
Manda merasa sedih karena dia merasa ayahnya berkata cukup keras kepada dirinya. Manda yang sedih beranjak dari duduknya dan pergi ke kamarnya.
“Ayah aneh sekali,” ungkapan kesal.
Manda memilih membuka laptopnya dan memastikan desain pakaian untuk musim ini beres. Setidaknya dengan bekerja dia akan melupakan sedikit kekesalannya yang dia rasakan. Hal ini juga untuk membunuh waktu sampai Bagas menghubunginya.
***
Di mansion Bagas, dia tengah sibuk menyusun rencana untuk memperkuat bisnis ayahnya termasuk mengembangkan tanah di daerah sejuk yang sudah lama tidak dikembangkan. Bagas berniat untuk membangun usaha pertanian dan peternakan disana. Mengingat Bagas memiliki cukup pengetahuan dan pengalaman disana. Sementara untuk perusahaan, dia sudah memiliki banyak informasi dan data pemodal sekaligus klien sebelumnya yang bisa mulai dia dekati untuk mensukseskan bisnisnya. Hal ini sebagai bentuk pemenuhan targetnya selama sebulan untuk membuat pemegang saham dan pengikut ibunya menyerah atas dirinya.
“Tuan, ada informasi baru,” lapor Jessi kepada Bagas.
“Ada apa itu?.”
“Tanah di daerah itu ternyata diganti atas nama pada bulan lalu, tapi sekarang masih dalam proses. Sepertinya terkendala karena wasiat dari mendiang ayah tuan yang menyerahkan tanah itu kepada anda.”
“Atas nama siapa? Dinda?” tanya Bagas yang sudah hafal dengan perilaku licik ibunya.
Jessi mengangguk dan menundukkan kepala dalam waktu bersamaan.
“Kamu tidak salah Jessi, dalam hal ini ibuku yang bersalah karena serakah. Sekarang kamu cukup mengajak pihak hukum atau tuan Alden untuk mengurus tanah itu. Aku berikan waktu 10 hari paling lama, setelah selesai segera buat kebun itu menjadi ladang pertanian yang prospek.”
“Baik tuan,” ucap Jessi menyanggupi hal yang berat dan mustahil itu. Tapi, dia yakin apa yang dia kerjakan dan dipercayakan oleh Bagas adalah sesuatu yang bisa dikerjakan, sesukar apapun itu pekerjaannya.
Bagas mulai menyusun rencana dan pemodelan dari resort yang ingin dia bangun di tanah itu. Bagas menjadikan pertimbangan pembangunan ini atas meningkatnya daya tarik masyarakat atas wisata alam dan wisata ekonomi kreatif saat ini.
“Tuan, tamu anda sudah datang,” lapor Boy kepada Bagas.
Boy adalah asisten pribadi Bagas sebagai presdir. Boy sendiri dipilih karena dia adalah anak muda, berprestasi dan yatim piatu. Sehingga anak ini mandiri, teguh, tekun dan tidak memiliki kelemahan karena orang terkasihnya sudah tidak ada. Boy tadinya adalah karyawan di divisi pemasaran yang ditarik Bagas dengan pertimbangan banyak hal.
“Oke, minta dia menunggu dulu, aku akan segera turun.”
Bagas kemudian merapikan meja nya dan menyimpan beberapa file penting dan mengambil satu map berkas dan ipad miliknya untuk turun menemui tamunya.
“Hai, Justin,” sapa Bagas.
“Hai Gas, lama tidak ketemu,” sapa balik Justin yang berdiri dan langsung memeluk Bagas.
“Bagaimana kabar mu?” tanya Bagas basa-basi.
“Baik, bagaimana denganmu sendiri?.”
“Seperti yang kau lihat, aku kembali untuk berjuang,” jelas Bagas.
Justin tersenyum dan meminta asistennya, Leni untuk mengambilkan berkas yang dia bawa.
“Ini, permintaan mu,” jelasnya.
Bagas tersenyum dan menyerahkan map berkas yang dia bawa tadi, “Ini penawaranku.”
Bagas membuka berkas yang dibawa Justin dan benar seperti yang dia kira bahwa keluarga Justin memang akan membuka perumahan besar di daerah Jakarta dengan konsep kota kecil, dimana rumah, tempat hiburan, tempat belanja, dan sekolah jadi satu. Konsep ini adalah mega proyek yang akan ditawarkan kepada pemborong dalam penawaran proyek pada pertengahan bulan ini. Sementara, Bagas akan berperan sebagai pemborong untuk membawakan bisnis ayahnya menuju keuntungan besar.
“Bagaimana menurutmu?” tanya Bagas kepada Justin.
“Informasi ini lengkap, tapi apakah valid?.”
“Tentu saja, tidak ada yang lebih kompeten bekerja di bidang ini selain aku.”
“Baiklah, aku akan mempercayaimu. Namun, untuk proyek ini aku tidak bisa membantumu. Kamu harus bekerja sendiri untuk memenangkan hati ayahku.”
Bagas tersenyum, “Aku tahu, ayahmu juga tidak akan mendengarkanmu kan.”
Omongan Bagas memang ada benarnya, karena Justin adalah anak bungsu sekaligus anak dari istri muda yang cukup dibenci oleh kakak-kakaknya terdahulu. Sehingga dia tidak mendapatkan perhatian dirumah. Ibunya juga meninggal ketika dia masih duduk di kelas 6 sekolah dasar. Ayah Justin memutuskan untuk hidup sendiri dan merawat keempat anaknya, anak sulung laki-laki yaitu Arman, 2 anak kembar perempuan bernama Renna dan Rihana, dan si bungsu Justin. Kakak pertamanya tidak cukup cerdas, tapi karena dia anak pertama. Maka semua bisnis diberikan kepada dirinya, sementara si kembar adalah beban keluarga yang memilih menganggur setelah lulus dan hanya hidup dari harta ayahnya. Namun, si bungsu adalah si tampan dengan kecerdasan dan kejeniusan yang tinggi. Hal itu yang membuat orang rumah membenci dan mengucilkannya.
“Berhenti mengejekku Bagas, aku akan merebut semua milik ayahku dengan bekal ini,” kata Justin sembari mengangkat berkas di tangannya.
“Haha, aku bercanda. Minum dulu tehnya,” ucap Bagas.
Setelah sepakat dengan kerjasama yang mereka maksud, Justin bergegas pulang. Sementara itu, Bagas pergi ke pelabuhan untuk mengurus barang yang akan dia jual. Tapi, sebelum itu, dia meminta Boy untuk pulang. Sebab bagaimanapun dia adalah anak baru, dan bisnis ini cukup berat untuk dia ketahui sekarang.
Bagas berangkat bersama beberapa pengawal, tanpa Jessi karena dia sedang mengerjakan projek lain.
“Kita berangkat sekarang tuan, karena jarak menuju ke pelabuhan cukup lama,” lapor Jordan.
“Iya, tidak apa-apa. Asalkan kita tiba tepat pada pukul 02.00.”
“Baik tuan, tuan tenang saja.”
Mobil yang dikemudikan itu adalah mobil SUV keluaran terbaru. Mobilnya melaju kencang dan nyaman walaupun menempuh jarak cukup lama.
Pukul 01.23, mobilnya tiba di pelabuhan dan siap menunggu perahu nelayan dengan kode BG yang akan membawa barang yang dimaksud Bagas.
“Cepat ganti pakaian kalian,” perintah Bagas kepada para pengawalnya. Mereka bergegas membuka jaket dan memperlihatkan baju-baju lusuh seperti nelayan pekerja keras. Walaupun wajah mereka cukup bersih dan tampan, jadi mana ada yang percaya.
“Mobilnya sudah siap?” tanya Bagas kepada Jordan.
“Sudah tuan.”
Setelah perahu tiba, Jordan dan Bagas memastikan barangnya tiba dengan sempurna. Setelah jumlah dan kuantitasnya sama. Mereka bergegas mengangkut dan membayar para nelayan atas jasa angkut mereka.
“Ini upahmu, jangan lupa bulan depan sama seperti ini,” ucap Bagas kepada Aldo dan anak buahnya yang baru saja selesai membantu memindahkan ikan ke kontainer dingin yang mereka siapkan untuk mengangkut barang.
Bagas langsung pulang kerumah setelah barangnya tiba dengan sempurna.
“Bagaimana kita akan mengurus ikan-ikan itu tuan?” tanya Jordan.
“Masak beberapa dan sisanya bagikan kepada para pekerja. Jika masih banyak maka minta pengasuh untuk memasak dan membagikan kepada orang-orang membutuhkan.”
“Baik tuan.”
Jordan mengkhawatirkan ikan yang digunakan untuk menutup barang berharga milik Bagas, karena jumlahnya yang cukup banyak itu.