ANGKARA

ANGKARA
05. Iba



Semenjak hari itu, Bagas dan Manda menjadi dekat dan sering berkabar. Hingga mereka memutuskan untuk bertemu di kafe untuk berbincang karena ada yang ingin Bagas sampaikan. Bagas menghampiri Manda di sebuah toko tempat mereka berjanji untuk bertemu.


“Kamu sudah menunggu lama?” tanya Bagas memastikan.


“Tidak aku baru saja sampai kok.”


“Syukurlah, kamu sudah memesan?.”


“Belum, aku menunggu mu.”


Bagas akhirnya duduk dan mulai memesan. Di awal keduanya masih berbincang santai, tapi tiba-tiba Bagas mendapatkan telepon dan terlihat sedih beberapa saat kemudian.


“Ada apa?” tanya Manda khawatir.


“Ibuku mengambil alih perusahaan ayah, dan aku tidak akan mendapatkan apa-apa.”


“Perusahaan paman?” tanya Manda.


“Iya, itu adalah peninggalan ayah tapi ibu menjadi gelap mata setelah menikah dengan laki-laki itu,” kata Bagas iba.


“Memangnya perusahaan sedang dalam masa likuidasi sehingga saham perusahaan menjadi takaran.”


“Tidak Manda, bisnis ayahku baik-baik saja. Masalahnya adalah rapat pemegang saham memutuskan bahwa ibuku kandidat terkuat untuk posisi presdir.”


“Kamu sudah berusaha membeli saham?.”


“Sudah, tapi masih kurang, jumlah milik ibuku masih besar. Mungkin jika 5% lagi, maka semuanya akan berubah. Aku bisa langsung membalikkan posisi saat ini.”


Manda terdiam, dia seperti sedang memikirkan sesuatu dan berkata kemudian.


“Aku bisa membantumu Bagas, aku memiliki 5% saham atas perusahaan paman..”


“Benarkah?” tanya Bagas berpura-pura tidak tahu.


“Iya.”


“Bolehkah aku membelinya.”


“Iya, kamu bisa membelinya dengan harga pasar.”


“Terima kasih, Manda.”


Setelah sepakat menjual saham itu, Manda menghubungi pengacaranya dan segera memproses jual beli saham itu.


Bagas tersenyum senang dan merasa puas atas pencapaiannya. Dengan mudah dia menghasut wanita di depannya untuk percaya dan iba kepadanya.


***


Manda pulang ke rumahnya untuk makan malam bersama dengan ayah dan ibunya.


“Manda sayang, kamu sudah pulang,” sapa Marsha bersemangat.


“Iya, Mom, mana Daddy?.”


“Daddy mu sedang main catur di halaman samping dengan paman Andre.”


“Oh, tumben paman Andre pulang.”


“Katanya dia merindukan rumah.”


Andre dengan nama panjang Andreas Gunawan Wicaksono adalah putra bungsu dari ayah Alex atau lebih tepatnya adik bungsunya. Kedua orang tua Alex sudah meninggal, sehingga rumah tertua dalam keluarga mereka adalah Alex. Andre sendiri merupakan seorang seniman muda yang menekuni dunia lukis sejak masih duduk di bangku sekolahan. Dia bekerja sekaligus keliling dunia untuk mendapatkan inspirasi. Bahkan, saking seringnya dia keliling dunia dan sibuk melakukan pekerjaannya. Andre sampai belum memiliki kekasih sampai dirinya berusia 32 tahun, tepat pada tahun ini.


“Andre, apakah kamu memiliki seorang teman atau kenalan laki-laki yang akan cocok dengan Manda?.”


“Tidak tahu selera Manda kak, temanku hanya beberapa.”


“Kenapa memangnya kak?.”


“Aku khawatir saja, dia bertemu dengan laki-laki aneh yang bisa membahayakan hidupnya nanti.”


Andre terdiam dan teringat bahwa dia memiliki seorang teman yang sangat dia suka dan dia andalkan. Seorang laki-laki tampan, gagah dan kaya. Laki-laki yang memiliki sikap yang baik dan berwibawa, mungkin akan cocok dengan Manda.


“Aku ada satu kak, tapi aku tidak tahu apakah dia mau dengan Manda.”


“Yaa! Manda cantik, cerdas dan tentu saja mandiri, siapa yang berani menolak putriku.”


“Entahlah kak, tapi dia idaman semua wanita dan berita buruknya dia sedang berada di luar negeri.”


“Tidak masalah, jika MAnda cocok dan suka. Maka, pertemukan saja mereka.”


“Baiklah kak.”


Bagas mengangguk dan semuanya menjadi sempurna, jas hitam, wajah yang tampan dan tekad yang kuat untuk melawan. Kini, Bagas bukan lagi anak kecil melainkan laki-laki dewasa yang siap kehilangan ibunya demi mendapatkan keadilan.


***


Dinda dengan percaya diri duduk di kursi utama presdir dan memberikan tatapan angkuh kepada para pemegang saham.


“Semua komisaris dan pemegang saham diperkenankan masuk.”


Bagas masuk bersama dengan Alden. Seketika itu juga tatapan Dinda menjadi kesal dan marah. Terlihat jelas raut wajah Dinda kesal, dia tidak mengundang putranya bahkan dia tidak tahu bagaimana bisa Bagas ada disana, terlebih dia bersama dengan pengacara suaminya dulu.


“Mohon maaf, Anda siapa?” tanya Rey yang merupakan sekertaris Dinda.


“Saya Alden, notaris dan pengacara pribadi tuan Bagas, pewaris tunggal perusahaan ini.”


Seisi ruangan kaget dan terus berbisik heran, mereka kaget putra semata wayang yang ditunggu-tunggu akhirnya datang. Sebenarnya, hampir 60% karyawan Dinda enggan bekerja dengan Dinda. Mengingat bagaimana cara kerja dan apresiasi Dinda yang buruk terhadap karyawannya.


“Tenang, semuanya mohon tenang, lebih baik kita segera mulai acara ini,” kata Rey.


Dinda berdiri dan mempersilahkan Bagas duduk di sampingnya, tapi dia meraih lengan Bagas dan mencubitnya sekaligus berkata, “Untuk apa kamu kembali.”


Bagas menahan sakit itu dan memilih langsung duduk, Jessi menyerahkan berkas kepada Rey untuk dibacakan pada saat proses pemungutan suara dan pemilihan presdir.


“Berdasarkan data yang diberikan pihak Bagas, diketahui bahwa pemegang saham terbesar perusahaan ini adalah beliau, dan berdasarkan surat wasiat dari mendiang tuan Ary Bagus, maka posisi presdir akan diberikan kepada tuan Bagas.”


“Tidak bisa, aku yang bekerja mati-matian untuk perusahaan ini,” ucap Dinda enggan.


Para pendukung Dinda juga berteriak enggan menyerahkan posisi itu. Mereka enggan memberikan posisi presdir kepada pemimpin baru yang bisa jadi akan mengancam posisi mereka saat ini.


“Saya rasa, secara hukum dan sesuai peraturan perusahaan tuan Bagas berhak, jadi saya mohon semuanya bersabar dan memberikan kesempatan untuk beliau memimpin.”


Dinda terdiam dan membuang wajah kesal, “Baiklah, aku setuju dengan catatan kamu harus menunjukkan kinerja mu dalam waktu 1 bulan.”


“Baik, saya setuju,” jawab Bagas menerima tantangan itu.


Hasil dari rapat ini sudah disimpulkan dan semuanya keluar untuk melakukan pekerjaan mereka.


“Terima kasih, tuan Alden,” kata Bagas bersyukur atas bantuan beliau.


“Sama-sama nak, semoga sukses selalu. Saya pamit undur diri,” pamit Alden.


Dinda terlihat keluar dari ruang rapat bersama Rey, dia memalingkan wajah dan langsung meninggalkan Bagas dengan Jessi.


“Iss, apakah perlu saya memberinya pelajaran tuan?” tanya Jessi yang kesal.


Bagas menoleh ke arah Jessi dan memukul kepala Jessi, “Dasar bodoh, dia ibuku,” kata Bagas pelan.


“Tapi, beliau menyebalkan tuan.”


“Biarkan saja, ibuku sedang gelap mata.”


Jessi hanya bisa setuju dan menganggukkan kepala paham. Sesaat setelah itu, keduanya pergi ke rumah untuk mulai menyusun siasat dan membaca prospek bisnis dari perusahaan ayahnya agar bisa semakin berkembang.


*****


Di kediaman Alex, Manda tengah gelisah menunggu kabar dari Bagas. Bagas berjanji akan mengabari tapi sampai hari ini tidak pernah menghubungi Manda lagi.


“Sayang, apa yang kamu lakukan?” tanya Marsha kepada putrinya.


“Aku sedang memikirkan bisnisku, Mommy. Pakaian apa yang akan jadi tren musim ini, hehe.”


Marsha menggelengkan kepala, dia paham putrinya berbohong.


“Jangan berbohong, apa yang mengganggu pikiranmu?.”


“Tidak ada, Mommy.”


“Apakah ini tentang Bagas?” tanya Marsha yang sudah tahu bahwa putrinya menemui Bagas.


“Apasih, Mom.”


Manda mengelak dan memilih duduk bersila di sofa. Alex baru saja turun dari kamar dan melihat putrinya dan istrinya membicarakan Bagas di ruang tamu.


“Berhenti menemui dia, ayah tidak setuju,” kata Alex tegas.


Manda kaget mendengar ayahnya menentang dirinya. Dia bahkan tidak pernah mendengar kata tidak dari sang ayah, tapi kenapa kali ini dia mendengarkan kalimat itu.


“Ayah kan tahu, Bagas putra paman Aryo Bagus.”


“Ayah tahu, dan ayah tidak setuju.”


Alex langsung pergi meninggalkan mereka berdua di ruang tamu.