
Ananta menghelangi Aera yang terus memberontak ingin mengejar Reyan. Pria yang sudah menghina dirinya.
''Lo yang amatir sembarangan nuduh gue lo pikir, lo siapa''teriak Aera tidak terima.
''Sabar Th sabar''ucap Ananta mencoba lagi menenangkan Aera.
''Anta lo ngapain kenalin gue ke dia, dia nuduh gue amatir Anta lo akhhhh''teriak Aera yang langsung pergi keluar dan menuju kamarnya.
''Aduhh''ringis Ananta karena mendapat tabokan dari Aera.
Saat melihat ke arah leptop Ananta tidak sengaja mendengar suara yang bergaduh dari luar.
''Th Tatan''ujar Ananta yang di mana di sana melihat Aera sedang membuang semua lukisan lewat jendela kamarnya.
Brakkk
Brakk
Brakk
''Th Tatan udah Th''teriak Ananta di arah bawah kamar Aera yang sudah kewalahan menangkap lukisan yang di lempar oleh Aera dari arah jendela kaca.
Saat sebuah lukisan spesial yang terakhir yang ingin dibuang oleh Aera dengan segera Aera pun menghentikan melempar lukisannya lalu duduk di pinggir kasur.
Flashback on
''Anak kita itu gak aneh Mah''ucap ayah Aera.
''Yah aneh dong Pah makannya aja nasi kerak''kata Mama Aera.
Aera kecil terus mencorat coret dingding bahkan sampai ke kaca jendela rumah pun dicorat coretnya.
''Tania hei jangan dong di coret-coret Pah liat nih Pah kemarin dia coret-coret dingding sekarang malah kaca di coret-coret sinih Mama mau bicara sama kamu, kamu itu kenapa sih gak mau dengerin apa kata Mama''tegur Mama Aera yang sudah merasa lelah dengan ulah Aera kecil.
Ayah Aera pun berjongkok dan melihat coretan yang di buat oleh Aera di arah kaca jendela.
Flashback of
Di dalam kamar Aera duduk dengan nafas yang masih memburu dalam dirinya. Sedangkan Ananta di luar dekat jendela sedang memastikan agar Aera tidak lagi melempar lempar lukisannya sembarangan. Setelah semua aman Ananta masuk ke dalam kamar Aera. Memastikan jika Aera baik-baik saja di dalam sana.
Bayangan masa kecil Aera dengan sang ayah pun terus terbayang oleh dirinya sendiri bagaikan kaset yang di setel secara nyata di dalam memorinya.
Flashback on
Sebuah ruangan yang terlihat gelap menjadi terang saat saklar lampu di nyalakan.
Terlihat seorang ayah sedang berjalan dengan mengandeng seorang anak perempuan yang tak lain dia Aera kecil.
''Ayo duduk sini sayang, sini''ucap ayah Aera dengan hati-hati mendudukan Aera di sebuah kusi di sertai meja di hadapannya.
''Disini kamu mau coretzcoret apa saja boleh nak''kata ayah Aera.
''Kamu bukan anak yang aneh sayang tapi kamu adalah anak yang istimewah''ujar sang ayah.
Aera kecil hanya diam dengan terus mengambar gambar di sebuah meja di hadapannya dengan spidol yang tidak pernah lepas dari tangannya dengan mendengarkan sang ayah berbicara pada nya.
Flashback of
Aera menangis dengan menatap lukisan ayahnya di sertai hayalan masa kecilnya dengan sang ayah.
''Udah atuh Th jangan sedih''ucap Ananta merasa ikut sedih juga melihat Aera menangis seperti ini.
''Cuma Papa yang ngertiin gue''kata Aera.
''Banyak yang mengerti sama teteh buktinya yang beli banyak''ujar Ananta.
''Hiks berat rasanya gak ada Papa di hidup gue''ucap Aera merasa sangat sesak jika mengingat almarhum ayahnya.