All I Ever Want Is Your Love

All I Ever Want Is Your Love
Chapter 8



Setelah jam istirahat selesai, Victoria dan Reynald kembali ke kelas mereka masing-masing.


***


Detik jam terus berjalan, sudah lima jam pelajaran yang dilewati Vi dan tinggal satu jam pelajaran lagi maka kelasnya akan selesai. Di tengah-tengah kelas yang sedikit hening, hanya terdengar suara guru yang sedang menjelaskan materi pelajaran. Vi hanya terfokus kepada secarik kertas putih yang ada dimejanya, dan membuat coretan diatasnya. "Ahh, rasanya aku ingin pulang saja, bosan sekali. Kapan jam pelajaran ini akan berakhir." Guman Vi dalam pikirannya yang saat itu merasa bosan dengan semua yang ada disekelilingnya. Tidak ada yang bisa menarik perhatiannya sama sekali, bahkan materi pelajaran yang sedang dijelaskan.


"Aku benar-benar bosan sekali...." gumannya lagi seraya meletakan kepalanya tepat diatas meja yang ada dihadapannya saat ini, tak menghentikan aktivitasnya menorehkan tinta pulpen yang ia pegang ke kertas yang kini sudah terisi penuh dengan coretan-coretan yang tidak jelas bentuknya. Ia pun melakukannya berulang-ulang sambil sekali-sekali melirikan matanya ke arah jam dinding yang menggantung di atas papan tulis.


"Ahrgg..., kapan jam pelajaran ini berakhir, rasanya aku sudah mengantuk sekali..." Ucapnya lirih, hingga tidak ada seorang pun yang mendengar dirinya bebicara dengan sendiri.


***


Ring....ring.....ring.....


Bel tanda pelajaran selesai sudah berbunyi. Inilah yang sedari tadi Vi dan mungkin murid lain juga tunggu-tunggu. Semua murid yang ada di kelas itu bersiap-siap merapikan barang mereka kedalam tas masing-masing.  Setelah memberi salam kepada guru, seketika kelas itu menjadi riuh dengan perbincangan para siswa-siswi. Mereka pergi berhamburan dari kelas untuk pulang. Begitu pula dengan Victoria.


Gadis itu dengan senyuman manis yang mengembang di wajahnya, berencana untuk pulang dan langsung bersantai dirumahnya. Tapi baru saja ia mau melangkahkan kakinya untuk keluar kelas, Vi melihat Jefrey yang baru saja berjalan melawati kelasnya dan mengingatkan dirinya akan pembelajaran bersama setelah jam pulang sekolah, dan seketika itu juga senyum yang tadi masih tercetak di wajah manisnya, kini memudar tak meninggalkan jejak. 


"Ahhh, kenapa bisa lupa sih." Vi menepuk dahinya pelan karena melupakan hal yang begitu penting. "Lebih baik langsung ke perpus aja sekarang daripada aku yang rugi nanti." Setelah mengingat apa yang telah Jefrey Ucapkan, ia pun segera bergegas pergi ke perpustakaan. "Ahh, ada apa denganku hari ini. Padahal tadi pagi aku bersemangat sekali karena hari ini, tapi sekarang aku malah melupakannya. Dasar Vi...." gerutu Vi sambil memaki dirinya sendiri. Ia pun mempercepat langkah kakinya untuk sampai keperpustakaan.


***


Tapi sepertinya gadis itu melupakan sesuatu. Yah, apa lagi kalau bukan Rey yang biasa menunggunya. Kali ini rey sudah menunggu kehadiran Victoria, tapi sahabatnya belum juga terlihat olehnya. Akhirnya, Rey pun melangkahkan kakinya untuk pergi ke kelas Vi bermaksud menemui gadis itu. Tapi setelah ia sampai, Victoria sudah tidak ada di kelasnya karena kelas itu terlihat kosong. "Kemana manusia itu? Tidak biasanya menghilang begitu saja. Apa dia sudah pulang lebih dulu?tapi kenapa aku tidak melihatnya tadi." Rey bertanya-tanya dengan pikirannya sendiri. Biasanya Rey akan menunggu didekat gerbang atau didepan kelas Vi untuk pulang bersama dengannya. Tapi tidak untuk kali ini dia bahkan tidak melihat sahabatnya itu sama sekali. Rey merogoh saku kiri jaketnya untuk mengambil sebuah ponsel miliknya. Dengan cepat ia mencari kontak Vi dan mengirimi sahabatnya itu pesan.


Sedang Vi yang sudah berada diperpustakaan sambil menunggu Jefrey, ia memainkan ponselnya untuk mengurangi rasa bosan yang menghampiri dirinya. Dan kebetulan pesan singkat yang dikirim Rey masuk kedalam ponselnya.


Tringg....tringg...


Segera ia pun mebuka pesan singkat dari sahabat laki-lakinya


"Vi, kau sudah pulang lebih dulu? Atau kau masih ada disekolah? Balaslah cepat aku masih menunggumu didepan kelasmu."


-Reynald


Mata Vi membulat setelah membaca pesan singkat yang dikirimkan sahabat laki-lakinya itu. Bagaimana tidak kaget kalau ia biasa melupakan sahabatnya itu. "Ah, bod*h..., aku benar-benar melupakannya. Bagus dia mengingatkanku. Lebih baik kuberitahu dulu kalau aku ada di perpustakaan." Ia pun dengan cepat menekan tombol-tombol huruf pada keyboard ponselnya untuk membalas pesan singkat dari Rey.


Tringg....tring....Tringg....tring....


Tringg....tring....


"*Belum, aku masih disekolah. Tepatnya diperpustakaan."


"Lebih baik kau datang kesini baru akan kuberitahu kenapa."


"Cepatlah!"


"Tapi jika kau tidak mau juga tidak apa-apa, kau pulang saja nanti aku pulang sendiri dengan taksi."


-Victoria*


"Dia sedang diperpus? Tidak biasanya. Lebih baik aku kesana saja." Rey dengan cepat melangkahkan kakinya pergi ke ruang perpustakaan sekolahnya setelah membaca pesan singkat yang telah dikirimkan sahabatnya yang sedang ia tunggu. Tidak terlalu lama untuk Rey sampai diruangan yang penuh dengan buku-buku berjajar rapi diraknya. Dan tak tertinggal juga seorang wanita yang juga sedang duduk memainkan ponselnya disebuah tempat duduk disana. Rey kembali melangkahkan kakinya menghampiri gadis itu. Sedang Vi yang tengah asik melihat ponselnya, bahkan tidak menyadari seseorang sedang berjalan menuju meja tempat dirinya duduk.


"Hei, kau sedang apa disini? Tidak biasanya kau datang keperpustakaan. Apalagi tidak memberitahuku." Ucap Rey dengan tiba-tiba membuat gadis yang sedang duduk didepannya itu terkejut dengan kedatangan dirinya. "Astaga! Kenapa kau tidak bersuara saat berjalan. Apa kau ini hantu? Membuatku kaget saja." Gerutu Vi mengomeli laki-laki yang saat ini berdiri dihadapannya. "Kenapa jadi aku? Bukankah kau yang terlalu fokus dengan ponselmu hingga tidak menyadari jika aku sudah disini." Rey membalas gerutuan Vi yang menyalahkan dirinya. "Bukankah sudah kubilang jangan menyalahkanku. Kau selalu saja melupakannya." Gadis itu masih juga tidak mau mengalah hingga membuat sahabat laki-lakinya itu harus bersabar dan selalu mengalah dengannya. "Baik-baik aku yang salah. Selalu saja begitu." Vi tersenyum dengan rasa kemenangan. Dia pikir Rey pasti tidak akan mau berdebat dengannya dengan masalah sepeleh seperti ini, apalagi ini juga sedang diperpustakaan walau sedang tidak terlalu banyak orang. "Tapi, kenapa kau ada disini? Biasanya kalau disuruh belajar pun kau pasti akan menolak. Apa kau berubah pikiran sekarang." Tanya Rey sambil menggoda sahabatnya. Tapi tidak seperti biasanya saat Rey menggoda Vi. Biasanya akan terus mengerutu dengan mulutnya, dan kini bahkan gadis itu malah tersenyum dengan senangnya.


"Hei!" Rey mengeraskan sedikit suaranya menunggu gadis yang sedang tersenyum itu menjawab pertanyaannya. "Hehehehe, itu, apa kau ingat minggu lalu aku dipanggil oleh pak Arnold?" Rey berpikir sejenak untuk mengingat, ia baru sadar apa yang seminggu yang lalu Vi katakan dan mengingat kembali peristiwa sebelum dirinya mengajak Vi kekanti. Dia melihat Vi dan Jefrey dari ruangan guru. "Apa kau akan belajar bersama si manusia es itu?" Tanyanya. "Ya. Tadi pak Arnold bicara kalau hari ini mulai belajar bersama setelah jam pelajaran terakhir selesai. Dan aku lupa untuk memberitahumu tadi, Maaf." Ucap Vi sambil memelaskan raut wajahnya. Rey pun hanya diam mendengarkan gadis itu berbicara. "Sekarang juga?" Vi menganggukkan kepalanya setelah Rey bertanya. "Tapi, dimana manusia es yang akan belajar bersamamu." Sambung Rey sambil menelusuri setiap sudut ruangan yang penuh dengan buku tersebut. "Ohh, tadi aku bertemu dengannya. Dia bilang akan pergi keruangan pak Arnold, jadi menyuruhku datang kesini lebih dulu." Jelasnya dengan santai. "Ahh, ya sudah. Kapan kau akan selesai?" Tanya Rey tiba-tiba. Vi tidak memikirkan tentang hal itu. Tapi yang dia ingat, pak Arnold bilang maksimal dua jam setelah jam pulang sekolah. "Tadi pak Arnold bilang kami maksimal dua jam perharinya untuk belajar bersama. Tapi aku tidak tahu juga. Lihat saja nanti bagaimana menurut orang itu." Jelas Vi yang juga tidak tahu kapan akan selesai. Dan tiba-tiba Jefrey pun datang dengan beberapa lembar kertas putih yang sudah bertuliskan huruf-hufuf didalamnya menghampiri Vi dan Rey. Melihat Vi ada disana tidaklah aneh. Tapi ia bingung kenapa Rey juga ada disana.


"Apa kalian sudah selesai bicara? Aku akan memulai pelajaran ini. Cepatlah bicaranya." Jefrey membuka suaranya dengan mengucapkan beberapa kata dengan nada dinginnya. Seketika itu juga, Rey dan Vi langsung menoleh kearahnya. "Ah, dasar orang ini. Kenapa harus dia yang ditunjuk untuk mengajari Vi. Apa bisa gadis cerewet itu bisa bertahan dengan sikap dinginnya." Ucap Rey dalam pikirannya.


.


.


.


.


.


.


.