ANGKARA

ANGKARA
02. Tumbuh Dewasa



“Bagas,” panggil Natasha yang merupakan asisten pribadi sekaligus kekasihnya.


Kini, genap 10 tahun semenjak kejadian naas yang menimpanya di 10 tahun yang lalu. Semua hal dalam hidupnya berubah drastis. Bagas dikirimkan keluar negeri setelah lulus SMA dan menempuh kuliah S1 jurusan hukum dan S2 Manajemen Administrasi Bisnis tanpa diizinkan kembali oleh sang ibu. Semua kekuasaan perusahaan ayahnya menjadi atas nama ibunya.


Ibu yang dulu dia cintai itu, melupakan anaknya demi lelaki yang baru saja menjadi suaminya itu. Namun, Bagas tidak merasa sedih dan terpuruk. Dia justru tertantang dan mampu mencimpatkan perusahaan bidang keuangang terbaik nomor 1 di negaranyanya, dan terbaik nomor 4 di dunia. Kini, dia memutuskan pulang untuk membalas dendam dan merebut apa yang sedari dulu adalah miliknya. Tidak hanya itu, Bagas merelakan meninggalkan tempat dia tumbuh besar menjadi laki-laki tangguh dan kaya demi membalaskan dendam kematian ayahnya.


Kini dia tumbuh dewasa, gagah, tampan dan mapan secara finansial. Kemampuan fisik tidak perlu diragukan lagi. Dia sudah menekuni olahraga beladiri, berkuda, boxing, tinju, memanah dan menembak demi bertahan hidup di dunia yang penuh dengan plot twist ini. Bahkan, orang terkasihnya saja bisa membuangnya. Lantas siapa yang bisa dipercaya selain diri sendiri.


**


“Anda dilarang masuk nona,” cegah pengawal Bagas.


Bagas menolehkan wajah dan menatap Natasha yang berdiri di depannya. Natasha memang cantik, hanya saja dia tidak memiliki latar belakang yang bagus. Dia hanya pintar dan memiliki wajah cantik. Selebihnya hanyalah fana. Dia bahkan adalah anak yang dibesarkan di panti asuhan. Mustahil keluarga Bagas akan menerimanya.


“Bagas, sayang,” panggil Natasha.


Bagas mengesampingkan tingkat manja Natasha dan duduk di sofa.


“Ada apa?” tanya Bagas.


“Aku hamil,” kata Natasha dengan wajah berbinar.


Bagas sangat kaget. Dia bahkan tidak berniat menikahi wanita ini, kenapa dia bisa hamil.


Tapi, Bagas masih mengontrol ekspresi wajah nya dan meminta Natasha menunggu dulu di rumah sampai dia memanggilnya karena ada urusan yang harus dia lakukan.


“Benarkah, sayang?.”


“Iya, Bagas.”


“Kalau begitu kamu harus banyak beristirahat, sekarang kamu harus pulang. Rudi akan mengantarkanmu,” perintah Bagas.


Natasha yang tahu bahwa perintah Bagas apapun itu harus dilaksanakan. Jadi, dia menyetujui itu dengan mudah. Natasha lantas pulang diantarkan Rudi. Setelah Natasha pergi, Bagas meminta Jessi dan Alex untuk masuk ke ruangannya.


***


Tok tok


“Masuk,” pinta Bagas.


“Anda mencari kami, Tuan?” tanya Jessi.


“Iya, masuk.”


Keduanya masuk dan berdiri tepat di depan Bagas yang tengah duduk di depannya.


“Aku akan melakukan perjalanan bisnis, kali ini akan lebih lama. Untuk itu, Jessi kamu harus menjaga rumah.”


“Baik tuan.”


“Alex, kamu harus ikut dengan ku. Kita berangkat besok pagi. Siapkan semuanya termasuk tempat tinggal.”


“Siap Tuan. Semuanya sudah dipersiapkan, untuk tiket pesawat akan segera saya pesan.”


“Bagus, kerja bagus Alex. Kamu bisa keluar sekarang.”


“Baik tuan.”


Kini tinggal Jessi dan Bagas di dalam ruangan kerja Bagas. Bagas berdiri dan menuju ke meja kerjanya. Dia membuka laci dan mengeluarkan sebuah amplop. Dari dalam amplop itu, Bagas mengeluarkan belasan foto. Ada Natasha di dalamnya, dia terlihat sangat bermesraan berciuman dan bahkan ada foto keduanya mandi dengan bikini di kolam renang. Tapi, tentunya ini bukan dengan Bagas.  Bagas mengeluarkan foto itu dan melemparnya di meja.


“Selidiki siapa laki-laki itu, minta dia bertanggung jawab atas bayi Natasha.”


“Baik tuan,” jawab Jessi sambil memungut foto-foto itu.


“Jika Natasha enggan, tunjukkan foto ini. “


“Baik Tuan.”


Jessi kemudian berjalan mundur dan hendak keluar.


“Jessi, tunggu sebentar.”


“Iya tuan, ada apa?.”


“Jika keduanya mengelak, maka selesaikan dengan cara kita,” pinta Bagas.


“Selesaikan itu,” tambah Bagas sebelum Jessi keluar, perintah Bagas kepada Jessi yang merupakan ajudan setia Bagas setelah Alex. Kali ini, Jessi harus tinggal di sini untuk mengurus bisnis Bagas sekaligus mengurus wanita menyebalkan itu.


Bagas memang enggan dan sudah tidak tertarik dengan Natasha. Bahkan dia ingat, dia sudah tidak sudi tidur bersama Natasha sejak awal. Dia hanya selalu sadar ketika mabuk, walaupun berciuman. Ketika lawan mainnya pingsan, dia akan pergi dan meninggalkan wanita itu. Dia masih menjaga dirinya demi hal-hal seperti ini.


“Wanita gila yang mengincar harta,” kata Adam sedari awal yang enggan memiliki keturunan dengan wanita yang akan berpotensi mengkhianatinya dan meninggalkannya, sama seperti yang ibunya lakukan dulu.


***


Malamnya, setelah tiba di negara dia lahir. Bagas bergegas menuju ke rumah yang disiapkan oleh Alex.


“Apa langkah selanjutnya tuan? tanya Alex.


“Baik tuan, untuk poin kedua saya mendapatkan informasi bahwa beliau sudah pensiun dan tinggal di desa.”


“Kirimkan saja orang ku kesana, tunjukkan itikad baik dan serang ibuku. Dinda tidak berhak atas harta ayah.”


“Baik, Tuan.”


Alex lantas pergi, sementara Bagas memilih mandi dan istirahat.


***


Brukk


“Aw,” keluh wanita cantik yang tanpa sengaja menabrak seseorang.


“Maaf,” kata seseorang yang ditabraknya. Laki-laki dengan suara berat dan tampan berada di depannya.


Manda mendongak ke atas dan menatap wajah laki-laki itu. Dia merasa tidak asing, bahkan suara itu tidak asing di telinganya.



Manda berdiri, dia manatap lekat laki-laki di depannya dan berkata, "apakah anda sopir taksi yang saya pesan?."


Baget dan berkata tidak sembari tangannya seperti berkata jangan mendekat. Bagas lantas bertanya, "Jika anda baik-baik saja, maka saya akan pergi."


"Manda mengangguk dan berkata, "Saya baik-baik saja, maaf sudah menabrak anda."


"Tidak apa-apa," kata Bagas kemudian pergi.


Bagas lantas naik ke mobilnya dan bergegas pulang.


“Dia masih tetap saja bodoh rupanya,” keluhnya.


“Ada apa tuan?” tanya Alex.


“Tidak apa-apa, ikuti lagi dia 3 hari lagi dan sampaikan dimana dia. Aku akan membuat kita bertemu tanpa sengaja lagi.”


“Baik tuan, tapi kenapa tuan tidak datang langsung saja dan meminang nona Manda?” tanya Alex.


“Tidak, jika begitu dia tidak akan terluka. Dia harus sangat mencintaiku hingga cinta itu bercampur dengan benci nantinya,” kata Bagas.


Alex terdiam, dia tidak mengira tuan mudanya memang sangat berambisi dalam misi balas dendam kali ini. Jika, dulu merebut kekuasaan mafia lain di daerahnya bisa dia lakukan dalam 2-3 minggu, dengan mudah dia rencanakan dan tanpa ambisi sekuat ini. Namun, kali ini dia melihat mata milik tuannya memancarkan aura seperti ingin membunuh.


3 hari kemudian, Bagas pergi ke lokasi dimana dia berjanjian untuk bertemu dengan mantan pengacara dan notaris ayahnya.


"Tuan Alden," sapa Bagas.


"Selamat datang tuan muda," sapa Alden.


"Tidak perlu sungkan begitu, santai saja," pinta Bagas.


Keduanya kemudian duduk dan mulai berbincang. Alden menyampaikan bahwa perusahaan ayahnya diambil alih ibunya dengan membeli saham swasta yang hampi 40:60. Dimana 40 milik ibunya dan selingkuhannya, 40 milik Bagas dan sisanya milik swasta asing.


"Mereka hanya menunggu anda kembali, Tuan muda. Ibu anda berniat mengakusisi saham anda. Tapi, saya secara hukum dan atas nama firma hukum saya menjamin bahwa itu tidak akan terjadi. Surat wasiat ayah anda aman, begitu juga dengan harta warisan anda."


"Lalu, kenapa anda memilih pensiun?."


"Mereka mencoba mencelakai ku, dan lihatlah kaki ku satunya. Aku tidak bisa berjalan norma karena kakiku satunya harus menggunakan alat bantu."


"Astaga, jahat sekali mereka."


"Memang begitu, saya juga kaget. Nyonya Dinda bisa gila harta demi laki-laki yang bahkan tidak bekerja itu."


"Aku tidak peduli dengan mereka Tuan Alden, saya mohon bantu saya untuk segera melakukan transfer saham dan harta warisan saya. Segera!."


"Hal ini pasti akan segera kami lakukan tuan, tapi untuk perusahaan. Agaknya anda harus mencari dukungan lain. Nilai dan komposisi saham anda sama dengan nyonya. Jika, ingin  menang, setidaknya unggullah dari mereka."


Bagas terdiam dan kemudian berkata," saya akan membeli 20% saham itu, tolong bantu carikan siapa mereka."


Alden tersenyum, "Saya tahu. Tuan akan bertindak demikian. 8% saham itu mili saya, 2% nya milik firma hukum saya. 2% itu tidak bisa saya jual, namun 8% akan saya lepaskan tanpa biaya."


"Kenapa demikian tuan Alden."


"8% itu milik kakekmu, beliau membeli dan meminta atas nama saya. Karena, beliau tahu semua harta akan di ambil ibumu. Jadi, beliau selalu menjaga hartanya atas nama orang lain demi cucunya, bahkan sampai akhir hayat beliau."


"Kakek rupanya."


"Benar tuan, sisanya 5% milik paman Anda dari ayah, dan 5% milik seorang wanita bernama Manda. Saya tidak tahu siapa wanita itu."


"Manda rupanya, untuk 5% itu, saya tidak bisa menjami. Paman hanya akan memihak pihak yang memiliki uang dan aku yakin dia akan memihak ibuku. Untuk 5% atas nama nona Manda, saya akan mendapatkan itu."


"Bagus sekali tuan, saya beri waktu 30 hari. kita percepat saja sebelum rapat jabatan presdir yang kini di duduki ibu anda, jabatan itu selalu mengalami perubahan setiap tahunnya dan akan segera dilaksanakan 45 hari lagi. Kita harus merebut itu sebelum terlambat."


"Baik tuan Alden, anda tenang saja. Saya juga mengucapkan terima kasih."