
Sorenya, Bagas tengah berada di ruang bawah tanah bersama dengan Jordan. Mereka berdua menghitung dan memastikan barang berharga itu sampai dengan aman dan selamat.
“Tuan, masalah tanah telah diselesaikan. Proses balik nama dibatalkan, dan kini setifikat tanah sudah dibawa pihak firma hukum tuan Alden,” lapor Jessi kepada Bagas yang tengah duduk di ruang bawah tanah miliknya.
Jessi baru saja tiba dirumah dan menanyakan kepada pelayan di mansion keberadaan Bagas.
“Dimana tuan Bagas, Rini?” tanya Jessi.
“Tuan ada di ruang bawah tanah nona, sedari tiba belum juga keluar. Bahkan makan siang kami antarkan kesana.”
“Baiklah kalau begitu, bagus.”
“Kamu ingin makan dulu Jessi?.”
Jessi menggelengkan kepala dan pergi menuju ke ruang bawah tanah. Sesampainya disana, dia melihat Jordan bersama dengan Bagas di ruang bawah tanah. Jessi langsung berjalan menghampiri.
“Tuan, masalah tanah telah diselesaikan. Proses balik nama dibatalkan, dan kini setifikat tanah sudah dibawa pihak firma hukum tuan Alden,” lapor Jessi kepada Bagas yang tengah duduk di ruang bawah tanah miliknya.
Bagas menoleh ke arah Jessi yang baru saja melapor. Dia tersenyum dan memberikan jempol ke arah Jessi.
Jessi merasa bangga atas kerja kerasnya yang diakui majikannya.
“Bagaimana dengan keadaan di pertanian itu?” tanya Bagas.
“Tanahnya cukup subur tuan, sayang sekali tidak dirawat dengan baik.”
“Tidak masalah, kita akan mengurusnya dengan baik.”
“Baik tuan, lalu bagaimana kita akan meng-uangkan semua ini?” tanya Jessi yang penasaran bagaimana mereka akan mengubah emas batangan begitu banyak ini menjadi uang dalam waktu cepat, terlebih tanpa lisensi.
“Jordan sudah mengurus masalah ini, kamu tenang saja.”
“Baiklah tuan, saya pamit dulu.”
“Iya, kamu bisa libur hari ini dan bekerja sift malam untuk besok.”
“Terima kasih tuan.”
Jessi pergi, dan Jordan diminta untuk mengantarkan Jessi keluar sekaligus mengambil beberapa berkas yang Jessi urus.
Di dalam ruang bawah tanah ini, Bagas melihat sebagian kecil kekayaan yang dia kumpulkan di luar negeri tertata rapi di rumahnya sekarang. Dia sengaja membawa pulang emas-emas ini untuk mendanai proyek besar yang akan dia kembangkan selama menjadi Presdir. Selain itu, dia juga butuh dana untuk bekerja. Dimana, di tempat baru ini dia bahkan tidak begitu paham siklus bisnis dan pihak mana yang akan menguntungkan dirinya.
Bagas tersenyum, tapi tiba-tiba dia mendapatkan panggilan masuk dari sahabatnya.
“Hai, An. Tumben sekali menelpon?” Tanya Bagas dalam panggilan itu.
“Halo, brother. Lama tidak berkabar, aku jadi rindu. Dimana sekarang kamu? Aku tanya kepada Natalie, katanya kamu jarang datang ke perkumpulan.”
“Iya, aku pulang ke Indonesia.”
“Oh ya, aku juga ada di Indonesia.”
“Bagus, apakah bisa kita bertemu?.”
“Boleh, malam ini bagaimana?.”
“Boleh, kirim saja alamatnya.”
“Oke, aku tunggu ya.”
******
Malamnya, Bagas pergi bar terdekat dengan kota. Lokasinya cukup dekat dengan kantornya. Tapi, dari mansion dia harus menempuh jarak sekitar 2 jam. Jalanan yang cukup macet, ditambah dia pergi menyetir sendiri di kota baru dan tentunya gaya menyetir orang-orang di negara ini berbeda dengan tempat dia di luar negeri.
Sesampainya di bar, Bagas langsung menggunakan jasa valet untuk memarkirkan mobil sport miliknya. Hanya saja setelah itu, dia langsung masuk. Dari pintu masuk, dia melihat banyak sekali muda-mudi berpakaian terbuka dan bebas berada di sana. Mereka bahkan tidak cukup malu untuk saling memeluk dan mencium di tempat seperti ini.
"Sial, ku kira di negara ini tidak akan sebebas ini," gumam Bagas pelan.
"Bagas," panggil Andreas saat melihat Bagas yang berjalan masuk ke bar.
Bagas yang langsung paham temannya mendekat, bergegas menghampirinya.
“Halo, Bagas. Sebelah sini.”
“Kamu kikuk sekali, tidak biasanya begini, Toh biasanya juga pergi ke bar kan,” ejek Andreas.
“Aku hanya kaget saja, di negara yang penuh dengan budaya santun dan tentunya memeluk tegak norma agama. Ternyata ada sisi gelapnya juga.”
“Haha, beginilah kondisi sebenarnya, kadang kita hanya melihat apa yang tampak depan dan mendengarkan suara terbanyak, padahal kenyataan minoritas seperti ini ada dan banyak, hanya tidak terekspos dengan baik saja.”
Bagas mengangguk saja. Dia memang biasa pergi ke bar ataupun sudah akrab dengan dunia malam. Namun, ini dia lakukan semata-mata untuk urusan bisnis atau untuk bertemu klien itu saja. Selebihnya, dia lebih suka berburu, memancing, atau hiking. Bahkan, selama dia tinggal di luar negeri, Natasha adalah wanita yang dia cintai dan ingin dinikahi. Namun, mengetahui sisi buruk Natasha membuatnya enggan dan memilih bermain wanita seperti playboy. Walaupun pada akhirnya dia tidak tidur dengan siapapun.
Keduanya lalu berbincang tentang banyak hal. Andreas juga meminta Bagas untuk bertemu dengan seseorang. Dia yakin kali ini, Bagas akan berterima kasih karena mengenalkan dengan wanita yang tepat. Pasalnya dulu, sebelum Natasha. Bagas pernah memiliki wanita yang dia suka, wanita yang lebih dewasa darinya yang dia kenal bersama dengan Andreas. Hanya saja, wanita itu memilih menikah dengan laki-laki kaya dan pindah ke Perancis demi mengikuti suaminya. Tapi, Bagas dan wanita itu tidak memiliki hubungan. Mereka menjalani hubungan tanpa status, dan dengan wanita itu juga Bagas melepaskan ciuman pertamanya pada salju pertama di tahun pertama mereka berkenalan.
Keesokan harinya, Bagas berangkat ke kantor untuk urusan administrasi dan perkenalan dengan para karyawan dan manajer untuk segera melakukan koordinasi pekerjaan.
“Pertemuan akan segera dimulai tuan,” lapor Boy yang sedang berdiri sembari membacakan agenda Bagas seharian ini.
“Baiklah, atur saja serapi mungkin. Tapi, pukul 15.00 aku ada janji.”
“Baik tuan, akan saya jadwalkan.”
**Tok tok
“Masuk,” perintah Bagas.
“Peserta rapat sudah siap tuan,” lapor Felis yang merupakan sekertaris Adam sebagai presdir.
Bagas berdiri dan pergi ke ruang rapat. Sepanjang rapat dimulai, dia mendapatkan respon positif dan tentunya mereka menerima projek baru yang Bagas berikan terkait proyek perumahan itu.
Selain itu, Bagas juga meminta manajer SDM merekrut petani handal untuk bekerja pada Bagas di perkebunan miliknya yang akan dia bangun sesegera mungkin.
Setelah rapat selesai, Bagas pergi ke bagian keuangan untuk meminta melakukan audit ulang laporan keuangan dan mulai melakukan pencatatan terstruktur lebih baik. Karena dalam waktu 1 tahun sampai 2 tahun kedepan, Bagas akan membuat perusahaan menjadi PT yang menawarkan saham secara umum.
Tidak berhenti sampai disitu, setelah jam makan siang Bagas pergi ke kantor hukum Albert dan mengajukan tuntutan kepada ibunya atas perusakan aset dan perebutan aset yang tertulis dalam surat wasiat menjadi atas nama ibunya, mencakup perusahaan, saham milik ayahnya di bank, beberapa uang deposit dan saham rumah sakit milik ayahnya yaitu RS Slamet Rahayu yang menjadi rumah sakit terbaik di negara ini.
Bagas meminta pihak lawyer untuk segera mengusut masalah ini dan mengajukan gugatan kepada ibunya.
“Apakah anda yakin tuan?” tanya Gilbert yang merupakan pengacara mitra yang berbakat di negara ini, dan merupakan pengacara andalan tuan Albert.
“Saya yakin.”
“Konsekuensi dari gugatan ini adalah perang dingin antara anda dan keluarga anda, ibu Dinda tentunya.”
“Saya tidak masalah. Toh semenjak dia memiliki kekasih, saya bukan lagi putranya.”
“Baiklah kalau begitu tuan, saya akan segera mengurus gugatan ini.”
Bagas kemudian mengangguk dan memastikan jam di tangannya, ternyata sudah pukul 14.15.
“Baik kalau begitu, saya mohon pamit karena saya masih ada urusan,” pamit Bagas.
“Baik tuan, hati-hati di jalan."
Boy menunggu di luar, dia menyetir mobil Bagas dan mengantarkan kemanapun Bagas pergi.
“Mana kunci mobilnya,” pinta Bagas.
“Kenapa tuan? Saya yang akan menyetir.”
“Aku ada urusan, kamu kembali saja ke kantor dan selesaikan proposal untuk proyek perumahan itu, karena kita harus segera mengajukan proposal kepada klien dalam waktu 10 hari.”
“Baik tuan.”
Boy pergi ke kantor dengan memesan taksi, dan Bagas pergi ke kafe yang telah ditentukan oleh Andreas.
**
Setibanya di kafe, Bagas masuk dan menuju ke kursi di samping jendela sesuai perintah Andreas.
“Bagas, sebelah sini,” panggil Andreas yang duduk bersama seorang wanita.
Wanita itu tidak asing, dia menatap ke arah Bagas dengan tatapan kaget dan kesal.