
Sehari selanjutnya, Manda dan Bagas berjanjian untuk bertemu di sebuah restoran. Mereka berjanjian untuk makan siang bersama, Manda sangat bersemangat hingga dia berdandan dan memilih baju cukup lama.
“Sayang, kamu mau kemana sampai membuatbkamar begini berantakan?” tanya Marsha, ibunda Manda.
“Aku akan pergi makan siang dengan seorang kenalan, Mommy.”
“Siapakah dia? Perempuan?.”
“Laki-laki.”
“Oh ya?” tanya Marsha kaget.
“Daddy pasti kaget mendengar berita ini.”
“Daddy pasti senang mommy, putrinya akhirnya tertarik dengan laki-laki,” goda Manda.
Manda memang jarang berteman dengan laki-laki. Dia bahkan tidak pernah berkencan. Ayahnya, Alex juga jarang memperhatikan putrinya semenjak bisnisnya di Norwegia semakin maju. Dia bahkan jarang pulang dan memanjakan istri dan anaknya. Sehingga, Marsha memutuskan mengikuti suaminya di sana. Sementara itu, Manda yang enggan tinggal di rumahnya yang besar, memilih tinggal di apartemen kecil. Dia merasa seperti Rapunzel yang dikurung di kastil besar. Sehingga, dia memilih hidup bebas dan tinggal di apartemen.
Namun, sebulan terakhir bisnis ayahnya di dalam negeri menurun. Sehingga sang ayah, Alex pulang ke negaranya. Dia juga mulai melakukan audit dan menginspeksi setiap bisnis dan lini dalam perusahaan demi menyelamatkan perusahaan yang akan diwariskan kepada putrinya ini.
“Sayang, daddy memang ingin kamu menikah. Tapi, daddy lebih ingin kamu mulai fokus dan bekerja di perusahaan daddy.”
“Aku tidak mau, mom.”
“Sampai kapan? Daddy dan mommy juga akan menua.”
“Manda sedari awal memang suka fashion, bahkan kuliah manajemen bisnis juga karaena ayah yang memaksa, kali ini. Kumohon biarkan aku menentukan jalan hidupku sendiri.”
Marsha menyerah membujuk putrinya. Dia memilih diam dan tidak lagi berkata apapun.
“Oma akan segera datang, kurang lebih 2 hari lagi.”
“Baguslah, aku juga merindukan oma.”
Marsha tersenyum dan keluar dari kamar putrinya.
“Kenapa sayang, wajahmu murung?” tanya Alex kepada istrinya yang berjalan ke bawah. Alex tengah duduk di ruang tamu.
“Putrimu menemukan seorang laki-laki, keduanya sepertinya sedang jatuh hati. Manda tidak berhenti tersenyum ketika memilih baju.”
Alex terdiam, “Oke, aku akan meminta Beni untuk menyelidikinya.”
**
Bagas tiba lebih dulu, dia datang dengan pakaian rapi dan sopan. Bagas tampak duduk tenang sembari menunggu Manda datang.
Kring
Bel restoran itu berbunyi, Manda baru saja masuk dan melihat ada postur yang mirip dengan Bagas duduk di samping kaca.
“Hai, maaf sudah membuatmu menunggu lama,” kata Manda.
Laki-laki itu menoleh, dia bukanlah Bagas. Laki-laki itu berparas tidak begitu tampan, giginya tidak rapi, dan mengenakan kacamata.
“Apakah anda pasangan kencan buta saya? Saya kira anda tidak secantik ini,” katanya dengan senyum sumringa.
Seisi restoran menoleh ke arah mereka dan bebrisik.
“Kok mau sih, ceweknya.”
Manda juga canggung, dia berdiri dan berkali-kali memohon maaf karena sudah salah orang. Tapi, laki-laki itu tidak mendengarkan dan terus mengatakan kalimat yang berulang-ulang bahwa “Dia senang, dia suka, anda cantik.”
Sampai akhirnya ada laki-laki datang dan menarik tangan Manda.
"Maaf, kekasih saya salah sangka,” kata Bagas kemudian menarik Manda keluar.
Orang-orang yang tadi mencemoh kini senang dan setuju dengan pilihan Manda atas laki-laki tampan yang dia lihat barusan.
“Kalau itu baru cocok,” katanya.
“Issss,” kata laki-laki tadi kesal.
**
“Kita akan kemana?.”
“Makan daging, kamu suka daging?.”
Manda mengangguk dan tersenyum. Kini Bagas melajukan mobilnya menuju ke restoran daging favoritnya yang berada lumayan jauh dari kota. Mereka harus pergi ke pantai untuk bertemu dengan restoran ini.
“Kita pergi ke pantai?” tanya Manda saat tahu arah mobil Bagas menuju ke pantai.
“Iya, daging disana segar dan ada anggur beras yang mungkin kamu suka.”
“Baiklah.”
Setelah menempuh perjalanan darat cukup lama, keduanya akhirnya sampai dan langsung memesan. Manda terlihat sangat senang dan Bahagia. Bahkan sesekali dia menatap kearah Bagas dan tersenyum. Setelah makan, keduanya memutuskan untuk bermain air. Manda yang meminta. Bagas hanya menuruti tanpa pikir panjang.
Drtt
“Sepertinya ponselmu berbunyi,” kata Manda kepada Bagas.
Bagas lantas mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu. Panggilan itu dari Jessi rupanya.
“Ada apa Jess?” tanya Bagas.
“Kepolisian Sudha bergerak?.”
“Sudah.”
“Bayar mereka dan pihak redaksi, mayat Natasha harusnada dan buat itu sebagai percobaan bunuh diri.”
“Baik tuan.”
Manda melihat Bagas yang menelpon dengan raut wajah serius. Dia bahkan mengerutkan keningnya.
“Apakah ada masalah dengan bisnisnya?” pikir Manda.
Setelah selesai menelpon, Bagas mendekat kearah Manda.
“Kenapa? Ada masalah?.”
“Tidak kok, bukan apa-apa.”
Manda lantas menundukkan kepala. Dia merasa kesal, dan sedih dalam waktu bersamaan. Bagas terlihat masih enggan bercerita dengannya.
“Apa aku menyakitimu?” tanya Bagas.
Manda menggelengkan kepala.
“Lalu kenapa kamu terlihat sedih?.”
“Bukan apa-apa kok.”
Manda lantas berjalan menjauh dan menyusuri pantai.
Bagas mendekat dan berkata,”Kamu tahu? Aku kembali untuk mencari mu.”
Manda kebingungan dengan kalimat Bagas, dia menoleh kearah
Bagas dan bertanya, “Apa maksud perkataanmu?.”
“Apa kamu tidak mengingatku?.”
“Kamu? Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?.”
“Aku Bagas, teman masa kecilmu, mantan tunangan masa kecilmu, sekaligus,” kalimat itu terhenti dan Manda mulai menatap kearah Bagas dalam.
“Bagas, jadi kamu Bagas putra tante Dinda?.”
Bagas mengangguk. Sedetik kemudian, Manda menitikkan air mata tapi masih dalam balutan senyum manisnya.
“Astaga, aku mencarimu.”
Manda berjalan dan meraih tangan Bagas, “Apa selama ini kamu baik-baik saja?” tanya Manda sembari menyentuh tangan kanan Bagas.
“Jari mu sangat besar, tapi telapak tanganmu cukup kasar. Apakah selama ini kamu berjuang sendirian?” tanya Manda khawatir.
Semenjak kejadian ulang tahun berdarah waktu itu, Manda memang tidak bisa melupakan Bagas sedikitpun. Tidak pernah sekalipun dia melupakan Bagas. Dia selalu datang kerumah Bagas. Tapi, Dinda melarang mereka
bertemu. Bahkan dulu, ketika Bagas dikirmkan keluar negeri, dia adalah orang terakhir yang tahu itu.
“Aku baik-baik saja,” jawab Bagas menenangkan Manda.
“Kamu yakin?.”
Mata Manda menunjukkan kekhawatiran. Jelas terlihat disana. Bahkan orang bodoh sekalipun bisa melihat itu dengan jelas.
“Lihat aku, aku baik-baik saja,” kata Bagas meyakinkan Manda sembari menyentuh pundaknya.
Manda mendongak dan matanya nanar.
“Sial, dasar gadis cengeng,” celetuk Bagas tanpa sadar. Bagas lantas memeluk Manda. Keduanya berpelukan dan Manda menangis dalam pelukan Bagas.
Memang sedari awal yang sudah jatuh cinta itu Manda. Jadi, ketika semakin cinta. Benihnya hanya cukup dipupuk dan disiram untuk semakin mekar.
Setelah melihat matahari terbenam, mereka memutuskan untuk segera pulang sebelum hari semakin malam. Sepanjang jalan, Bagas tidak berbicara. Manda juga masih diam, dia merasa senang sekaligus bingung. Mereka sudah berpelukan, tapi apa status keduanya saat ini. Manda meminta diantarkan ke apartemen. Dia tidak mau diantarkan kerumah, agar Bagas tidak di interogasi ibunya.
"Hati-hati dijalan," kata Manda ketika turun.
**
"Berikut tuan, laporan perkembangan tugas saya," lapor Beni.
Alex membuka amplop itu dan melihat ada 5 foto, foto ketika mereka ada di restoran, di pantai berpelukan, di mobil dan sesampainya di apartemen.
"Siapa laki-laki ini?."
"Bagas, putra mendiang teman tuan?."
"Dinda?" tanya Alex.
"Benar tuan."
"Sial, mereka tidak bisa dekat. Dinda bisa menyakiti putriku jika tahu putranya berpacaran dengan putriku."
Alex langsung tegang dan takut dalam waktu bersamaan.