ANGKARA

ANGKARA
03. Bergerak Maju



“Selamat datang, Tuan,” sapa Alex ketika Bagas baru saja masuk ke rumah. Wajah Bagas terlihat lesu dan kesal, dia lantas berjalan kearah rak anggur miliknya.


“Ambilkan aku gelas, Alex.”


“Baik, Tuan.”


Jessi duduk di dapur bersama dengan Yasmine yang merupakan kepala pelayan di mansion ini.


“Kamu datang Jess, sejak kapan. Kenapa rumah kita ditinggalkan (rumah kita adalah rumah Bagas yang ada di negeri).


“Tuan menyuruhku kemari untuk membantuku mengurus wanitanya, Manda.”


“Lho. Apakah masalah Natasha sudah selesai.”


“Sudah, kamu ingin mendengarkan ceritanya tidak?.”


“Nanti saja, aku harus mengantarkan gelas ini dulu,” kata Alex kemudian pergi membawa gelas itu ke kamar Bagas.


“Sepertinya suasana hati Tuan muda kurang bagus,” kata Jasmine.


“Tuan muda mu memang selalu minum saat kesal, lagipula biarkan saja.”


Di kamar Bagas, dia sedang membaca laporan keuangan dan surat wasiat yang diberikan oleh Alden. Ayahnya menyerahkan semua aset mencakup tanah, rumah di Jakarta, Bali, Villa, Hotel bahkan deposit atas namanya untuk menjadi milik Bagas. Hanya rumah tinggal dan bisnis atas nama Dinda yang diberikan kepada Dinda.


“Apa ayah sudah tahu, jika ibu akan begini?” pikir Bagas.


Dia heran, kedua orang yang saling mencintai itu bisa berubah saling menyakiti bahkan mengkhianati buah hatinya demi orang lain.


“Tuan, ini gelasnya.”


“Tuangkan untukku dan untukmu, jika kamu mau.”


“Saya tidak minum Tuan, besok ada hal yang harus saya kerjakan.”


“Memindahkan semua asetku ya.”


“Benar sekali tuan.”


“Urus secepat mungkin, ingat kata-kata Alden. Ini harus selesai dalam waktu 30 hari. Masalah Manda, Jessi dan aku yang akan mengurus.”


“Oh iya, Natasha setuju berpisah dan menikah dengan laki-laki itu. Namun, dia meminta uang sebagai ganti rugi karena telah bekerja dan menjadi budakku. Jadi, tolong urus mereka dengan cara kita saja. Aku muak dengan orang-orang tidak tahu diri seperti mereka.”


“Baik, Tuan.”


Alex keluar dari kamar dan menemui Jessi untuk menyampaikan langkah selanjutnya yang harus dilakukan untuk mencegah Natasha berontak.


Jessi masih duduk bersama dengan Jasmine.


“Jessi, ada hal yang ingin aku katakana. Ikut dengan ku sebentar."


Jessi menurut dan mengekor di belakang Alex.


“Tuan ingin masalah Natasha diselesaikan dengan cara kita.”


“Kamu yakin?.”


“Iya.”


“Berarti aku harus meminta mereka mengotori tangan dengan darah wanita hina itu ya.”


“Saranku, lebih baik ambil semua bukti hubungan tuan dan Natasha terlebih dahulu, semua alat elektronik dan barang milik tuan. Setelah itu, kamu bisa membunuhnya atau membungkam mulutnya selamanya.”


Jessi lantas tersenyum, “Sayang sekali aku sudah terlanjur kemari, jika tidak aku bisa menghabisi wanita itu dengan tanganku sendiri,” katanya sembari tersenyum.


Tanpa lama-lama, Jessi langsung menghubungi Alberto untuk segera mengusut masalah Natasha dan membungkam mulutnya selamanya.


“Aku akan membuat wanita murah itu tidak bisa berjalan lagi,” kata Jessi dengan senyum sumringah.


Siapakah Jessi? Jadi, guys Jessi adalah anak kecil yang ditemukan Bagas dan Alex di gudang anggur milik mereka. Waktu itu, dua tahun setelah Bagas dikirim keluar negeri, dia mendapatkan dukungan dana dari kakeknya dan memulai bisnis perkebunan anggur di sana. Dia juga berusaha semaksimal mungkin memutarkan uang kakeknya untuk memperkaya diri. Hingga waktu itu, tiba-tiba ketika mereka hendak menginspeksi gudang anggur yang sudah cukup lama difermentasi dan siap jual. Mereka mendapati seorang anak kecil, sekitaran usia 12 tahun dengan rambut pendek dan baju compang-camping tidur di pojokan galon anggur miliknya.


“Hei, pencuri kecil. Apa yang kamu lakukan?” tanya Bagas kepada Jessi kala itu.


Jessi gugup, dia berusaha berdiri dan melawan Alex. Kala itu, untuk ukuran anak kecil dia cukup kuat dan tangguh. Walaupun akhirnya tetap tumbang. Namun, darisanalah Bagas melihat jiwa petarung yang siap menjadi pionnya nanti. Sehingga, Bagas menerima Jessi yang merupakan anak sebatang kara. Memberinya identitas, uang, makan, pakaian dan Pendidikan. Bahkan, saat ini Jessi akan menempuh kuliah di negeri tempat Bagas lahir, ketika dia sudah berhasil mendapatkan harta ayahnya lagi. Tentu saja, Bagas akan melepaskan Jessi setelah anak itu bisa menemukan hidupnya sendiri.


“Maka dari itu, Jessi memang tegas, brutal dan penuh dengan kebengisan. Dia tidak pandang bulu saat membantai, dan tidak pernah mengeluh kepada Bagas.”


***


2 hari kemudian, Bagas kembali menemui Manda di sebuah pusat perbelanjaa. Manda terlihat berbelanja sendirian, dan waktu itu sudah menunjukkan pukul 17.00. AMnda yang sedang menenteng banyak barang bawaan tiba-tiba mendapati ada 2 laki-laki yang berusaha untuk mencelakainya dan mengambil barangnya.


“Tolong saya.”


Bagas keluar entah dari mana dan mencoba menyelematkan Manda kala itu. Bagas berkelahi dengan kedua orang itu dan membuat dirinya nyaris terluka, karena tangannya mendapatkan satu goresan di telapan tangan atas pisau yang dibawa oleh penjahat tadi.


“Kabur,” kata penjahat itu saat mereka mendengar suara sirine polisi.


“Anda baik-baik saja?” tanya Manda memastikan keadaan Bagas.


“Anda lagi, kita sudah bertemu kedua kalinya dan saat ini aku melukaimu.”


Seorang nenek berlari dari dalam toko miliknya dengan ponsel yang mengeluarkan suara sirine polisi.


“Astaga, apa kamu baik-baik saja anak muda?.”


“Saya baik-baik saja nek, bagaimana dengan anda?” tanya Bagas kepada Manda.


“Aku baik-baik saja.”


“Sudah, mari masuk dulu ke toko ku.”


 



POV: Bagas duduk dan menunggu nenek tadi mengambilkan obat P3K. Sementara itu, Manda terlihat sangat gelisah.


“Ini, obati segera kekasihmu,” pinta nenek tadi.


Manda menuruti dan mulai mengobatik luka Bagas. Bagas juga hanya diam menerima perlakuan itu. Setelah selesai, keduannya membeli kue nenek tadi sebagai bentuk terima kasih.



Bagas keluar dengan menenteng kue dengan tangan kirinya. Sementara, posisi Manda membawa banyak barang bawaan.


“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya Bagas.


“Aku akan pulang. Bagaimana dengan tuan sendiri?.”


“Apa kamu bisa menyetir?.”


“Bisa.”


“Kalau begitu, bantu aku menyetir mobilku. Nanti sesampianya di tempatku, orangku akan mengantarkanmu.”


Manda setuju, tanpa pikir panjang dia setuju dengan mudah untuk pergi bersama dengan Bagas.


“Dasar bodoh, bagaimana jika yang mengajaknya pulang adalah mesum,” gumam Bagas dalam hati.


Keduanya kemudian pulang ke mansion Bagas. Manda juga dengan tenang menyetir tanpa bertanya. Sesampainya disana, pelayan bergegas keluar dan membantu Manda membawa barang bawaannya.


“Selamat datang nona, mari saya bantu.”


“Tidak, saya bisa membawa sendiri kok.”


“Tidak apa-apa nona, ini adalah tugas kami.”


Manda setuju dan ikut  masuk ke dalam bersama dengan Bagas.


“Aku akan mandi dulu, kamu bisa makan dulu. Nanti sopirku akan mengantakan kamu pulang.”


“Baik, terima kasih.”


Bagas beranjak dari situ dan hendak pergi ke kamarnya.


“Tunggu,” Cegah Manda.


Bagas menoleh kearah suara dan bertanya, “Ada apa?.”


“Siapa namamu. Kita belum berkenalan.”


“Bagas,” jawab Bagas kemudian pergi.



Malamnya, Manda tidak bisa berhenti memikirkan Bagas. Dia sangat senang, laki-laki tampan dan kaya ternyata menolongnya. Laki-laki itu bahkan masih single, saking senangnya dia juga percaya kata pelayan jika dia adalah wanita pertama yang dibawa Bagas (kata Jessi).


“Jika sekali lagi kami bertemu, bukankah ini jodoh,” kata Manda dengan senang hati.