ANGKARA

ANGKARA
08. Kekesalan Manda



Wanita yang ke arah Bagas dengan tatapan kesal itu, tak lain adalah Manda. Dia menatap kesal ke arah Bagas, karena beberapa hari berlalu dia tidak mendapatkan kabar dari Bagas. Tapi, apa ini! Beraninya dia pergi ke acara kencan buta yang dirancang oleh Andreas.


“Kemarilah, jangan berdiri seperti patung di sana,” ucap Andreas meminta kepada Bagas.


Bagas mengangguk dan dengan malu berjalan ke arah Manda.


“Manda,” sapa Bagas saat sudah duduk di samping Andreas dan berhadapan dengan Manda.


“Hmm,” jawab Manda malas.


“Oh kalian saling kenal.”


Manda dan Bagas menjawab dengan jawaban berbeda.


“Iya,” jawab Bagas.


“Tidak,” jawab Manda malas.


“Manda,” panggil Bagas pelan dan lembut.


“Apa?” tanya Manda pura-pura tidak tahu.


Bagas langsung berdiri, “Maaf An, sepertinya aku harus pergi karena suatu urusan,” jelasnya kemudian menarik Manda pergi.


“Hei, mau kemana kalian?” tanya Andreas yang tidak digubris keduanya.


“Lepas Bagas, kita mau kemana?” tanya Manda yang kesal.


“Pergi, bicara! Kedua hal itu akan kita lakukan di tempat yang pas.”


Bagas lantas meminta Manda masuk dan mengemudikan mobilnya menuju ke suatu tempat yang dia rasa kondusif untuk bicara.


Bagas mengemudikan mobilnya menuju ke salah satu villa miliknya yang berada di atas bukit. Villa yang dikelola oleh keluarga Bagas, dan kini terbuka menjadi tempat liburan dan menginap bersama keluarga dengan konsep alam dan furniture dari kayu.. Tapi, sebelum itu keduanya berhenti di toko pakaian dan Bagas membeli pakaian agar dia terlihat mengenakan pakaian yang sama dengan Manda.


"Aku akan mampir sebentar ya."


"Kenapa mampir ke toko baju?" tanya Manda kesal.


"Tunggu saja di sana."


Manda menurut tapi, dia memilih keluar dari mobil dan menunggu di luar. 30 menit kurang lebih berlalu dan Bagas terlihat keluar dengan jaket kulit yang hampir senada dengan dirinya.


Pftt


Manda tersenyum melihat Bagas yang tampak bereda. Dia rela membeli baju hanya untuk terlihat sama dengan Manda.


"Bagaimana penampilan ku? Bagus kan?."


Manda hanya mengangguk dan menahan tawa.


Bagas langsung membukakan pintu dan melanjutkan perjalanan menuju ke villa. Sepanjang jalan mereka belum berbincang, tapi setidaknya suasana lebih mengenakkan daripada ketika berangkat tadi.


Pukul 17.45


"Apakah masih jauh?" tanya Manda.


"Sebentar lagi, kamu sudah tidak sabar?."


"Tidak, aku hanya merasa pantatku panas karena duduk seharian," ucap Manda kesal.


Tapi, ucapan spontan itu justru membuat Bagas tertawa dan keduanya tertawa.


Pukul 18.20, keduanya tiba di villa. Para penjaga datang menyambut Bagas dan langsung mengarahkan keduanya untuk makan malam di tempat yang sudah di persiapkan.


Keduanya diajak masuk ke rumah utama di villa itu dan diarahkan ke salah satu balkon dengan bagian luarnya yang luas dan terlihat hamparan rumput hijau disana. Terlihat sangat indah dan menyejukkan. Bagian bawah rupanya perkebunan dan taman bunga yang indah. Taman itu memiliki lampu taman yang redup tapi indah. Cahaya remang yang dipancarakan rupanya memiliki fungsi, agar pengunjung dapat melihat dengan jelas pemandangan indah di atas langit.


"Manda, lihat di atas," pinta Bagas.


Bagas menatap ke atas dan melihat dengan jelas pemandangan yang amat sangat indah. Langit yang terpancar cerah karena pantulan bintang yang bertaburan di luasnya hamparan langit tanpa batas.


"Indah sekali," puji Manda.


"Iya, indah sekali," tambah Bagas yang justru memuji paras cantik Manda ketika kagum dan melihat langit sembari tersenyum lebar.


Sekilas, kemudian Bagas teringat tujuannya. Menaklukkan hati Manda bukan untuk takluk kepada Manda.


"Andai saja ayahmu bukan pembunuh," batin Bagas dalam hati.


Bagas lalu mundur satu langkah. Menjaga jarak dan memilih memperhatikan dari jauh.


"Bagas lihat itu," ucap Manda sekaligus menoleh ke belakang tapi dia nyaris jatuh.


Untung saja Bagas sigap dan langsung meraih Manda. Memeluk Manda dan menjaganya tetap aman.


"Makanya jangan sembarangan," omel Bagas.


"Maaf," ucap Manda dengan mulut cemberut.


Bagas tersenyum dan menunjukkan sesuatu di sakunya, masih dalam posisi memeluk Manda.


"Aku ada hadiah untuk mu."


"Apa itu?."


"Bagas lantas membuka tangannya yang dia masukkan ke saku.


"Apa?" tanya Manda penasaran.


Bagas lantas mengeluarkan karet rambut yang dia beli tadi.


"Ini dia," ucapnya.


Manda tersenyum dan langsung menerima itu.



***


"Maaf tuan, ada longsor di jalan penghubung kota dengan desa ini. Jadi, sepertinya malam ini anda harus menginap."


"Apa?" ucap Manda kaget.


"Apakah tidak ada jalur alternatif lain?" tanya Bagas.


"Tidak ada tuan."


Keduanya menyerah dan pasrah, tanpa berpikir panjang. Mereka setuju untuk menginap, hanya saja lagi-lagi ada kendala di kamar tidur.


Mereka diantarkan ke villa dengan dua kamar di dalamnya. Karena, villa yang lain sudah dipesan dan kini sedang penuh. Sehingga mereka harus tidur di satu rumah yang sama, hanya berbeda kamar. Tadinya, Manda menolak karena tidak ingin terjadi hal yang tidak di inginkan. Tapi, Bagas meyakinkan bahwa akan menjaga Manda dengan baik. Setelah berdebat, keduanya akhirnya setuju tidur di satu atap yang sama.


"Aku akan tidur di kamar bawah, kamu di lantai atas ya," pinta Manda.


Bagas mengangguk dan langsung pergi ke kamarnya, sementara Manda memilih langsung pergi ke kamar. Baru saja dia hendak mandi, tapi dia merasa kamar mandinya cukup menyeramkan, ditambah lagi lampu di kamar mandi mati. Tapi, dia berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya baik-baik saja.


Hingga saat dia mandi dan ingin tidur, tapi saat membuka pintu kamar. Pintu macet.


"Bagasssss," teriak Manda.


Bagas yang tengah beristirahat dengan memainkan game di ponsel langsung berlari ke arah Manda.


"Ada apa?."


"Aku terkunci," teriak Manda dari dalam kamar.


"Astaga," oceh Bagas tidak percaya. Baru saja dia berusaha membuka pintu, tapi ganggang pintunya jatuh.


"Shitt, menjauh dari pintu," teriak Bagas.


Manda menurut dan menjauh dari pintu. Alhasil dia bisa keluar dengan mendobrak pintu kamar.


"Aku takut, bisakah aku tidur bersamamu di atas," pinta Manda ketika keluar.


Bagas hanya mengangguk dan setuju.


Pukul 23.10


Bagas masih memainkan game dan memilih tidur di sofa. Tapi, Manda yang tidur di kasur merasa mendengar sesuatu.


Krasak krusuk


Krasak


Prank


Suara sesuatu jatuh


"Apakah kamu mendengarkan itu?"


Bagas hanya mengangguk dan memilih melanjutkan bermain ponsel.


"Mari kita periksa."


"Untuk apa?" tanya Bagas.


"Ayolah."


"Huft," ucap Bagas mengela nafas. Tapi, pada akhirnya dia setuju pergi ke bawah untuk memeriksa.


Bagas berjalan di depan, sementara Manda di belakang dan berhenti di pantri kecil di depan kamar Bagas. Dia mengambil sebuah teflon dan membawanya ke bawah.


"Biarkan aku di depan," pinta Manda dengan percaya diri.


"Terima kasih."


"Sama-sama, apakah sekarang kita baikan?" tanya Bagas.


Manda hanya mengangguk, dan keduanya kembali fokus ke pemandangan dan memilih melanjutkan untuk makan malam setelah menempuh perjalanan panjang untuk menyaksikan pemandangan indah ini.



Meow


"Oh, kucing ternyata," ucap Manda lega.


Bagas hanya menggelengkan kepala dan kembali ke kamar.


"Tunggu aku," teriak Manda sekaligus berlari secepat kilat menyusul Bagas.


Sesampainya di kamar, Bagas memilih untuk mengambil posisi tidur di sofa.


"Kamu sudah ingin tidur?" tanya Manda.


"Iya," jawab Bagas pelan.


"Kenapa? Sudah mengantuk?."


"Tidak, tapi aku ingin tidur."


"Kenapa, kita bisa berbincang dulu," ajak Manda.


Bagas kembali duduk dan berdiri, dia berjalan ke arah Manda yang berdiri di samping ranjang. Bagas berjalan dan menarik pelan Manda menuju ke kasur. Manda masih dalam posisi duduk, tapi Bagas meminta dia mengambil posisi duduk setengah tidur dengan menarik kakinya ke kasur dan menyelimuti Manda.


"Kita dua orang dewasa, jika terus berbicara mungkin aku akan lepas kendali," ucap Bagas spontan.


Pipi Manda merah seketika, dia merasa sangat malu dan kaget. Tanpa disadari Bagas tersenyum karena berhasil membuat Manda tersipu.


"Cepat tidur atau aku akan memakanmu," ucap Bagas kemudian berdiri dari sisi ranjang dan mencium pucuk rambut Manda, sebelum akhirnya pergi ke sofa dan tidur.


Manda masih belum sadar dan ketika dia sadar dia langsung meringkuk di kasur dengan perasaan berdebar campur aduk.


"Astaga, apa-apaan ini. Dia barusan menggoda ku," omel Manda dalam hati.