
Angkara
Qoutes : “Bukan aku yang berubah, hanya ekspektasi mu yang terlalu besar”
Perkenalan
******************
Ananda Bagas Putra Tama itu adalah namaku. Putra tunggal dari Aryo Bagus Pratama dan Dinda Fadila. Ayahku adalah pemilik kebun teh terbesar di bandung. Ibu adalah seorang desainer pakaian sekaligus seorang wedding organizer di daerah Bandung. Sedari kecil, aku tidak pernah hidup kekurangan ataupun kesusahan. Bahkan orang-orang menghormati ku dan segan kepada ku. Ayahku banyak meminjam minjamkan uang kepada penduduk sekitar yang membutuhkan dengan catatan tanpa bunga kecuali biaya keterlambatan berupa denda 5% per hari. Hidupku lancar jaya sebelum akhrinya ada sebuah insiden besar yang membuatku kehilangan segalanya. Sebuah insiden buruk, terburuk yang pernah aku alami dalam hidupku.
Hari itu cuaca terlihat tidak bersahabat. Mendung membubung tinggi di atas kepala. Warna hitam kelam benar benar mencekam. Sesekali kilat terlihat di atas sana, tapi hujan tak kunjung turun menerpa.
Hari itu adalah ulang tahun ku yang ke-17 tahun. Keluarga besar ku berkumpul di kebun belakang rumah untuk merayakan hari ulang tahun. Paman dan bibi ku dari Kalimantan datang, begitu juga dengan kakek dan nenekku yang datang jauh jauh dari Australia.
Meskipun mendung terlihat tidak bersahat, pesta kebun perayaan ulang tahun ku tetap dilaksanakan. Persiapan dan dekornya sangat megah mengusung tema klasik dan garden. Beberapa temanku hadir hari itu.
Pukul 17.00 pesta kebun itu dibuka oleh kak Indra seorang pembawa acara yang disewa mama untuk mengisi acaraku. Semuanya terlihat senang dan meriah. Susunan kado memenuhi meja dan rak tempat yang disediakan. Beberapa pelayan terlihat sedang sibuk mempersiapkan makanan dan ayam panggang yang akan disantap saat makan malam nanti.
Tidak ada acara tiup lilin pada acara ini, keluarga ku biasa merayakan hari jadi tanpa acara tiup lilin. Namun, entah dari mana seseorang datang membawakan sebuah kue lengkap dengan lilin warna putih tertancap di atasnya.
“Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun, happy birthday Bagas, happy birthday to you,” nyanyi Manda sambil membawa kue.
Dia adalah Manda, anak paman Alex yang lama tinggal di luar negeri. Entah siapa yang menggundang nya untuk datang hari itu. Keluarga ku memang sedari awal tidak suka dengan acara tiup lilin. Nenek sangat membenci momen meniup lilin entah apa alasanya kami sekeluarga hanya mengikuti apa yang sedari awal sudah menjadi kebiasaan.
Namun, manda adalah teman masa kecilku. Rasanya tidak enak jika menolak permintaan manda begitu saja.
“Tiup lilinya Bagas”, ucap Manda.
Aku termenung ragu, tidak mungkin di depan nenek aku menyakiti perasaan nenek dengan meniup lilin itu. Tapi, Manda sudah jauh-jauh datang membawakan kue, tidak etis jika aku menolaknya begitu saja.
“Maaf Man,” belum sempat aku menyelesaikan ucapanku, ayah sudah menyelaku dan mengatakan bahwa tidak apa-apa.
“Tidak apa-apa Bagas, tiup saja”.
Mendengar ucapan ayah, aku percaya dan meniup lili itu. Ketika aku meniup lilin dan lilinya padam, tamu undangan dan saudara-saudraku bertepuk tangan. Samar tapi pasti, setelahnya tiba-tiba terjadi pemadaman listrik.
“Ada apa ini?”
“Astaga listriknya padam?”
Semua orang panik mengeluarkan kata dan kalimat resah mereka. Ayah berkata kepada pelayan untuk menyalakan lampu.
“Pelayan hidupkan mensin genset untuk menghidupkan lampu”.
“Baik tuan”.
Sesaat kemudian, lampu kembali menyala dan kegaduhan yang terjadi sudah selesai. Namun, entah
dari arah mana sebuah tembakan terdengar jelas.
Dorr
Sebuah peluru entah tanpa arah menembak dada kiri ayahku. Ayah terjungkal jatuh ke lantai lemas. Semua orang panik dan berteriak.
Para pengawal ayah datang menghampiri dan segera melakukan pertolongan pertama. Ayah dilarikan ke rumah sakit saat itu juga menggunakan mobil pribadi.
Pesta ulang tahun ku hancur begitu saja, dengan hadiah kondisi kritis ayahku. Nenek terus terusan menangis melihat kondisi ayahku yang masih kritis. Beberapa anggota keluarga lainnya juga menyesalkan kenapa hari itu aku harus meniup lilin. Ayah memang biasanya mengenakan rompi anti peluru, tapi entah kenapa hari itu ayah hanya mengenakan sebuah kemeja batik tipis untuk membalut tubuhnya.
Aku mengutuk diriku di dalam hati menyesalkan kejadian itu. Banyak hal janggal yang aku rasakan saat itu. Setelah ayah koma, perkebunan dikelola oleh paman ku. Mama juga memutuskan untuk tidak berlarut larut sedih justru mengambil proyek di Bali. Ketika semua orang justru sibuk beraktivitas kembali, genap 7 hari ayah dirawat. Beliau berpulang ke rumah Tuhan. Hanya ada aku dan nenek di samping ayah.
Setelah kejadian hari itu, rumah menjadi sepi. Nenek kembali ke Australia bersama dengan kakek setelah 7 hari kepergian ayah. Mama juga semakin sibuk mengurus proyek dan acara-acara pernikahan serta pertunangan yang menggunakan jasa usaha mama.
Setiap hari, sepulang sekolah hanya ada aku Alex asisten pribadi ayah dulu dan Nena pembantu yang merawat ku sejak aku kecil. Tak ingin berlarut akan kepergian ayah, aku mencari tahu karena pihak kepolisian tidak menemukan petunjuk sama sekali.
“Alex, apa kau merasa ada yang janggal dengan kematian ayah”.
“Maaf tuan muda, apakah anda ingin main game bersama saya”.
“Boleh, ayo ke kamar ku saja”.
********
Entah apa, Alex seperti memberikan isyarat untuk diam dan duduk. Sesaat kemudian Alex menyalakan televisi dan menutup tirai serta mematikan lampu.
Aku heran dengan tingkah Alex tapi dia seperti memberiku isyarat untuk diam.
“Ada apa?” tanya ku lirih.
Alex justru menjawab ku dengan bahasa isyarat.
“Kita bicara dengan menggunakan tab saja tuan muda, situasinya tidak memungkinkan untuk bicara secara langsung”.
Aku mengangguk mengiyakan permintaan Alex. Alex menghidupkan Ps 5 dan menyalakan volume yang cukup keras. Setelah siap, Alex kemudian menuliskan di layar tab milikku.
“Kematian Ketua memang bukanlah hal yang terjadi tidak sengaja, ada yang sudah merencanakannya tuan muda. Bahkan kepolisian memilih untuk bungkam berarti ini bukanlah kasus yang ringan. Seseorang dibalik kematian Ketua adalah orang yang memiliki pengaruh yang besar tuan muda”.
Sejenak aku berpikir apa yang dimaksud oleh Alex. Sesaat kemudian aku sadar, Alex sedang memberitahu ku apa yang terjadi secara hati-hati.
“Jadi maksud kamu adalah ….”
Alex langsung menutup mulutnya dengan jari telunjuk di depan mulut pertanda memintaku untuk diam dan tenang. Sesaat kemudian, aku memilih mengajak Alex untuk beramain PS dan menanyakan hal yang sebenarnya terjadi kepada Alex agar tidak ada yang mencurigai ku dengan Alex.
“Ayo Alex kita bermain sepak bola saja aku sedang ingin mengalahkan musuh-musuhku,” ajakku.
“Baik Tuan muda,” jawab Alex.
Tok tok
Sebuah suara ketukan pintu datang memecahkan suasana permainan antara aku dengan Alex. Aku dan Alex langsung berhadap hadapan. Alex yang paham langsung membukakan pintu.
“Permisi Tuan muda, saya Dandi diminta nyonya untuk memastikan keadaan anda.”
“Silakan masuk,” ucap Alex seraya dengan membukakan pintu.
“Ada apa pak Dandi?” tanyaku.
“Sebagai pengawal sudah sepatutnya saya memeriksa kondisi Anda Tuan muda.”
“Oh aku baik-baik saja pak, jika sudah kamu bisa langsung keluar aku ingin bermain dengan Alex.”
“Baik tuan, permisi,” ucap Dandi setelah memastikan keadaan di kamar Bagas dengan teliti.
“Iya.”
Setelah Dandi keluar, Alex langsung mengunci pintu dan menatapku dengan tatapan dan perasaan yang sama.
“Aku tahu kamu pasti memikirkan hal yang sama denganku Alex.”
Alex hanya mengangguk dan mengankat tab dari bawah bantal yang nyaris dia duduki.
“Kita harus hati-hati mulai dari hari ini Alex, kamu satu-satunya orang yang aku percaya kali ini.”
Hari ini kuputuskan dengan sungguh-sungguh aku akan menuntaskan teka-teki pelik ini begitu pula dengan menuntut keadilan atas kematian ayah.
***
Dengan amarah dan keyakinan penuh, Bagas berjanji pada dirinya sendiri akan menuntaskan pertanyaan dan mencari kebenaran yang ada dari semua kejadian yang menimpa dirinya dan ayahnya. Bagas mulai menyadari bahwa semua gerak-gerik dirinya dan Alex diawasi di dalam rumah entah atas perintah siapa. Namun, satu yang pasti ada seorang musuh di dalam selimut yang paham betul keadaan yang sebenarnya.
********************************************
Bersambung......
Selamat datang di Novel baru karya Penulis
Selamat membaca dan penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun untuk perbaikan karya-karya selanjutnya
Salam
Terimakasih