas lantas menyentuh bahu Manda dengan kedua tangannya dan berkata, "Kita akan tinggal bersama, dan aku jamin itu. Tapi, saat sudah menikah. Untuk sekarang, tinggal bersama bukanlah keputusan yang tepat karena ayahmu tidak suka," jelas Bagas.
Manda terdiam, "Bagaimana dia bisa tahu?" pikir Manda.
"Jangan sedih, dalam 2-3 hari, aku akan mengupayakan mendapatkan hati ayahmu," jelas Bagas kemudian memeluk Manda.
"Baiklah, maafkan aku. Aku tidak bermaksud memaksamu secepat ini menemuia ayahku," ucap Manda merasa bersalah.
"Tidak masalah sayang, aku juga memang ingin menemui ayahmu."
"Tapi, bukankah sepasang kekasih tinggal bersama itu biasa apalagi kamu lama tinggal di luar negeri," ucap Manda yang langsung membuat Bagas berdebar, dia teringat Natasha yang masih menjadi ancaman.
"Hmm ya itu tergantung kesepakatan, kalau aku tinggal bersamamu sebelum menikah aku tidak yakin apa bisa menahan diri," ucap Bagas kemudian mencium bibir Manda dalam dan lagi-lagi sekali lagi ciuman ini menjadi sangat dalam, panas dan lama.